Istri Selingan

Istri Selingan
Bab 13. Kedatangan Anjas


__ADS_3

HIlman menghentikan mobilnya di depan rumah milik Rina. Dia tampak menatap Anjas yang masih duduk di kursi mobilnya seakan enggan untuk turun.


"Nunggu apa lagi? Sana turun," ujar Himan tidak sabar.


"Iya sebentar ... gak sabaran banget sih jadi sahabat!" decak Anjas sambil membuka sabuk pengaman, kemduian beranjak turun dari mobil.


Anjas menatap mobil Hilman yang telah melaju semakin jauh darinya, setelah itu dia berbalik dan melihat rumah yang ada di depannya.


Rumah sederhana dengan gaya minimalis modern, terlihat masih layak untuk ditempati walau tidak terlalu besar.


"Lumayan," gumam Anjas, dia kemudian melangkah masuk dan berdiri di teras rumah, lalu mengetuk pintu.


Namun, sudah tiga puluh menit berlalu Anjas berdiri di luar rumah, tidak ada yang membuka pintu juga, hingga membuatnya mulai gelisah, takut terjadi sesuatu pada Rina di dalam sana.


Walau ada terselip perasaan lega di dalam hatinya, mengingat kalau Rina sampai pergi, dirinya tidak akan susah lagi untuk menyembunyikannya dari Tari dan keluarganya.


Anjas kembali mengetuk pintu dengan ritme yang lebih cepat, hingga tiba-tiba suara salam seseorang dari arah belakang mengalihkan perhatiannya.


Anjas langsung menoleh, mencari tahu siapa yang baru saja datang ke rumah istrinya.


Akan tetapi itu ternyata Rina yang sedang berjalan menghampirinya dengan senyum sumringah, laki-laki itu tampak memperhatikan seluruh tubuh istri pertamanya itu.


Memang benar apa yang diucapkan oleh Hilman, tubuh Rina terlihat lebih kurus dibanding sebelumnya, dan wajahnya pun sedikit pucat dengan lingkar hitam di bawah mata.


"Ke mana saja, kamu? Suami tidak ada di rumah malah keluyuran gak jelas," tegur Anjas dengan nada suara tidak bersahabat.


Rina tersenyum, dia mengacuhkan pertanyaan Anjas. Wanita yang sedang hamil muda itu tidak bisa menutupi kebahagiaannya, disaat melihat kedatangan suaminya. Laki-laki yang selama ini dia rindukan, dan tujuannya datang ke kota ini.


"Mas Anjas, sudah datang?" tanya Rina dengan mata berkaca-kaca, walau senyum lebar pun terlihat menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Melihat kehadiran Anjas, selalu mampu membuatnya melupakan rasa sakit yang pernah begitu menyiksanya. Lalu, menumbuhkan kembali harapan untuk bersama dan mendapatkan kasih sayang dari Anjas.


Rina mengambil tangan Anjas lalu menciumnya sebagai tanda hormat dan sopan santun kepada suami. Akan tetapi, Anjas buru-buru menarik tangannya, seolah tidak suka menerima perlakuan itu dari Rina.


Rina tersenyum kecut, dia kemudian menegakkan lagi tubuhnya dan menatap wajah suaminya yang tampak masam dan lelah.


"Mas pasti lelah, ayo masuk dulu, nanti aku siapkan makan malam," ujar Rina, seolah mengacuhkan perlakuan Anjas barusan.


Rina sambil mengambil kunci rumah dan membuka pintu untuk Anjas yang langsung masuk begitu saja. Rina mengikuti langkah suaminya di belakang.


"Aku tanya, kamu dari mana, Rina?" Anjas berhenti mendadak kemudian berbalik, sehingga tanpa sengaja Rina menabraknya.


"Maaf." Rina mundur beberapa langkah agar bisa memberi jarak pada suaminya, walau awalnya dia hampir saja terjatuh.


Tatapan Anjas begitu tajam, hingga membuat Rina terdiam, tidak sanggup untuk membuka mulut atau melihatnya lagi.


"A–aku hanya pergi sebentar untuk mencari tukang rujak ke depan. Tapi, sepertinya hari ini tukang rujaknya gak jualan," jawab Rina dengan suara yang bergetar.


