
"Mayat?" gumam Juna dengan kening mengernyit. Saat Juna menyibakkan selimut, wajah Sora langsung terekspos. Betapa terkejutnya Juna melihat wanita yang berada di hadapannya ternyata bukan istrinya, melainkan wanita lain.
"Kamu?!" Juna langsung beringsut mundur dengan mata membulat. Dia mengucek matanya, takutnya salah lihat. "Bukannya kamu anak kedua Pak Abraham? Sedang apa kamu di kamar saya? Mana Leona?"
Firasat Juna langsung buruk, tanpa menunggu respon Sora, Juna berlari ke halaman belakang. Sora berusaha menggapainya untuk menghentikan, tapi tak sempat. Juna sudah terlanjur pergi.
"Sial, sial, sial!" seru Sora sambil gigit jari. "Apa si culun itu bener-bener mati?! Gawat, aku dalam bahaya!" Sora segera melarikan diri dari rumah Juna.
...
Betapa syoknya Juna ketika melihat tubuh Eleonara yang sudah mengambang di permukaan air. "Tidak!" Kedua matanya berkedut memerah panas. Juna langsung menceburkan diri ke dalam air tanpa medulikan apa pun.
Byur!
"Leona! Leona, kamu bisa dengar saya?! Leona?!" panggil Juna terpukul saat tubuh Eleonara begitu lemah tak bertenaga di dalam pelukannya. Wajahnya pucat, bibirnya membiru.
Juna pun segera menyeret Eleonara ke tepi kolam renang. Syam yang melihatnya pun syok, kalau ternyata seseorang yang dia sebut mayat tadi adalah Eleonara karena Syam kira Juna sedang bermesraan dengan Eleonara di kamarnya. Tubuh Eleonara yang mengambang pun membungkuk, jadi dia tak mengenali wajahnya.
"A-ada apa ini? Bagaimana mungkin Nona Leona -" Syam sampai sulit berkata-kata saking terkejutnya.
Juna meletakan Eleonara di tepi kolam renang dengan tubuh basah kuyup. Dia mendekatkan telinganya pada hidung serta mulut Eleonara. Masih bernapas, meski embusannya pendek. Juna menyentuh denyut nadinya, memeriksa ulang dan memang masih hidup. Tiba-tiba Juna merobek kasar bagian kerah baju Eleonara agar Eleonara dapat menghirup udara lebih banyak. Membuat Syam melongo dan langsung membuang pandangan ke arah lain sebab belahannya terlihat jelas.
"Leona?! Saya sudah datang menyelamatkanmu. Saya memerintahkan kamu untuk bangun!" ucap Juna sambil menitikkan air matanya.
Juna menjepit hidung Eleonara sambil memberikan napas buatan beberapa kali, diselingi dengan menekan dada Eleonara. "Ayo, Leona! Saya tahu kamu juga sedang berusaha. Jangan buat saya takut!" rengeknya.
__ADS_1
Eleonara masih belum merespon, denyut nadinya semakin lemah. Juna hampir putus asa. Terlihat jelas di wajahnya yang murung.
"Kenapa kolamnya dalam?! Aku sudah peringatkan sebelumnya, kedalamannya tidak boleh lebih dari tubuh Leona! Syam, panggil ambulans, cepat!" seru Juna yang berusaha untuk tidak panik, meski kenyatannya sangat panik sambil terus melakukan kompresi dada.
Syam kelimpungan mencari ponselnya yang entah di mana, mendadak pikirannya kosong. Membuat Juna kesal dan tidak sabaran. "Siapkan mobil saja, cepat, cepat, cepat!"
"A-ah, baik Tuan."
Syam berlari keluar, diikuti dengan Juna yang menggendong Eleonara. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, saat Juna hendak membuka mobil, Syam menghentikannya. "Biarkan saya saja yang membawa Nona Leona masuk, Tuan. Jika ada seseorang yang melihat kalian, takutnya membuat Nona Leona kesulitan kedepannya."
"Tapi -" Juna menatap pilu pada Eleonara yang kini berada di pelukannya.
