
Eleonara langsung mengumpat di belakang tubuh Bu Diana, minta perlindungan. "Bu, aku melakukan itu bukan semata-mata usil saja, tapi karena Pak Juna masih terbayang-bayang masa lalunya. Tidak salah kan, kalau aku ingin Pak Juna melupakannya?"
"Tentu saja tidak, Güzel," imbuh Pak Mohsen membela. "Sudah sepatutnya kamu melupakan Elena, Juna. Tidak baik terus memikirkannya. Di sampingmu kan, sudah ada Leona. Jangan bikin Ayah malu sebagai orang tua. Mau nantinya Leona juga pergi meninggalkanmu karena kamu tidak kunjung lepas dari masa lalu?"
Kedua mata Juna yang berapi-api langsung padam seketika. Dia menghela napas kasar sambil mengangguk. "Sebenarnya tidak perlu selalu dibahas. Yang ada malah teringat terus. Aku juga bukannya tidak mau melupakannya, hanya masih dalam proses saja," kata Juna.
"Awas saja kalau sampai Ayah dengar laporan dari Leona atau siapa pun kamu masih mengingat Elena bahkan mencoba mencarinya lagi," ujar Mohsen memperingati dengan tegas.
"Tidak ada yang tahu keberadaannya juga. Ayah tenang saja."
"Baguslah. Yang benar ya, kamu menjalankan rumah tangga. Harus bisa membimbing istri dan menjaga perasaannya. Ayah dari mulai berpacaran dengan ibumu selalu menjaga perasaannya dan berupaya tidak membuatnya sedih. Sampai sekarang diterpa badai sekencang apa pun, jika masing-masing dari kami saling percaya dan terbuka, tidak akan goyah sedikit pun. Awal pernikahan pasti terlihat lancar harmonis, tapi kedepannya akan banyak lika-liku, tidak akan semulus jalan tol. Persiapkan mental kalian masing-masing, terima segala ujian dengan lapang dada. Anggap masalah sebagai tolak ukur kekokohan pernikahan kalian. Jangan sampai seperti pernikahan kakakmu," jelas Mohsen panjang kali lebar kali tinggi sambil beranjak bangun.
"Sudah, itu saja. Ayah dan Ibu akan pergi ke mall untuk refreshing. Leona, baik-baik di rumah, ya. Nurut pada suamimu, buat Juna betah di rumah bagaimana pun caranya," sambung Pak Mohsen sambil mengedipkan sebelah matanya. Tandanya kalau dia sangat mendukung serta berharap penuh pada pernikahan mereka.
Eleonara mengangguk sambil tersenyum bahagia. Baru kali ini merasakan yang benar-benar namanya keluarga, saling mengingatkan, membantu dan melindungi seperti yang Pak Mohsen dan Bu Diana tunjukan padanya. Mereka benar-benar contoh orang tua yang baik. Ketika ketakutan, tak sungkan berlindung pada Bu Diana, di sisi lain Pak Mohsen membelanya.
Pak Mohsen dan Bu Diana pun pergi, tidak lama dari itu Eleonara berangkat ke Sekolah dengan Syam. Keadaan rumah kembali sunyi.
Juna melihat keadaan punggungnya di cermin. Dia berusaha menghapusnya, tapi sulit. Tiba-tiba matanya melihat ke arah nakas, ada spidol hitam di sana. Juna mengambilnya dan memeriksanya.
"Permanen?! Errr, Leonaaaa!" teriak Juna bak suara auman singa yang menggelegar di udara. "Sepertinya hukuman tadi malam terlalu ringan untuknya," gumamnya dengan ratusan pikiran nakal di kepala.
....
Di Sekolah.
Sewaktu jam istirahat, Eleonara dan Vivian pergi ke kantin. Mereka memesan bakso dan jus jeruk peras yang jika di minum saat cuaca panas terasa sangat segar.
__ADS_1
Setelah mengambil pesanan, mereka duduk di kursi yang kosong sambil mengobrol.
"El, kayaknya udah lama aku gak liat kamu mainin HP," ucap Vivian dengan mulut penuh bakso.
Eleonara yang sedang menyeruput jus jerus sampai tersedak mendengarnya. "Uhuk, aduh! Bentar lagi ujian kelulusan, ngapain main HP terus?" bualnya sambil mengusap tenggorokannya.
