Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Saya Akan Mulai Dari Bibir


__ADS_3

"Mobil Pak Juna? Gawat, aku terlambat tujuh menit!" seru Eleonara setelah melihat jam di ponselnya. Dia buru-buru memasuki rumah.


Setelah membuka pintu, Eleonara melihat ke sana kemari mencari Juna dengan perasaan was-was. Juna tidak ada di mana pun. Eleonara menghela napas lega sambil diam-diam melepas sepatunya dan kembali menutup pintu.


"Mungkin Pak Juna sedang di kamarnya," gumamnya sambil melangkahkan kaki dengan berjinjit menuju kamar tamu yang kini menjadi kamarnya sementara.


Saat Eleonara akan mendorong pintu kamar, seseorang berdehem dari belakang punggungnya, sontak membuat Eleonara terlonjak kaget setengah mati. Siluet hitam perlahan mendekat dan terlihat sangat besar di pintu. Seakan ada binatang buas yang akan menerkamnya bulat-bulat. Sekujur tubuh Eleonara merinding bukan main.


Dia memberanikan diri menoleh sambil memejamkan kedua matanya, lalu sedikit mengintip sosok apa yang auranya begitu menakutkan.


"Eh, Pak Juna, hehe. Aku kira kucing garong," ucap Eleonara sambil cengengesan.


Juna hanya diam menatapnya dengan dagu terangkat naik. Eleonara semakin resah di tatap sinis begitu. Diamnya Juna membuatnya tak bisa tenang.


"Ah, tadi di jalan ada sedikit kemacetan. Jadi telat sedikit," jelas Eleonara. Dia menarik tangan Juna, lalu mengecup punggung tangannya. Sikapnya membuat Juna heran.


"Sudah makan malam?" tanya Eleonara basa-basi. Namun, Juna masih enggan menjawabnya. Tampaknya dia menginginkan penjelasan yang lain karena terlihat ketidakpuasan di wajahnya.


Eleonara menghela napas kasar dengan langsung menundukkan wajahnya dengan bibir mengerucut. "Kelihatannya Pak Juna tidak puas dengan penjelasanku. Aku tahu sudah melanggar janjiku untuk pulang tepat waktu, tapi cuma telat tujuh menit saja, kok. Hum, tetap saja itu salah, ya? Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi," rengeknya dengan ekspresi menyesal.


Tiba-tiba saja lengan besar melingkar di pinggangnya dan menariknya ke dalam pelukan Juna. Kedua mata Eleonara membulat sempurna saat wajah mereka begitu dekat, nyaris menempel.


"Saya setuju karena saya kira kamu meminta izin untuk bermain dengan teman perempuan," ucap Juna lirih. Embusan napasnya terasa menyapu bibir Eleonara. Eleonara semakin tegang sampai menelan salivanya dengan pipi merona.


"A-aku memang bermain dengan teman perempuan. Aku pergi ke rumah Vivian barusan. Teman sekelasku," balasnya sambil menyentuh kacamatanya.


"Lalu, kenapa pulang dengan seorang pria?" tanyanya menuntut dengan kedua mata menyipit.


"Oh, itu ... dia kakaknya Vivian, Kak Midas. Kak Midas akan kembali ke kantornya, kebetulan jalannya searah, jadi aku ikut di mobilnya," jelas Eleonara penuh keyakinan.


"Bukan kekasihmu?"

__ADS_1


"Tentu saja bukan. Aku sudah beberapa kali diantar olehnya. Dia sudah aku anggap sebagai kakak sendiri. Tidak ada apa-apa diantara kami," bantahnya tegas hingga akhirnya sukses menghilangkan rasa tidak percaya yang menghantui Juna sedari tadi.


"Sungguh?"


Eleonara menganggukkan kepalanya cepat. "Aku bahkan berani bersumpah."


Merasa situasi sudah kembali normal, Eleonara berusaha meloloskan diri, tapi Juna kembali meraih pinggangnya.


"Saya belum selesai. Apa maksud dari ci-um tangan barusan? Membujuk saya agar tidak marah?" tanya Juna sambil melangkah maju, hingga Eleonara terdorong masuk ke kamar tamu.


"Oh, ci-um tangan? Apa Pak Juna tidak tahu? Sudah menjadi kebiasaanku mau berangkat sekolah atau pulang sekolah selalu ci-um tangan pada Ayah dan Ibu. Seperti menunjukkan kasih sayang dan rasa hormat anak kepada orang tua. Masa yang seperti itu saja Pak Juna tidak tahu? Ehem!" Eleonara berdehem karena kini mereka sudah memasuki kamar dengan posisi yang meresahkan.


