Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Aku Rindu Pak Juna


__ADS_3

Tanpa perlawanan, Eleonara memberikan ATM pada Mariam. Rasa takut Juna tahu seketika menghantui, tapi sungguh Eleonara lebih takut pada Mariam dan Sora yang sering menyiksanya habis-habisan. Mariam langsung merampas ATM itu begitu saja.


Eleonara begitu berat merelakan ATM pemberian Juna karena dia sudah berjanji pada Bu Asih akan mengirimkan uang sore ini.


"ATM? Bukan uang tunai?" tanya Mariam dengan kerutan di kening.


Eleonara menggelengkan kepalanya. "Bukan, Bu. Pak Juna memberikan ATM itu padaku."


"Ternyata suamimu memperlakukanmu dengan baik. Aku kira dia cuma memanfaatkanmu saja," tutur Sora yang sedang foto-foto menggunakan ponsel Eleonara.


"Ada berapa uang di ATM?" tanya Mariam.


Eleonara ragu mengatakannya. Dia terdiam beberapa saat dengan keringat dingin mengucur di kening sampai Mariam menegurnya dengan kembali mencubit lengannya.


"Akh, sakit, Bu!"


"Kalau ditanya itu jawab, jangan diam saja!" bentaknya sambil melotot.


"A-ada 30 juta."


Deg!


Kedua mata Mariam dan Sora terbelalak besar, bahkan sepertinya hampir lompat dari rongganya. Mereka tak sangka Juna memperlakukan Eleonara begitu royal.


"Gila, dia! Apa-apaan ngasih uang segede gitu buat kamu?!" gerutu Sora tak terima. "Liat kan, Bu! Kalau aku yang nikah sama Juna, aku juga pasti bakal diperlakuin kayak dia. Ini semua gara-gara Ayah! El, kamu bisa nikah sama Juna juga gara-gara aku yang nolak perjodohan itu. Awalnya Ayah kan, ngejodohin aku sama dia. Ada kesalahpahaman di sana makanya aku gak mau. Jadi, aku ada hak dong, sama uang-uang yang Juna kasih ke kamu, termasuk HP ini!"


Eleonara berusaha merebut ponselnya, tapi Sora tak mau memberikannya semudah itu.


"Jangan, Kak! Ambil saja uang yang ada di ATM, tapi jangan ponselku. Itu ponsel pemberian Pak Juna. Kalau Pak Juna tanya, aku harus jawab bagaimana?" rengek Eleonara dengan tatapan memohon.


"Benar, Sora. Kamu jangan bertindak gegabah. Juna punya Syam sebagai kaki tangannya, dia bisa tahu kalau ponsel itu ada di kamu. Berikan saja. Kita sudah punya uangnya, beli saja yang baru kalau kamu memang menginginkannya. Untuk apa memakai barang bekas. Hina! Cepat berikan," kata Mariam memaksa.


Sora manggut-manggut sambil tersenyum cerah. Dia melemparkan ponsel itu pada wajah Eleonara. "Nih, gak butuh! Nanti kirim semua foto-foto aku ke nomorku, ya. Awas kalau kamu hapus semuanya!"


Eleonara hanya diam sambil meremas rok sekolahnya dengan dada yang terasa amat sesak.


"Kamu belum kasih tahu aku nomor pinnya berapa," pinta Mariam, menekan.


"Tanggal lahirku," jawab Eleonara dengan suara bergetar.


"Heh, tanggal lahir. Seperti yang tahu saja kapan dirinya dilahirkan," gumam Sora yang terdengar jelas di telinga Eleonara. Sindirannya sungguh menusuk hati.

__ADS_1


"Kalau Juna tanya mengenai ATM ini, kamu bisa kan, bikin alasan sendiri? Besok datanglah ke rumah untuk mengambilnya lagi. Aku hanya butuh isinya saja. Sekarang cepat pergi. Kaki tangan suamimu mungkin sudah menunggumu di rumah. Jangan perlihatkan tampang menyedihkan seperti itu di hadapan Syam dan Juna! Awas kalau kamu berani, aku sumpahin hidupmu melarat seumur hidup!"


Deg!


"Ya Tuhan, Bu, kenapa Ibu bicara seperti itu?" tanya Eleonara dengan tatapan getir.


"Ck, udah sana, cepet keluar! Kita mau shopping nih, keburu malem. Cepet, cepet! Dorong ajalah, Bu, kelamaan," tutur Sora, kasar.


Mariam membuka pintu mobil dan memaksa Eleonara ke luar dari mobilnya yang baru mereka dapatkan dengan cara kredit, karena mobil sebelumnya dijual untuk menutupi hutang. Niatnya untuk pamer pada tetangga, tak sangka di jalan bertemu Eleonara.


