Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.63 Sebuah kebenaran


__ADS_3

Malam itu Rina pamit dulu untuk masuk ke kamar karena Bintang yang sudah mengantuk, meninggalkan Arya dan keluarganya yang tampak masih asik bercengkrama, menikmati waktu mereka bersama, sebelum besok pagi semuanya akan kembali pada kesibukannya masing-masing.


Namun, beberapa saat kemudian Rina yang sudah melihat Bintang tertidur dengan pulas, beranjak ke luar dari kamar dengan membawa gelas yang sudah kosong karena dirinya merasa haus.


Namun, sesuatu yang dirinya dengar saat ingin memasuki ruang keluarga, membuat Rina menghentikan langkahnya. Wanita itu hanya terdiam mematung dengan gelas kosong di dalam genggamannya.


"Rina itu memang wanita yang baik, dia juga sopan dan pintar memasak. Tapi, Ummi masih merasa tidak rela jika kamu mau menikahinya, Arya," ujar ummi yang membuat Rina melebarkan matanya dengan jantung yang berbedar kencang.


Selama ini dirinya mengira jika hubungannya dan Arya berjalan baik-baik saja, apa lagi keluarga Arya juga terlihat menyambutnya dan Bintang dengan sangat baik.


Namun, ternyata semua itu salah besar, dirinya mungkin hanya dianggap sebagai orang asing atau tamu biasa, di mata keluraga Arya. Kehadirannya bahkan mungkin hanyalah sebuah pengganggu di dalam acara keluarga itu.


"Ummi tetap pada pilihan ummi sebelumnya, yaitu Anisa. Dia gadis yang baik, berpendidikan tinggi, salehah, sopan, dan juga bisa melakukan pekerjaan rumah. Dia adalah contoh sosok sempurna bagi calon istri dan ibu, Arya."


"Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi untuk menerima usul perjodohan yang ditawarkan oleh Ustadz Heri," sambung Ummi lagi.


"Ummi bahkan baru bertemu dengan Rina sehari, jangan terlalu terburu-buru untuk menilai, Ummi. Rina juga tidak kalah hebat dibandingkan dengan Anisa, buktinya di bisa mebuat Arya jatuh cinta." Arya mencoba memberi pengertian pada ummi.


"Lagi pula, cinta dan rumah tangga bukan tentang siapa yang hebat, Ummi. Tapi, siapa yang cocok ... dan aku memilih Rina, karena aku sudah merasa cocok dengannya," sambung Arya lagi.


"Rina memang perempuan yang baik, dia juga tetap bisa sopan dan mempertahankan kerendahan hatinya walau kini sudah sukses. Hanya saja aku masih ragu karena dia adalah mantan istri Anjas, ditambah ada Bintang juga diantara mereka." Ray ikut memberi penilaian atas hubungan Arya dan Rina.

__ADS_1


"Cocok dan cinta memang perlu di dalam hubungan rumah tangga, tapi jika itu hanya akan membawa masalah bagi kita kedepannya, untuk apa?" sambung Ray lagi.


"Ummi juga setuju dengan Ray. Kenyataan kalau Rina adalah mantan istri Anjas, itu juga membuat Ummi tidak bisa menerima hubungan kalian, ummi tidak mau keluarga kita kembali berurusan dengan mereka." Ummi menimpali perkataan Ray.


"Itu masa lalu, Ummi," desah Arya. Dia memang masih merasa sakit hati kepada Anjas dan keluarganya, tetapi waktu sudah berlalu begitu lama, lagi pula Rina tidak ada hubungannya dengan kejadian beberapa tahun silam.


"Tapi masa lalu itu masih membekas untuk kami, Arya." Kini giliran abi yang membuka suara.


Arya terdiam, masalah itu memang membuat begitu banyak perubahan bagi kehidupan mereka. Kejadian itu juga yang membuat Arya menjadi sangat yakin, jika abi dan ummi memang benar-benar menyayanginya dengan tulus. Bukan hanya karena sebuah amanah yang dulu ditinggalkan kedua orang tua kandungnya, sebelum kejadian yang merenggut nyawa merek terjadi.


"Ummi, Abi--" Arya mengiba pada kedua orang tuanya, meminta restu untuk hubungannya dengan Rina.


