Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Mengancam dan Mengusirnya


__ADS_3

"Sudah kubilang jangan memanggil kami dengan sebutan itu! Panggil dengan sebutan lain!" tekan Diana sambil memelototi.


Nyali Elena sontak menciut takut. Dia yang sedang memohon dengan amat sangat, langsung menunduk murung dengan raut wajah sedih.


"Jangan mimpi kami akan menerima kamu kembali. Kesalahanmu meski dilakukan hanya sekali, itu sangat-sangat fatal dan sudah tidak ada kata maaf lagi. Bodoh bila kami menerima kamu yang sudah ketahuan tidur dengan pria lain di belakang anak kami. Itu artinya kami menjerumuskan anak kami sendiri pada wanita hina sepertimu. Cucuku yang terlahir dari perutmu, akan seperti apa nantinya jika ibunya saja kelakuannya seperti itu," ucap Mohsen kejam sampai perkataannya menusuk menembus hati.


"Ay ... Pak Mohsen, aku benar-benar sudah menyesal dan tidak akan melakukan hal yang sama. Aku sudah bukan Elena yang dulu. Jika kalian tidak percaya, beri aku kesempatan lagi untuk menjalin hubungan dengan Juna. Aku pastikan Juna akan sangat bahagia. Kalian tidak mungkin tahu sebelum mencobanya, kan?" bujuk Elena mati-matian. Apa pun yang bersangkutan dengan Juna harga diri tidaklah penting.


"Hey, Elena, bukannya kamu sudah bertemu dengan Leona? Kamu tahu dia siapanya Juna sekarang?" kata Diana dengan kedua mata menyipit.


"I-itu ...." Elena tampak sulit mengucapkannya karena hati dan perasaannya tidak menerima sosok Eleonara. Dia sangat benci melihat Eleonara menyombongkan Juna padanya. Benar-benar benci.


"Dia istrinya. Juna sudah berumahtangga sekarang. Kamu jangan ada niat untuk menghancurkan rumah tangga mereka. Kehadiranmu ini membuat kami jadi harus semakin hati-hati. Kami merasa kamu datang ke sini bukan dengan niat yang baik," duga Diana mengungkapkan isi hatinya, meski kejam tidak mengapa. Dia bicara lihat-lihat dulu orangnya seperti apa. Jika seperti Elena, yah harus blak-blakan agar tahu diri.


Elena tampak meremmas rengkul dengan kuat, air matanya mengalir di pipi dan menetes di pahanya. "Apa kalian sengaja menikahkan Juna dengan gadis kecil itu agar ketika aku kembali, aku sudah tidak memiliki harapan lagi dengan Juna?" tanya Elena pilu sambil mengusap air matanya.


"Salah satunya memang itu. Tapi, yang paling utama adalah karena Juna sudah memang waktunya menikah dan kami ingin mempunyai cucu darinya. Saat kamu menghilang, Juna depresi berat sampai sulit tidur berkepanjangan. Dia selalu minum obat tidur setiap malam hanya agar tidurnya nyenyak. Dokter psikolognya menyarankan pada Juna untuk menikah jika ingin mendapatkan tidur nyenyak. Akhirnya kami memutuskan untuk mencarikan dia istri. Tidak sangka Juna sendiri yang memilih Leona sebagai pasangan hidupnya," jelas Mohsen sambil mengingat waktu itu. Waktu di mana Mohsen menawarkan beberapa kandidat wanita yang akan dijadikan istri oleh Juna, tapi Juna dengan pematangan penuh langsung memilih Eleonara, tak terbantahkan lagi.

__ADS_1


"Pak Mohsen, Bu Diana, apa kalian hanya memikirkan kebaikan Juna saja? Kalian tidak memikirkan bagaimana tanggapan gadis itu? Dia masih sangat muda untuk berumahtangga, secara usia belum mampu. Dia juga masih sekolah, masa depannya panjang. Kalian tega menjerat gadis muda seperti dia untuk menikah dengan Juna? Lalu, bukannya usia muda seperti itu masih sangat labil. Bagaimana kalau dikemudian hari dia menyebabkan banyak masalah? Nama baik keluarga besar Syach Emirhan akan tercoreng buruk," ujar Elena berusaha mempengaruhi.


"Lalu, dengan menjadikanmu istri Juna adalah keputusan yang tepat, begitu? Sampai kapan pun jangan mimpi untuk bisa kembali dengan Juna. Kami sebagai orang tuanya berhak melarangmu dekat dengannya!" kecam Diana sambil berdecak emosi.


