
Sesampainya di Myanmar, Juna dihampiri oleh seorang pria berambut pirang berkebangsaan Amerika. Dia adalah rekan Juna yang akan ikut serta dalam perjalanan berburunya. Dia sengaja menjemput Juna di Bandara.
Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi dari Bandara. Di perjalanan saat Juna sedang berbincang dengan Stewart, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk. Setelah diperiksa, ternyata Bu Diana menelepon melalui panggilan video.
Juna menjawabnya tanpa ragu sambil merapikan rambut tebal bergelombangnya melalui layar ponsel.
"Kenapa, Bu?" tanyanya setelah melihat wajah ibunya muncul di layar.
"Kamu sedang di perjalanan?" tanya Bu Diana.
"Iya, aku baru tiba di Myanmar," jawabnya sambil merasakan angin sepoi-sepoi.
"Apa? Myanmar? Dengan Eleonara?" tanya Bu Diana lagi dengan tatapan penasaran.
"Tidak. Aku sendiri ke sini."
"Lho, kenapa kamu meninggalkan istrimu, Jun? Kalian kan, baru saja menikah beberapa hari yang lalu."
"Ada barang yang harus aku ambil di sini. Lagipula Leona harus sekolah. Aku tidak bisa mengajaknya ikut," jelasnya sambil memperhatikan ibunya yang sedang duduk di sofa pijat.
"Memangnya tidak bisa diambil lain kali? Kapan kamu pulangnya? Jangan lama-lama meninggalkan istrimu di rumah, tidak baik," cecar Bu Diana dengan suara rendah khas wanita tua.
"Hanya seminggu."
"Ya Tuhan, seminggu? Terlalu lama dong, Jun. Bagaimana dia bisa mengurus rumah?"
"Aku sudah menyuruh Syam memanggil tukang bersih-bersih selama aku tidak ada. Setelah dari Myanmar, aku perlu ke Sri Lanka lagi."
"Kamu ini bagaimana bisa setenang itu di saat suasana pernikahan masih terasa, malah pergi jauh meninggalkan istri," gerutu Bu Diana, bibirnya komat-kamit seperti baca mantra saat mengomeli Juna. "Oh iya, Jun, bagaimana malam pertama kalian? Hihi ... ah, Ibu hanya penasaran saja apa dengan berhubungan benar-benar bisa membuatmu tidur nyenyak tanpa perlu mengkonsumsi obat tidur?"
__ADS_1
"Huff ... malam pertama apa, Bu. Dia datang bulan tepat di malam pertama. Jadi, aku belum memastikannya sampai sekarang. Mungkin juga selama satu bulan kedepan," keluhnya dengan bibir mengerucut.
"Lho, kenapa bicara begitu? Ada apa memangnya sampai satu bulan?" tanya Bu Diana heran dengan dahi mengernyit.
"Dia bilang datang bulannya berlangsung sekitar satu bulan. Bahkan biasanya lebih dari sebulan," jelas Juna sambil melirik ke arah Stewart di sampingnya yang sedang mengemudi. Stewart hanya mendengarkan saja karena dia tidak mengerti bahasa Indonesia.
"Sebulan? Hahaha ...!" Bu Diana malah menertawai Juna. Membuat suasana jadi riuh.
"Kenapa, Bu? Apa ada yang lucu?" tanyanya heran.
"Aduh, perut Ibu sampai sakit, hahaha! Juna, Juna, bisa-bisanya Eleonara mengerjaimu dan kamu percaya? Bhahaha!"
"Bu, aku sedang bersama teman," bisik Juna sambil mengedipkan sebelah matanya. Mengisyaratkan pada ibunya untuk merendahkan nada bicaranya apalagi tawanya yang pecah itu. "Memangnya apa yang salah?" sambungnya penasaran.
Juna sudah bisa membaca ada yang tidak beres. Firasatnya berkata buruk.
"Mana ada datang bulan selama satu bulan, Jun? Kalau pun ada orang itu bermasalah. Apalagi sampai satu bulan lebih. Normalnya datang bulan itu 3-7 hari saja. Ibu yakin Eleonara belum siap makanya mengerjaimu untuk menunda waktu. Bisa-bisanya kamu percaya, haduh!" Bu Diana sampai geleng-geleng kepala terhadap Juna.
