
Kalau ceritanya terasa membosankan, bisa stop dulu sampai bab seputar Sora habis karena memang sekarang sudah masuk konflik Sora. Baca lagi nanti saat konflik baru sudah dimulai, ya^^
...
Sora mendapat penekanan dari segala sisi, dia semakin gugup tak memiliki akal untuk beralasan lagi. Tertekan dengan keadaan membuat pikirannya buntu.
"Kenapa jadi diam, Kak? Apa jangan-jangan ucapanku benar?" tanya Eleonara dengan kedua alis terangkat naik.
Argh, awas kamu, Culun! (Batin Sora)
Dengan berani akhirnya Sora meneguk segelas jus miliknya hanya karena tidak ingin kebohongannya terbongkar di depan semua orang. Namun, Sora tak bisa menghabiskan satu gelas full jus tersebut karena lidahnya sudah mati rasa. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan kembali jus asin itu.
Eleonara hanya menyunggingkan senyumnya melihat Sora lari terbirit-birit. Tidak perlu dijelaskan lagi karena dengan kepergian Sora sudah membuat semuanya menjadi jelas siapa yang berbual.
"A-anu ... apa yang terjadi?" tanya Abraham gelagapan sambil melirik ke sana-kemari bingung. Firasatnya buruk.
__ADS_1
"Semuanya sudah begitu jelas, masih perlukah dipertanyakan? Sepertinya Sora menaruh dendam pada Leona mengenai masalah sebelumnya. Apa seperti ini kelakuan aslinya?" tanya Juna dengan ekspresi tak suka. Membuat Abraham kelimpungan tidak tenang.
"Bu-bukan, bukan seperti yang Nak Juna lihat. Pasti telah terjadi salah paham di sini," kata Abraham membela diri. Dia melirik ke arah mariam, minta bantuan. Namun, Mariam sendiri tak berani angkat suara, takutnya salah bicara.
"Apa maksud dari ucapanmu?! Kamu seperti sedang menuduh Sora tidak baik," kata Varel yang mulai terpancing suasana.
"Menurutmu bagaimana? Apa dia cukup baik pada Leona? Kamu sebagai kakak tertua, pasti lebih mengenal mereka dari pada saya, kan?" balas Juna.
"Tentu saja aku mengenal mereka dengan sangat baik, tidak perlu diragukan lagi. Pertengkaran kecil diantara Sora dan Eleonara sudah biasa terjadi. Kamu tidak punya saudara kah, makanya sangat aneh melihat Sora dan Eleonara bertengkar karena salah paham," ucap Varel sinis.
"Pak Abraham, Bu Mariam, siang tadi saat saya pergi, saya meminta Syam untuk berjaga di depan rumah. Tapi, tiba-tiba saya mendapatkan laporan darinya kalau telah terjadi kekacauan di sini. Hanya karena Leona tak sengaja menjatuhkan ponsel Sora, Sora sampai menyiramkan kopi dan juga menamparnya. Apa marah seperti itu masuk akal?" sambung Juna meledakkan kekesalan di hatinya.
"Benarkah Pak Syam ada di sini saat kejadian itu?" tanya Eleonara.
Ah, sebenarnya Syam mengatakan kalau Sora sengaja menjatuhkan ponsel Leona, lalu karena Leona tidak terima, dia membalas perbuatan Sora sampai harus berakting dengan menyiramkan kopi dan membuat pipinya merah seolah di tampar. Haha, menarik sekali. Aku di sini hanya sedang membantu istri kecilku berakting saja. (Batin Juna)
__ADS_1
"Tentu saja, dia melihat semuanya, tapi tak berani ikut campur," kata Juna.
Sial, kali ini aku benar-benar sial! (Batin Abraham sambil menggeram)
"Begini, Nak Juna, mengenai kejadian siang tadi -"
"Saya tidak meminta penjelasan dan tidak perlu mendengar apa pun. Saya sudah tahu semua perlakuan keluarga ini terhadap Leona sangat-sangat buruk dan mengecewakan! Kalian hanya memanfaatkannya saja dan bahkan Bu Mariam serta Sora sampai tega menyiksanya setiap saat. Leona, kamu tidak perlu menutupinya lagi, saya sudah mencaritahu mengenai konflik keluargamu," jelas Juna sambil beranjak bangun. "Kalian yang ada di sini dengar baik-baik, kelak Leona tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan keluarga Abraham."
Ctar!!
"Ayo, Leona. Kita pulang!" Juna menarik tangan Eleonara dan membawanya pergi, tapi Abraham dan Varel langsung menahannya.
"Tunggu dulu, Nak Juna! Tunggu! Siapa yang menyebarkan berita bohong seperti itu, saya dan keluarga saya memperlakukan Eleonara dengan sangat baik dan tulus. Tidak ada yang namanya penyiksaan," ucap Abraham memohon sampai dia menarik lengan kemeja Juna.
...
__ADS_1
Sebelum next, like dulu ya^^