
Bu Mariam tidak mengatakan apa pun pada Vivian, dia malah memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumah yang Eleonara tinggali saat ini, kemudian dia masuk tanpa penjelasan, membuat Vivian bingung dan hanya bisa menduga-duga.
"Gak jelas banget sih, si Mak Lampir ini. Tapi, kayaknya ini alamat rumah yang Ele tempatin, deh. Sebenernya ada apa ya, kayak ada yang aneh. Ke sana aja kali, ya?" gumam Vivian menimbang-nimbang.
Akhirnya Vivian menghentikan taksi di tepi jalan dan memberikan alamat tersebut pada sang supir, meminta diantarkan ke tempat yang tertera di secarik kertas itu.
Sesampainya di rumah yang terlihat luas bernuansa eropa, Vivian mematung di depan gerbang sambil celingak-celinguk ke sana-kemari. "Gak salah Ele tinggal di sini? Maksudnya ini rumah segede gini rumah siapa? Kok, bisa dia tinggal di sini? Jangan-jangan...!"
"El! Eleonara?!" panggil Vivian sambil mengguncang gerbang pelan-pelan. Begitu Vivian melihat ada bel di tembok gerbang, dia langsung menekannya.
Eleonara sedang bersantai di halaman belakang sambil melihat kolam renang yang sudah jadi, sudah bisa dipakai, tinggal menunggu Juna pulang, lalu dia akan berenang bersama Juna. Eleonara berjalan di tepi kolam renang dengan perasaan penasaran, dia sentuh airnya yang terlihat jernih kebiru-biruan.
"Tidak dalam, kan?" gumam Eleonara dengan gurat kebahagiaan di wajah.
Namun, tiba-tiba telinganya menangkap suara bel berbunyi, pertanda adanya tamu. Eleonara pun bergegas masuk ke dalam dan begitu dia hendak membuka pintu, dia melihat sosok Vivian yang sedang berdiri di depan gerbang.
Deg!
"Vivian?!"
Jantungnya langsung merosot jatuh ke bawah. Sekujur tubuh Eleonara membatu. Eleonara melepaskan kacamatanya, lalu dia mengucek kedua matanya, siapa tahu salah lihat. Sayangnya, yang ada di depan gerbang benar-benar Vivian.
Ponsel Eleonara yang berada di saku celana kirinya, berbunyi. Vivian sedang berusaha menghubunginya.
"D-d-dari mana Vivian tahu aku di sini?!" gumamnya panik setengah mati. Tangan Eleonara sampai gemetar hebat saat berupaya mengangkat telepon dari Vivian.
"H-Halo, Vi?" ucapnya dengan wajah pucat pasi. Eleonara mengintip Vivian dari kaca jendela.
"El, ada banyak yang harus kita bicarain. Aku ada di depan rumah yang sekarang kamu tempatin. Ke luar, dong. Emang gak denger aku teken-teken belnya dari tadi?" ucap Vivian yang membuat Eleonara semakin ketar-ketir.
"Eh, ka-kamu ... kamu ada di depan rumah? T-tau dari mana aku tinggal di sini?" tanya Eleonara gelagapan.
"Udahlah buruan buka dulu. Nanti ngobrolnya di dalem," kata Vivian memaksa. Eleonara menelan saliva sambil mengedip-ngedipkan matanya tegang. Panggilan telepon pun dimatikan.
__ADS_1
Saat Eleonara membuka pintu, dia tersadar dengan foto pernikahannya dengan Juna yang terpajang dengan begitu jelas di dinding ruang tamu. Keringat dingin seketika bermunculan. Eleonara kembali menutup pintu. Dengan kecepatan kilat dia melepaskan foto pernikahan yang baru saja di pajang itu, kemudian dia sembunyikan di dalam gudang beserta album-album pernikahannya yang lain. Eleonara juga mengunci pintu kamarnya dengan Juna, tapi membiarkan kamar-kamar lainnya terbuka.
Dia berdiri mematung di tengah rumah sambil mengedarkan matanya gelisah, memeriksa setiap sudut ruangan apakah sudah aman, tidak ada barang-barang yang bisa membuat Vivian curiga nantinya. Gawat jika Vivian menyadari ada benda atau hal lain milik Juna.
Duh, Vivian! Ngapain coba dia ke sini? Tau dari mana? Apa barusan dia ngikutin aku pulang? Ah, pokoknya yang jelas asal gak ada foto Pak Juna, Vivian gak mungkin tau ini rumah siapa. (Batin Eleonara kelimpungan)
Setelah mempersiapkan diri, barulah Eleonara ke luar dari rumah, menyapa Vivian dengan senyum terpaksa, lalu membawanya masuk ke dalam.
"Mau minum apa, Vi?" tanya Eleonara sambil menyembunyikan kegugupannya yang sedang menggebu.
