Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Perkumpulan Pria Hot Timur Tengah!!


__ADS_3

"Biarkan mereka menunggu di ruang tamu," ujar Juna sambil menjepit keningnya. Terlihat frustrasi.


"Kenapa? Siapa mereka?" tanya Eleonara penasaran.


"Mereka teman-teman Paman dari Turki, Tante," jawab Moza seakan benar-benar tahu.


"Teman dari Turki? Moza tahu mereka?"


"Tentu saja. Mereka adalah pahlawan super Moza. Saat Moza di Turki kesulitan, teman-teman Paman itu akan bersedia membantu Moza seperti seorang pahlawan. Mereka semuanya baik dan lengket dengan Paman. Kalau Paman sedang di Turki, ke mana-mana pasti selalu bersama," jelasnya sambil menyodorkan baju pada Eleonara, minta dipakaikan. Eleonara pun memakaikannya.


"Aku kira temanmu hanya Serkan saja," ujar Eleonara pada Juna yang sedang berusaha beranjak bangun meski kepalanya pening. "Tunggu aku selesaikan Moza dulu. Nanti aku bantu kamu temui mereka."


"Tidak perlu. Kamu dan Moza di dalam saja."


"Aih, kenapa begitu?" Eleonara tampak kecewa.


"Tradisi keluarga saya, masih tidak ingat?"


"O-oh, yang tidak boleh keluar kalau ada tamu laki-laki? Tapi, apa tidak mau memperkenalkan aku pada mereka, hum?!" Eleonara memonyongkan bibirnya sambil menggerutu sebal, tapi tangannya sibuk merapikan penampilan Moza.


"Hmm ... baiklah. Cepat pakai baju kalau begitu," kata Juna yang seketika membuat senyum Eleonara merekah sempurna.


"Sudah selesai kan, Tante? Mosa sudah cantik, kan? Mosa mau temui teman-teman Paman duluan, ah. Dadah ...." Moza langsung ke luar dari kamar sambil berlari kecil. Sesenang itu menemui teman-teman pamannya. Dasar anak centil.


Eleonara pun bergegas mencari pakaian. Juna hanya bisa menonton dari ranjang. Gairah ada, tapi tenaga sepertinya tidak. Padahal lekuk tubuh Eleonara tanpa pakaian begitu menggoda. Eleonara seperti api yang menari-nari di depan mata. Gerakannya yang sedang mengenakan dallaman, menimbulkan gejolak dalam dada.


Entah sejak kapan, kakinya melangkah mendekati Eleonara. Juna mengecup pundak Eleonara dari belakang. Tangannya melingkar di pinggangnya yang ramping.


"Hey, aku sedang pakai baju. Bukannya kamu menyuruhku buru-buru?" ucap Eleonara sambil mengguncang tubuhnya agar pelukan Juna terlepas.


Juna menggelengkan kepala dengan mata terpejam. "Saya tidak bisa tahan ketika melihatmu tanpa sehelai pakaian," bisiknya.


"Kalau begitu jangan lihat. Tutup mata. Jangan biarkan teman-temanmu menunggu lama."


"Heh, biarkan saja. Lagipula siapa yang mengundang mereka untuk datang?" ucap Juna ketus.


"Jangan begitu, dong. Kasihan kan, jauh-jauh dari Turki mungkin hanya untuk melihat keadaanmu."


"Ck, mereka hanya ingin menertawakan saya karena saya tidak biasanya sakit," kata Juna sambil mendengus sebal.


Eleonara menghela napas hampa dengan menggeleng-gelengkan kepala. Dia menarik diri, lalu bergegas merapikan penampilannya. Setelah selesai, Juna menggiringnya keluar menemui teman-temannya.


Dan apa yang Eleonara lihat di ruang tamu. Sofanya di penuhi pria-pria tampan hot jeletot dari Timur Tengah. Jambang tipis serta garis wajah khas Turki yang begitu kental sungguh mengguncang iman. Mereka bahkan menoleh ke arah Eleonara dan Juna. Lirikan mata mereka menggoda dan senyumannya mempesona. Eleonara hampir tak sadarkan diri karena hatinya meleleh seperti ice cream yang kepanasan.


Emran Aslan (31)


Author : Mon maap, halunya kelewatan :(


__ADS_1


**


Serkan Yıldız (32)



**


Zafer Kurtaş (32)



**


Osman Danyal (29)



Pantas saja Moza begitu antusias ingin menemui mereka. Ternyata mereka, uhuk! Tapi, kenapa tidak ada satu pun yang tidak tampan? Aku jadi merasa minder. (Batin Eleonara sambil menyembunyikan wajahnya saat Juna menggiringnya dengan menggenggam tangannya)


Rasanya Eleonara ingin bersembunyi di pojokan saja kalau seperti ini. Sekarang untuk diam di kamarnya alih-alih tradisi keluarga sepertinya sudah tidak sempat.


"Geçmiş olsun, Kardeşim," ucap mereka serempak sambil tersenyum mengejek pada Juna. Artinya seperti get will soon atau semoga cepat sembuh. Kardeşim \= saudara laki-laki. Teman-teman Juna sudah menganggap Juna seperti saudara mereka.


"Ini Serkan, ini Emran, Osman dan yang ini Zafer," kata Juna memperkenalkan teman-temannya pada Eleonara.


