
"Iya, Juna sudah menikah denganku. Usia pernikahan kami sudah memasuki bulan keempat," ucap Eleonara sedikit menyombongkan. Firasatnya buruk karena melihat aura Elena begitu hitam dan pekat.
"Benar yang dia katakan, Jun? Kamu sudah menikah?!" Elena tampak tak percaya.
Juna hanya mengangguk sebagai jawaban. Melihat Juna yang sedikit keberatan saat mengakuinya, membuat Eleonara semakin geram. Mentang-mentang ada Elena, dia jadi tidak dianggap?
"Aku bawa kamu istirahat dulu ke kamar. Sedang sakit biasanya pandangan terlihat kabur. Takutnya nanti salah mengira kalau mantanmu ini istrimu," celetuknya sambil menggiring Juna masuk ke kamar. Eleonara sedang berusaha menyembunyikan Juna dari rubah licik yang sepertinya ingin merebutnya.
Elena melihat kepergian Juna dan Eleonara dengan perasaan tak karuan. Dia berusaha bersikap normal, tidak menunjukan ekspresi apa pun yang bisa memancing rasa curiga teman-teman Juna.
Luka-luka di kaki Elena diobati oleh Zafer. Mereka berbincang lama sekali untuk mencari tahu kenapa Elena pergi selama itu, bahkan tanpa kabar. Dia sembunyi di mana pun tidak ada yang tahu.
Akhirnya Elena menceritakan semuanya, tapi dia tidak jujur. Dia mengatakan alasannya pergi karena mengidap penyakit parah dan harus menjalani pengobatan selama bertahun-tahun di luar negeri. Dia tak memberitahu Juna karena tak ingin membuat Juna cemas.
Namun, sebenarnya bukan itu alasan Elena pergi. Semua ini didalangi oleh Mohsen dan Diana. Saat Elena dan Juna masih berpacaran, Mohsen dan Diana memergokinya sedang selingkuh dengan pria asal Jerman di sebuah kamar hotel. Mohsen dan Diana tahu secinta apa anaknya pada Elena, jadi jika Juna tahu entah sebesar apa rasa kecewanya nanti. Mereka tidak mau melihat anaknya meratapi kesedihan karena perselingkuhan Elena.
Mohsen dan Diana berjanji tidak akan memberitahu Juna asalkan Elena meninggalkan Juna dan tidak boleh memberitahu keberadaannya selama mungkin.
Elena pun tidak bisa menolak karena selain diancam kedua orang tua Juna, dia juga tidak mungkin mengatakan pada Juna kalau dia telah menduakannya dengan pria asal Jerman yang memiliki segala-galanya lebih dari Juna.
Namun, sekarang Elena kembali karena..
(Ikutin terus ceritanya ya)
....
__ADS_1
"Apa! Kamu sedang hamil, Ele?" Juna sedang mempertanyakan ucapan yang Elena katakan.
Saat dia dan Eleonara sedang sarapan sambil berjemur di luar, Elena datang dan tiba-tiba mengungkapkan fakta kalau dia sedang hamil.
"Iya, Jun. Hiks, aku ... saat aku di luar negeri ada seseorang yang melecehkanku sampai aku hamil sekarang. Kamu tahu, aku meninggalkanmu dan pergi ke luar negeri itu untuk menjalankan pengobatan karena aku sakit parah dan tidak mau kamu tahu. Beberapa bulan yang lalu, pengobatanku akhirnya selesai dan aku dinyatakan sembuh. Tapi ... hiks, tapi saat aku akan kembali ke Indonesia, ada seseorang yang menyekapku dan melecehkanku," jelasnya panjang lebar membuat Eleonara dan Juna hanya bisa turut prihatin.
"Kamu tahu orangnya siapa?" tanya Juna sok peduli.
Elena menggelengkan kepala sambil mengusap air matanya. "Aku tidak tahu. Aku sudah melaporkan pada polisi di sana, tapi tetap tidak ada hasilnya. Rekaman CCTV-nya dihilangkan."
"Aku dan Juna turut sedih mendengar musibah yang menimpa Kakak, tapi ... ngomong-ngomong luka di kaki Kakak sudah sembuh ya, sekarang?" tanya Eleonara sambil menaikan sebelah alisnya.
"A-ah, i-iya ... kemarin Zafer mengobatinya dengan benar. Aku sudah tahu mengenai kalian dari teman-teman Juna kemarin. Benarkah kalian menikah karena dijodohkan?" tanya Elena mengubah topik pembicaraan.
"Kenapa? Kenapa mereka menjodohkanmu dengan adik kecil ini? Kata Zafer dia bahkan masih sekolah." Elena tampak keberatan, dia protes seolah-olah Eleonara telah merebut kekasih berharganya.
"Sudah jodohnya kali," celetuk Eleonara dengan wajah datar tanpa ekspresi. Selalu saja dikatai adik, sepertinya Elena ini sengaja merendahkan Eleonara.
"Kamu ... kamu mencintainya, Jun?" tanya Elena dengan kedua mata berkaca-kaca, penuh harap. Berharap Juna mengatakan apa yang bisa membuat perasaannya senang dan damai.
Juna melirik ke arah Eleonara yang sedang menyentuh kacamatanya gelisah. Eleonara beranjak bangun sambil meletakkan semangkuk bubur di atas meja. Dia tidak yakin Juna sudah jatuh hati padanya, usia pernikahan mereka belum genap satu tahun. Masih seumur jagung, sedangkan hubungan dengan Elena sudah bertahun-tahun. Takutnya kalau Eleonara masih di sana, jawaban Juna akan menyakitinya.
