Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Perseteruan - Juna vs Varel


__ADS_3

"Sompral sekali Anda ini mengatai saya Pedofil. Usia Leona sudah 18 tahun, bukan usia di bawah rata-rata lagi. Menikahinya adalah hal yang normal," kata Juna sambil melipat kedua tangannya di atas perut.


"Meski sudah 18 tahun, tetap saja masih Sekolah! Eleonara memang normal, kamu yang tidak. Ngajak nikah kok, pada anak SMA! Memangnya situ sudah tidak laku lagi dikalangan wanita dewasa, jadi mencari daun muda?!" sindir Varel pedas, perkataannya semakin menusuk menembus ke dalam hati.


Tidak laku?


Jleb!


"Ka-kamu!" geram Juna dengan wajah merah berapi-api, telinganya sampai mengeluarkan kepulan asap. "Siapa bilang saya tidak laku? Berani bertaruh lebih populer siapa diantara kamu dengan saya?!" sambungnya. Juna terpancing suasana, jadi ikut meracau.


"Sombong, mentang-mentang memiliki badan kekar dan tampang di atas rata-rata. Tentu saja kamu yang lebih unggul karena memiliki darah campuran. Lihat, aku tidak memiliki darah campuran negara mana pun, asli lokal! Tapi, tetap tampan dan keren. Waktu kecil Eleonara sampai tidak mau lepas dari ketekku, sedahsyat itu memang damage yang aku miliki," cecar Varel tak mau kalah.


"Tidak mau lepas dari ketiak saja sombongnya sudah sealam dunia. Kamu tidak tahu setelah Leona menikah dengan saya dia tidak pernah mau jauh-jauh dari saya? Saya pergi ke kamar mandi atau ke dapur saja dia selalu menggelayut di tubuh saya. Bahkan ketika saya sedang 'pup' juga dia selalu berada di samping saya, tidak pernah lepas dan tidak pernah mau jauh-jauh." Kali ini Juna pun tak mau kalah. Dia membalas setiap serangan yang Varel berikan.


"Halah, tidak mungkin! Mustahil! Eleonara itu bukan anak yang manja dan lebay. Sepertinya kamu menciptakan karanganmu sendiri untuk menjaga image di depan kita semua. Sebelum berbohong tidak merevisi naskah dengan benar dulu ya, jadinya amburadul begitu. Padahal kalian tidak seharmonis itu, kan? Eleonara pasti geli dekat-dekat denganmu yang berbulu banyak. Lengan saja sampai ditumbuhi bulu-bulu sebanyak itu, apalagi bagian lainnya, hiiih! Jika pun dia sedekat itu denganmu, mungkin hanya tertekan karena takut pada tubuhmu yang dua kali lipat lebih besar darinya. Jadi, jangan ke-GR-an," balas Varel tak segan-segan.


Eleonara selaku orang yang bersangkutan hanya plonga-plongo melihat perseteruan antara suami dan kakak laki-lakinya. Ditarik sana-sini, diunggulkan sana-sini. Bikin pusing tujuh keliling.


"Cukup, cukup!" teriak Abraham menengahi setelah sekian lama mengumpulkan keberanian untuk menyela perdebatan Juna dengan Varel.


"Ada apa dengan kalian?! Kenapa saling sindir? Varel, kamu seperti ini hanya karena tidak terima saja kalau Eleonara sudah menikah, kan? Perhatikan cara bicaramu itu, jangan sampai menyinggung Nak Juna. Sudah mau bergelar S1, tapi bicaranya seperti anak jalanan yang tidak bermoral!" geram Abraham memarahi Varel karena pantas dimarahi. Perkataannya pada Juna sudah keterlaluan sampai menghinanya bertubi-tubi.


"Kenapa hanya aku yang Ayah marahi?! Dia juga membalas kata-kataku sampai melebih-lebihkan dengan begitu sombong!" protes Varel sambil menunjuk Juna dengan kesal.

__ADS_1


"Perkataanmu yang terlalu berlebihan! Varel, Nak Juna ini bukan orang yang dapat kita singgung seenaknya. Keluarganya sudah membantu Ayah. Ayah sangat menghormati mereka. Kamu tahu kan, seperti apa balasan kita pada orang yang sudah bersedia membantu dikala kita susah? Jadi, jangan macam-macam sampai membuat Ayah malu dan kehilangan muka!" gertak Abraham sambil melototi Varel.


Juna tersenyum sombong sambil merapikan kerah kemejanya dengan dagu terangkat naik. Seakan memperlihatkan kedudukannya yang agung di keluarganya sampai ayahnya sendiri tidak berani menyinggungnya sedikit pun. Anaknya malah berulah, cari penyakit namanya.