Dia mengambil masker yang sudah tersedia di mobil. Setelah memakainya, Juna tak memedulikan apa pun lagi dan langsung menggendong Eleonara masuk ke rumah sakit.
"Tuan, tidak mau ganti pakaian dulu?" tanya Syam turut sedih melihat Juna gelisah mengkhawatirkan Eleonara sampai tak memedulikan keadaan dirinya sendiri. Bahkan tak malu dilihat banyak orang karena sekujur tubuhnya basah kuyup.
"Syam, saat aku masuk ke kamar, anak kedua Pak Abraham atau kakaknya Leona berada di kamarku. Dia pura-pura tidur seolah-olah dia adalah Leona. Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia tidak tahu kalau Leona tercebur ke kolam renang?! Aku merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu. Kamu pulanglah, cek CCTV di halaman belakang. Lihat kejadiannya seperti apa. Aku juga melihat ada memar di lengan Leona," ujar Juna mengutarakan yang dia pikirkan dari tadi dengan ekspresi serius.
"Baik, saya akan pulang dulu dan kembali membawa pakaian ganti untuk Tuan dan Nona secepatnya."
....
Sesampainya Syam di rumah, dia langsung memeriksa CCTV yang tersambung di komputer Juna. CCTV yang terpasang hanya ada satu di halaman depan dan dua di halaman belakang, yang satu mengarah pada gudang agate yang satu lagi mengarah pada pintu keluar serta kolam renang.
__ADS_1
Betapa syoknya Syam ketika melihat Sora menyeret kasar Eleonara ke luar dari rumah dengan menarik rambutnya. Terdengar suara Eleonara merintih dan meminta untuk dilepaskan. Eleonara pun tampak berusaha melepaskan rambutnya dari cengkeraman Sora, tapi tidak berhasil. Setelah Sora memakinya, dia pun melempar Eleonara ke dalam air.
Syam yang melihatnya seakan tidak percaya. Tangannya menutup mulutnya yang sedang menganga. "Ada perselisihan apa diantara Nona Leona dan kakaknya? Kenapa kakaknya begitu kejam seperti ini?"
Syam masih terus memantau. Eleonara terlihat naik ke permukaan, tangannya menjulur ke luar meminta tolong. Sora tiba-tiba terlihat panik dan dia berusaha mengulurkan tangannya, tapi saat Eleonara hendak menggapainya, Sora menarik diri dan malah masuk begitu saja ke rumah. Seolah tak peduli dengan nyawa Eleonara yang berada di depan matanya.
"Astaga, ini benar-benar sudah kelewatan! Bagaimana bisa dia masuk ke rumah dengan wajah datar tanpa ekspresi seperti itu? Seolah-olah tak terjadi apa pun? Padahal Nona Leona membutuhkan pertolongan," geram Syam dengan rahang mengeras.
Dia segera mengantongi CCTV dan mencari pakaian Juna serta pakaian Eleonara, lalu membawanya ke rumah sakit.
....
Di rumah sakit, Syam memberikan pakaian kering pada Juna untuk segera diganti sambil menceritakan apa yang sebenarnya terjadi menurut CCTV. Syam pun memperlihatkan video CCTV yang sudah dia unduh sebelumnya di ponsel. Juna tampak terkejut dan tak percaya, ekspresinya langsung berubah dengan aura yang mengerikan.
Juna menitipkan Eleonara pada Syam karena Dokter sudah memeriksanya dan memberikan keterangan kalau Eleonara baik-baik saja, tidak ada cedera dan kerusakan lainnya, hanya perlu istirahat saja.
Juna pun segera mengganti pakaiannya di toilet, lalu mengambil kunci mobil dari Syam.
"Tuan mau ke mana?" tanya Syam cemas.
Juna tidak menjawabnya. Dari tatapannya yang berapi-api dan ekspresinya yang merah padam sudah bisa menjelaskan kalau dia akan meminta penjelasan dan memperhitungkan semua ini dari sang pelaku kejahatan.
"Berani-beraninya dia mencelakai Leona! Sudah bosan hidup, ya?!" gumam Juna geram sambil mengemudikan mobil dengan napsu menggebu.
...
__ADS_1
BERSAMBUNG!!
Jangan lupa dukungannya, ya^^