
Juna menghubungi kembali nomor Eleonara, tapi sayangnya nomornya sudah tidak aktif. Juna langsung naik pitam. Pikirannya sudah terlanjur berprasangka buruk mengenai Eleonara dan Midas. Ditambah lagi barusan mendengar perkataan Vivian seperti itu. Dia buru-buru menghubungi Syam.
"Syam, di mana kamu?!"
"Saya di rumah, Tuan. Ada apa?" tanya Syam heran dan merasa sedikit was-was perasaannya mendengar suara Juna yang terdengar membentak.
"Pergi ke rumah sakit di mana kakak teman Leona yang ditabrak itu dirawat. Ponsel Leona mati, aku tidak dapat menghubunginya. Kamu awasi mereka, jangan sampai pria itu menyentuh Leona sedikit pun!" cecar Juna terbawa emosi.
"Ah, baik, Tuan. Ngomong-ngomong, em ... apa Tuan mulai menaruh hati pada Nona Leona? Sebab, Tuan sedikit berbeda dari sebelumnya, hehe," ujar Syam menyampaikan pendapat sesuai yang dia lihat.
Tut, tut, tut!
Panggilan malah terputus begitu saja. Syam menatap pahit layar ponselnya. "Tuan ini, kalau pun memang sudah menaruh hati, memangnya kenapa? Bukankah wajar karena Nona Leona adalah istrinya? Yang tidak wajar itu kalau masih memendam perasaan pada Nona Elena, hum!" gerutunya pada ponsel di tangannya.
....
Eleonara dan Vivian membawa Midas pulang malam-malam. Midas mengalami pergeseran tempurung lutut yang tidak begitu serius karena dapat kembali dengan sendirinya, jadi tidak memerlukan operasi untuk penyembuhannya. Namun, tetap saja terasa amat sakit. Bahkan ketika lututnya digerakkan, terdengar bunyi derakkan yang membuat siapapun yang mendengarnya ngeri.
Sesampainya di rumah Vivian, Eleonara mengeluarkan kursi roda dan mendorong Midas masuk ke dalam. Begitu keluarganya melihat kondisi Midas dengan lutut dibalut perban elastis, mereka panik dan langsung menghujani Vivian dengan pertanyaan.
Vivian dan Eleonara menceritakan apa yang terjadi sambil duduk di sofa ruang tamu. Eleonara begitu menyesal karena Midas seperti itu gara-gara menolongnya. Namun, Bu Maya yang berpikir terbuka tidak menyalahkan Eleonara.
Pak Djordan-ayah Midas dan Arga membopong Midas ke kamarnya diikuti Vivian dan Eleonara. Setelah itu Pak Djordan membawa Arga bersamanya untuk melaporkan perkara tabrak lari itu pada polisi.
"Lihat, betapa berisiknya keluarga ini. Saya hanya terluka sedikit saja sampai dibesar-besarkan," gerutu Midas yang kini sedang duduk bersandar di ranjang.
"Jangan bilang seperti itu, Kak Midas. Mereka memilih keputusan yang tepat untuk mencari pelakunya. Jika dibiarkan, mungkin akan ada korban kedua dan ketiga. Orang tidak bertanggung jawab seperti itu harus diberi hukuman agar jera," kata Eleonara sambil melipat selimut menjadi tumpukan, lalu membantu Midas mengangkat sedikit kakinya. Dia menyelipkan selimut itu di bawah kaki Midas yang terluka agar posisinya lebih tinggi. Katanya bisa meredakan rasa sakit.
__ADS_1
"Vi, minumnya buat Midas," ucap Bu Maya lirih sambil memberikan segelas minuman pada Vivian yang tengah berdiri di samping Eleonara.
"Nih, Kak. Obatnya diminum biar cepet sembuh," ucap Vivian yang juga menyodorkan bungkusan obat pada Midas. "El, kamu mending nginep aja di sini. Pake baju aku buat ganti."
"Iya, banyak baju tidur Vivi yang jarang dipakai. Kalau memaksa pulang, takutnya ada apa-apa di jalan. Sekarang sudah terlalu malam untuk pulang," tutur Bu Maya, cemas.
