Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Membawa Lari Istri Orang


__ADS_3

"Sial!" geram Juna sambil menendang angin. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Syam dengan ekspresi marah campur aduk.


"Jun!" panggil Elena sambil mengusap air matanya. "Maaf, aku ... aku tidak sadar melakukannya barusan. Itu terjadi begitu saja karena aku sedih atas sikapmu yang membedakan aku dengan seorang gadis kecil. Aku tidak ada niat membuat kalian bertengkar, sungguh!"


Juna tidak memedulikan ucapan Elena meski sudah bersungguh-sungguh. Dia masih menunggu Syam menjawab teleponnya.


"Di mana kamu?! Cepat kemari!" kata Juna sambil marah-marah, lalu dia menutup panggilan telepon begitu saja setelah meluapkan sedikit kekesalannya.


"Syam akan datang sebentar lagi. Dia akan membawamu ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi bayi dalam perutmu. Lain kali hati-hati dengan kelakuanmu, aku tidak akan mentolerirnya lagi. Dan, ingat, aku sudah menikah!" tekan Juna dengan sorot mata yang tajam menusuk.


Dia pun meninggalkan Elena dan masuk ke dalam mobilnya. Tidak peduli tubuhnya kurang fit dan masih sedikit demam, Juna bergegas mengejar mobil Serkan. Mau dibawa ke mana istrinya?


Elena yang melihat kepergian Juna langsung naik pitam dan berubah menjadi wujud aslinya yang mengerikan. Dia bahkan sampai melempar mangkuk bubur yang belum sempat Juna habiskan hingga mangkuk kaca itu pecah, serpihannya berserakan ke mana-mana.


"Benar-benar sial! Bisa-bisanya keberadaannya mengalahkanku. Lihat nanti, untuk tamparan ini kamu akan membayarnya berkali-kali lipat!" ancam Elena pada bayangan Eleonara karena Eleonara sudah tidak ada.


...


Di perjalanan, Juna berusaha menghubungi Serkan, tapi Serkan enggan menjawabnya. Serkan tahu pasti Juna sedang mencemaskan mereka berdua. Biarlah Juna sedikit merasakan derita atas perlakuannya barusan dengan Elena.


Serkan memberikan tisu yang kesekian kalinya pada Eleonara, sebab sejak naik ke mobilnya, Eleonara menangis tak henti-henti. Serkan sampai takut kalau ada seseorang yang menuduhnya menculik gadis di bawah umur. Eleonara bahkan seolah tak peduli menjaga citranya di depan pria dewasa nan tampan seperti Serkan sampai tangisannya mengeluarkan ingus.


"Sudah dulu nangisnya. Kita mau pergi ke mana ini?" tanya Serkan memberi perhatian karena merasa iba.


"Terserah, ke mana saja. Lebih jauh, lebih bagus," ucap Eleonara sambil tersedu-sedu. Mata dan hidungnya merah bengkak. Make up yang dia poles sejak pagi buta untuk dinikmati Juna pun akhirnya terhapus karena air mata.


"Tadinya saya datang untuk membicarakan kalau saya tidak jadi membawamu selama 24 jam karena ... yah, bisa kamu lihat sendiri kondisi rumah tanggamu seperti apa setelah kedatangan Elena. Tapi, tidak sangka ada kejadian di luar dugaan," kata Serkan mencoba menghidupkan suasana.


"Memangnya dulu Juna cinta mati pada wanita itu? Serkan Bey lihat sendiri sikap Juna seperti apa padaku kan, dari kemarin? Dia selalu berada di pihak mantannya itu. Bagaimana aku tidak sakit hati coba melihatnya?" gerutu Eleonara dengan suara gemetar sambil terus mengusap air matanya dengan tisu.

__ADS_1


"Ya, saya mengerti perasaanmu. Dulu Juna memang cinta mati pada Elena. Cintanya seakan sudah mendarah daging, tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Kamu ingat Zafer? Dia pernah menaruh hati pada Elena, tapi Juna tidak mengizinkan siapa pun mengusik hubungannya, sekalipun dia sahabatnya. Bahkan sering kali Juna dan Zafer bertengkar meributkan Elena," jelas Serkan hati-hati.


"Tapi, itu dulu kan, sebelum Juna menikah denganku? Kenapa sekarang rasanya sama saja, seolah dia masih mengharapkan mantannya dan memberikan ruang untuknya kembali? Lalu, aku ini dia anggap apa? Kemarin kalian juga bertanya padanya, apa dia memang sudah benar-benar melupakan Elena? Dia jawab sudah, kan? Dengan tegas lagi. Dia juga tidak ingin siapa pun mengungkit masa lalunya," jelasnya dengan getir karena merasa masih sakit hati.


