
Di ruang tamu.
"Apa yang mau kamu katakan? Aku tidak bisa lama-lama, suamiku sedang sakit," ucap Eleonara dengan memperlihatkan keangkuhannya.
Dia sebal mengenai pertemuan pertamanya dengan Elena. Jika tahu wanita yang tak sengaja dia tabrak adalah Elena-mantan kekasih Juna yang sudah mengacaukan suasana hatinya saat ini, dia tak akan sudi bersikap ramah sampai memanggilnya Kakak pada saat itu.
"Santailah, aku ke sini bukan untuk merebut Juna darimu. Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian pagi tadi. Aku ... aku hilang kendali karena aku merasa aku dan Juna masih bersama-sama. Aku benar-benar minta maaf. Tidak ada niat untuk menghancurkan rumah tangga kalian sedikit pun," kata Elena dengan maksud tersembunyi di dalam kalimatnya.
"Maksudmu ... saat kalian bersama 'hal seperti itu' sering terjadi?" tanya Eleonara dengan gurat kesedihan di sorot matanya.
"Ah, itu ... em, kenapa kamu malah fokus pada perkataanku yang itu? Aku hanya ingin mengatakan maaf saja," ucap Elena pura-pura tak tahu, padahal memang pertanyaan itulah yang dia tunggu-tunggu.
"Jawab saja pertanyaanku."
"Duh, bagaimana, ya? Sudahlah, tidak baik membicarakan hal seperti itu. Adik kecil, kamu kan, sudah menjadi istrinya sekarang. Kalau kamu penasaran, tanyakan saja pada Juna. Tapi, sepertinya Juna juga tidak akan memberitahu apa-apa yang bisa membuat hatimu terluka," jawabnya sengaja. Perkataan dan nada suaranya semakin membuat Eleonara berpikir yang tidak-tidak. Elena tersenyum dalam hati melihat kegundahan yang Eleonara rasakan kini.
Namun, detik berikutnya ekspresi Eleonara kembali normal.
"Ya sudah, tidak masalah karena itu adalah masa lalu, apa pun yang terjadi diantara kalian saat itu, tidak ada hubungannya denganku saat ini. Aku terima Juna apa adanya, termasuk masa lalunya. Jadi, sebetulnya apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Eleonara tak ingin berlama-lama basa-basi dengan Elena.
Terlihat ketidakpuasan di wajah Elena saat Eleonara begitu lapang menerima masa lalu Juna. Sial! Padahal dia berharap Eleonara kesal sampai berlarut-larut.
"Sepertinya kamu sudah tahu banyak tentang aku dan Juna, ya. Awalnya aku sangat terkejut saat tahu Juna sudah menikah, tapi Juna menyuruhku untuk saling menghargai keputusan yang sudah kita ambil masing-masing. Jadi, yah ... aku mencoba menerimanya. Sebelumnya aku masih syok makanya bersikap tidak tahu diri di depanmu. Tapi, sekarang berbeda, aku ingin berteman denganmu," kata Elena sambil menarik kedua sudut bibirnya dan timbullah lesung di kedua pipinya yang indah persis seperti milik Eleonara.
Eleonara sampai terpesona melihat senyumnya. Apa saat dirinya tersenyum, banyak orang yang terpesona juga? Eleonara jadi berpikir demikian. Namun, ada pikiran lain yang bersarang di otaknya kini.
Juna setuju dijodohkan denganku karena aku mirip dengannya. Apa selama kita menikah, di setiap harinya dia selalu menganggap aku itu adalah Elena? (Batin Eleonara galau)
__ADS_1
"Kenapa jadi melamun? Aku ingin kita berteman baik. Tidak bisa, kah? Apa kamu sedang ketakutan kalau-kalau aku merebutnya darimu? Setidakpercayadiri ini kah, kamu?" tanya Elena yang kedengarannya seolah sedang meremehkan kepercayaan dirinya. Namun, Elena mengatakan itu karena dia sengaja, Elena memang hanya ingin memancingnya saja.
Tidak percaya diri? Benar, aku kehilangan banyak kepercayaan diri setelah dia datang. Bukan hanya dari fisik saja, tapi dari segala-galanya. Tapi, seharusnya tidak begitu. Aku harus percaya diri dan yakin, tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisiku di rumah ini! (Batin Eleonara dengan semangat menggebu)
Eleonara mengulurkan tangannya sambil merekahkan senyumnya. Sontak Elena terkejut melihat lesung di kedua pipinya yang timbul dengan indah. Namun, dia segera berusaha bersikap normal, tak menunjukan kecurigaan apa pun. Seolah biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa dengan lesung pipinya yang mirip.
