
Setelah Varel dan David pergi, Juna marah-marah sampai merembet pada Eleonara. Syam pun yang tidak ada di TKP terkena imbasnya melalui telepon. Syam jadi bingung karena tidak tahu apa yang telah terjadi.
"Kenapa hari ini tidak berjaga di rumah?! Ada tikus mengganggu sejak tadi, aku sampai sulit mengatasinya. Mulai sekarang setiap akhir pekan kamu harus stanby di rumahku. Aku membayarmu untuk membantu dan berjaga, bukan untuk bersantai!" gerutunya berkicau ke sana-kemari.
"Tapi ... sebelumnya Tuan sudah mengatakan pada saya hari ini ingin berduaan dengan Nona Leona. Jadi, saya tidak berani datang, takut mengganggu. Memangnya apa yang telah terjadi, Tuan? Kedengarannya Tuan sangat marah. Tikus apa yang tadi Tuan katakan?" tanya Syam penasaran campur gugup.
"Hah, kamu hanya harus tahu kalau aku sangat benci pada Varel, kakaknya Leona. Dia baru kembali dari study-nya dan sangat menentang hubunganku dengan Leona, bahkan beberapa kali menghinaku. Pagi ini dia datang ke rumah untuk cari gara-gara denganku. Kak David juga bukannya membelaku, malah terus menyudutkanku dengannya. Dia sangat lengket pada Leona, bagaimana cara menyingkirkannya?" tanya Juna terlihat sangat frustrasi atas apa yang terjadi di rumahnya.
Varel memanfaatkan David untuk melunakkan perasaan Juna agar Juna tidak memutus hubungan Eleonara dengan keluarga Abraham. Dari situ David pun akhirnya tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi antara Eleonara dan keluarga Abraham.
Awalnya David berpihak pada Juna, dia setuju Eleonara putus hubungan dengan keluarga toxic seperti itu, tapi setelah Varel angkat bicara menceritakan perjalanan hidupnya selama dia bersama Eleonara di keluarganya, David pun jadi berbalik dan berpihak pada Varel. Menurut David memutus hubungan sama dengan memutus tali silaturahmi dan memang tidak diperbolehkan, meskipun keluarga Abraham sudah mengakui salah, tapi pada akhirnya mereka meminta maaf dan berusaha untuk ganti rugi. Terselip niat baik yang patut di hargai. Begitu menurutnya.
Sayangnya hal itu justru membuat Juna naik pitam. Dia sama sekali tidak sejalan dengan pendapat David. Istrinya bukan hanya pernah dipukuli sampai lebam-lebam saja, tapi bahkan berani hampir menghilangkan nyawanya. Juna pikir David tidak akan mengerti seperti apa perasaannya sebagai suami Eleonara. Dia hanya bisa bicara tanpa rasa. Jadi, percuma saja membahasnya panjang lebar. Juna, Varel dan David ibaratkan sebuah lingkaran dan segitiga yang berusaha untuk menjadi persegi.
"Tuan demi hidup harmonis bersama Nona Leona berani menyingkirkan kakaknya? Apa yang dimaksud dengan kata menyingkirkan ini seperti ... ehem, membunuhnya?" tanya Syam sedikit tak yakin saat mengatakannya.
"Yang benar saja kamu, Syam! Apa tampangku terlihat seperti kriminal? Maksudku, cara menjauhkan dia dengan Leona. Kehadirannya sungguh menggangguku."
__ADS_1
"Ahehe, begitu. Saya akan cari tahu dulu siapa dia dan seperti apa kegiatan sehari-harinya. Jika ada kesempatan untuk menjauhkan dia dengan Nona Leona, saya akan langsung mengabari Anda," ucap Syam.
"Bagus. Ah, besok kamu tidak perlu mengantar Leona ke sekolah, cek pabrik dan gudang saja. Kalau ada kesalahan atau kekurangan apa pun, beritahu aku," ujar Juna.