"Santai, Jun. Jangan menganggapnya terlalu serius. Wajar saja dia belum siap. Usianya masih terbilang sangat muda. Apalagi katanya dia belum pernah dekat dengan laki-laki. Eleonara cukup tertutup orangnya, atau mungkin bisa dibilang dia polos. Ibu harap kamu bisa memakluminya," tutur Bu Diana berusaha mencairkan emosi yang terlihat dari wajahnya.
Juna hanya mengangguk, lalu dia menutup telepon dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Beraninya dia mengerjaiku dan membuatku ditertawai Ibu. Tunggu aku pulang, aku akan memberinya pelajaran! (Batin Juna membara)
....
Saat jam istirahat, Eleonara dan Vivian sedang makan mie ayam di kantin sekolahnya. Semenjak datang ke Sekolah tadi pagi, dia terlihat tidak tenang, pipinya terus merona. Awalnya Eleonara tidak tenang karena terbayang kejadian di ruang laundry yang membuat jantungnya terus berdebar tak karuan. Yang Juna katakan semuanya benar, dia tidak fokus belajar, makan pun tak enak.
Kemudian, saat ini Eleonara merasa seperti ada yang mengawasi dari beberapa sudut. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin saat Risty dan teman laki-lakinya mengejarnya. Timbullah prasangka buruk terhadap mereka.
__ADS_1
"Udah aku laporin ke Kepsek tadi. Tenang aja, mereka gak bakal gangguin kamu lagi, El. Apalagi kamu salah satu berlian di sekolah ini, pasti pihak sekolah ngelindungin kamu. Makan, makan, abisin. Keburu masuk nanti," ujar Vivian yang merasa paham kalau Eleonara ketakutan sejak tadi.
"Serius kamu laporin mereka?" tanya Eleonara lirih sambil menyentuh kacamatanya.
Vivian mengangguk penuh keyakinan. "Aku gak pernah main-main sama ucapan aku. Kalau kamu gak bisa ngelawan, cara yang paling tepat adalah ngelaporin mereka. Biar sekolah yang ngehukum anak-anak nakal kayak gitu."
"Tapi, Risty punya banyak anak buah lho, Vi. Kalau mereka tau kamu yang laporin mereka gimana? Bisa makin besar masalahnya," bisik Eleonara sambil terus menatap waspada.
"Lah, takut-takut amat. Kalau mereka ngancam, ancam balik. Kalau mukul, jangan balik mukul, laporin biar langsung ditangkep polisi, hahaa! Oh iya, gimana nih, semalem hehe ... sukses gak sama Kak Midas?" goda Vivian sambil menyenggol lengan Eleonara.
"Mulai! Mulai!"
"Kak Midas minta nomor kamu lho, tadi pagi. Udah ada chat belum? Coba deh, cek HP kamu, hihi ...."
"Lho, kenapa ngasih nomor aku ke Kak Midas?!" protes Eleonara dengan kilapan di matanya.
Vivian menghela napas hampa sambil memutar bola matanya. "El, Kak Midas udah mulai nunjukin kalau dia tertarik sama kamu. Udahlah sikat aja. Gak liat apa kemaren, Ibu ngedukung kamu sama Kak Midas. Tau gak, waktu Kak Midas minta nomor kamu, Kak Arga kaget terus protes. Kayak yang gak terima gitu."
"Cih, masa sih?"
"Eh, gak percaya. Bener tau! Terus Ibu bilang, cewek kamu kan banyak, gak usah deketin Ele kalau cuma buat main-main, gitu katanya. Aku sama Kak Midas tertawa puas dong, haha! Ibu juga ternyata tau kalau Kak Arga playboy," kata Vivian dengan gurat kebahagiaan di wajahnya. Membuat Eleonara jadi ikut tersenyum karena terbawa suasana.
Eleonara merasa ponselnya yang berada di saku rok Sekolah bergetar. Dia bisa menduganya kalau ada pesan masuk. Penasaran ingin memeriksa, tapi tidak tepat waktu dan situasi. Akhirnya Eleonara mengabaikannya.
"Oh iya, El, bukannya kamu lagi cari kerjaan paruh waktu?" tanya Vivian sambil menyesap es boba. "Tadi di jalan aku liat ada lowongan di Hotel. Lumayan, buat nambahin bayar kelulusan nanti."
...
BERSAMBUNG!!
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah memberikan like, komen vote/hadiahnya^^
Terus dukung novel ini ya ╰(⸝⸝⸝´꒳`⸝⸝⸝)╯