Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Setelah Vivian selesai mengobrol dengan Eleonara, dia pun pulang karena kondisi tubuhnya semakin menurun. Dia terus bersin-bersin, udara malam mempengaruhi.


Tidak lama dari Vivian pergi, Syam masuk ke dalam sambil memberikan kantung berisi makanan untuk Eleonara. "Nona, saya bawakan bubur, buah-buahan dan biskuit. Buburnya tidak pakai bawang daun, seledri dan kacang," jelasnya karena begitulah pesanan Eleonara sebelumnya.


"Ah, terima kasih, Pak Syam. Maaf, sudah merepotkan," ucap Eleonara sungkan.


"Sama sekali tidak. Sudah menjadi tugas saya melayani Nona, tapi sekarang saya harus pergi karena ada urusan mendesak. Nona ditinggal sendirian tidak apa-apa, kan? Lagipula Tuan juga sedang menuju kemari," kata Syam sambil memperlihatkan senyum getirnya. Seakan tertekan oleh keadaan.


"Oh, baiklah. Tidak masalah. Tubuhku juga sudah lumayan membaik. Pergilah Pak Syam, jangan mencemaskanku."


"Terima kasih, Nona. Kalau begitu saya pamit dulu." Syam membungkuk hormat, lalu pergi dari pandangan Eleonara.


Eleonara membenarkan posisinya agar bersandar di bangsal dengan bantal di punggungnya. Dia membuka bungkus bubur, lalu memakannya hati-hati karena masih panas.

__ADS_1


Baru saja dia akan melahap satu sendok bubur ke dalam mulutnya, tiba-tiba tangan seseorang menghentikannya. Eleonara menengadahkan wajahnya. Dia menangkap sosok Juna, suaminya yang tampan rupawan sedang melepaskan masker hitam sambil menatapnya.


"Pa ... eh, Sayang!" Eleonara meletakan sendok beserta bungkus buburnya, lalu secara spontan memeluk erat tubuh Juna dengan mata berkaca-kaca. Dia teringat kejadian memilukan saat dirinya tenggelam di dalam air. Yang ada di dalam pikirannya pertama kali adalah Juna. Dia takut tidak bisa hidup dan melihat Juna lagi. "Huhu...."


"Neden? Maksudnya, kenapa? Kenapa menangis?" tanya Juna yang kini duduk di samping bangsal membalas pelukan Eleonara. Dia elus-elus kepala Eleonara dengan lembut penuh kasih sayang.


"Aku ... hanya takut sesuatu terjadi padaku dan membuatku tak bisa bertemu kamu lagi," jelasnya sambil mengusap air matanya yang entah sejak kapan menetes.


Perasaan Juna terenyuh kala mendengarnya. Dia mengusap air mata di pipi Eleonara. "Untung saja saya datang tepat waktu. Terlambat beberapa detik saja mungkin ... kamu tidak akan selamat," ucap Juna sambil tersenyum pilu.


"Saya mencari orang yang sudah berani mencelakaimu," jelasnya sambil mengambil bungkus bubur dan berniat menyuapi Eleonara.


"Eh ... em, apa kamu sudah tahu siapa yang mencelakai aku?" tanya Eleonara sambil menatap hati-hati, takutnya salah bicara.

__ADS_1


Juna mengangguk. Dia menyiuk satu sendok bubur, lalu menyodorkannya pada mulut Eleonara. Eleonara melahapnya sambil mengulum senyum.


"Kakak keduamu yang melakukannya, kan? Saya pergi mengunjungi rumahmu barusan, tapi Sora tidak ada di rumah. Hanya ada ayah dan ibumu saja. Saya juga sempat menghubunginya dan nomornya tidak aktif, lalu saya juga melacak keberadaannya, sayangnya dia meninggalkan ponselnya dan kabur entah ke mana. Tenanglah, saya pasti akan menemukannya," ucap Juna sambil mengusap punggung tangan Eleonara dan menatapnya dalam.


"Aku tidak sangka kamu sudah melakukannya sejauh itu. Terima kasih, tapi kalau tidak ketemu juga tidak apa-apa. Biarkan saja, Kak Sora tidak akan pergi lama-lama. Dia pasti akan kembali ke rumah," jelasnya sambil meminta suapan bubur lagi.


"Tidak, tidak. Saya ingin mendengar penjelasan darinya kenapa sampai tega mendorongmu ke kolam renang. Padahal dalam rekaman CCTV kamu sudah mengatakan padanya kalau kamu tidak bisa renang. Leona, apa yang sebenarnya terjadi? Dia marah sampai seperti itu pasti ada sebabnya, kan?" tanya Juna penasaran. Dia suapi Eleonara sambil mengobrol.


...


BERSAMBUNG!!


Sebelum lanjut, like dulu ya^^

__ADS_1


.


.


__ADS_2