"Arya, kami tidak akan memaksa kamu untuk menerima perjodohan kamu dan Anisa, kamu boleh memilih siapa pun perempuan yang kamu rasa cocok untuk jadi pendamping kamu, tapi untuk Rina, kami merasa keberatan," jawab abi tegas.


"Lagi pula kamu juga bukan perjaka tua, di luar sana banyak para gadis yang menyukai kamu. Kenapa juga kamu harus memilih Rina yang sudah pernah menikah dan memiliki satu anak pula?," ujar ummi menimpali.


Arya terdiam, dia menatap satu per satu keluarganya dengan tatapan sendu. Sakit rasanya saat cinta yang selama ini dia perjuangkan kini sudah ada di depan mata, tetapi malah terhalang oleh restu dari keluarga.


Rina yang mendengar semua itu dengan jelas, tampak meneteskan air mata, dia tidak pernah menyangka jika semua keramahan keluarga Arya hanya sebuah kepalsuan, nyatanya saat dirinya tidak ada mereka membicarakan penilaian sepihak terhadapnya.


Gelas yang Rina pegang sejak tadi bahkan hampir saja terjatuh, jika saja dia tidak cepat tersadar. Tanpa menghampiri, Rina memilih putar balik dan kembali berjalan menuju kamar tamu, dengan hati yang kembali terluka.

__ADS_1


Nyatanya, sebaik apa pun dia, setatusnya saat ini tetap menjadi penilaian utama bagi sebuah keluarga. Atau mungkin memang dirinya saja yang tidak sadar diri, mengharapkan Arya yang sempurna menjadi pendamping di saat dia bakan hanyalah seorang janda yang tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan.


.


Sementara itu, di tempat lain Tari yang baru saja ke luar dari moil Anjas tampak langsung berjalan menuju kamar tidur mereka, dia juga menyuruh Siti untuk mengemasi barang milik Syafira, untuk beberapa hari.


"Kamu mau ke mana, sayang?" tanya Anjas yang sejak tadi mengikuti Tari.


"Bukankah tadi aku sudah bilang, jika aku butuh waktu sendiri. Beri aku satu minggu untuk pergi dari rumah ini sementara. Aku butuh udara segar dan jauh dari kamu, Mas," jawab Tari sambil terus mengemasi baju dan beberapa barang yang harus dia bawa.


"Tapi, ke mana, Tari? Kenapa kamu juga harus membawa Syafira?" tanya Anjas dengan perasaan yang tidak tenang. Dia takut akan ditinggalkan Tari dan Syafira sendiri.


"Entahlah, aku belum tau. Tapi, aku janji seminggu dari sekarang aku akan datang dengan keputusan yang sudah aku ambil dengan matang," ujar Tari yakin, dia kemudian menghentikan kegiatannya dan menghampiri Anjas hingga kini keduanya tampak berdiri berhadapan.


"Lagi pula, menurutku kita memang mebutuhkan waktu untuk saling membenahi diri kita masing-masing, bertanya kembali pada hati kita, apa memang selama ini kita masih saling mnecintai, atau hanya sebuah usaha untuk memenuhi ego kita masing-masing," sambung Tari lagi. Wanita itu kemudian mengambil tangan Anjas dan menggengamnya.


"Tadi sebelum kamu bercerita tentang hubungan kamu dan Rina, kamu berjanji akan menyerahkan keputusan akhir padaku. Maka aku ingin kamu janji, Mas. Apa pun keputusanku nanti, kamu akan menyetujuinya," ujar Tari lirih.


Sepanjang perjalanan pulang, Tari terus berpikir apa yang harus dia lakukan begitu sampai, hingga cara ini di dapatkan, untuk mencari jalan yang baru bagi rumah tangganya. Entah itu sebuah kehidupan bersama yang baru, atau sebuah perpisahan yang akan menjadi akhir dari masalah ini.


Tari berharap jika setelah ini dirinya dan Anjas bisa saling instropeksi diri dan mendapatkan satu jalan ke luar dari kemelut hati mereka masing-masing.

__ADS_1


Anjas tidak bisa lagi menahan Tari, beberapa saat kemudian dia hanya bisa berdiri di teras rumah menyaksikan anak dan istrinya pergi meninggalkannya sendiri dengan rasa bersalahnya.


...****************...


__ADS_2