"Iya juga, sih. Gak heran jawaban seorang murid teladan kayak gitu," ucap Vivian sedikit menyindir. Dia kembali memakan baksonya.
"Vi, udah dibilangin ke Kak Midas belum kalau aku gak mau ada hubungan apa-apa sama dia? Maksudnya aku kan, udah terlanjur nganggap dia kayak kakak aku sendiri. Dari SMP lho, Vi, aku kenal Kak Midas. Wajar aja ya, kan?"
"Udah, kemaren aku bilangin kayak gitu."
"Terus gimana?" Terlihat ketidaktegaan di mata Eleonara.
"Ya Kak Midas kayak yang kecewa aja, gitu. Mungkin dia udah ngarep kalau kamu gak mungkin nolak dia, tapi ternyata ...."
"Huff ...." Eleonara menghela napas hampa sambil memikirkan kondisi Midas. Namun, semakin di pikirkan malah semakin merasa tidak enak. "Oh iya, gimana kakinya, udah sembuh?"
"Eh, emm ... gak bisa kayaknya, Vi. Ibu aku sama Kak Sora mau ke luar sore ini. Aku di suruh jaga rumah. Tau sendiri Ayah aku pulangnya malem terus," bualnya lagi. Setelah menikah dengan Juna kepandaian Eleonara dalam berbohong semakin tajam. Padahal sebelumnya, berbohong adalah sesuatu yang hampir tidak pernah Eleonara lakukan.
"Huh, lagi-lagi si Mak Lampir sama Kakak Lampir itu. Mau ke mana emang mereka? Centil amat. Kenapa gak sekalian ngajak kamu coba? Kalau main pasti berdua terus. Benar-benar!" gerutu Vivian sambil menggigit kasar bakso yang dia tusuk dengan garpu.
"Udah, makan aja, jangan sambil marah-marah. Nanti keselek, lho!"
...
Selesai kelas, Eleonara langsung pulang diantar Syam di tempat seperti biasa, tempat yang paling sepi di dekat Sekolah.
__ADS_1
Tanpa Eleonara tahu, Vivian sejak tadi mencarinya. Dia mencari di kelas sudah tidak ada, di kantin tidak ada, di perpustakaan juga tidak ada.
"Apa udah pulang, ya? Duh, padahal besok tugas Matematikanya harus di kumpulin pagi-pagi. Gak sengaja masuk ke tas aku tadi. Lagian tiap pulang cepet-cepet banget, kayak yang dikejar Debt Collector aja. Kalau Ele gak ngerjain tugasnya, aku juga auto gak ngerjain, dong? Huff, gak bisa dibiarin pokoknya!" gumamnya sambil menghentikan taksi, lalu menuju rumah Abraham.
Sesampainya di rumah Abraham, Vivian mengetuk pintu rumah sambil memanggil nama Eleonara. Di tangannya menggenggam sebuah buku tugas milik Eleonara.
Tidak lama, pintu pun terbuka. Namun, yang membukakan pintu bukan Eleonara, melainkan Mariam dengan tahi lalat di bawah matanya. Vivian tampak terkejut, tapi dia berusaha mengukir senyum di bibirnya.
Bukannya kata Ele, Mak Lampir ini mau ke luar sama anaknya? (Batin Vivian, terheran)
"Eh, Bu Mariam, hehe ... Eleonaranya ada?" tanyanya sungkan.
Mariam menggelengkan kepalanya dengan wajah masam, ciri khasnya. "Mau apa nyariin Ele?" tanyanya sinis, bikin Vivian merinding ketakutan saja karena auranya gelap dan suram.
"Ah, ini mau ngembaliin buku tugasnya yang ketinggalan di Sekolah. Emangnya ke mana Ele?" tanya Vivian lagi karena penasaran.
"Dia kan, udah gak tinggal di sini. Kamu gak tau?" celetuk Mariam sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
What?! Gak tinggal di sini? Apa Ele diusir sama si Mak Lampir ini, terus nutup-nutupin dari aku? Pantes aja tiap pulang Sekolah cepet-cepet kayak yang nyembunyiin sesuatu. (Batin Vivian)
"Gak tinggal di sini gimana ya, Bu? Ini kan, rumahnya, terus kalau gak tinggal di sini, dia tinggal di mana?" cecar Vivian yang sudah terlanjur berprasangka buruk.
...
BERSAMBUNG!!
Akankah rahasia Eleonara terbongkar kali ini oleh Vivian?
__ADS_1
.
.