Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Beraninya Menghina Jamur Super Juna!


__ADS_3

"Nanti aku jelasin. Aku angkat dulu teleponnya," kata Eleonara sambil kembali merampas ponselnya dan buru-buru bersembunyi di kolong meja sambil menyuruh Vivian diam. Dia tak ingin perkataan Vivian selanjutnya membuatnya jadi pusat perhatian teman sekelasnya.


"Halo, siapa ini?" tanya Eleonara lirih.


"El, ini Kakak."


Deg!


"Kak Varel!"


"Kamu ganti nomor kenapa gak bilang-bilang? Tau gak, Kakak cemas takutnya ada apa-apa sama kamu soalnya dari kemaren-kemaren susah dihubungi. Nanya sama Sora gak dapet jawaban terus," ujar Varel di balik telepon, sedang mengeluh.


Ekspresi Eleonara langsung cerah seketika. Seperti ada matahari yang menyinari kehidupan kelamnya lagi. "Aku ... lupa. Dari mana Kakak tau nomorku?"


"Kakak minta dari Ibu, sebenernya udah dari lama, cuma Ibu baru ngasih nomor kamu pagi ini. Besok Sabtu, Kakak pulang. Kamu libur, kan? Ikut jemput di Bandara sama Ayah Ibu, ya?" Suara Varel terdengar senang karena akhirnya bisa berbincang dengan Eleonara lagi.


"Eh? B-besok Kak Varel pulang? Emangnya udah beres di sana?" tanya Eleonara lirih sambil menyentuh kacamatanya, gugup. Varel tidak tahu soal pernikahannya, bagaimana dia menghadapinya nanti?


"Udah, tinggal persiapan wisuda. Kakak kangen nih, besok harus ikut pokoknya, gak mau tau!"


"Ah ... iya, tapi kalau dibolehin sama Ayah Ibu," jawabnya ragu. Sebenarnya ragu karena Juna bukan karena orang tuanya.


"Hah, tenang aja. Mereka urusan Kakak. Belajar yang bener, bentar lagi ujian kelulusan jangan main HP terus. Udah dulu kalau gitu, masih jam pelajaran, kan? Kakak tutup teleponnya, ya."


"Iya, besok hati-hati di jalan. Jangan lupa oleh-oleh buat aku, hihi."


"Hmm, dasar pemburu oleh-oleh!"


Panggilan telepon pun terputus. Eleonara yang kelewat senang sampai tak menyadari kalau dia sedang bersembunyi di kolong meja. Alhasil begitu hendak bangun, kepalanya terjeduk meja.


Brugh!

__ADS_1


"Uh!"


"Ya ampun, El! Pelan-pelan dong, siapa yang nelepon emang? Kamu ngobrolnya bisik-bisik sih, jadi gak bisa nguping aku," gerutu Vivian.


"Kak Varel. Mau pulang katanya." Eleonara cengengesan sambil mengusap kepalanya yang cenat-cenut.


"What, pangeran berkuda putihku mau balik? Kapan?!" Kedua mata Vivian langsung berbinar ria mendengar Varel akan pulang. Dia sudah lama memendam perasaan pada Varel karena Varel adalah tipe pria idamannya. Bukan hanya baik dan pintar, tapi juga memiliki effort yang kuat.


"Besok. Kak Varel nyuruh aku ikut ngejemput ke Bandara sama Ayah Ibu."


"Huwaaa, pengen ikut! Tapi, tumben naik pesawat pulangnya? Biasanya pake mobil," ucap Vivian.


"Ya kalau naik mobil capek kali. Dari Yogyakarta ke sini kan, jauh banget," kata Eleonara dengan wajah santai.


"Hehe, iya, juga. Kayaknya Kak Varel udah gak sabar pengen ketemu sama aku, hihiy. El, jangan kira kita ngobrolin Kak Varel gini cuma buat pengalihan doang. Jelasin ke aku masalah HP ini, buruan!" kecam Vivian sambil melipat kedua tangannya di atas perut.


"Ah, hehe ... itu, ya."