"Rasa hormat anak pada orang tua, ya? Jadi, saya ini kamu anggap apa, hm?" tanya Juna dengan tatapan sayu. "Apa orang tua bisa memperlakukan anaknya seperti ini?" Juna mengecup tengkuk leher Eleonara dengan lembut sampai membuat Eleonara bergidik karena jambang tipisnya terasa menggelitik.


Astaga, apa yang akan Pak Juna lakukan?! (Batin Eleonara)


"P-Pak Juna!" seru Eleonara sambil berusaha mendorongnya dengan wajah panik bukan main.


Rasanya darah mengalir dengan panas ke sekujur tubuh. Panas membara. Wajah Eleonara bahkan sudah merah total.


"Pak Juna, jangan macam-macam! A-aku masih datang bulan!" Eleonara menggeliatkan tubuhnya, berusaha meloloskan diri dari Juna yang kelihatannya sudah hilang akal.


"Saya tahu. Saya hanya ingin mencicipi istri kecil saya sedikit saja. Memangnya malam ini kamu tidak menginginkan saya?"


Glek!


Perasaan Eleonara semakin tidak karuan. Ingin rasanya dia duduk di pojok kamar sambil memeluk lutut. Bagaimana bisa Juna menawarkan dirinya secara gamblang seperti itu? Apalagi dengan wajah damai sentosa begitu. Seakan perkataan itu bukan suatu masalah baginya. Padahal bencana besar bagi Eleonara.


"Pak Juna, aku mohon jangan memulainya. Beri aku kedamaian malam ini. Banyak tugas yang harus aku kerjakan sekarang untuk dikumpulkan besok," rengeknya dengan tatapan memohon, minta dikasihani.


Dengan yakin, Juna menggelengkan kepalanya. Menolak mentah-mentah. "Saya akan minta Syam mengerjakan tugasmu."

__ADS_1


"Hey, mana bisa begitu?"


"Apa yang tidak bisa? Itu suatu hal yang mudah."


"Tidak bisa. Aku sebentar lagi lulus, tugas-tugas itu sangat penting. Kalau Pak Syam yang mengerjakannya, aku tidak akan tahu apa-apa. Bagaimana bisa aku mengerjakan soal-soal ujian nanti?" gerutunya.


"Leona?" panggil Juna dengan nada mengintimidasi.


Eleonara sudah takut setengah mati, tapi untung saja ponsel Juna tiba-tiba berdering. Ada panggilan masuk. Hal itu memberikan kesempatan untuk Eleonara meloloskan diri dari dekapannya.


Eleonara mengambil ponsel Juna dan buru-buru memberikannya. "Ada telepon, hehe." Dia terlihat sangat senang dan lega.


Juna berdesis sebal sambil menatap layar ponselnya. Memeriksa siapa yang menelepon. Dari raut wajahnya, terlihat kalau yang menelepon adalah orang penting. Namun, Juna tidak menjawabnya. Dia membiarkannya mati dulu.


"Oh iya, Pak Juna terima kasih untuk ponsel barunya dan ... em, uang jajannya hehe," bisik Eleonara sambil tersenyum bagai kuda.


Padahal hari ini aku tidak menghabiskan uang minimal. 100 ribu saja tidak habis, bagaimana caranya menghabiskan 500 ribu, hiks ... sisa uang 400 ribu hari ini akan ditambah ke uang minimal besok. Total yang harus aku habiskan berarti jadi 900 ribu, dong? Huhu... (Batin Eleonara kesulitan)


Juna mengangguk samar. "Malam ini kamu aman. Besok berhati-hatilah, saya akan mulai dari bibir."


"Apa? Bi-bibir? Maksudnya?" tanya Eleonara yang seketika membuat pikirannya ngeblank. Namun, Juna mengacuhkannya dengan ke luar dari kamar sambil menutup pintu.


"Pak? Pak Juna? Hey, Pak Juna...!" teriaknya frustrasi.


Uh! Kesal sekali! Selalu saja berhasil menggodaku! Tapi, kenapa saat aku akan menggodanya balik, setelah berhadapan dengannya semangatku malah ciut! Sepertinya aku masih harus mengumpulkan banyak keberanian agar bisa membalas perbuatannya. Aku juga tidak mau mengecewakan Kak David yang sudah menaruh harapan padaku. (Batin Eleonara)


"Lihat saja nanti Pak Juna, aku tidak akan segan denganmu! Bukankah suami adalah cerminan istri? Heh, kalau begitu aku akan bercermin darimu," gumam Eleonara sambil tersenyum jahat dengan semangat membara.


...


BERSAMBUNG!!

__ADS_1


Dukung dan ikuti terus ceritanya, ya^^


__ADS_2