"Hah, benar. Tapi, terkadang kehadiran masa lalu bisa membuat pikiran terkecoh. Apalagi Elena cinta pertamanya. Sampai perlu bertahun-tahun Juna melupakannya. Saat dia kembali, jadi bingung begitu. Kamu tenanglah, jika kamu percaya Juna mencintaimu, dia tidak akan pergi ke mana-mana. Juna orangnya setia," kata Serkan sambil mengelus kepalanya dengan mata fokus menatap jalan. Dia tetap menghargai Eleonara sebagai istri sahabatnya.


"Masalahnya, sampai saat ini aku belum pernah mendengar dia bilang begitu. Maksudku ... aku belum pernah dengar dia mengatakan dia suka atau cinta padaku," ucap Eleonara pilu sambil mengerucutkan bibirnya.


"Astaga, yang benar saja?!" Serkan terkejut dan bertanya-tanya.


Eleonara mengangguk penuh keyakinan. "Memang kelihatannya dia tertarik padaku, tapi aku tidak tahu apa dia benar-benar sudah mencintaiku atau belum kalau dia belum mengatakannya sendiri. Aku ... aku jadi ragu dan merasa putus asa, apa hanya aku saja ya yang berharap lebih pada hubungan ini?" Eleonara pun bertanya-tanya, bahkan berdebat dengan batinnya sendiri.


"Hah, kalau begitu kamu tinggal tanyakan saja. Gampang, kan?" usul Serkan.


"Entahlah, sepertinya keberanianku sudah hilang. Semangat pun redup. Perasaan tak karuan. Serkan Bey, tahu tidak yang paling aku takutkan sekarang adalah ketika aku sudah serius, tapi tidak tahu kalau ternyata sedang dipermainkan. Aku tidak mau melihat Juna dulu," ungkapnya sambil memeluk lutut dan membenamkan wajahnya.


Juna, Juna, karena sikapmu yang tidak tegas Elena jadi berani menciiummu secara terang-terangan. Jangan salahkan aku menghibur istrimu. (Batin Serkan)


...


Di lain tempat.


Juna sedang menggerutu sambil terus mengemudikan mobilnya tanpa arah dan tujuan.


Dia baru kembali dari Hotel tempat Serkan menginap dan baru saja mengubungi Syam untuk membantunya melacak keberadaan Serkan dan Eleonara karena mereka tidak ada di Hotel. Namun, sayangnya Syam tidak menjawab telepon Juna. Syam sedang sibuk membawa Elena ke rumah sakit.


Akhirnya Juna memutuskan untuk menghubungi Osman.


"Neden? (Kenapa?)" tanya Osman di balik telepon yang kedengarannya baru bangun tidur karena suaranya lemah.

__ADS_1


"Bantu aku lacak keberadaan Serkan dan Leona."


"Lacak keberadaan mereka? Apa yang terjadi?" tanya Osman turut cemas karena nada bicara Juna terdengar kesal.


"Dia membawa lari istriku!"


"Apa?! Ya Tuhan, anak itu benar-benar! Dia sungguhan ingin menghabiskan 24 jam bersama Leona?" Osman bertanya-tanya dengan heran.


"Jangan banyak bicara, temukan lokasinya dan kirimkan secepatnya padaku!"


-tut-


Juna mematikan telepon begitu saja dan dia melempar ponselnya ke sembarang tempat. Ada pengendara motor yang menyalip, tapi tidak sampai menggores mobilnya. Kepalanya langsung nongol ke luar jendela dan tak segan memarahinya habis-habisan.


Pengguna jalan yang melihatnya marah-marah, bagaikan orang gila yang sedang kumat. Mereka terheran-heran sambil melempar tatapan aneh pada Juna. Namun, Juna tidak mempedulikannya. Pikirannya sedang berdesakan di dalam. Dia membayangkan apa yang akan terjadi jika Eleonara bersama Serkan. Bayangan-bayangan kebersamaan mereka yang intim (seperti foto-foto di bawah) membakar habis jiwanya.


(edit : fotonya dihapus Noveltoon huhu)


Dia tahu seperti apa Serkan, Serkan dapat meluluh lantakkan hati para wanita dan membuatnya terlena akan pesonanya yang tampan. Dia pandai merayu wanita yang sedang gundah gulana seperti perasaan Eleonara saat ini. Begitu pula dengan Eleonara, dia sudah bukan kucing kecil yang manis nan lugu seperti dulu lagi, kini dia telah berubah jadi singa betina yang liar dan suka menggoda secara terus terang.


Apa jadinya jika Serkan dan Eleonara disatukan? Tentu akan jadi bumerang.


...


BERSAMBUNG!!


.


.

__ADS_1


__ADS_2