"Mampus! Pak Reka lagi. Nanti aja jelasinnya, El. Tenang, woi, tenang! Sikap rapi!" teriak Vivian seperti ibu kost yang galak. Mengamankan situasi agar kondusif karena guru kali ini killernya bukan main. Wajahnya langsung tegang dan pucat.


Eleonara yang melihatnya hanya bisa tertawa dalam hati. Mungkin hanya dia murid di kelas ini yang mau sekiller apa pun gurunya bisa dihadapi dengan santai karena Eleonara bersahabat baik dengan semua guru. Ada kalanya guru yang bertanya mengenai jawaban padanya. Begitulah adanya.


....


Malam harinya.


Juna berjalan masuk ke kamar, dilihatnya Eleonara yang lagi-lagi sedang membaca novel di atas ranjang dengan amat santai. Santai dari luar saja, sebenarnya pikirannya sedang berdesakan di kepala karena memikirkan masa lalu Juna dengan Elena.


Tiba-tiba saja Juna meletakan sesuatu di atas nakas. "Pakai rutin setiap habis mandi," ucapnya yang membuat Eleonara terheran-heran melihat benda berbentuk cup kecil tersebut.


Eleonara menjatuhkan novelnya, lalu dengan spontan mengambil cup itu. "Apa ini?"

__ADS_1


"Obat oles untuk memperbesar dada dan bok*ng," celetuk Juna sambil menggerakkan kedua alisnya dengan tatapan nakal.


Eleonara sampai tercengang karena Juna sungguh-sungguh ingin membentuk tubuhnya menjadi dua kali lipat lebih besar dari yang saat ini dia miliki.


"Kamu serius?!"


"Kapan kamu lihat saya tidak serius?" tanya Juna sambil merayap naik ke atas ranjang, lalu menarik kerah piyama Eleonara.


"Mau ngapain? Aku sedang baca novel!"


"Oh, karena kelihatannya kamu sedang sibuk, saya bantu kamu mengolesinya saja. Mau dada dulu atau bagian belakang? Berbaliklah," goda Juna sambil mengulum senyum. Dia ambil alih cup itu dari tangan Eleonara.


Ugh, padahal aku sedang tidak mood! Aku sedang marah memikirkan dia dengan cinta masa lalunya itu. Apa mereka benar-benar sudah bercinta? Jika iya, tidak heran kalau Pak Juna sering merayuku dan menggodaku seperti ini. Hah, tapi hatiku rasanya tidak terima. Apa jangan-jangan Pak Juna tidak bisa melupakan bentuk tubuh Elena, makanya memaksaku memperbesar bagian ini dan itu? Memangnya sebesar apa sih, milik Elena itu? Ck, semakin dipikirkan semakin jengkel saja! (Batin Eleonara menggerutu)


"Biar aku saja, aku juga bisa sendiri! Kalau Pak Juna merasa tidak puas dengan milikku, aku juga punya hak untuk meminta agar jamur Pak Juna di perbesar. Punya Pak Juna itu kecil, sangat kecil bahkan. Aku sampai tidak merasakannya kalau milik Pak Juna sudah masuk karena saking kecilnya. Sudah kecil, pendek, tidak memuaskan lagi. Sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan," ejek Eleonara sambil merampas kasar obat pembesar itu dari genggaman Juna.


Ulangi ; Kecil, pendek dan tidak memuaskan! (Jleb, jleb, jleb)


Hatinya tertusuk, sakit sekali. Juna langsung naik pitam.


"Leona, kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan?! Jika ingin menarik kata-katamu sekarang belum terlambat," geram Juna dengan rahang mengeras kuat. Kepalanya mengeluarkan kepulan asap, wajahnya merah seperti Hellboy, matanya berapi-api. Tanduk, taring dan cakarnya muncul bersamaan. Juna bersiap ancang-ancang untuk menerkam Eleonara.


Duh, gawaaat! Saking emosinya sampai kebablasan bicara begitu. Dia pasti tidak terima jamur supernya aku hina. Padahal setiap berhubungan selalu tidak kuat menahan serangannya. >_< (Batin Eleonara)


...


BERSAMBUNG!!


Cepet tolongin Eleonara sebelum terlambat!


.

__ADS_1


.


__ADS_2