
"Pa-pakaikan?" tanya Eleonara gelagapan sambil menelan saliva.
"Iya, pakaikan. Kamu bilang ingin menunda kehamilan sampai lulus?" kata Juna.
"Itu artinya aku akan menyentuh 'anu' Pak Juna?"
"Jangan Pak Juna!" seru Juna sambil mengernyitkan keningnya.
"Ah, iya, iya. Aku lupa, A-ayang Juna, Sayangku, Suamiku tercinta," ucap Eleonara sambil mengulum senyum. "Baiklah, karena suamiku ini begitu tampan dan memesona. Bahkan seharusnya aku sujud syukur memilikimu, banyak wanita yang berfantasi liar ingin tidur berdua dengan suamiku ini. Maka dari itu aku tidak akan segan lagi."
Eleonara menarik lengan Juna serta membantingnya ke atas ranjang. Dia duduk di perut Juna, lalu menunduk dan berani menyes'ap bibir Juna. Juna sontak terbelalak dengan jantung bergemuruh tidak tenang. Keberanian Eleonara membuatnya tercengang sekaligus senang.
Eleonara menyesap bibir Juna dan memainkan lidahnya seperti yang biasa Juna lakukan. Dia mengcopy paste setiap perlakuan Juna di ranjang. Seolah-olah Eleonara sedang membalasnya setimpal kali ini. Eleonara sampai menghujani leher serta dada bidang Juna dengan kecupan.
Dia tak berhenti sampai di situ, Eleonara pun menyesap inti dada Juna yang sudah mengeras kecokelatan. Juna menganga dengan mata terpejam nikmat. Isapannya menyengat sampai ke bawah pusarnya. Benar-benar menggelikan. Sekujur tubuh Juna panas terbakar. Des'ahan kecil pun ke luar dari mulut Juna.
Salahnya sendiri. Perlakuannya telah membentuk kepribadian Eleonara saat ini.
Dia menyentuh kepala Eleonara dan mencengkeram rambutnya dengan lembut sambil menggigit bibir bawahnya, meminta lebih dari itu.
Eleonara kembali menghujani perut kotak-kotak bak roti sobek Juna dengan kecupan penuh sensual, sampai dia berhenti di bawah pusarnya. Eleonara menengadahkan wajahnya sambil menyeringai menatap Juna yang sedang terengah-engah kepanasan dengan tatapan sayu serta wajah memerah total.
Eleonara memperlihatkan kepuasan di wajahnya karena telah sukses membuat Juna merem-melek keenakan. Dia melepaskan kacamatanya, kemudian menarik celana Juna sekejap mata dan langsung memasangkan 'pengaman' itu di kepemilikannya. Seketika saja...
"Ah," des'ah Eleonara sambil mengernyit sakit menatap Juna di bawanya yang sedang menyentuh pinggangnya. Kedua mata Eleonara yang sayu langsung berembun setelah tertancap jamur super Juna.
Lanjutkan dengan fantasi kalian masing-masing ya, hihi^^
...
Selesai berhubungan, Eleonara benar-benar meminta Juna menemaninya menonton film sambil menyantap beberapa camilan yang sudah mereka beli sebelumnya.
Tiba-tiba Eleonara mendapatkan telepon dari ibu mertuanya-Bu Diana. Bu Diana menanyakan kabar mereka dan juga dia penasaran dengan keadaan Juna yang biasanya sulit tidur bahkan sampai menghabiskan beberapa botol obat tidur dalam satu bulan hanya untuk mendapatkan kenyamanan saat tidur.
__ADS_1
"Pak Ju ... eh, maksudnya Sayang, Ibu kamu nanya katanya sudah bisa tidur tanpa mengkonsumsi obat belum?" bisik Eleonara sambil memeluk Juna di dalam selimut.
Juna menganggukan kepalanya. "Bahkan lebih nyenyak sampai sulit bangun."
"Bu, katanya lebih nyenyak sampai sulit bangun," ucap Eleonara di telepon sambil tersipu dengan membuat lingkaran di dada bidang Juna.
"Ah, syukurlah. Ibu senang mendengarnya. Tadinya mau menanyakan ini dari kemarin-kemarin, tapi rasanya tidak enak. Semakin ke sini, dibiarkan kok malah semakin penasaran, hehe. Besok Ibu akan ke rumah, ya?" ucap Bu Diana.
"Eh, ke rumah?" Eleonara tampak terkejut.
"Iya, mengantarkan foto pernikahan kalian. Sudah selesai dari beberapa hari yang lalu. Jasa foto mengirimkannya ke rumah Ibu, bukan rumah Juna," jelasnya.
"Ah, baiklah. Tapi, seharusnya aku dan Pak Juna yang datang berkunjung ke rumah Ibu."
"Tidak apa-apa, Leona. Ibu mengerti kalian sibuk. Juna sibuk kerja dan kamu sibuk Sekolah. Ibu senang bisa mengunjungi kalian. Kalau begitu sudah dulu, Ibu tidak akan ganggu lagi." Telepon pun diakhiri.
