
Eleonara yang melihat Emran mendekat langsung menarik diri. "Emran Bey mau apa?" tanyanya polos.
"Bukannya kamu tadi gini-gini?" tunjuk Emran pada pipinya.
"Iya, itu karena ada sebutir nasi di pipi Emran Bey," ungkap Eleonara dengan jelas.
"A-apa? A-a-ada nasi?" Emran tampak terkejut dengan gurat kekecewaan di wajahnya. Dia tergesa-gesa mengusap pipinya dan jatuhlah sebutir nasi tersebut.
Eleonara mengangguk. "Memangnya apa yang Emran Bey pikirkan?" tanya Eleonara heran.
Emran menggelengkan kepalanya cepat, lalu dia bergegas melarikan diri untuk membayar pesanannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Wajahnya terlihat merah sampai telinga. Entah apa yang membuatnya semalu itu.
Bisa-bisanya aku berpikir Leona minta ciium pipi! (Batin Emran merutuki dirinya sendiri)
....
Di kediaman Syach Emirhan.
"Apa?! E-Elena kembali?" ucap Mohsen terkejut sampai matanya terbelalak besar. Begitu pun dengan Bu Diana.
Saat mereka sedang makan siang, ponsel Mohsen berdering. David yang menelepon. Dia memberitahu orang tuanya kalau Elena telah kembali dan menemui Juna.
"Sejak kapan dia kembali? Berani-beraninya menemui Juna!" Mohsen tampak cemas.
"Menurut informasi yang aku dapatkan, dia sudah ada di Indonesia sekitar 3 bulanan, Ayah," ungkap David di balik telepon.
"Apa! 3 bulan?! Bagaimana bisa kita kecolongan selama itu! Apa orang-orang kita yang setiap waktu berjaga di Bandara dan perbatasan dibayar untuk bersantai?!" geram Mohsen sampai mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Entahlah, mungkin mereka sudah berjaga selama bertahun-tahun, tapi tidak ada tanda-tanda Elena akan kembali, jadi mereka sedikit melonggarkan keamanan. Selama 3 bulan itu dia bersembunyi dan memperhatikan Juna dari jauh," ungkapnya lagi.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Apa Leona sudah tahu?" tanya Mohsen yang terlihat semakin cemas saat menanyakannya.
__ADS_1
"Sayangnya sudah. Mereka sudah bertemu."
Mohsen berdecak marah sambil mematikan panggilan telepon begitu saja. Dia sibuk menghubungi kaki tangannya. Diana yang memperhatikan dari samping pun ikut cemas sampai tak bisa lagi menghabiskan makan siangnya karena sudah tidak nafsu. Elena kembali, mereka takut Juna sulit dikendalikan seperti dulu karena dia cinta mati pada wanita itu.
"Elena telah kembali. Aku ingin tahu di mana dia tinggal!" ucap Mohsen serius sampai keningnya mengerut menjurus tajam. Dia mematikan telepon dan meremmas ponselnya dengan penuh emosi.
"Apa kata David? Apa Elena sudah menemui Leona?" tanya Diana sambil menyentuh tangan Mohsen dengan tatapan getir.
Mohsen hanya mengangguk meski sebenarnya tidak rela.
"Ya Tuhan, kacau! Apa yang dia lakukan di sini. Semuanya akan jadi bumerang kalau Elena memberitahu Juna kita yang sudah menyuruhnya pergi sampai Juna mengalami depresi berat dan sulit tidur berkepanjangan," kata Diana sambil gigit jari. Suasana hatinya menjadi tidak tenang. Pikirannya berdesakan.
"Aku sedang mencari tahu tempat tinggalnya. Kita temui secepatnya dan peringati dia. Kamu tenanglah, tidak akan ada hal buruk yang terjadi," ujar Mohsen berusaha menenangkan Diana, karena kalau istrinya banyak pikiran dan tertekan, akan menimbulkan sakit kepala seperti migrain dan asam lambungnya pun biasa langsung naik.
...
Di sisi lain, setelah membawa Eleonara melihat-lihat seperti apa isi butiknya, Emran membawa Eleonara ke cabang perusahaan miliknya, PT Aslan Tbk. Cabang perusahaannya ini merupakan salah satu garmen terbesar yang ada di Indonesia.
Emran memperkenalkan Eleonara pada jajaran direksi perusahaan yang dia temui dan karyawan-karyawan di garmen sebagai peneliti dari SMA. Ada tugas dari sekolahnya yang mengharuskan dia mencari informasi-informasi seputar fashion dan style. Begitulah kira-kira alasan Emran agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan dari berbagai pihak saat membawa Eleonara.
