Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Diantar Emran Bey ke Sekolah


__ADS_3

"Hari ini saya akan menghabiskan 24 jam bersamamu. Bukankah sebelumnya sudah pernah bilang?"


"Sorun ne, Emran? (Ada apa, Emran?)" ucap seseorang dengan lantang dari arah pintu masuk. Siapa lagi kalau bukan Juna.


Juna berjalan menghampiri dengan tatapan penuh curiga pada Emran dengan berbalutkan pakaian lengan panjang. Dia sudah mendingan, hanya perlu sedikit istirahat lagi untuk mengembalikan staminanya.


"Jun, sudah mendingan?" tanya Emran perhatian.


Juna mengangguk samar. "Ada perlu apa pagi-pagi datang ke rumahku? Kamu tidak ada kerjaan di Turki apa?" Juna balik bertanya sambil merengkuh tubuh Eleonara. Menyiratkan pada Emran kalau yang sedang dirangkulnya bukan sesuatu yang bisa dia sentuh sembarangan.


"Urusanku dengan Leona, bukan denganmu. Dengar-dengar kemarin kalian bertengkar. Apa itu benar?" tanya Emran penasaran.


"Apa pedulimu," balas Juna sambil menatapnya sinis. "Leona akan pergi ke sekolah, untuk apa mencarinya? Dia harus mengikuti Try Out hari ini," jelasnya.


"Aku tahu. Aku akan mengantarnya ke sekolah. Kamu istirahatlah yang benar, jangan memaksakan diri kalau tidak mau sakit lagi," ujar Emran sambil menepuk-nepuk bahu Juna dengan menggerakan kedua alisnya. "Ayo, Leona," ajaknya.


"Hey, hey, hey! Siapa yang mengizinkanmu mengantarnya? Dia sudah ada Syam yang mengantarnya ke Sekolah. Sana, sana, pergi!" usir Juna tak berperasaan.


Teman-temannya ini kalau pulang ke Indonesia pasti selalu mengusik kehidupan Juna. Apalagi sekarang melihat Juna sudah menikah, makin menjadilah mereka mengolok-oloknya.


"Ck, Syam sedang sakit parut. Biar aku yang menggantikannya mengantar. Benar kan, Syam?" kata Emran sambil memelototi Syam diam-diam.


Syam yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja kena, sontak saja dia kelimpungan setengah mati. "A-ah, anu ... i-iya, Tuan. Tiba-tiba saya sakit perut. Sepertinya saya salah makan sesuatu tadi. Sa-saya pinjam kamar mandi dulu sebentar," Syam segera melarikan diri sambil mengusap keringat di keningnya.


"Emran, jangan bercanda! Aku saja sampai detik ini belum pernah mengantarnya ke sekolah. Minggir, minggir, biar aku yang mengantarnya kalau begitu," kata Juna bersikeras.


Eleonara langsung menghadang Juna dengan melentangkan kedua tangannya di depan pintu mobil. "Tidak bisa, kamu baru saja mendingan. Kalau demam lagi, bagaimana? Biarkan Emran Bey yang mengantarku." Eleonara mengulurkan telapak tangannya pada Juna.


"Saya sudah baik-baik saja, sudah sembuh total. Tidak masalah hanya mengantarmu ke sekolah," protes Juna sambil menatap tak suka pada penampilan Emran yang menurutnya berlebihan, tidak seperti biasanya. Juna jadi curiga, sahabatnya ini sedang tebar pesona pada istri kecilnya.


Eleonara menyentuh kening Juna. "Masih anget! Tidak boleh ke mana-mana. Aku akan menyuruh Pak Syam mengawasimu. Awas saja kalau diam-diam ketemuan dengan mantanmu itu. Sudah, sini mana tangannya. Aku sudah hampir terlambat ini, haduh!" gerutu Eleonara, dengan cepat mengambil tangan Juna dan mengecup punggung tangannya.

__ADS_1


"Tapi, Leona, setiap saya menawarkan untuk mengantarmu ke sekolah kamu selalu menolaknya. Kenapa giliran Emran yang mengantar, kamu tidak keberatan sama sekali?!" Juna tampak iri dan dengki. Dia merasa tersaingi.


"Salah siapa terlalu populer di sekolah? Bye!" Eleonara pun memasuki mobil Emran sambil melambaikan tangannya dengan senyum sumringah. Terlihat bahagia sekali, seakan memang keinginannya diantar pria setampan Emran.


"Güle güle, Kardeşim! (Selamat tinggal, Saudara!)" Emran pun pergi sambil tersenyum mengejek. Senang sampai rasanya ingin guling-guling melihat Juna tak terima seperti itu.


"Argh, Emraaaannn!" teriak Juna murka saat melihat mobil Emran sudah melaju pergi dengan cepat, seakan tak membiarkan Juna mengejarnya. "Kemarin Serkan, sekarang Emran. Lihat nanti, perhitungan apa yang akan kuberikan pada kalian!"