"Merhaba," jawab mereka ramah, tapi tak bisa dipungkiri teman-teman Juna menatap Eleonara dengan segudang tanya di kepala.


"Kim? (Siapa?)" bisik Serkan pada Juna, penasaran.


"Sen kimsin? (Siapa kamu?)" tanya Emran, si tampan memesona.


"Güzel," ucap Osman si nakal tapi menawan dengan suara lirih sambil tersenyum tipis.


"Eş," celetuk Juna tanpa basa-basi. Sontak saja kedua mata teman-teman Juna itu membulat sempurna.


"Eş?!"


Eş \= pasangan.


"Evet, karım (Ya, istriku)," ujar Juna lagi meyakinkan.


Diam-diam Eleonara mengayunkan tangannya pada Moza yang sedang duduk dipangkuan Serkan. Moza tampak mengerti maksudnya. Dia bergegas menghampiri Eleonara mumpung teman-teman pamannya sedang meributkan kebenaran mengenai status Eleonara.


Eleonara membisikan sesuatu di telinga Moza. "Mereka membicarakan apa? Es es, apa maksudnya? Apa mereka kehausan? Minta dibuatkan air es?"


Sontak saja hal itu membuat Moza tertawa terpingkal-pingkal. "Bukan, Tante. Eş itu artinya pasangan. Paman sedang memperkenalkan Tante pada teman-temannya," jelasnya.


"Ah, begitu ya." Eleonara mengusap tengkuk lehernya sambil tersipu.

__ADS_1


"Nanti kalau mereka tanya 'Senin adın ne?' Jawabnya, 'Benim adım Leona.' Artinya siapa namamu dan jawabannya namaku Leona," bisik Moza menggurui dengan bibir mungilnya yang lucu.


"Benim adım Leona (coba-coba melafalkan aksen Turki). Wah, Moza hebat sekali." Eleonara memberikan dua jempol pada Moza sambil tersenyum lebar dengan mata berbinar. Sontak saja senyum yang terlukis indah di wajah Eleonara menyita banyak perhatian teman-teman Juna.


"Elena!!"


Deg!


Eleonara langsung menyusutkan senyumnya dan membungkam mulutnya sendiri. Dia mengerti kenapa teman-teman Juna memanggilnya begitu, pasti karena lesung pipinya yang timbul saat tersenyum.


Juna segera membantahnya dan juga menjelaskan kalau Eleonara bukan Elena. Mereka hanya memiliki kemiripan dari senyumnya dan lesung pipinya saja.


"Senin adın ne? (Siapa namamu?)" tanya Serkan pada Eleonara. Akhirnya yang sebelumnya dipelajari dari Moza tercetus juga.


"Benim adım Leona," ucapnya dengan lantang penuh percaya diri. Juna sampai tak sangka Eleonara dapat menjawabnya selugas itu.


"Nerelisin (orang mana)?" tanya Zafer, pria kulkas tapi diamnya adalah pesonanya.


Moza membisikan sesuatu di telinga Eleonara. Juna yang memperhatikan hanya menghela napas hampa sambil geleng-geleng kepala. Dia kira Eleonara murni bisa sendiri, tidak tahunya punya translate cilik.


"Ben Endonezyalıyım. Memnun oldum (aku orang Indonesia, senang berkenalan dengan kalian)," jawab Eleonara.


Serkan tiba-tiba bertepuk tangan sambil merekahkan senyumnya. Begitu pun dengan Emran, Zafer dan Osman, mereka semua menyeringai sambil saling tatap satu sama lain. Membuat Eleonara bingung.


"Kenapa?" bisik Eleonara pada Juna.


Juna malah mengedikkan bahunya tidak tahu.


"Kamu tidak ingat, Jun? Dulu kita pernah membuat janji, siapa pun yang pertama kali menikah diantara kita harus siap istrinya diculik 4 hari 4 malam oleh kita. Masing-masing dari kita menghabiskan 24 jam bersama istrimu. Dan sekarang ... kamulah orang pertamanya. Hahaha ...," tawa teman-teman Juna pecah tak tertahan sampai menggelegar.


M-mereka bisa bahasa Indonesia? (Batin Eleonara terkejut dan merasa tertipu)


"Leona ya, namanya? Güzel dan masih muda sekali, terlihat masih segar. Kenyang kamu bermain-main dengan gadis ini, hm?" tanya Osman berusaha menggoda Juna yang sedang sakit agar terhibur.


"Tunggu dulu! Ternyata kalian bisa bahasa Indonesia? Fasih lagi pelafalannya. Lalu, apa maksudnya menghabiskan 4 hari 4 malam dengan kalian?" tanya Eleonara sambil melirik ke sana-kemari mencari jawaban karena pikirannya mulai kacau balau. Meski yang ada di hadapannya semua ini adalah pria-pria dewasa, Eleonara tak takut mempertanyakan apa yang tidak dia mengerti karena sepertinya hal itu menjurus pada sesuatu yang berbau sensitif.


Juna pun dimintai penjelasan malah menghindari tatapannya sambil pura-pura mengelus jambangnya. Perasaan Eleonara semakin tidak enak.


Jangan bilang Pak Juna membiarkan aku digilir empat orang temannya? (Batin Eleonara berprasangka buruk)


...


BERSAMBUNG!!


Tolong cariin visual Juna 🫣


.


.

__ADS_1


__ADS_2