Emran memberikan kertas desain yang sebelumnya sudah Eleonara gambar pada bagian operator CAD untuk mendigitalkan pola tersebut sebelum akhirnya dikembangkan, lalu dijahit dan bisa dipakai.
Sebelum berkeliling lagi untuk melihat-lihat yang lain, diam-diam Emran membisikan pada salah satu petugas jahit untuk membuatkan satu seragam sekolah yang bisa membuat penampilan Eleonara terlihat lebih cantik dan menarik.
Setelahnya, dia bergegas mengajak Eleonara berkeliling karena tampaknya Eleonara mulai curiga Emran bisik-bisik dengan salah satu karyawan garmen di belakangnya.
....
Sesampainya di depan rumah Elena menurut informasi yang didapatkan dari kaki tangannya, Mohsen dan Diana terkejut setengah mati sampai kedua matanya membulat besar dan mulutnya menganga. Sebab, rumah Elena hanya terhalang satu rumah saja dari rumah Juna. Mereka saling bertetangga.
"Benar-benar wanita tidak waras! Kenapa dia mencari tempat tinggal yang dekat dengan rumah Juna? Apa memang dia sedang merencanakan sesuatu!" geram Mohsen sambil ke luar dari mobilnya, tapi tiba-tiba Diana menghentikannya.
__ADS_1
"Pastikan dulu Juna ada di rumah atau tidak. Bisa gawat kalau dia melihat kita menemui Elena diam-diam," kata Diana cemas.
Mohsen pun segera menghubungi Syam dan menanyakan keberadaan Juna. Syukurnya Juna sedang tidak ada di rumah, dia sedang ada di pabrik agate. Dengan langkah cepat Mohsen dan Diana memasuki halaman depan rumah Elena. Mereka menekan bel rumahnya.
Tidak perlu lama menunggu, pintu berbuka, sosok Elena dengan rambut cokelat bergelombang yang Mohsen dan Diana tangkap.
Elena terlihat sangat terkejut sampai wajahnya memucat kedatangan tamu tak diundang yang sudah lama dia takut-takutkan. Mereka kini datang menemuinya dengan raut wajah tak bersahabat.
Mohsen mendorong pintu lebar-lebar dan masuk begitu saja, diikuti dengan Diana di belakangnya. Mereka tak peduli seperti apa ekspresi Elena saat ini.
"A-Ayah, I-Ibu, lama tidak jumpa," sapa Elena gelagapan sambil menunduk gugup. Dia masih berdiri di ambang pintu.
Mohsen menggerakan kepalanya sambil menatap sinis, menyuruh Elena duduk. Dia ingin memperhitungkan banyak hal.
Elena pun duduk berhadapan dengan mereka dengan lutut gemetar. Tak sedetikpun dia menengadahkan wajahnya untuk menatap mereka karena mentalnya belum siap bertemu dengan Mohsen dan Diana. Tidak tahu sikap apa yang harus Elena tunjukkan kini. Tangannya sudah dingin sedingin es.
"Jangan panggil kami dengan sebutan itu. Kami tidak memiliki anak perempuan sepertimu," ucap Diana ketus.
Saat Juna dan Elena berpacaran, Elena memang selalu memanggil mereka dengan sebutan Ayah-Ibu seolah Mohsen dan Diana memang orang tuanya karena Elena sudah menganggap mereka sebagai mertuanya pada saat itu. Namun, keadaan sudah berubah. Semenjak Mohsen dan Diana tahu kelakuan busuknya, mereka tidak sudi lagi Elena memanggilnya begitu. Bahkan angan-angan menjadikan Elena sebagai menantunya juga sudah lenyap sirna.
"Kenapa kamu kembali? Susah payah kami mengirimmu ke luar negeri agar Juna tidak dapat menemukanmu, sekarang malah kembali begitu saja. Sudah lupa dengan kesepakatan yang kita buat waktu itu?!" tekan Mohsen dengan tatapan mengintimidasi.
"A-aku ... aku merindukan Juna," rengek Elena dengan mata berkaca-kaca. "Ayah, Ibu, aku sudah mengakui kalau aku memang salah pada saat itu. Aku juga sudah menjalankan hukuman yang kalian berikan selama dua tahun di luar negeri. Apa kalian begitu tega sampai tidak mau memberikan aku kesempatan kedua? Melakukan kesalahan sekali saja bukankah hal yang biasa? Aku hanya keliru saat itu dan aku sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga bersedia bersumpah tidak akan menyakiti Juna. Tolong terima aku lagi, hanya aku yang Juna cintai."
...
BERSAMBUNG!!
.
.
__ADS_1