Istri Selingan

Istri Selingan
Bab 10. Makan malam


__ADS_3

Rina dan Hilman ke luar dari super market itu dengan mendorong troli belanjaan yang sudah dibayar, keduanya bagaikan pasangan suami istri yang sedang melakukan aktivitas belanja bulanan.


"Kamu tunggu di sini, aku bawa mobil dulu," ujar Hilman sambil menaruh troli di depan Rina.


Rina hanya mengagguk sebagai jawaban, dia kemudian mengambil air putih yang sejak awal dia beli. Wanita yang sedang hamil muda itu terlihat berjongkok di samping troli sambil mulai menenggak air dari dalam botol berwarna biru.


"Uh, perutku sudah menagih lagi minta di isi," gumam Rina sambil mengusap perutnya yang terasa perih, kemudian berdiri lagi.


Dia bisa melihat mobil putih milik Hilman sudah mendekat ke arahnya dan akhirnya berhenti tepat di depannya. Rina mengambil kantong belanjaan miliknya, selagi menunggu Hilman turun dari mobil.


"Sini, biar aku saja yang masukin," ujar Hilman mengambil kantong belanjaan milik Rina.


"Aku bisa sendiri," tolak Rina, walau akhirnya dia juga tidak bisa menahan kantong belanjaan yang sudah terlanjur berpindah tangan.


Rina kemudian mengambil kantong belanjaan milik Hilman yang hanya berisi beberapa barang saja, lalu mengikuti Hilman ke pintu belakang mobil.


Hilman menaruh kantong belanjaan milik Rina di kursi belakang, dia hendak berbalik saat secara tidak sengaja dia menabrak tubuh Rina yang berada di belakangnya. Walaupun Rina sempat terhuyung hingga hampir saja jatuh. Akan tetapi, wanita itu ternyata memiliki keseimbangan yang lumayan tinggi, hingga dia bisa mengendalikan tubuhnya dan berdiri tegak lagi.


"Maaf, aku gak melihat kamu tadi. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Hilman yang hampir saja memeluk Rina.


"Gak apa-apa, tadi memang aku yang berdiri terlalu dekat," jawab Rina sambil geser dua langkah menjauh dari Hilman.


Suasana tiba-tiba saja berubah menjadi canggung, akibat kejadian yang tidak disengaja terjadi itu.


"Oh iya, ini kantong belanjanya," sambung Rina lagi sambil memberikan kantong belanjaan di tangannya.


"Eh iya, aku hampir saja lupa. Terima kasih ya, Rin," ujar Hilman sambil mengambil kantong belanjaan dari tangan Rina.


"Kamu masuk saja duluan, aku mau taruh ini dulu di belakang," sambung Hilman lagi.


Rina mengangguk, dia kemudian berjalan menuju pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil lebih dulu. Sedangkan Hilman menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menghilangkan rasa yang berbeda di kepalanya.


Ya ampun, apa yang aku pikirkan. Ingat Hilman dia itu istri sahabat kamu ... kamu itu hanya kasihan padanya, tidak ada yang lain, batin Hilman mencoba menghilangkan rasa yang tiba-tiba saja ada di pikirannya, dia pun masuk ke kursi kemudi menyusul Rina yang sudah masuk ke mobil lebih dulu.

__ADS_1


"Kita langsung pulang, atau mau beli sesuatu dulu?" tanya Hilman sambil mulai mengemudikan mobil ke luar dari area super market.


"Eum, sebenarnya aku mau beli makan malam dulu. Boleh turunkan aku di tempat makan saja," ujar Rina pelan dan mata menunduk.


Rina Sebenarnya merasa malu untuk mengatakan itu, dia sudah terlalu banyak menyusahkan Hilman yang sebenarnya tidak berkewajiban apa pun padanya. Akan tetapi, perutnya yang sudah tidak bisa menahan perih, membuatnya memilih untuk menekan rasa malunya pada laki-laki di sampingnya.


"Kamu lapar? Ya ampun, maafkan aku, aku tidak tau," jawab Hilman sambil melihat Rina sekilas, kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Iya. Tadi pagi tukang sayur tidak jualan, jadinya di rumah gak ada bahan makanan." Rina meringis malu mengatakan semua itu, dia mungkin akan terlihat sangat malas dan teledor, hingga tidak bisa mengurus dirinya sendiri.


