
Juna melepaskan mantel yang Eleonara kenakan. Sentuhan tangannya yang lembut menyentuh kulit, membuat Eleonara merinding. Ditambah lagi dengan keadaan lampu remang-remang dan aroma wewangian yang semakin membuat situasi diantara mereka semakin memanas.
Juna meletakan mantel di sembarang tempat, lalu menyuruh Eleonara berbaring di ranjang. Dia sedang menguji Eleonara, apa dengan ditekan seperti ini Eleonara akan jujur atau malah berdalih lagi.
Saat tangan Juna hendak menyibak dress yang Eleonara kenakan, tangannya langsung ditahan dengan kuat.
"Tunggu dulu, tunggu!" sergah Eleonara. "A-aku ... sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu pada Pak Juna."
"Apa?" tanya Juna, tak sabar menunggu kelanjutan perkataan Eleonara.
"Sebenarnya ... em, aku sudah tidak datang bulan, hehe," ungkapnya sambil cengengesan. "Aku ... aku hanya gugup saja. Belum siap. Tolonglah Pak Juna mengerti sedikit," rengeknya sambil mengerucutkan bibir.
Juna menghela napas hampa sambil menyentuh pipi Eleonara dan mengusapnya lembut. Bola mata hazelnya menatap Eleonara dalam.
"Leona," panggilnya lirih. "Saya atau kamu yang seharusnya mengerti? Saya sudah tidak bisa menunggu lagi. Saya hanya ingin menyalurkan nafsu saya hanya padamu, istri saya. Memangnya kamu mau, gara-gara kamu tidak melayani saya, saya 'jajan' di luar?" katanya.
"Jajan di luar?" tanya Eleonara dengan kening mengernyit.
"Maksudnya menyalurkan nafsu saya pada wanita lain," jelasnya.
Eleonara menggelengkan kepalanya sambil menunduk murung.
"Kalau begitu biarkan saya salurkan hanya padamu, ya?" ucap Juna meminta izin dengan setulus hati.
Eleonara meremas seprei dengan kuat sambil menggigit bibir bawahnya. Perasaannya tak karuan, jantungnya berdebar semakin kencang. Oksigen di kamar terasa menipis saat dia masih menimbang-nimbang. Namun, kemudian Eleonara memberanikan diri untuk menganggukan kepalanya, meski masih merasa cemas.
Barulah terlihat gurat kebahagiaan di wajah Juna. Senyumnya mengembang dengan sempurna sampai sudut bibirnya hampir menyentuh daun telinga. Auranya memancarkan sinar yang dahsyat. Juna berhasil meyakinkan Eleonara.
Eleonara mengintip Juna dari ekor matanya. Dia pun ikut bahagia karena terbawa suasana.
"Tapi, ngomong-ngomong itu yang ada di dalam tas jinjing apa, ya? Yang tadi diberikan Pak Syam," kata Eleonara sambil menarik tas jinjing dari lantai dan memeriksa isinya.
Blush...
Kedua mata Eleonara membulat sempurna dengan pipi bersemu merah. "I-ini ...!"
"Pakailah. Ada infinity pool pribadi di sini. Kebetulan saya juga belum mandi," ujar Juna sambil menyeringai bagai kuda.
__ADS_1
"Kolam renang? Kita mau berenang malam-malam?" tanya Eleonara dengan alis bergelombang.
"Evet. Airnya hangat, tidak akan masuk angin. Lagipula besok Sekolah libur, kan? Kenapa? Mau langsung bergulat tanpa pemanasan dulu?" goda Juna sambil terkekeh geli.
"Ih, Pak Junaaa! Apa sih, bukan begitu. Hanya saja aku tidak bisa berenang. Kolamnya tidak dalam, kan?" Eleonara menggosok-gosok telinganya karena terasa panas mendengar Juna berkata demikian.
"Entahlah, saya sendiri belum memeriksanya. Tidak perlu takut tenggelam. Kan, ada saya."
"Tapi ... yang di dalam jinjingan ini bukan baju renang, lho."
"Itu baju renang. Bi-kini."
"Sama saja seperti dalaman, bukan baju renang namanya," ucap Eleonara bersikukuh sambil menggerutu.
"Ya, terserah kamu mau menyebutnya apa. Cepat, pergi ganti. Apa mau saya yang gantikan?" Tangan Juna mulai merayap nakal.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri." Eleonara menepis tangan Juna dan langsung melarikan diri. Juna tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala samar.
Setelah beberapa menit berlalu, Eleonara ke luar dari kamar mandi sambil mengintip keberadaan Juna dari celah pintu dengan menyentuh kacamatanya. Sejauh mata memandang tidak terlihat batang hidung Juna. Entah ke mana Juna pergi. Namun, Eleonara mendengar alunan musik khas Turki yang menggema di udara.
Eleonara melangkahkan kakinya ke luar sambil membalut tubuhnya dengan handuk kimono. Dia mengikuti gelombang musik khas Turki yang komposisinya begitu merdu dan menghayati. Bukan hanya terdengar suara biola, selo dan terompet saja, tapi ada senar/gitar serta seruling khas Turki juga. Suara senar dan seruling khas Turki kedengarannya cukup mendominasi. Komposisi musiknya seperti gabungan antara unsur Barat, Mediterania dan Timur Tengah. Dikemas seolah sedang mendengarkan musik religi tradisional Turki. Tenang dan damai yang dirasakan.
