Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.53 Menagih janji


__ADS_3

Bintang tampak sedang bermain di depan sekolahnya sambil menunggu Rina menjemputnya. Tadi, wali kelasnya sudah meberitahu kalau hari ini sang ibu akan sedikit terlambat menjemputnya, karena ada suatu kendala.


"Hai, anak baik." Bintang tampak menghentikan langkahnya saat mendengar sapaan dari seorang laki-laki dewasa di dekatnya. Dia menatap laki-laki dewasa itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, seolah sedang mengingat apa yang dia lihat.


"Aku?" tunjuk Bintang pada dirinya sendiri, seolah sedang memastikan kalau laki-laki dewasa itu sedang menyapanya. Gerak tubuhnya jelas menandakan kalau dia sedang waspada.


"Iya, kamu anak baik, kan?" tanya laki-laki yang kini tampak berjongkok di depan Bintang.


Bintang mundur selangkah, merasa takut dengan laki-laki asing yang tiba-tiba menyapanya. Dia mengedarkan pandangannya, mencari petugas keamanan yang biasa berjaga di sekitar gerbang.


Namun, matanya tak melihat satu pun petugas keamanan di sana, hingga tiba-tiba walau kelasnya tampak melintas, hingga Bintang dengan cepat memanggilnya.


"Aku memang anak baik, Om, aku juga penurut," kata Bintang yang membuat Anjas tersenyum, merasa bangga dengan anak laki-lakinya.


"Kata Mama aku gak boleh ngobrol sana orang asing, jadi aku pergi dulu ya, Om," sambung Bintang, kemudian segera berlari menuju ke wali kelasnya yang menunggu tidak jauh darinya.


"Ibu nyari kamu dari tadi, kenapa main sendiri, hem?" tanya wali kelas itu, tadi dirinya sempat ada urusan dengan guru lain dan menyuruh Bintang menunggu di ruangannya, tapi saat dia kembali Bintang sudah tidak ada.


"Aku bosan, Bu. Hehe," jawab Bintang sambil terkekeh.


Sedangkan laki-laki yang tadi sempat menyapa Bintang, hanya bisa melihat Bintang semakin jauh darinya. Tangannya mengepal, mendapati anak yang sama sekali tidak mengenalnya, bahkan menganggapnya orang asing.


Ya, laki-laki itu adalah Anjas, dia sudah sejak tadi menunggu di depan sekolah Bintang untuk bertemu dengan anak itu. Hingga akhirnya dia melihat Bintang bermain sendiri di halaman sekolah.


Saat para penjaga mulai lengah, Anjas memberanikan diri untuk menghampiri Bintang, untuk pertama kalinya. Namun, ternyata anak itu terlalu patuh dan pintar, hingga dia bahkan tidak bisa berbicara dengan Bintang, dengan alasan dirinya masih asing.


Ya, sekolah Bintang memang termasuk ketat dengan penjagaannya, orang asing yang tidak berkepentingan tidak diperbolehkan masuk. Bahkan orang tua murid yang ingin menjemput pun hanya boleh berada di luar sekolah.


Sekolah yang dinaungi sebuah yayasan itu, memiliki empat tingkatan sekolah. Mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah akhir, yang dipisahkan menjadi beberapa bangunan.

__ADS_1


Sementara itu, mobil yang Rina kendarai baru saja memasuki area sekolah, dia memarkirkan mobilnya di parkiran, kemudian berjalan menuju ruang guru untuk menjemput Bintang.


Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang yang kini tampak berdiri di depan bangunan sekolah sang anak. Jantungnya tiba-tiba berdebar cepat, dengan segala prasangka buruk yang bersarang di dalam hati.


"Kenapa dia bisa masuk ke sini?" gumam Rina sambil mengedarkan pandangannya memastikan kalau Bintang belum bertemu dengan Anjas.


Anjas yang melihat kedatangan Rina, langsung berjalan menghampiri wanita itu dengan wajah yang kesal.


"Aku ingin bertemu dengan anakku!" ujar Anjas langsung, begitu dia sampai di depan Rina.


Rina melebarkan matanya, terkejut dengan permintaan Anjas yang tiba-tiba. Dia tidak menyangka jika Anjas bahkan sudah nekat mendatangi sekolah Bintang tanpa sepengetahuannya.


"Untuk apa?" tanya Rina dengan kening yang berkerut dalam.