Eleonara meletakan ponselnya di atas nakas dan kembali menonton. "Pak Ju ... aduh, salah terus. Sepertinya aku harus membiasakan mulai sekarang. Aku mau pakai bra dulu," ucapnya sambil beranjak bangun dengan melilitkan kain di tubuhnya.
Tiba-tiba tangan berurat Juna melingkar di pinggangnya dan menarik Eleonara kembali ke ranjang.
Juna menggelengkan kepalanya. "Kenapa harus memakai bra? Tahu tidak, di luar negeri memakai bra itu tidak normal," celetuknya.
"Hah, siapa bilang? Kamu sering lihat yang begituan ya, kalau ke luar negeri?" tuduh Eleonara dengan mata menyipit.
Juna tidak menjawabnya. Dia malah mengambil piyama Eleonara dan memakaikannya, tapi membiarkan kancingnya terbuka. Setelahnya dia peluk erat tubuh Eleonara di dalam selimut, bahkan kakinya pun ikut memeluk kaki Eleonara saking gemasnya, seolah tak ingin ada jarak diantara kita.
"Ih, jawab dulu! Sering lihat yang begituan, ya?!" cecar Eleonara yang kini berada dalam kuasa Juna.
"Jangan banyak tanya. Katanya mau lihat film. Di drakor yang biasa kamu tonton juga sering memperlihatkan bagian-bagian sensitif wanita dan pria, kan? Apa bedanya melihat di film dan melihatnya langsung?" ucap Juna mengelak.
"Hum!" Eleonara membalikan tubuhnya, memunggungi Juna sambil mengerucutkan bibir.
Juna menyembunyikan senyumnya sambil mendekapnya dari belakang. Dia kecup pundak Eleonara, lalu diam-diam mere'mas dada Eleonara. "Mulai minggu ini dan seterusnya setiap libur Sekolah ikut olahraga dengan saya, ya."
"Olahraga di ranjang saja sudah membuatku lelah. Mau olahraga apalagi?" jawabnya ketus.
__ADS_1
"Hey, olahraga itu perlu. Apalagi sudah menikah. Saya ingin dada dan ping'gulmu lebih berisi dari sekarang, itu permintaan saya sebagai suami. Saya yang akan membimbingmu nanti."
"Ck, secara tidak langsung kamu tidak puas dan tidak menerima aku apa adanya. Hah, aku akui tidak ada yang unggul dari diriku. Maaf ya, harus terjebak pernikahan dengan gadis culun dan tidak menarik sama sekali sepertiku ini," keluh Eleonara sedih sambil memeluk guling.
"Bicara apa kamu ini. Bukannya tidak puas, tapi itu untuk kebutuhan saya sendiri. Kalau tidak mau olahraga, saya bisa belikan krim dan obat khususnya, atau kalau mau yang instan dan lebih ekstrim bisa langsung operasi."
"Astaga, Pak Juna!" teriak Eleonara kesal.
"Sayang!"
"Ugh, iya Sayang!" -_-
"Leona, kamu itu sebenarnya cantik dan menarik. Hanya saja kamu menutupinya dengan sikap lugumu serta kacamatamu itu. Jika kamu mau merubah penampilanmu tinggal bilang, saya bisa langsung kasih. Tidak peduli dengan berapa banyak pengeluarannya, jika itu membuatmu senang bukan masalah bagi saya," ujar Juna lirih.
Eleonara tampak menimbang-nimbang. Pikirannya terpengaruhi oleh perkataan Juna yang memang ada benarnya. Memiliki suami kaya, kenapa tidak dipakai kesempatan untuk bisa merubah penampilan?
"Emm ... benar nih, Pak Juna tidak akan marah kalau aku menghamburkan uang untuk mempercantik diri?" tanyanya.
"Sayang, Leona, Sayang!" geram Juna sampai ingin dia gigit bibirnya itu.
"Ck, iya, Sayang! Sayang! Sayaaang!" teriaknya. "Kalau aku jadi orang yang matre, bagaimana?"
"Artinya saya harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi kedepannya."
"Terus, kalau ada masalah dikemudian hari dan membuat kita bercerai, aku harus mencari orang yang lebih kaya dari kamu, dong? Soalnya aku kan, sudah terlanjur matre."
"Leona!" tekan Juna. Wajahnya langsung datar tanpa ekspresi. Dia menelan pahit mendengar Eleonara bicara dengan polosnya, cukup menusuk hati. "Selamanya kamu hanya bisa bersama saya."
"Tidak bisa begitu, dong! Kamu saja sampai sekarang masih terbayang-bayang masa lalu. Kalau kita berdua berpisah, saat aku pergi, kamu bisa langsung mencari Elena. Sedangkan aku? Siapa yang akan menerimaku? Jadi, seharusnya mulai sekarang aku juga harus mencari suami cadangan."
"Leonaaaaa!" Juna murka.
...
BERSAMBUNG!!
__ADS_1
Dicari Suami Cadangan untuk Eleonara! :V