...


Sesampainya di rumah. Eleonara disambut Syam yang berdiri di depan gerbang. Syam mengulurkan tangannya, meminta tas ransel Eleonara. Namun, Eleonara menolaknya.


"Tidak apa, Pak Syam. Aku akan langsung masuk," ujar Eleonara lesu.


"Nona baik-baik saja?" tanya Syam cemas.


Eleonara mengangguk. "Aku hanya lelah. Ingin segera istirahat." Dia pun berlalu meninggalkan Syam.


Syam semakin cemas melihat kondisi aneh yang Eleonara tunjukkan. Dia mengikutinya ke dalam dan dengan sedikit ragu menghentikannya saat Eleonara akan membuka pintu kamar.


"Nona ingin saya belikan apa untuk makan malam?" tanyanya.


Dia berdiri di hadapan cermin. Ponsel diletakan di atas meja rias. Eleonara memandangi ponselnya dalam diam. Ada beberapa pesan masuk dari Juna dan Vivian. Tanpa sadar, air matanya menetes. Wajahnya merah padam.


Ketika Eleonara melepaskan seragam sekolahnya, lengannya memar, begitu pun dengan pahanya. Lagi-lagi dibagian favorit Mariam menyakitinya agar tidak ketahuan siapa-siapa karena lengan atas dan pahanya sudah pasti tertutup oleh seragam sekolah.


Eleonara mendekatkan wajahnya ke cermin. Dia membuka sedikit mulutnya. Bibir bawahnya masih mengeluarkan darah, meski sedikit. Itu cukup menyiksa, perihnya bukan main saat bergesekan dengan gigi.


Eleonara menghela napas hampa dengan mata berkedut memerah panas. "Hanya dihadapan mereka aku tidak bisa melawan. Bu Asih bilang, tidak ada orang tua yang jahat, hanya didikannya saja yang keras. Seburuk apa pun mereka, mereka tetap keluargaku. Tapi, aku tidak mau bertemu mereka lagi, tidak mau, hiks ...."


....


Pagi-pagi buta Eleonara dibangunkan oleh suara dering telepon. Tangannya meraba-raba sekitar mencari ponsel dengan mata terpejam. Setelah mendapatkan ponselnya, Eleonara segera menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelepon karena matanya begitu berat sehabis nangis semalaman.


"Canım, sudah bangun?"


Suara Juna!


Eleonara lantas membelakan kedua matanya. Dia menyalakan lampu tidur yang berada di atas nakas, lalu duduk bersandar tersorot cahaya lampu remang-remang.

__ADS_1


"Pak Juna?"


"Evet, Juna suamimu. Semalaman saya tunggu kabar darimu. Berkali-kali saya mengirimkan pesan, kenapa tidak dibalas?" tuntut Juna.


Eleonara mengambil kacamata di samping lampu tidur, lalu memakainya sambil melirik ke sana kemari resah. "Ah, itu ... kemarin benar-benar hari yang melelahkan. Setelah sampai rumah aku langsung mandi, lalu tidur. Tidak sempat membuka ponsel."


"Pantas saja Syam bilang kamu terlihat tidak semangat saat pulang. Saya kira kamu sakit."


Eleonara tersenyum pilu bila mengingat kejadian kemarin. Untung saja Juna tidak tahu.


"Pak Juna?" panggilnya lirih.


"Hm?"


"Saat menelepon apa tidak memeriksa jam dulu?"


"Kenapa memangnya?"


"Di sini masih jam tiga pagi. Ayam saja belum berkokok," protes Eleonara.


"Jadi, saya mengganggumu? Ya sudah, saya matikan teleponnya."


"Matikan saja," tantang Eleonara.


"Benar, nih?"


"Hehe, bercanda. Aku kalau sudah bangun, sulit tidur lagi. Aku temani Pak Juna mengobrol deh, sepertinya Pak Juna sedang kesepian di sana," duga Eleonara.


"Memangnya kamu sendiri tidak?"


"Hum, benar juga. Hey, Pak Juna?" panggil Eleonara lagi.


"Apa?"


"Em ... tiba-tiba saja aku merindukan Pak Juna."


Blush...


Eleonara langsung bersembunyi di dalam selimut setelah mengatakan itu sambil tersipu malu. Biarlah obrolan ringan ini menjadi obat pelipur rasa sakit yang dia alami. Namun, Eleonara lupa bibirnya sedang terluka. Senyum sedikit saja terasa sakit. Eleonara buru-buru menahan bibir bawahnya.


__ADS_1


....


BERSAMBUNG!!!


__ADS_2