"Baik. Oh iya, anu, Tuan ... em, ada yang ingin saya sampaikan. Salah satu anak buah saya ada yang melihat keberadaan Nona Elena di dekat sekolah Nona Leona, Jumat lalu. Apa perlu saya selidiki kebenarannya? Saya merasa ada yang tidak beres," kata Syam curiga.
Kening Juna sontak mengerut tajam setelah mendengarnya. "Elena? Dekat sekolah Leona?" gumamnya menimbang-nimbang apa harus percaya atau mengabaikannya saja. Sebab, Juna berpikir Elena sudah tidak mungkin muncul lagi di dalam kehidupannya.
"Apanya yang tidak beres? Mungkin anak buahmu salah lihat. Sudahlah, tidak perlu mengurusi Elena. Hentikan memberiku informasi dan stop menyebut namanya. Ada atau tidaknya dia, aku telah menjalani kehidupanku sendiri. Itu saja!"
-tut-
"Saat itu aku tidak sengaja melihat Nona Elena di pusat perbelanjaan, tapi aku ragu dengan penglihatanku karena saat dicari tidak dapat menemukannya. Tapi ... foto ini benar-benar adalah Nona Elena. Wajahnya begitu jelas. Perasaanku jadi tidak enak. Sedang apa Nona Elena di sekolah Nona Leona?" gumam Syam memasang ekspresi serius saat menatap foto Elena dengan rambut cokelat bergelombang serta topi hitam yang sedang menengadahkan wajahnya ke arah sekolah Eleonara.
Namun, sayangnya sudah jelas di depan mata begini, Juna dengan tegas mengatakan untuk tidak mengungkit apa pun mengenai Elena. Jadi, ya sudah, Syam pun tidak bisa berbuat apa-apa meski dia merasa cemas sekali pun.
....
__ADS_1
Beberapa minggu telah berlalu, Syam sudah banyak menggali informasi mengenai Varel dan juga kesehariannya. Akhirnya dia mendapatkan celah untuk memisahkan Varel dengan Eleonara. Varel kembali terbang ke Yogyakarta untuk wisuda dan Syam diam-diam berkomplot dengan salah satu pemimpin perusahaan di luar negeri (kenalan Juna) untuk merekrut Varel sebagai karyawannya. Tujuannya agar berpisah jauh dengan Eleonara sesuai yang tuannya inginkan.
Hal ini hanya Syam dan Juna saja yang tahu. Juna merasa puas melihat hasil kerja Syam. Dia memberikan banyak bonus padanya di belakang Eleonara. Kesempatan kerja di luar negeri untuk Varel sudah diperhitungkan baik-baik oleh Juna dan Syam. Varel pasti akan langsung mengambilnya karena dia berambisi untuk mengalahkan Juna. Jika Varel bisa menjadi sekaya Juna, keluarganya akan terlepas dari naungan keluarga Mohsen dan dia bisa merebut kembali adik kesayangannya yaitu Eleonara.
'Kakak akan berusaha keras untuk mengalahkan suamimu itu. Tunggu sampai saatnya tiba, Kakak pasti akan mengambilmu kembali, Ele. Kita injak kepala Juna Syach Emirhan bersama-sama!'
Eleonara sedang membaca pesan baru dari Varel yang penuh ambisi. Beberapa hari yang lalu dia mendapat kabar kalau Varel akan bekerja di luar negeri. Cukup mendadak, tapi Eleonara turut senang. Tidak sangka Varel mengambil kesempatan itu tanpa pikir panjang. Sepertinya benar-benar ingin mengalahkan Juna bahkan berada lebih di atasnya.
Tiba-tiba saja Juna datang sambil mengecup pipinya. "Sedang sibuk apa sampai tidak dengar suara bel berbunyi dari tadi?" tanyanya lirih.
Eleonara menyembunyikan ponselnya sambil tersenyum ke arahnya. "Tidak ada," jawabnya santai. "Siapa yang bertamu ya, siang-siang begini?"
Eleonara beranjak bangun dari duduknya, lalu membuka pintu.
...
BERSAMBUNG!!
__ADS_1
Kira-kira siapa yang datang?