
"Kakak bisa tidur di kamar tamu kalau emang mau nginep, jangan di sini," ucap Eleonara saat melihat Sora sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang biasa menjadi saksi bisu gairah menggebu antara Eleonara dan Juna.
"Kenapa emang? Apa bedanya kamar tamu sama kamar ini? Ini kan, kamar Juna. Yang berhak ngelarang cuma Juna, bukan kamu," kata Sora dengan sangat ketus.
"Aku tau, tapi bukannya gak sopan kalau tidur di kamar pemilik rumah tanpa sepengetahuannya? Kakak mau aku bilangin Pak Juna?" celetuk Eleonara karena rasa kesalnya sudah sampai kerongkongan, tanpa sadar telah menyinggung Sora dengan ucapannya. Membuat Sora kesal, dan tanpa aba-aba langsung menjambak rambut Eleonara.
"A-akh! Kak, sakit!" rintih Eleonara sambil menyentuh rambutnya yang dijambak Sora.
"Kamu mau aduin aku ke Juna? Buat apa? Cari muka? Heh, culun, pasang telinga kamu baik-baik, ya. Kalau kamu cerai sama Juna, aku yang bakal jadi istrinya! Tinggal nunggu beberapa waktu lagi buat jadi Nyonya di rumah ini. Kamu mentang-mentang udah nikah sama Juna, jangan belagu! Harus tau diri, kalau aku udah jadi Nyonya di rumah ini, aku gak bakal biarin kamu nginjek ke rumah ini selangkah pun!" kecam Sora dengan mata tertutup emosi.
Eleonara yang sudah kelewat emosi langsung mendorong Sora dengan napas terengah-engah sampai punggung Sora menghantam dinding. Ugh!
"Kakak jangan keterlaluan, ya! Kita lagi ada di rumah Pak Juna. Kakak bersikap seperti ini emangnya gak takut kalau ada CCTV yang dipasang di sini? Pak Juna bakal tau perlakuan Kakak sama aku kayak gimana. Kakak pikir Pak Juna mau nikah sama orang dengan tempramental kasar kayak Kakak?!" celetuk Eleonara sedikit meluapkan kekesalannya.
"Tempramental kasar? Aku?! Heh, kamu sadar gak apa yang kamu omongin? Udah mulai berani ngelawan ya, sekarang!" Sora menyunggingkan senyumnya dengan mata berapi-api sambil berkacak pinggang.
"Aku cuma ngingetin Kakak, jangan bersikap seenaknya kalau lagi di rumah orang. Takutnya bisa ngerugiin diri sendiri."
Sora melangkah mendekati Eleonara sambil mengeraskan rahangnya. "Aku kayak gini ke kamu emangnya kenapa? Gak bakal ada yang peduli juga, termasuk Juna. Heh, dari kamu lahir takdir kamu itu udah jelek, dari dibuang sama orang tua sampai nikah pun punya suami yang cuma mau manfaatin doang. Mikir, dong! Udah bagus aku sama keluarga aku nerima kamu, harusnya kamu tunduk bahkan kalau bisa bertekuk lulut di kaki aku! Jangan malah ngelawan kayak gini!" bentaknya sambil melotot.
Kedua mata Eleonara berkedut memerah panas. Dia menunduk sambil menyentuh kacamatanya. Berusaha agar tangisnya tidak pecah.
"Sebenernya Kakak sadar gak, kejayaan keluarga kita sekarang ada di tangan aku. Aku nikah sama Pak Juna buat ngelunasin hutang Ayah, Pak Mohsen juga bantu ngemodalin bisnis Ayah, kalau aku minta pisah sama Pak Juna, bisa dipastiin bisnis Ayah bakal hancur sehancur-hancurnya karena aku udah ngecewain keluarga Pak Juna. Cita-cita Kakak jadi model, gak bakal mungkin kesampaian soalnya kita udah bangkrut. Jadi, mulai sekarang tolong perhatiin sikap Kakak. Jangan seenaknya sama aku! Lagian gak ada yang peduli sama aku, kan? Ngapain juga aku harus peduli sama kalian?!" ucap Eleonara legas sambil berlalu.
Namun, baru saja hendak melangkah, Sora lagi-lagi menjambak rambut Eleonara dari belakang sampai jatuh tersungkur ke lantai, kacamatanya terlepas. Dia menyumpah serapahi Eleonara karena merasa tidak terima. Tampaknya ucapan Eleonara barusan sudah kelewatan baginya dan membuat Sora sangat murka.