"Bukannya gak mau, Bu, tapi Ayah sama Ibu pasti gak ngebolehin. Mereka gak bakal seneng, hehe," jawab Eleonara sungkan.
"Kalian jangan memaksanya terus, dong. Setiap kali Nara ke sini pasti dipaksa ini itu. Suka sekali membuat Nara kesulitan, ya?" singgung Midas.
"Bukannya gitu, Kak. Tapi, aku cuma -"
"Midas!" Tiba-tiba saja terdengar suara wanita memanggil namanya. Seorang wanita cantik berambut lebat keriting gantung berlari kecil menghampiri Midas, lalu memeluknya tanpa permisi. Itu adalah Selin.
"Selin?" Midas segera mendorong Selin dengan lembut. Mimik wajah Midas langsung berubah drastis. Wajahnya masam, seakan tidak menginginkan keberadaan wanita itu.
"Midas, aku dengar kamu kecelakaan. Kapan itu terjadi? Di mana yang terluka?" tanya Selin yang kelihatannya mencemaskan Midas.
Eleonara menjadikan ini kesempatan untuk pergi. Dia berbisik pada Vivian dan Bu Maya meminta izin untuk pulang. Begitu Eleonara membalikan tubuhnya, Midas memanggilnya.
"Nara, sudah mau pulang?" tanyanya.
"Ah, iya, Kak. Besok kan, masih harus Sekolah," jawabnya sambil menyentuh kacamatanya. Dia merasa semakin sungkan dengan keberadaan Selin di sana.
"Hati-hati. Kalau sudah sampai rumah hubungi saya. Vi, antar Nara keluar. Pastikan sudah naik taksi," tutur Midas yang begitu menonjolkan bentuk perhatiannya pada Eleonara di hadapan Selin. Eleonara semakin tidak enak jadinya. Dia mengangguk, lalu pergi dari pandangan Midas.
....
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Eleonara segera membersihkan diri di kamar mandi dan membaringkan tubuhnya untuk istirahat sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
Namun, mendadak dia terperanjat duduk setelah mengingat kalau ponselnya masih di nonaktifkan. Saat pulang dari rumah Vivian, Syam memperingatkannya untuk segera mengaktifkan ponsel karena katanya Juna marah-marah.
Eleonara segera mengaktifkan ponselnya. Benar saja, deretan pesan bermunculan dari Juna. Tanpa pikir panjang, Eleonara membalas pesan-pesan itu. Mengabarkan padanya kalau dia sudah tiba di rumah.
Eleonara terpikir untuk mengganti piyamanya dengan lingerie karena dia menduga Juna akan menghubunginya nanti. Dia ingin sedikit menggodanya. Namun, setelah beberapa menit menunggu balasan dari Juna sampai kantuk mulai menyerang, tampaknya belum ada tanda-tanda Juna membalas pesannya. Entah Juna sedang menyibukkan apa di sana.
Eleonara menyelimuti tubuhnya dulu karena takut masuk angin. Lama-lama matanya kian terasa berat. Saat akan terlelap, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Eleonara yang begitu senang, langsung menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelepon. Dia menempelkan ponsel di telinga.
"Ya, Pak Juna?" ucapnya dengan senyum yang terlukis indah di wajah.
"Juna? Siapa itu? Saya Midas, Nara. Dan lagi, ini adalah panggilan video, kenapa layarnya hitam?"
Deg!
Kak Midas?! (Batin Eleonara ketar-ketir)
Refleks Eleonara terduduk dan menjauhkan ponselnya untuk memastikan. Benar-benar Midas, bukan Juna! Ekspresi lembutnya yang khas memenuhi layar ponsel. Eleonara menutup mulutnya dengan wajah panik.
"Nara, apa yang kamu pakai? Bukankah itu sangat terbuka? Ehem!" ucap Midas sambil tersipu malu melihat belahan dada padat Eleonara yang amat menggiurkan.
...
BERSAMBUNG!!
Terimakasih yang sudah memberikan Bintang 5 untuk cerita Juna dan Leona^^
__ADS_1