"Aku perlu meluruskan satu hal. Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, Elena. Yang menjadi tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan pola pikir yang matang. Banyak orang dengan usia matang, tapi pola pikir seperti ABG. Contohnya dirimu sendiri. Usiamu 25 tahun kan, saat kami memergoki kamu selingkuh? Apa itu yang dinamakan bersikap dewasa? Hayır, bertambahnya usia tak membuat kita menjadi lebih dewasa. Kamu tahu Leona, meski usianya masih sangat muda, sebenarnya dia sudah dewasa. Dia sudah mandiri, memiliki pendirian kuat serta pemikiran yang matang. Ada pria yang datang ingin melamarnya saja, dia tolak karena dia sudah menikah. Dia tahu pernikahannya dengan Juna terjadi karena dijodohkan, tapi dia sangat menghormati dan menghargai Juna sebagai suaminya. Tidak mudah tergiur dengan rumput tetangga yang lebih hijau seperti seseorang," sindir Mohsen dengan tegas dan menusuk di akhir kalimat.


Mohsen beranjak bangun karena merasa sudah tidak ada yang harus dikatakan lagi. Hanya buang-buang waktu saja.


"Ingat ya, kali ini kami datang untuk memperingati satu hal, jangan sampai kamu berani mengusik rumah tangga Juna dengan Leona. Jangan coba-coba juga untuk mencuci otak mereka," sambung Mohsen sambil memberikan sebuah kunci pada Elena.


"Kunci rumah. Kosongkan rumah ini dan tinggallah di tempat yang sudah aku berikan khusus untukmu. Dalam waktu dekat kamu harus kembali lagi ke luar negeri," celetuk Mohsen sambil melangkah pergi bersama Diana. Mereka memakai kacamata hitam untuk menyamarkan diri dari Juna. Siapa tahu Juna tiba-tiba datang dan memergoki mereka.


Elena tak sempat mengejar mereka karena mereka sudah terlanjur masuk ke mobil. Dia melihat kepergian Mohsen dan Diana dari balik kaca jendela. Wajahnya langsung berubah, dari yang tadinya memelas terlihat lemah dengan linangan air mata, kini menjadi penuh ambisi dan kebencian.


Elena melempar kunci rumah itu ke sembarang arah sambil terengah-engah emosi. Air matanya diusap, keningnya mengerut tajam dengan gigi menggertak kuat


"Persetan dengan ucapan kalian! Aku akan membuat kalian melihat seperti apa kelakuan menantu yang kalian bangga-banggakan itu. Dia tidak lebih buruk dariku! Kalian akan menyesal dan menjillat ludah sendiri saat aku menunjukannya nanti!" kecam Elena dengan tangan mengepal dan mata melotot marah.

__ADS_1


"Tapi, sebelumnya aku harus menyingkirkan bajingan kecil ini dulu. Dia akan mengganggu prosesku dalam merebut Juna," ucapnya sambil mengelus-elus perut.


Elena mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Markus, aku setuju menggugurkan kandungan ini. Cepat kirim uangnya!" kata Elena.


Markus Emanuel (29) adalah kekasih Elena yang berdarah campuran Indonesia-Jerman. Anak tunggal sekaligus sang pewaris dari Sultan batu bara. Orang tuanya memiliki bisnis batu bara terbesar di Indonesia. Mereka sudah lama menjalin kasih, bahkan ketika Elena masih berpacaran dengan Juna, dia berani menduakannya dengan Markus karena meski hanya anak tunggal dan sama sekali tidak memiliki pekerjaan, uang selalu mengalir ke dalam dompetnya. Kekayaannya sebagai sang pewaris utama melebihi kekayaan Juna. Hal itulah yang membuat Elena tergiur untuk berpaling.


Namun, sayangnya bisnis keluarganya tahun ini memburuk karena ayah Markus mengidap penyakit berat, jadi Markus yang harus turun tangan mengelola bisnis besar yang sebelumnya belum pernah dia sentuh sedikit pun. Alhasil dalam beberapa bulan terakhir ini keuangan perusahaannya anjlok parah dan keadaannya krisis. Banyak karyawan-karyawan perusahaan yang dipecat karena tak ada biaya menggaji mereka.


Markus sedang berusaha mengembalikan keadaan perusahaan seperti sediakala dengan merayap kembali ke atas. Sayangnya tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak sandungan dan kerikil-kerikil tajam yang harus dia lalui. Apalagi mengembalikan kondisi perusahaan sebesar itu seperti sediakala, bukan hal yang main-main.


...


BERSAMBUNG!!!


.


.

__ADS_1


__ADS_2