Mendengar itu Hilman refleks langsung menginjak pedal rem, hingga mobil tiba-tiba berhenti begitu saja.


"Astagfirullah!" Rina refleks beristigfar sambil memegang dasboard mobil di depannya, untuk menahan tubuhnya.


"Jadi kamu belum makan dari tadi pagi? Kenapa kamu gak telepon aku, Rin?" Hilman tampak panik, dia menatap wajah Rina penuh, hingga posisi duduknya miring, tanpa perduli pada Rina yang terkejut akibat ulahnya.


Rina mengelus dada sambil menghembuskaan napas pelan untuk menghilangkan rasa terkejutnya.


"Enggak kok, tadi pagi aku udah sarapan, tadi juga sebelum ke luar aku sempat makan mi instan. Tapi, sekarang aku merasa lapar lagi, hehe." Rina menjawab sambil terkekeh geli, menertawakan dirinya sendiri, untuk menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya.


Dia masih bisa tertawa saat dalam keadaan seperti ini? Bahkan sekarang suaminya sedang bulan madu dengan istri lainnya, menelantarkannya yang sedang hamil muda di sini. Kasihan sekali kamu, Rin, batin Hilman, menatap Rina iba.


"Aku juga belum makan, gimana kalau kita makan bareng. Sekarang kamu lagi mau makan apa?" tanya Hilman sambil tersenyum.


"Tapi, aku–" Rina tampak ragu.


"Kamu bilang aja mau makan apa, aku pasti akan temenin kamu." Hilman memotong perkataan Rina.


"Aku sedang mau makan pecel ayam yang di pinggir jalan, apa boleh?" jawab Rina ragu.


"Oh itu, tentu boleh dong. Kebetulan, aku tau tempat pecel ayam yang enak di sekitar sini," ujar Hilman sambil bersiap untuk mengemudikan mobilnya lagi.


"Wah, beneran? Aku kira orang seperti Bang Hilman gak akan mau makan di pinggir jalan." Rani bertanya sumringah.

__ADS_1


"Jangan salah, aku itu salah satu orang yang suka dengan makanan pinggir jalan. Udah murah makanannya juga enak-enak, mana bisa aku nolak," jawab Hilman dengan gaya bangga.


"Kita lihat saja nanti, apa bener Bang Hilman memang suka makan di pinggir jalan, atau cuman mau buat aku senang aja," ujar Rina sambil tersenyum.


"Oke, kita buktikan nanti," jawab Hilman penuh semangat, seolah sedang ditantang oleh temannya.


Beberapa saat kemudian, mobil Hilman berhenti tidak jauh dari alun-alun kota, di sana terdapat warung makan pecel ayam emperan di pinggir jalan.


"Beneran, Bang Hilman bawa aku ke sini?" tanya Rina seolah tidak percaya kalau Hilman tau tempat seperti itu.


Hilman tampak tersenyum dia kemudian ke luar, diikuti oleh Rina, keduanya tampak berdiri sejajar menghadap kedai pecel ayam pinggir jalan.


"Ayo masuk, katanya sudah lapar," ajak Hilman sambil menatap wajah sumringah wanita yang sedang hamil muda itu.


"Heem," angguk Rina, kemudian keduanya tampak berjalan masuk ke dalam warung emperan itu beriringan.


"Mau pesan apa?" tanya Hilman setelah dia mengajak Rina duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Ayam bagian paha saja," jawab Rina.


"Tempe, tahu, mau gak?"


Rina menggeleng sebagai jawaban.


"Minumnya apa?" tanya Hilman lagi.


"Jeruk hangat saja. Jangan terlalu banyak gulanya." Rina kembali menjawab.


"Oke, aku pesan dulu," ujar Hilman kemudian berjalan menghampiri penjual untuk memesan.


Dari tempatnya berdiri Hilman diam-diam kembali memperhatikan Rina yang terlihat sedang duduk sambil memperhatikan sekelilingnya, terlihat seekor kucing menghampiri wanita itu, hingga mengalihkan perhatiannya.


Rina tampak tersenyum, kemudian mengelus lembut bulu kucing itu menggunakan punggung tangannya. Kegiatan itu membuat Rina terlihat seperti wanita yang lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Kalau soal penampilan Rina memang kalah segalanya dari Tari. Tapi, kalau dari sifat, sepertinya Rina lebih unggul. Lagi-lagi Hilman tanpa sadar memuji Rina.


...****************...


__ADS_2