...


Sesampainya di Sekolah.


"Aduh, Emran Bey, sudah aku bilang turunkan aku di persimpangan saja. Jangan di depan gerbang begini," gerutu Eleonara sambil menyapu keringat dingin di kening yang mengucur sejak tadi.


"Lelaki sejati tidak menurunkan wanita di tengah jalan, harus sampai pada tempat yang dituju. Turunlan, apa mau saya membukakan pintu? Di luar ramai, lho," goda Emran sambil menatap ke luar jendela. Banyak pasang mata yang sedang menatap takjub pada mobil mewah yang Emran tumpangi. Mereka penasaran siapa yang ada di dalam mobil.


"T-tidak perlu! Biar aku ke luar sendiri. Emran Bey diam, jangan berani keluar memperlihatkan wajah, ya!" ancam Eleonara dengan jari telunjuk mengacung ke atas.


Emran malah menertawai tingkah panik Eleonara. Namun, juga berpikir lain tentangnya. Eleonara yang dia temui pertama kali saat di rumah Juna begitu cantik, manis, memikat tanpa mengenakan kacamata, tapi sekarang terlihat culun dengan kacamata minus dan seragam sekolah yang kebesaran. Di mana semua siswi memakai rok pendek di atas lutut dengan baju seragam yang ketat, Eleonara malah memakai rok panjang di bawah lutut dan baju yang longgar.


Begitu Eleonara hendak membuka pintu mobil, dia melihat sosok Vivian yang sedang turun dari mobil Midas. Celaka! Mobil Midas berada di depan mobil Emran.


"Kenapa?" tanya Emran penasaran.


Eleonara menggelengkan kepalanya dengan wajah pucat. Dia diam sesaat melihat situasi. Saat Vivian sudah masuk ke dalam, barulah Eleonara memberanikan diri keluar sambil berlari kecil. Tak lupa dia ucapkan terima kasih pada Emran.


Masa bodoh dengan tatapan terkejut para siswa dan siswi yang melihatnya turun dari mobil mewah, yang penting Vivian tidak melihatnya saja sudah cukup. Namun naasnya, seseorang memanggil namanya dari belakang sampai membuat Vivian yang berada beberapa langkah di depan Eleonara menoleh.


"Eh, El? Baru nyampe?" tanya Vivian sambil merekahkan senyumnya. Dia mundur menghampiri Eleonara. "Kak Midas tuh, manggil. Jangan ngehindar terus. Hadapin dong kali ini," bisiknya.


Eleonara berusaha mengontrol suasana hatinya. Baru saja terlepas dari Emran, kini terjerat oleh Midas. Sungguh malang nasibnya. Padahal tinggal beberapa langkah lagi menuju kelasnya, tapi, ah sudahlah.

__ADS_1


"Kak Midas?" sapa Eleonara ramah sambil menunduk menyentuh kacamatanya, malu.


"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" tanya Midas sambil mengelus rambut Eleonara dengan tatapan teduh.


"Ah, aku baik," jawabnya sungkan.


"Saya dengar kamu bekerja di sebuah rumah dan tidak tinggal lagi dengan orang tuamu?"


"Iya, itu sudah cukup lama, hehe."


"Nara, jika kamu kesulitan, tertekan atau mendapatkan masalah apa pun, jangan sungkan ceritakan pada saya. Saya sudah melupakan penolakanmu waktu itu, jadi jangan terus menghindari saya, ya. Saya sadar memang itu terlalu cepat. Saya yang salah tidak berpikir terlalu panjang," kata Midas sambil memperlihatkan tatapan penuh penyesalan. Membuat Eleonara merasa iba.


"Ah, baik. Kita sama-sama merasa tidak enak, tapi aku juga sudah melupakannya," jawabnya sambil memperlihatkan senyum baik-baik saja.


"Tapi, Nara, saya tidak akan berhenti sampai di sini. Selama kamu belum memiliki kekasih atau pria yang kamu sukai, saya masih ada hak mengejarmu," kata Midas dengan penuh tekad. Terlihat dari sorot matanya yang berapi-api. Dia bicara begitu untuk menyemangati Eleonara. Berharap Eleonara dapat mengerjakan soal-soal ulangan dengan suasana hati bahagia.


Namun, hal itu malah membuat Eleonara dan Vivian terkejut tak menyangka. Ternyata Midas sungguh-sungguh mengejarnya.


Tiba-tiba saja seseorang muncul dan bicara dari belakang, "Siapa bilang dia tidak punya pacar?"


Deg!


Emran Bey? (Batin Eleonara terkejut bukan main)


...


BERSAMBUNG!!


.


.

__ADS_1


__ADS_2