Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Ditabrak Motor


__ADS_3

"Nara, kalau merasa tidak nyaman dengan saya. Lain kali saya tidak akan menjemput kamu lagi," ucap Midas sambil menatapnya dari kaca spion tengah.


"Ah, bukan begitu. Aku hanya merasa canggung saja, hehe," jawab Eleonara sungkan.


Canggung karena kejadian malam itu? (Batin Midas salah tingkah)


"Saya meminta nomormu dari Vivi, tidak masalah, kan?" tanya Midas.


Vivian menyenggol lengan Eleonara sambil menyembunyikan senyum usilnya dari samping.


"I-iya, tidak masalah." Eleonara memelototi Vivian diam-diam. Menekannya untuk tidak usil terus di depan Midas.


"Saya belum sempat chat kamu karena sedikit ragu," ujar Midas malu-malu. "Takut tidak mendapatkan balasan darimu."


"Em, kalau Kak Midas memberitahu itu nomor Kakak, aku akan membalasnya nanti," ucap Eleonara sambil menyentuh kacamatanya.


"Baiklah."


Kak Midas jangan termakan ucapan adikmu yang usil itu. Jangan mau dicomblangkan denganku. Aku jelek, dekil, culun. Aku juga sebenarnya sudah menikah! Aku sudah bersuami. Meski Kak Midas itu tipe pria yang aku sukai, tapi ... tidak! Kita tidak bisa! (Batin Eleonara)


...


Sesampainya di rumah Abraham, Eleonara ke luar dari mobil sambil melambaikan tangan. "Makasih ya, Vi. Sekarang udah tenang kan, liat aku pulang?"


"Belum!" Vivian ikut ke luar dari mobil, lalu menghampiri Eleonara dan berbisik, "Kalau Mak Lampir sama Kakak Lampir itu macem-macem sama kamu, kasih tau aku langsung. Jangan diumpetin. Awas lho, ya!" ancamnya.

__ADS_1


Syam dari jarak yang jauh memperhatikan mereka sambil merekam gerak-gerik Midas menggunakan ponselnya. Dia akan mengirimkannya pada Juna. Namun, tiba-tiba saja datang pengendara motor yang melaju cukup kencang sampai membuat Syam terkejut.


"Bikin jantungan saja pengendara itu. Apa tidak bisa pelan sedikit?" gerutu Syam sambil membenarkan letak ponselnya yang sempat terguncang.


Namun, setelah diperhatikan dengan seksama dari layar ponsel, laju pengendara itu cukup aneh. Motornya mengarah pada Eleonara yang sedang berbincang dengan Vivian di depan rumah Abraham. Hal itu membuat Syam ketar-ketir.


"Nara, awas!" teriak Midas sambil ke luar dari mobil dengan panik. Refleks, Midas mendorong Eleonara. Eleonara beradu dengan tubuh Vivian, lalu mereka terjatuh. Kacamata Eleonara mengalami keretakan.


Motor itu malah menabrak Midas sampai pengemudi motor hampir terjatuh juga dari motornya.


Brugh!


Karena rencananya di luar dugaan, pengendera motor dengan helm dan masker hitam itu segera melarikan diri membawa motornya.


"Astaga, Kak Midas!" Eleonara segera menghampiri Midas yang sedang merintih di aspal sambil memeluk sebelah lututnya yang terluka.


Tetangga yang ada di sana langsung berhamburan ke luar untuk melihat. Termasuk Mariam yang sedang berada di rumah. Keadaan menjadi sangat ramai.


"Ada apa, El?" tanya Mariam saat melihat Midas yang sedang di bopong oleh beberapa warga ke dalam mobilnya.


"Kak Midas ditabrak motor, Bu! Aku mau ikut ke rumah sakit," jawabnya tergesa-gesa. "Vi, aku ikut, ya?"


"Gak usah, El. Nanti ibu kamu marah," kata Vivian yang sedang duduk di bagian kemudi. Namun, Eleonara tak mendengar penolakan Vivian, dia sudah duduk di belakang bersama Midas.


"Pakai sabuk pengamannya. Hati-hati, Vi," pinta Midas yang wajahnya sudah tidak karuan karena sedang menahan sakit.

__ADS_1


"Tunggu, emangnya kamu bisa bawa mobil, Vi?" tanya Eleonara cemas.


"Bisa, udah diajarin sama Ayah beberapa kali, buat jaga-jaga di saat genting kayak gini, nih," jelasnya sambil mengenakan sabuk pengaman, lalu menginjak pedal gas dan mobil pun melaju.


"Gila tuh, yang nabrak! Gak punya mata kali! Pokoknya pulang dari rumah sakit, kita harus cari pelakunya sampe dapet!" gerutu Vivian emosi sambil fokus nyetir.


"Cuma terserempet dikit, kamu jangan dulu bilang sama Ayah dan Ibu, apalagi sampai melebih-lebihkan. Mereka bisa syok," ucap Midas memperingati.


"Keserempet gimana? Lihat, celana Kak Midas sampai robek dibagian lutut. Lutut dan telapak tangan Kakak juga berdarah banyak. Ini ditabrak, bukan cuma sekedar diserempet doang," tutur Eleonara memberi kesaksian meski dia tidak melihatnya secara langsung. "Pakaian Kakak juga sampai kotor begini," sambungnya sambil menyapu kotoran di kemeja Midas dengan lembut.


"Jangan melebih-lebihkan, Nara. Lukanya juga tidak begitu sakit," kata Midas sambil berusaha tetap cool meski keningnya mengernyit.


Eleonara menyentuh lutut Midas secara hati-hati dan sontak saja Midas teriak kesakitan sampai merem*s tangan Eleonara dan membenamkan wajahnya di bahu Eleonara. Ingin Midas gigit bahunya karena begitu sakit tak tertahan.


"Ini yang Kak Midas bilang tidak begitu sakit?" sindir Eleonara kesal. Sudah tahu lukanya begitu parah, masih bersikeras bilang tidak sakit. "Cepet, Vi. Lemes aku liat darahnya yang semakin banyak."


Setelah sampai rumah sakit, Dokter segera menangani Midas. Eleonara duduk menunggu di kursi tunggu dan Vivian mondar-mandir di koridor karena Midas menyuruhnya mengabarkan perusahaan tempatnya bekerja.


Tiba-tiba saja Eleonara merasa ponselnya bergetar di dalam tas ranselnya. Dia memeriksanya hati-hati sambil memperhatikan Vivian yang sedang berbincang dengan seseorang di telepon.


Pak Juna menelepon. (Batin Eleonara)


"Vi, aku ... cari minum dulu, ya. Nanti aku bawain buat kamu," bualnya sambil memaksakan senyum.


Vivian hanya mengangguk. Eleonara pun bergegas pergi dari pandangan sahabatnya. Dia mencari tempat yang tidak berisik di rumah sakit.

__ADS_1


...


BERSAMBUNG!!


__ADS_2