__ADS_1
Sora menyeret Eleonara dengan menarik rambutnya menuju halaman belakang. Eleonara merintih kesakitan. Dia berusaha bangun dan mengelak, tapi tenaga Sora jauh lebih kuat darinya. Lengan Eleonara sampai membentur tembok.
"Kayaknya perlakuan aku sama Ibu selama ini terlalu lembut sama kamu! Aku bakal liatin didikan yang sesungguhnya biar kamu jadi anak baik!" geram Sora dengan rahang mengeras.
Dia berhenti di tepi kolam renang. Eleonara samar-samar melihatnya ketakutan. "Lepasin, Kak! Kakak mau apa?! Jangan bertindak bodoh! Kolam renangnya dalem, Kakak tau aku gak bisa berenang, kan?!"
"Ini hukuman dari aku. Lain kali kalau mau ngelawan liat-liat dulu lawan kamu siapa. Jangan bertindak tanpa persiapan!" kecam Sora.
Tanpa pikir panjang, Sora pun melempar tubuh Eleonara ke dalam air. Matanya sudah hitam tertutup emosi.
Byur!!
Eleonara panik setengah mati di dalam air. Dia membuka matanya, buram, entah di mana tepiannya. Refleks tangan dan kakinya bergerak cepat, berharap dia bisa naik ke permukaan karena napasnya semakin menipis.
Pak Juna, siapa pun, tolong aku! :(
"El, Eleonara! A-a-aku gak sengaja! Pe-pegang tangan aku!" teriak Sora sambil berusaha mengulurkan tangannya yang gemetar.
Tubuh Eleonara tidak terlihat, hanya tangannya saja seolah meminta pertolongan. Namun, begitu Eleonara hampir menyentuh tangan Sora, Sora dengan linglung langsung menarik diri. Pandangannya kosong melompong.
Kepala Eleonara berhasil naik ke permukaan sambil mengambil napas dengan mata terpejam. "To...long! Ka...ka, to...long!" Posisinya timbul tenggelam.
Samar-samar Eleonara melihat Sora menjauh, masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba telinga Sora menangkap suara mobil yang bersumber dari halaman depan. Diintipnya ternyata itu Juna bersama Syam.
Celaka! Bukannya dia bilang Juna pulang besok?! Gimana ini? Eleonara, bertahanlah. Jangan bikin aku dalam masalah! (Batin Sora)
__ADS_1
Lengan serta lutut Sora gemetar dahsyat. Jari tangannya sampai dingin sedingin es mendengar langkah kaki yang kian mendekat. Dengan secepat kilat Sora masuk ke dalam kamar Juna sambil mematikan lampunya.
"Canım!" panggil Juna dengan senyum merekah di wajahnya setelah membuka pintu. Dia membawa jinjingan berisi sesuatu di tangannya.
"Nona mungkin sedang istirahat di kamarnya. Bukannya Tuan ingin memberikan kejutan? Langsung masuk saja ke kamar, tidak perlu memanggilnya," bisik Syam pelan-pelan.
"Ah, ya ampun. Saya lupa saking senangnya."
Juna pun masuk ke dalam kamar secara mengendap-endap. Dilihatnya punggung Eleonara yang sedang berbaring di atas ranjang sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut, tapi Juna terheran-heran karena lampunya di matikan. Hanya lampu tidur saja yang menyala dan membuat penglihatan remang-remang.
Juna meletakan jinjingan itu di lantai sambil melepaskan dasinya. Dia merayap naik ke ranjang, lalu mengecup kepala Eleonara dari belakang. "Canım," bisiknya sambil senyum-senyum sendiri.
Eleonara malah membenamkan wajahnya ke dalam selimut.
Juna kembali mengecup pundak Eleonara, sayangnya Eleonara tak kunjung bangun juga. "Saya pulang. Kamu benar-benar tidur?"
"MAYAT! Tuan, ada mayat...!" teriak Syam tiba-tiba dari halaman belakang yang seketika memecahkan suasana.
...
BERSAMBUNG!!!
Please jangan hujat author, ini hanya cerita yang memang prosesnya sudah dirangkai seperti ini sebelumnya, huhu.. like aja ya^^
.
__ADS_1
.