Mereka ini benar-benar bikin aku malu! Sejak kapan aku tidak mau lepas dari ketek Kak Varel, hah, sejak kapan?! Sejak kapan juga aku menggelayut di tubuh Pak Juna setiap dia ke kamar mandi dan ke dapur? Apalagi ketika Pak Juna pup aku tidak bisa jauh-jauh darinya katanya? Iyuh, yang benar saja! Mereka terlalu mengada-ada. (Batin Eleonara)


"Cih, menyebalkan! Pokoknya aku sangat menentang dengan pernikahan ini! Aku tidak akan membiarkan Eleonara bersama dengan Om-om seperti dia. Aku kan kakaknya, seharusnya minta izin dulu padaku sebelumnya, jangan asal menikahkan mereka begitu saja. El, kamu kepaksa kan, nikah sama orang tua ini? Pasti kamu tertekan hidup berdua dengannya. Tenang, sekarang sudah ada Kakak, dia gak bakal berani ngapa-ngapain kamu," ujar Varel sambil menggenggam tangan Eleonara dan menatapnya dalam.


"Permisi, siapa yang kamu sebut orang tua?" tanya Juna sambil menyeringai pahit.


Ketika Eleonara hendak menoleh ke arah Juna. Varel buru-buru mengalihkan wajahnya. "Jangan dikhiraukan. Dia cuma pria yang kekurangan kasih sayang, makanya begitu. Kamu terlalu polos sih, mudah ditipu pria hidung belang seperti dia. Nanti Kakak tunjukan kebusukannya. Sekarang ikut, Kakak!"


Varel membawa Eleonara pergi dari pandangan Juna. Dia membawanya ke kamar. Eleonara menoleh diam-diam sambil memasang tatapan memohon pada Juna. Mohon untuk dimengerti kalau kakaknya yang posesif ini masih dalam situasi tidak menerima kenyataan adiknya sudah dipinang.


Juna menarik napas dalam-dalam dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat melihat istri kecilnya di bawa lari di depan matanya dan dia tak bisa berbuat apa-apa karena Eleonara sudah memohon seperti itu.


"Ahehehe ... Nak Juna, saya sebagai kepala keluarga di sini, meminta maaf atas perbuatan Varel yang masih kekanak-kanakan. Aduh, dasar anak itu memang selalu memanjakan Eleonara. Wajar saja kalau Varel masih belum menerima kenyataan. Dari kecil mereka ke mana-mana selalu berdua, Varel memperlakukannya sangat spesial dan sikapnya selalu posesif terhadap Eleonara. Bahkan Sora saja sebagai adik kandungnya, jarang diperlakukan se-spesial itu," ujar Abraham mencairkan suasana yang keruh dan runyam.


Melihat ekspresi Juna yang semrawut karena Varel, membuatnya harus ekstra hati-hati dalam bersikap.


"Bu, malah diam saja. Mana jamuannya, aduh!" gerutu Abraham sambil menepuk keningnya melihat meja masih kosong melompong.


"Ya ampun, Ibu sampai lupa saking serunya melihat perseteruan Nak Juna dengan Varel," kata Mariam sambil mengusap keringat dingin di kening. Dia bergegas pergi ke dapur.

__ADS_1


Sora diam tak berkutik. Dia tak berani menatap Juna yang sudah dia tipu sebelumnya. Kejadian di kamar pribadi Juna membuat Sora merasa malu dan bersalah. Suasana canggung pun tercipta.


Juna mengusap jambangnya lembut sambil bersandar dan menatap tajam ke arah Sora yang sedang menundukkan wajahnya sampai hampir terjatuh, seakan Sora sedang diawasi dengan ketat olehnya.


Sekujur tubuh Sora panas dingin, atmosfer di ruang tamu terasa menekannya kuat. Begitu Sora memberanikan diri mendongakan wajahnya menatap Juna, ternyata benar Juna sedang menatapnya bulat-bulat.


Glek!


Sora menelan saliva sambil memainkan jari jemari tangannya. Telapak tangannya basah berkeringat.


Apa yang dia lihat? Kenapa terus melihatku seperti itu? Dia sedang menakut-nakuti aku, kah? (Batin Sora)


Tiba-tiba Juna menaikkan sebelah alisnya dalam diam. Sontak saja pergerakan kecil itu membuat Sora kelimpungan setengah mati. Dia merasa Juna sedang ancang-ancang untuk membumihanguskan dirinya. Sora pun lari terbirit-birit menghampiri ibunya di dapur.


Juna menyunggingkan senyumnya. Puas mempermainkan Sora sampai ketakutan begitu.


...


BERSAMBUNG!!!


Yang mau nyumbang like, komentar atau hadiah dipersilahkan, hehe 😋


.

__ADS_1


.


__ADS_2