
"Aku ... aku benar-benar menyesal dan minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Sora sambil menunduk dan meremas lututnya.
"Bagaimana, Leona? Kamu dapat menerima maafnya?" tanya Juna.
Eleonara tersenyum jahat dalam hati. Dia mengerucutkan bibirnya sambil menggelengkan kepala. "Rasanya masih belum tulus," ucapnya sambil menyentuh kacamatanya.
"Apa!!" Sora langsung mendongakan wajahnya. Matanya menatap berapi-api pada Eleonara. "Aku sudah mengatakannya dengan sangat tulus! Tahu dari mana kamu kalau ucapanku tulus atau tidak?!"
"Sekarang Kakak kembali memarahiku. Semua orang di sini juga bisa menilainya. Di mananya yang tulus?" sindir Eleonara sambil berpura-pura terlihat lemah.
"Sora, jangan membantahnya! Kembali minta maaf. Yang tulus!" seru Abraham semakin kesal.
Hehe ... ternyata seru juga. Aku bahkan baru mulai bermain, ekspresi kalian sudah seperti ini. (Batin Eleonara)
Eleonara begitu puas melihat Sora tertekan dengan keadaan. Di sisi lain ada Abraham yang memaksanya sambil melotot, di sisi lainnya ada Juna yang mengawasi sambil menatapnya tajam, membuat Sora tak bisa berbuat apa-apa selain tunduk padanya.
Dengan keringat dingin mengucur di kening. Sora kembali meminta maaf pada Eleonara. "Aku ... aku minta maaf karena sudah secara sadar menenggelamkan kamu ke kolam. Aku sangat-sangat menyesal. Aku mohon kamu dapat memaafkan perbuatanku."
__ADS_1
Mariam yang melihatnya dari samping hanya bisa diam tak berkutik, meski hatinya menolak keras anak kesayangannya diperlakukan seperti itu.
Anak s'ialan ini, beraninya mempermainkan kami! (Batin Mariam)
"Sudah cukup, Leona?" tanya Juna lagi.
"Masih belum," celetuknya.
"Ma-masih belum? Kamu -" Sora yang hendak meledakkan emosinya langsung ditahan oleh Mariam dan Abraham. Mereka memberikan isyarat pada Sora untuk memperhatikan sikapnya. Jika Sora terus marah-marah tidak terima, Eleonara akan semakin membuatnya kesulitan.
"Patuhlah, lakukan apa saja yang dia inginkan karena Juna masih mengawasi. Jika Juna sudah tidak ada, kamu bisa membalaskan rasa sakit hatimu nanti," bisik Mariam berusaha menenangkan.
S'ial! Kalau bukan karena ada Juna di sini yang mengawasi, aku tidak akan mau meminta maaf sampai berkali-kali pada orang culun seperti dia! Lihat saja kamu Eleonara, kamu sudah berani menggertakku dan mempermalukanku di depan Juna, aku pasti akan membalasnya ribuan kali lipat dari ini! (Batin Sora)
Sora pun segera mengendalikan emosinya, lalu dia kembali meminta maaf bahkan dia merangkai kalimat indah nan panjang secara spontan untuk meyakinkan Eleonara dan Juna kalau dia begitu menyesal atas perbuatannya.
"Baiklah, kali ini kedengarannya cukup tulus. Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Tapi, aku penasaran, anak Ayah sudah berbuat nekat seperti ini sampai menyinggung Pak Juna, hukuman apa yang akan Ayah dan Ibu berikan pada Kak Sora? Kalian tidak mungkin diam saja, kan? Aku tahu betul keluarga kita 'sangat keras' dalam mendidik. Benar kan, Bu?" sindir Eleonara sengaja sambil menyunggingkan senyumnya. Membuat Mariam gelisah tidak tenang.
__ADS_1
"Hukuman? Kamu masih belum puas membuatku menderita?" geram Sora tak terima.
"Tentu saja orang tua berperan penting dalam hal ini. Jika tidak diberi hukuman, hal seperti ini akan dianggapnya biasa, lalu jadi kebiasaan dan selanjutnya pasti akan terulang lagi. Tentunya Pak Abraham tidak ingin kehilangan muka dan harga diri lagi yang disebabkan oleh anak kedua Anda yang kurang disiplin ini, kan?" cecar Juna yang akan selalu berpihak pada Eleonara kapan pun dan di mana pun.
"Ah, benar sekali, Nak Juna. Saya memang berniat menghukumnya agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari yang bisa merugikan saya lagi, hehe ... saya akan memotong uang jajannya selama satu bulan dan mengambil kartu kreditnya," ujar Abraham sambil tersenyum sungkan pada Juna.
"Ayah!" teriak Sora. Tubuhnya langsung ambruk ke lantai.
"Bagaimana dengan Bu Mariam? Anda sebagai pendidik yang sangat tinggi statusnya dalam keluarga, hukuman apa yang cocok Sora dapatkan? Leona bilang didikan kalian sangat keras, hal seperti ini tentunya membuat Anda merasa gagal dalam mendidiknya, kan?" imbuh Juna lagi sambil tersenyum pada Eleonara.
"I-itu ... b-benar sekali. Saya selaku seorang Ibu merasa menyesal dan hampir putus asa saat tahu kejadian ini. Saya akan mengurung Sora di rumah dan tidak akan memberikannya makan-minum sampai dia menyadari dan menyesali perbuatannya," ucap Mariam terpaksa. Lutut dan sekujur tubuhnya gemetar saat bicara.
...
BERSAMBUNG!!
Sebelum lanjut, like dulu dong hehe^^
__ADS_1
.
.