"Aku ingin kita hanya saling kenal saja, tapi untuk berteman sepertinya harus memikirkan banyak pertimbangan. Usiaku yang masih muda tidak cocok berteman dengan usiamu yang sepertinya sudah cocok disebut tante-tante. Lingkaran pertemanan kita berbeda drastis," ucap Eleonara lirih sambil menyeringai sombong dengan menggerakan tangannya. Mau atau tidak nih berkenalan? Kalau tidak, yasudah. Begitulah ekspresinya kini.
Tante-tante? Dia ini sedang mengejekku, ya?! (Batin Eleonara geram)
Mau tak mau, Elena menjabat tangan Eleonara dan itu akan dijadikannya sebagai awal hubungan 'baiknya' dengan Eleonara.
...
Pagi harinya, saat Eleonara selesai sarapan dengan Juna, diam-diam dia menghampiri Syam yang sedang menunggunya di mobil untuk mengantar ke sekolah.
"Eh, Nona sudah selesai?" tanya Syam terkejut saat melihat kehadiran Eleonara dengan seragam sekolahnya yang tiba-tiba muncul di jendela mobil. Padahal dia sedang melamunkan sang pujaan hatinya.
"Menyelidiki sesuatu? Apa itu, Nona?" Syam sangat penasaran.
"Sstt, jangan kencang-kencang." Eleonara menyuruh Syam mendekatinya. Maksudnya telinganya yang mendekat, dia ingin membisikkan sesuatu.
Namun, Syam langsung menolaknya begitu saja. "Jangan terlalu dekat dengan saya, Nona. Bisa gawat kalau Tuan Juna lihat," katanya dengan sangat cemas.
"Aih, aku kira kenapa. Dia sedang minum obat dikamar, tidak akan lihat." Eleonara pun memberitahu apa yang harus Syam lakukan secara diam-diam, tanpa siapa pun tahu.
Dia ingin Syam mengecek CCTV dua hari lalu di depan gerbang rumah Juna, sebab sejak dia menabrak Elena, ada kecurigaan yang muncul dalam pikirannya. Seolah belum puas jika Eleonara tidak melihat rekaman CCTV pada saat itu dengan benar. Apa dia sungguh menabrak Elena sampai kakinya luka-luka atau ini hanya ...? Entahlah, kita lihat saja nanti setelah Syam memeriksa CCTV-nya.
__ADS_1
"Baik, Nona. Saya janji Tuan Juna tidak akan tahu," kata Syam sambil mengangguk bersungguh-sungguh.
Saat sedang begitu, tiba-tiba saja datang sebuah mobil mewah dan berhenti di depan gerbang rumah Juna. Pintu mobilnya terbuka dan memperlihatkan sosok Emran dengan kemeja abu-abu serta jubah hitam yang menjuntai sampai mata kaki. Pesonanya saat tersenyum membuat pandangan Eleonara yang tadinya buram langsung jernih seketika.
Eleonara sampai melepaskan kacamatanya dan menguceknya dengan cepat. Yang dia lihat ini aktor Turki atau bukan? Atau malah pangeran dari negeri dongeng yang ke luar dari buku komik?
"Selam," sapa Emran dengan aksen Turki-nya yang khas.
"Ah, eh, s-selam," jawab Eleonara kelimpungan. Dia hampir saja lupa dengan statusnya yang sudah bersuami. Masih sempat-sempatnya mengagumi pria lain di saat suami sendiri pesonanya begitu dahsyat mengguncang seisi dunia.
Dasar aku. (Batin Eleonara)
"Emran Bey mau bertemu Pak Ju ... ah, maksudku mau bertemu Juna?" tanya Eleonara sambil bersikap rapi, seolah sedang ada penilaian penampilan di sekolahnya.
"Bukan, saya kemari untuk kamu. Sudah sarapannya? Ayo, berangkat," kata Emran sambil memeriksa jam tangan branded yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Berangkat?! Tunggu! Berangkat ke mana?" Spontan Eleonara bertanya-tanya mengenai sikap Emran.
"Sekolah. Hari ini saya akan menghabiskan 24 jam bersamamu. Bukankah sebelumnya sudah pernah bilang?"
Apa!
24 jam bersama Emran dan diantar ke sekolah? Keributan apa yang akan terjadi di sekolahnya jika Eleonara benar-benar diantar oleh pria setampan Emran? Juna saja belum pernah melakukannya karena tidak berani, takut Eleonara kesulitan. Jika Juna tahu hal ini, bagaimana mengatasinya?
...
BERSAMBUNG!!
__ADS_1
.
.