"Kenapa tidak menyuruh Hilman saja? Aku kan sudah menyuruhnya untuk menjaga kamu," tanya Anjas, sambil mengedarkan pandangannya melihat rumah yang sudah dipilihkan oleh Hilman untuk tempat tinggal istrinya.


"Aku malu, Mas. Bang Hilman itu kan bukan siapa-siapa aku ... lagian kalau terlalu sering Bang Hilman ke sini, juga gak enak sama tetangga, kan," jawab Rina, mencoba mengungkapkan ketidaknyamanannya yang harus terus berhubungan dengan Hilman.


"Dia itu kan sahabat aku, jadi gak apa-apa lah, dia bantuin aku jagain kamu," ujar santai Hilman sambil duduk di sofa ruang tengah.


"Dia hanya sahabat suamiku, bukan suamiku. Untuk apa harus ikut repot mengurusku?" gumam Rina yang masih terdengar jelas di telinga Anjas.


Dada Anjas terasa panas saat mendengar gumaman Rina, entah mengapa emosinya semakin naik karena kata sederhana itu.


Dia sahabat suamiku, bukan suamiku. Kata itu seakan memukul telak ke dalam hati Anjas.

__ADS_1


"Terus, kamu maunya bagaimana, Rina? Kamu mau aku biarkan sendiri di sini, hah?" tanya Anjas menatap kesal wajah Rina.


"Sudahlah, berbicara dengan kamu memang hanya membuatku pusing saja!" sambung Anjas lagi sambil beranjak menuju ke kamar.


"Mas, tunggu dulu ... Mas!" panggil Rina sambil beranjak hendak menahan suaminya. Akan tetapi, Anjas tidak peduli lagi pada teriakannya.


"Jangan ganggu aku, aku capek ... mau tidur!" Anjas langsung masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan perasaan Rina sama sekali.


Rina menghembuskan napas kasar, menatap pintu kamar yang ditutup kencang oleh Anjas.


"Kenapa sekarang kamu berubah sama aku, Mas?" gumam Rina sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


Air mata tiba-tiba mengalir begitu saja, tangannya mencengkram erat ujung baju yang dia kenakan, menahan emosi yang begitu bergejolak di dalam dada.


Kecewa yang berulang kali dirinya rasakan semakin membuat luka di dalam hatinya terasa sakit walau tanpa terlihat berdarah.


Ingatannya kembali pada masa-masa awal pernikahannya dan Anjas yang berjalan baik-baik saja. Walau Anjas dan dirinya menikah secara paksa, mereka berdua berhubungan sangat baik dan Anjas selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut.


Tidak pernah ada tanda-tanda kalau Anjas mempunyai perempuan lain selain dirinya. Hidupnya begitu sempurna walau harus menjalani rumah tangga jarak jauh.


Rina sangat mempercayai Anjas, begitu juga kedua orang tuanya. Itulah alasan Rina memutuskan untuk tetap di kota dan tidak menyerah dengan pernikahannya.


Rina tidak akan sanggup melihat kekecewaan dari kedua orang tuanya, saat mengetahui kalau Anjas selama ini telah berbohong dan tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri, bahkan kini sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Rasanya akan terlalu menyakitkan jika Rina harus mengungkapkan itu pada orang yang sangat dia cintai di dalam hidupnya.


Beberapa saat Rina larut dalam tangis karena kecewanya, hingga dirinya kembali disadarkan akan tujuannya berada di sini.


"Aku yakin masih ada sedikit cinta untukku di hatimu, Mas. Dan, semua itu akan tumbuh jika anak kita sudah lahir. Orang tua mana yang akan menolak darah dagingnya sendiri," gumam Rina dengan seribu harapan yang di dalam hatinya.


Rina beranjak menuju ke dapur, rasa haus akibat terlalu lama menangis tidak bisa dia acuhkan begitu saja. Mengambil air di dispenser Rina meminumnya hingga habis setengah gelas

__ADS_1


"Kamu harus kuat Rina, jika kamu lemah siapa yang akan menopang kehidupan kamu dan anak kamu!" ujar Rina menggenggam gelas di tangan dengan kencang, seolah sedang memberi semangat untuk dirinya sendiri.


...****************...


__ADS_2