"Bukankah kamu berjanji untuk memberitahu Bintang bahwa aku adalah ayahnya?" tanya Anjas, menagih janji Rina saat mereka bertemu di resto Rina.


Anjas tampak terdiam dengan wajah yang terkejut, tampaknya dia lupa akan syarat Rina untuk mengizinkannya bertemu dengan Bintang.


Rina terdiam, dia menunggu jawaban dari Anjas, walau sebenarnya dia juga tidak akan mengizinkan Anjas untuk menemui Bintang sekarang. Tidak! Rina tidak sebodoh itu untuk berbuat ceroboh.


Rina tidak mau kalau sampai Arya akan memanfaatkannya lagi, demi mendekati Bintang dan akhirnya merebut anak itu darinya.


"Ya, baiklah. Aku berjanji tidak akan meminta hak asuh Bintang darimu. Tapi, izinkan aku untuk bertemu dengannya dan mengakui dia sebagai anakku."


Setelah lama terdiam, Anjas akhirnya memberi keputusan pada Rina. Dia akan mengalah demi untuk mengenal anaknya. Sepertinya Anjas sadar jika dia tidak akan bisa mendekati Bintang jika tidak mendapat bantuan dari Rina dan Arya.


Bintang tipe anak yang tidak mudah untuk didekati oleh orang asing, dan itu sudah terlihat dari sikapnya beberapa saat yang lalu.


Rina menarik napas dalam hingga terasa memenuhi rongga dada, kemudian menghembuskannya perlahan, sebelum menjawab perkataan dari Anjas.

__ADS_1


"Aku akan mengenalkan kamu pada Bintang, tapi bukan sekarang!" tegas Rina.


Anjas mengernyit, dia tidak suka dengan penolakan, apa lagi dia harus kembali menunggu. Sungguh dia merasa geram dengan sikap Rina saat ini. Wanita itu begitu menyebalkan.


"Dia adalah anakku, Rina!" kesal Anjas.


"Tapi, dia juga anakku, dan aku lebih berhak atasnya!" balas Rina, cepat.


"Jika kamu tidak mau menunggu, maka jangan harap aku akan mengizinkan kamu untuk menemui anakku!" sambung Rina lagi, dengan wajah tegas dan nada bicara yang dingin.


"Ingat, dia adalah anak yang tidak pernah kamu akui! Jadi jangan sok berkuasa atasnya!" Rina berkata lugas sebelum kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Anjas tanpa menoleh lagi.


Anjas mengepalkan tangannya, merasa kalah telak dengan Rina. Satu-satunya yang tidak bisa dia bantah adalah dia yang dahulu tidak pernah mau mengakui Bintang sebagai anaknya, dan itu adalah kesalahannya yang mungkin akan selalu dia sesali.


"Baiklah, aku tunggu kabar selanjutnya darimu, aku harap kamu itu tidak akan lama." Anjas berkata sedikit kencang agar Rina bisa mendengar, kemudian memilih untuk pergi kembali ke mobilnya, setelah melihat mantan istrinya itu menghilang di balik banyaknya beton pembatas sekolah.


Rasanya sekarang sudah sia-sia dia berdebat dengan Rina, karena nyatanya dia memang sudah kalah tanpa bisa melawan lagi. Rina tidak pernah memberinya ruang untuk bernapas saat berdebat, wanita itu selalu mengucapkan kata yang sangat tajam dan menusuk hingga sulit untuk dia bantah, karena itu juga adalah suatu kebenaran.


Sementara itu, Rina yang mendengar ucapan Anjas hanya menghentikan langkahnya beberapa detik, kemudian memilih untuk melanjutkannya saat suara Anjas sudah tidak terdengar lagi.


Sampai di ruang guru Rina langsung menghampiri Bintang dan mengajaknya pulang, setelah berterima kasih pada wali kelas anaknya.


Anjas hanya bisa melihat Rina dan Bintang yang berjalan menuju mobil, kemudian masuk dan pergi begitu saja dari area sekolah, tanpa bisa menyapanya kembali.


Akhirnya dia hanya bisa pergi dengan hati yang hampa. Walaupun dia hanya bisa berbicara dengan Bintang beberapa kata saja, tapi itu sudah membuat rasa penasaran di dalam hatinya sedikit terobati.


Kini, dunia telah berbalik. Nasib membawanya berada pada kondisi jauh di bawah Rina. Kesalahannya telah membuatnya tidak memiliki kuasa untuk melawan wanita yang dulu pernah dia sepelekan dan sia-siakan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2