
"Leona, ini kardus apa yang ada di samping mesin cuci?" teriak Juna dari halaman belakang.
Eleonara yang sedang memakai sepatu dan hampir siap pergi ke sekolah langsung tercengang dan segera mengambil langkah seribu menuju ruang laundry yang berada di halaman belakang, bersebelahan dengan taman yang cukup luas. Dia berlari dengan memakai sebelah sepatu karena belum sempat memasang satunya lagi.
Eleonara buru-buru merampas kardus kecil miliknya yang hampir saja dibuka isinya oleh Juna dengan napas terengah-engah. Dia langsung menyembunyikan itu di belakang tubuhnya.
Juna yang melihatnya tentu terheran-heran sampai kedua alisnya terangkat naik.
"Apa isinya sampai tidak boleh saya lihat? Kamu menyimpan bom di rumah saya?" tuduh Juna sambil berkacak pinggang.
"Sembarangan! Mana ada aku menyimpan bom?" bantahnya sambil membenarkan posisi kacamatanya yang sempat miring. Rambutnya pun jadi berantakan.
"Terus itu apa? Mencurigakan sekali. Coba saya lihat," pinta Juna yang semakin penasaran.
"I-ini ... bukan apa-apa. Hanya sesuatu yang tidak boleh Pak Juna lihat saja," jawabnya gugup sambil terus menjauhkan kardus kecil itu dari Juna.
Juna menyipitkan kedua matanya. "Selama saya tidak ada, kamu harus bisa menjaga rumah. Jangan sampai berantakan sedikit pun. Tidak boleh ada makanan di mana-mana. Barang-barang yang tidak berguna langsung buang, jangan dibiarkan menumpuk, termasuk cucian. Piring kotor langsung cuci. Semuanya dari setiap sudut ruangan harus bersih agar tidak mendatangkan kecoak, mengerti?"
Eleonara menganggukkan kepalanya cepat. Lagipula kesehariannya di rumah Abraham memang seperti itu, bukan hal baru lagi baginya.
"Iya, mengerti," ucapnya sambil meletakkan kembali kardus itu di samping mesin cuci, lalu menyeret tangan Juna untuk meninggalkan ruangan laundry.
Melihat Eleonara lengah, Juna dengan kecepatan kilat mengambil kardus kecil itu dan membuka isinya. Begitu dilihat, kedua mata Juna langsung terbelalak besar dengan rona di pipinya.
__ADS_1
"Pak Juna!" teriak Eleonara sambil menggeram sebal. Dia merampas kembali kardus miliknya yang berisikan pakaian dalam semua. Dari CD sampai bra. Uh, bikin malu saja. Wajah Eleonara sampai memerah sampai rasanya tidak ada keberanian menunjukan diri.
"Kenapa harus disembunyikan? Hanya dalaman. Tidak boleh saya lihat, kah?" tanyanya sambil tersenyum tipis. "Pantas saja dari kemarin saya tidak pernah lihat kamu mencuci dalamanmu. Tidak tahunya di kumpulkan di situ."
Eleonara menggigit bibir bawahnya sambil menunduk menahan malu. "Sudah kubilang ini bukan sesuatu yang harus Pak Juna lihat! Aku belum sempat mencucinya karena malu, tahu!"
"Kenapa harus malu? Apa CD-mu ada yang bolong-bolong, pudar warnanya atau rusak jahitannya?" ledek Juna sambil terkekeh geli.
Eleonara langsung membekap mulut Juna karena sudah membuatnya kesal setengah mati diledek seperti itu. "Aku menyembunyikannya karena takutnya ketika Pak Juna melihatnya menggantung di jemuran malah membuat Pak Juna terangsang. Pak Juna kan, me-sum!" sindirnya tegas.
Juna langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Eleonara sambil menatapnya dalam. "Kamu bilang saya apa? Me-sum?" Alis kirinya terangkat naik.
Eleonara mengangguk penuh keyakinan dengan ekspresi meledek. Juna mendekatkan wajahnya, bahkan hampir tak ada celah diantara mereka. "Karena sudah terlanjur dituduh me-sum oleh istri sendiri. Kenapa tidak sekalian membuktikannya?"
Eleonara tersentak kaget setengah mati. Sampai dalam beberapa detik pikirannya kosong, tubuhnya membeku, matanya membulat sempurna, hampir saja ke luar dari rongganya. Hangat dan lembut yang dia rasakan di daerah sekitar bibirnya. Namun, bukan waktunya terlena.
Eleonara berusaha mendorong dada Juna, tapi Juna merengkuh tubuhnya dan menyesap bibirnya semakin dalam.
Li-lidahnya! ... Lidahnya masuk ke dalam mulutku! (Batin Eleonara panik bukan main)
Blush...
Eleonara kembali mendorong Juna dengan sekuat tenaga dan akhirnya mereka terlepas. Sayang sekali, padahal Juna sedang menikmatinya sampai matanya merem melek begitu.
__ADS_1
"P-Pak Juna, a-a-apa yang kamu lakukan?!" ucapnya gelagapan sambil menutup mulutnya dengan wajah pucat pasi. Jantungnya meledak di dalam seperti kembang api yang meletus-letus di angkasa. Lututnya terasa lemas dengan gairah yang mencuat.
"Sudah saya peringatkan semalam, kalau saya akan mulai dari bibir. Kamu lupa?" kata Juna sambil tersenyum usil. "Belum pernah, ya? Saya akan pergi selama seminggu, semoga dengan kejadian ini kamu tidak bisa melupakan saya. Setiap tidur, pasti akan selalu terbayang. Makan tak enak, belajar pun tak fokus, hahahaa ...."
Eleonara menggertakan giginya hingga rahangnya mengeras. Yang tadinya sedang berbunga-bunga malah berapi-api karena Juna terus saja mempermainkannya. Eleonara mengumpulkan tekad untuk membalasnya kali ini!
Namun tiba-tiba saja,
"Nona Leona?!" panggil Syam dengan wajah yang menjulur ke luar dari pintu. Dia terkejut melihat Eleonara dan Juna sedang berduaan dengan posisi yang membuatnya salah paham. "O-ow, maaf menganggu. Saya hanya ingin bilang kalau sudah jam tujuh. Kita bisa terlambat. Saya tunggu di depan."
"Errr...! Kalau tidak ingat Sekolah, aku hampir saja membalas perbuatan usil Pak Juna!" geramnya dengan mata berapi-api.
"Mau balas saya? Nih, ummm ...." Juna memonyongkan bibirnya.
Eleonara tak segan-segan menyentil bibir Juna yang nakal, lalu dengan wajah terpaksa menci-um punggung tangan Juna dan segera melarikan diri kocar-kacir.
"Hahahaha ... Leona, Leona," gumam Juna sambil geleng-geleng kepala. "Tapi, bibirnya manis juga. Rasanya tidak puas. Hah, seharusnya saya lakukan dari awal."
...
BERSAMBUNG!!
Jangan lupa sumbangan like & hadiahnya yang buanyak akak-akak cantik^^
__ADS_1
Kurang gereget gak bab ini, ehe? Komen ya ( ˘ ³˘)