"Bicaralah, aku beri waktu hari ini untuk menyelesaikan urusan kalian sepenuhnya. Pak Juna, ingat lirik lagu ini 'Sudah ada mawar putih, jangan cari yang merah. Sudah punya cinta suci, jangan cari masalah.' Aku masuk dulu." Eleonara pun berlalu meninggalkan mereka dengan wajah murung. Dia ingin memberi ruang pada mereka untuk menyelesaikan apa yang memang harus di selesaikan karena kini Juna sudah bersama dengannya.
Namun, begitu Eleonara masuk ke rumah, air matanya langsung mengalir tanpa henti. Dia menangis tanpa suara sambil bersandar di tembok. Mulutnya dibekap sendiri, tangan kirinya mengepal menyentuh dada. Di bagian itulah sakitnya sampai menusuk ke tulang rusuk melihat Juna dan Elena berduaan di luar, memancing air matanya ke luar.
__ADS_1
Untuk yang kesekian kalinya Eleonara takut 'dibuang'. Ketakutannya lebih dahsyat dari ancaman yang biasa ibu tirinya lontarkan. Karena dia sudah menumpahkan seluruh kepercayaannya pada Juna dan kini hanya Juna-lah satu-satunya yang dia miliki. Keluarga Abraham sudah tidak mau peduli karena keributan waktu itu.
"Kamu sudah jatuh cinta padanya, Jun? Bagaimana bisa? Dia masih kecil, jauh dari kata matang. Bukankah dulu kamu pernah mengatakan padaku, sebesar apa pun rintangan menghadang hubungan kita, kamu akan tetap mencintaiku? Tapi, kenapa sekarang ... kenapa sekarang berbeda? Kamu sudah melupakan aku?! Kamu tidak mencintai aku lagi? Padahal aku pergi meninggalkanmu bukan tanpa alasan. Aku berjuang menyembuhkan diriku sendiri demi bisa hidup sampai tua bersamamu," cecar Elena. Dia tak bisa mengontrol emosinya saat Juna bilang sudah jatuh hati pada Eleonara.
"Kalau saja kamu mengatakan alasanmu saat itu, mungkin aku bisa menunggu. Tahukah kamu, setelah kamu pergi tanpa kabar, dari situlah cinta sudah tidak aku rasakan lagi. Kamu bukan hanya menghancurkan hatiku saja, tapi juga menghancurkan harapanku, mimpiku, masa depanku yang aku pikir semua itu akan kita hadapi sama-sama," ungkap Juna mengeluarkan isi hatinya yang sekian lama telah dipendam.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu cemas, Juna!"
Brak!
Juna menggebrak meja dengan raut wajah merah padam. "Kamu pikir pergi tanpa mengatakan sepatah katapun juga tidak akan membuatku cemas? Kamu tahu tidak Elena, aku mencarimu sampai ke ujung dunia. Jika kamu lihat aku pada saat itu, mungkin kamu akan menyebutku gila. Pagi, siang, malam tidak bisa tidur memikirkan kamu. Dalam bayanganku kamu mati di suatu tempat karena tidak ada kepastian apa pun yang aku temukan. 2 tahun, El, 2 tahun! Aku harus hidup dalam bayang-bayang kematianmu. Selama itu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, sampai harus mengkonsumsi obat tidur. Setiap tidur pasti aku melihat kamu meminta tolong dengan darah di sekujur tubuhmu," jelas Juna sambil terengah-engah emosi.
Bibir Elena gemetar, air matanya mengalir. Tiba-tiba dia bertekuk lutut di hadapan Juna. "Aku tidak tahu kamu akan menghawatirkan aku sampai menyiksa dirimu sendiri, hikss ... kesalahanku cukup fatal, aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal tidak memberitahumu. Tapi, dengan usahamu mencariku mati-matian, bukankah itu menunjukan kalau kamu masih peduli padaku? Aku tidak benar-benar menghilang dari hati dan pikiranmu, kan? Kamu tidak menghapus semua kenangan-kenangan kita dulu. Iya kan, Jun? Hati, pikiran dan ucapanmu berbeda. Kamu hanya sedang marah saja, jadi tidak mau mengakuinya."
Juna tidak mau menjawabnya sepatah kata pun. Dia membangunkan Elena karena tidak enak dilihat. "Kamu bukannya sedang hamil. Hati-hati dengan perutmu," katanya sambil mengusap wajahnya dengan kasar, menutupi kesedihan serta kekacauan perasaannya dari sorot matanya.
"Lihat, kamu masih begitu peduli. Padahal aku mengandung anak pria asing yang bahkan aku sendiri tidak tahu. Jun, kamu masih ingat tidak, dulu aku pernah berjanji menjaga kesucianku untukmu, tapi ... sekarang aku merasa sangat bersalah padamu karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Kamu bantu aku menggugurkan kandungan ini, ya, Jun? Kita kembali lagi sama-sama seperti dulu. Kamu ceraikan istrimu. Dia masih sangat muda. Perjalanannya masih panjang dan pemikirannya pun masih labil. Bagaimana bisa membangun rumah tangga bersamamu? Jangan tega mengikatnya dengan pernikahan. Lepaskan saja, biarkan dia mencari kesenangannya sendiri," ucapnya berusaha menghasut Juna dengan ekspresi yang menunjukan kalau dia memang sedang mencemaskan Eleonara.
...
BERSAMBUNG!!
.
.
__ADS_1