
"Sebentar, Emran Bey mau bawa aku ke mana? Arah jalan pulang ke rumah Juna harusnya belok kanan," kata Eleonara cemas.
"Makan siang dulu. Kita cari restoran dekat sini. Ngapain buru-buru pulang? Tidak bosan lihat Juna setiap hari?" ucap Emran sambil mengulum senyum. Kalau Juna mendengarnya, dia pasti akan mencacinya sebagai teman laknat. Untung saja Juna tidak ada.
"Tapi, dia kan suamiku. Seharusnya tidak boleh ada kata bosan, dong?" ujar Eleonara yang memang ada benarnya.
"Saya hanya bercanda. Tadi saya sudah menghubungi Juna, dia baik-baik saja. Sudah kembali bekerja malah," ungkapnya memberitahu agar tercipta suasana baru.
"Dasar workaholic! Padahal aku menyuruhnya untuk diam di rumah hari ini untuk memulihkan kembali staminanya. Hah, sudahlah, memang sulit diberi tahu. Biarkan saja kalau dia sakit lagi, aku tidak mau mengurusnya!" gerutu Eleonara. Bibirnya komat-kamit, membuat Emran terkekeh geli melihatnya.
Tapi, kenapa kalau bisa memaksakan diri dia lebih memilih untuk bekerja? Tidak menemuiku, padahal sudah tahu temannya ini sedang menggangguku. Jangan-jangan dia memang tidak peduli padaku, huh! (Batin Eleonara)
...
Sesampainya di restoran, Emran segera memesan dua menu untuknya dan untuk Eleonara. Mereka berbincang sedikit mengenai ujian barusan yang baru saja dilalui Eleonara.
Di tengah pembicaraannya dengan Emran, Eleonara mendapatkan beberapa pesan dan panggilan terus menerus dari Vivian. Vivian sedang mencarinya dan mempertanyakan ucapan Eleonara sebelumnya.
'Nanti aku jelasin. Sekarang bukan waktu yang pas.'
Begitu balasan Eleonara pada Vivian agar Vivian diam tak mengganggunya melulu.
"Oh iya, bukannya kamu pernah bilang kalau kamu suka mendesain pakaian?" tanya Emran setelah melihat Eleonara memasukkan ponselnya ke dalam tas ransel. Sikapnya menunjukan urusannya dengan si pengirim pesan sudah selesai.
__ADS_1
Eleonara menganggukan kepalanya cepat. "Aku suka sekali. Ada banyak hasil desain pakaian yang sudah aku buat, tapi semua itu aku simpan di rumah."
"Ah, begitu. Sayangnya kita sedang tidak di rumahmu, padahal saya ingin sekali lihat karya-karyamu. Siapa tahu kita bisa bekerja sama."
"Wah, jantungku langsung berdebar saat Emran Bey mengatakan itu. Seperti sebuah kesempatan emas yang terbuka lebar. Sebelumnya aku selalu berharap ada yang mengambil desainku untuk jadikan dalam bentuk asli dan bisa dipakai, tapi haha ... itu hanya harapanku saja sebagai orang kecil. Ah, kalau Emran Bey mau lihat, aku bisa membuatkannya sekarang." Eleonara tampak antusias, terlihat jelas dari sorot matanya. Perihal hobi dan cita-cita siapa yang tidak akan semangat?
"Baik, baik, tapi kita makan siang dulu," kata Emran, kagum melihat antusias Eleonara.
"Tidak apa, aku bisa mendesain satu dua pakaian sambil makan. Aku coba, ya!" Eleonara mengeluarkan secarik kertas dan alat-alat tulis pendukung dari dalam tas ranselnya dengan semangat dan tekad kuat. Emran yang melihatnya tentu saja semakin kagum.
Saat Eleonara mulai membuat garis pada secarik kertas kosong di meja, pesanannya datang. Eleonara membagi waktu antara kapan harus menyuap sesendok makan siang dan kapan harus melanjutkan desainnya.
Emran yang sedang makan tak henti-hentinya tersenyum. Sesekali dia memberi saran pada Eleonara agar gambarnya semakin sempurna tanpa celah karena bukan setahun dua tahun dia terjun di industri fashion, melainkan sudah ahlinya. Banyak sekali artis-artis dan model papan atas dari mancanegara yang pakaiannya ingin dirancang oleh tangan emasnya, bahkan sampai mengantre dengan panjang. Sosok Emran pun sulit sekali ditemui, tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya. Kalau Eleonara tahu Emran sehebat itu, dia sungguh sangat beruntung, tidak perlu mengantre dan tidak perlu susah-susah bertemu dengannya.
Eleonara malah salah fokus. Dia yang sering mendengar pujian itu ke luar dari mulut Juna, kini mendengar dari mulut pria lain rasanya aneh meski mereka sama-sama orang Turki, yah seharusnya biasa saja.
"Itu karena ada campur tangan Emran Bey, kalau tidak, tidak mungkin seindah itu gaunnya," ujar Eleonara sambil malu-malu kucing.
"Haha, saya hanya mengarahkan sedikit saja, sisanya semua hasil kerja kerasmu. Bagaimana kalau setelah dari sini saya bawa kamu ke butik saya yang tidak jauh dari sini tempatnya?" usul Emran.
"Butik? Untuk apa?" tanya Eleonara.
"Kamu tidak mau menciptakan karya dua dimensi ini menjadi karya asli?" kata Emran yang membuat Eleonara tergiur maksimal.
__ADS_1
"Ma-maksud Emran Bey ... desainku ini bisa dibuat dalam bentuk asli, bisa dipakai?" tanya Eleonara dengan mata membulat.
"Evet!" kata Emran dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu tidak perlu pikir panjang, ayo, ayo!" ajak Eleonara dengan begitu antusias sampai melompat-lompat kegirangan.
"Hahaha, senang sekali, ya. Habiskan dulu makannya." Emran sampai tertawa melihat tingkah Eleonara yang menurutnya sangat lucu.
"Aku sudah kenyang!"
"Tamam, tamam. Saya bayar dulu pesanannya. Tunggu saja di mobil saya," ucap Emran sambil beranjak bangun.
"Eh, tunggu, Emran Bey. Ini ...," kata Eleonara sambil menunjuk pipinya, mengisyarakatkan kalau ada sebutir nasi yang menggelantung manja di jambang tipisnya. Namun, tampaknya Emran tidak mengerti maksud Eleonara.
"Ini?" kata Emran bertanya-tanya sambil mengetuk-ngetuk pipinya dengan tersipu malu.
Entah apa yang Emran pikirkan. Tiba-tiba dia menunduk, lalu mendekatkan wajahnya pada pipi Eleonara.
...
BERSAMBUNG!!
.
__ADS_1
.