"Aku ke sini bukan mau minum. Duduk, El!" kata Vivian sambil menyipitkan matanya. Aura di sekitar Vivian terasa berat, membuat Eleonara semakin tertekan.
Eleonara pun duduk di samping Vivian sambil berusaha bersikap normal agar tak menunjukan kecurigaan.
"Jujur sama aku, ngapain kamu di sini? Terus ini rumah siapa?" tanya Vivian sambil memeriksa sekitar ruangan dengan tatapan penuh curiga.
"Sebelumnya kamu tau aku di sini dari siapa?" Eleonara balik bertanya karena takut salah bicara. Dengan jawaban Vivian nanti, dia bisa mengambil antisipasi.
Uh, Ibuu...! Bukannya Ayah udah ngingetin sebelumnya, siapa pun itu kalau ada yang nanyain aku jangan bilang aku udah gak tinggal di rumah itu, apalagi sampai ngasih tau alamat rumah Pak Juna. Kayaknya Ibu sengaja mau bikin aku susah. (Batin Eleonara)
"Kenapa sih, El? Ada apa? Kamu di usir dari rumah itu? Cerita dong, kamu kan udah janji kalau ada apa-apa langsung cerita ke aku. Kok, sekarang malah gitu?" gerutu Vivian sambil cemberut.
Eleonara tampak menghela napas kasar. "Sebenarnya bukan diusir, Vi. Cuma aku lagi kerja di sini. Bersih-bersih sambil jagain rumah doang. Ini juga rumah temen kerja Ayah aku, Ayah aku sendiri yang ngerekomendasiin," bualnya.
"Sejak kapan?"
"Emm ... belum ada seminggu."
"Serius, El?
"Serius, lagian ngapain aku di rumah segede gini kalau bukan kerja? Lumayan kan, hasilnya buat nambahin uang jajan sama bayar kelulusan nanti," ucap Eleonara sambil menyeringai.
"Tapi, kamu nyampe nginep di sini?"
__ADS_1
"Iyalah, pulang Sekolah langsung bersih-bersih dari halaman depan sampai halaman belakang. Malemnya masakin majikan makan malem, terus tidur, paginya juga nyiapin majikan sarapan. Udah itu ya, berangkat sekolah," bualnya lagi dan lagi. Padahal sejujurnya dia adalah nyonya di rumah besar ini.
"Pasti capek, ya? Kenapa sih, gak bilang dari awal sama aku? Bikin cemas tau. Kalau emang kamu kerja dan niatnya bener, ya aku dukung-dukung aja. Tapi, majikan kamu ini cowok apa cewek? Ada berapa orang di sini? Pada baik gak?" Vivian malah penasaran dengan hal itu sampai memepet Eleonara.
"Cuma satu orang, Bapak-bapak. Baik kok, orangnya," ungkapnya sambil memainkan jari jemari tangannya.
"Bapak-bapak? Awas lho, dia macem-macem sama kamu. Hati-hati kalau tidur, pintu kamar kunciin. Zaman sekarang kebanyakan orang baik itu ada maksud tersembunyi. Pokoknya jangan terlalu cepet nilai orang, waspada aja," ucap Vivian mengingatkan dengan tatapan cemas.
"Iya, iya. Sampe merinding aku kamu bilang kayak gitu, hihi," ledek Eleonara sambil memeluk Vivian gemas.
"Yee, emang biasanya aku ngomong kayak gimana?" ujar Vivian sambil mengulum senyum. "Kapan biasanya majikan kamu pulang kerja? Rumah segede gini, kerjaannya apaan?"
"Kata Ayah aku sih, pembisnis. Tapi, belum tau bisnis di bidang apa. Biasanya dia pulang jam delapanan."
"Yakin kamu El, tinggal di sini sambil kerja?" tanya Vivian memastikan.
"Yakinlah, kenapa emang? Lagian aku ngerasa nyaman di sini dari pada di rumah sendiri. Di sini adem ayem, gak ada yang gangguin, gak ada yang tiba-tiba nyuruh aku pas lagi ngerjain tugas, gak ada yang teriak-teriak kayak Kak Sora juga, hehe...."
"Huff, iya juga sih, di pikir-pikir ada bagusnya kamu ke luar dari rumah itu. El, aku pengen liat sekeliling rumah ini dong, boleh, kan? Ya, ya, ya? Kayaknya di halaman belakang ada kolam renangnya, tuh? Wow!" Tanpa menunggu respon Eleonara, Vivian langsung beranjak bangun menuju halaman belakang dengan penuh suka cita.
Eleonara ketar-ketir panik karena tak sempat menghentikan Vivian. Di sisi lain, telinganya menangkap suara mobil memasuki gerbang.
"Waduh, siapa lagi itu? Jangan bilang Pak Juna pulang cepet, huhu...," gumam Eleonara sambil merengek.
...
BERSAMBUNG!!
Dukung terus karya ini, ya^^
.
.
__ADS_1