Juna sedang melihat pemandangan malam dari tepi kolam. Jadi, tak menyadari keberadaan Eleonara di belakangnya. Eleonara menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan handuk kimononya dan masuk ke dalam kolam secara perlahan. Dia memakai bi-kini berwarna nude-hampir menyatu dengan warna kulit, membuatnya malu setengah mati. Anggap saja Eleonara tak memakai apapun. Dia harus memperhitungkan pada Syam nanti.
Ternyata benar, airnya hangat. (Batin Eleonara)
Meski jantungnya berdebar tak karuan dan perasaannya gelisah tidak tenang, insting Eleonara tetap mendorongnya untuk segera menghampiri Juna. Airnya hanya sebatas perut atas Eleonara saja, jadi penampilan atasnya yang terbuka masih terlihat jelas.
Juna merasakan airnya bergerak ke arahnya dan memperlihatkan gelombang-gelombang kecil di sekitarnya berpijak. Begitu dia membalikkan badannya ke belakang, Eleonara langsung mencelupkan tubuhnya ke dalam air, hanya sampai bahu saja. Leher dan kepala masih kering, tapi ujung rambut bergelombangnya yang terurai jadi basah.
"Waw! Coba berdiri yang benar," pinta Juna usil. Matanya mulai jelalatan.
"Jangan melihatku seperti itu, Pak Juna. Aku malu!" seru Eleonara sambil berusaha membalikan tubuh Juna lagi karena Juna melihatnya seperti hewan yang sedang kelaparan.
"Kamu saja sudah melihat otot-otot di seluruh tubuh saya. Giliran saya ingin lihat punyamu, masa tidak boleh?" kata Juna sambil melingkarkan tangannya di pinggang Eleonara, lalu mengeluarkan tubuhnya dari air begitu saja. Terlihat mudah karena terasa ringan di dalam air.
Sontak saja penampilan terbuka Eleonara terekspos dengan jelas. Eleonara yang posisinya kini lebih tinggi dari Juna, membuat kedua da-danya yang padat saling bersitatap dengan wajah Juna.
__ADS_1
Masing-masing dari mereka saling tersipu malu dengan rona di pipi. Mata mereka bertemu dan pikiran mereka kosong beberapa saat.
Juna pun menurunkan Eleonara sambil berdehem dan mengusap jambang tipisnya. "Saya .... sedang lihat pemandangan dari sini," ujarnya gugup sambil mengarahkan Eleonara pada pemandangan dari lantai atas hotel.
"Pemandangannya bagus," kata Eleonara canggung sambil melirik ke sana-kemari resah karena tangan Juna menyentuh bahunya dari belakang dan punggungnya menempel pada tubuh Juna.
Ya Tuhan, kenapa di saat seperti ini malah tak bisa berkutik?! (Batin Juna)
"Dengarkan alunan musiknya. Saya suka karena merdu. Hmm~ hehemm~," ucapnya berusaha mencairkan suasana.
"Iya, merdu. Bikin hati damai," balas Eleonara sambil memainkan jari jemari tangannya. "Emm ... Pak Juna?" panggilnya lirih sambil membalikkan badan dan menengadah wajahnya menatap bola mata hazel Juna.
"Hm?"
"Anu ... aku, aku ... sudah benar-benar siap sekarang," kata Eleonara ketar-ketir sambil mengigit kuku ibu jarinya.
"Benarkah?" tanya Juna meyakinkan
Setelah melihat Eleonara menganggukan kepalanya, seakan melihat pintu surga terbuka lebar. Tanpa perhitungan, Juna merengkuh tengkuk leher Eleonara dan langsung melahap bibir manisnya dengan rakus.
Blush...
Kedua mata Eleonara membulat sempurna. Jantungnya bergemuruh ricuh. Kedua kalinya pula merasakan hangatnya bibir Juna. Oksigen terasa semakin menipis dan darah seakan mengalir dengan panas ke seluruh tubuh.
Eleonara sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah sangat siap. Jadi, baiklah. Eleonara melingkarkan tangannya di pinggang Juna, lalu memejamkan matanya. Berusaha meresapi, mendalami dan mengikut naluri yang akan menggerakan tubuhnya sendiri.
Juna meny-sap bibir bawah Eleonara dengan kuat, bergantian dengan bibir bagian atasnya. Napas Juna terdengar semakin tak beraturan. Tangannya merayap turun ke bahu, lalu merengkuh punggung Eleonara dan menghujani leher serta pundak Eleonara dengan kecupan.
Eleonara terengah-engah mengambil napas dengan tatapan sayu. Jambang tipis Juna sangat menggelitik dan semakin membangkitkan gai-rahnya. Lutut Eleonara sudah gemetar lemas tak tertahan.
Eleonara merasa tangan Juna sedang menarik tali branya di punggung dan sontak membuat branya melorot jatuh ke dalam air. Refleks, Eleonara menyilangkan kedua tangannya di dad-a. Tiba-tiba Juna menggendongnya masuk ke dalam.
Pak Juna gagah juga rupanya. (Batin Eleonara)
....
BERSAMBUNG!!
__ADS_1
(Napas dulu!) Hareuuudang bestie, lempar gift dong biar adem hehe^^