Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.92 Mati bersama


__ADS_3

Mobil ambulans tampak melaju cepat memecah kemacetan kota sore itu, seorang wanita dengan darah hampir memenuhi seluruh tubuhnya tampak terkulai lemas di dalamnya, selang oksigen terlihat dipasang sebagai alat bantu pernapasan, jarum infus pun menusuk punggung tangan sebelah kirinya.


"A--arya?" gumam wanita itu di tengah kesadaran yang semakin menghilang.


"B--Bintang." Lagi, wanita itu bergumam sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.


Beberapa saat kemudian, mobil ambulans sampai di rumah sakit terdekat dari kejadian, para tenaga medis yang sudah diberitahu sebelumnya pun bersiap di lobi instalasi gawat darurat.


"Kasihan sekali, sepertinya mereka adalah korban kecelakaan." Beberapa dari orang yang sedang berada di lobi terdengar membicarakan kedatangan korban yang tidak lain adalah Rina.


Beberapa waktu yang lalu, Arya yang sedang mengendarai mobilnya bersama sang istri pun tampak senang, hingga tiba-tiba Arya merasa kalau ada mobil lain yang mengikuti mereka.


Arya pun langsung menambah kecepatan mobil dan mencari jalan alternatif untuk lari dari mobil yang sangat mencurigakan itu.


"Ada apa?" tanya Rina yang belum menyadari keadaan, sejak tadi dia sibuk membalas ucapan selamat dari beberapa orang di kampung yang tahu pernikahannya.


"Sepertinya ada yang mengikuti kita, sayang," ujar Arya, masih fokus pada jalanan di depannya.


Rina menoleh ke belakang hingga matanya melihat mobil hitam yang dulu pernah mengikuti mereka ketika berkunjung ke rumah ummi dan abi.


"Bukannya itu mobil yang waktu itu?" tanya Rina yang masih mengingat nomor polisinya.


"Iya," angguk Arya, sambil memutar stir mobil hingga mobil mereka berbelok dan keluar dari jalur mereka sebelumnya.


Kali ini jalan terlihat lebih lengang karena itu adalah jalur antar kota yang jarang dipakai. Hanya ada beberapa kendaraan yang tampak melintasi, hingga membuat Arya lelusa untuk menambah kecepatan.


"Sesuai rencana," ujar salah satu orang yang berada di mobil belakang, diiringi senyum miring di wajahnya.


"Arya, mereka masih mengikuti kita!" ujar Rina yang tampak semakin panik.


Brak!


"Sayang!" Arya berteriak panik sambil mengulurkan tangannya ke depan tubuh Rina.


"Akh!" Rina berteriak panik saat tubuhnya terdorong ke depan hingga hampir membentur dasboard, saat tiba-tiba satu mobil lagi muncul dan menabrak bagian belakang mobil Arya.


"Arya!" Tubuh Rina semakin bergetar ketakutan saat mengetahui, kini ada dua mobil yang mengikuti mereka berdua, terlebih sekarang Rina semakin yakin jika mereka memiliki niat jahat untuk keduanya.


Arya pun mencoba semakin menambah kecepatan mobilnya untuk menghindari dua mobil yang kini dengan terang-terangan mengikuti dan menyerang mereka.


Beberapa saat berlalu, kedua mobil itu tampak sudah semakin jauh dan perlahan menghilang dari pandangan.


"Sepertinya mereka sudah tidak mengikuti kita," ujar Rina saat dia tidak melihat lagi dua mobil itu di belakang mereka.

__ADS_1


Namun, tubuh Rina kembali terperanjat saat suara dering ponselnya terdengar. Detak jantungnya semakin tak menentu ketika itu adalah nomor yang biasa ayah Anjas gunakan untuk meneror dirinya.


"Siapa?" tanya Arya sambil mencoba mengendalikan mobilnya yang terasa ada yang tidak beres.


Tanpa menjawab, Rina hanya memperlihatkan layar ponselnya yang masih berdering pada Arya. Laki-laki itu sudah tahu jika selama ini ayah Anjas selalu menekan Rina untuk membatalkan pernikahan mereka. Namun Arya melarang Rina untuk mengikuti keinginan laki-laki tua itu. Arya tahu jika itu hanya rencana ayah Anjas agar dia bisa lebih mudah merebut Bintang dari Rina jika pernikahan batal.


"Angkat," perintah Arya pada Rina.


"Tapi--" Rina tampak ragu.


"Angkat saja, pakai pengeras suara. Aku mau tau apa sebenarnya yang dia rencanakan," ujar Arya lagi meyakinkan Rina.


Rina menatap kembali wajah Arya yang kini terlihat mulai berkeringat dan sedikit tegang. Dengan tangan bergertar Rina menerima panggilan dari ayah Anjas, kemudian dia menghidupkan pengeras suara, agar Arya bisa mendengar apa yang disampaikan oleh ayah Anjas.


"Ini adalah akibat karena kalian selalu membantahku, maka terimalah kematian kalian! Dengan begini, aku bisa mengambil hak asuh Bintang sepenuhnya, karena kalian sudah mati, Hahaha!"


Deg!


Rina dan Arya saling menatap dengan wajah panik, apa lagi kini jalanan yang mereka lewati mulai menurun dan Arya bisa merasakan jika rem mobilnya ternyata tidak berfungsi.


Ternyata dia ingin membunuh aku dan Rina? Aku gak nyangka kamu memiliki ayah seorang pembunuh, Anjas! geram Arya di dalam hati.


"A--apa maksud Anda?" Dengan suara bergetar Rina mencoba untuk bertanya, walau dia mulai merasakan mobil yang dikendarai Arya sudah tidak terkendali.


"Bukankah kalian memilih menikah dari pada menyerahkan Bintang padaku, maka aku mewujudkan keinginan kalian untuk, mati bersama!" ujar ayah Anjas sebelum akhirnya sambungan telepon terputus begitu saja.


"Rem-nya enggak berfungsi, sayang," jawab Arya sambil terus mencoba mengendalikan mobilnya.


"A--apa?" Rina tampak panik, hingga air mata pun ke luar begitu saja, membasahi pipinya.


Arya semakin panik saat mengingat jika di depan sana ada sebuah jurang dalam yang akan sangat sulit dia hindari, karena jurang itu berada di tikungan tajam.


"Sayang, kita harus melompat," ujar Arya sambuk melepaskan sabuk pengaman milik Rina.


"Tapi, Arya--" Rina bertambah panik saat melihat wajah Arya yang juga tidak lebih baik darinya.


"Di depan ada jurang, kita harus melompat sebelum mobil ini masuk ke dalam jurang itu," ujar Arya memberi perintah, sambil melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya sendiri, kemudian membuka kunci pintu mobil.


Ya allah, tolong selamatkan kami berdua, batin Rina saat jurang itu sudah terlihat jelas di pandangan mata.


"Dalam hitungan ke tiga, kita melompat bersama-sama," perintah Arya yang langsung diangguki oleh Rina.


Walau tubuhnya bergetar hebat oleh rasa takut yang sudah merasuk ke seluruh tubuhnya, Rina berusaha untuk tidak membuat Arya lebih panik lagi. Sebisa mungkin Rina berusaha untuk terlihat tenang dan pasrah dengan keadaan yang akan terjadi padanya beberapa saat lagi.

__ADS_1


"Satu." Arya sudah mulai menghitung, membuat Rina merasa kematian semakin mendekati dirinya.


"Dua." Tangan Rina bersiap untuk membuka pintu mobil di sampingnya, begitu juga dengan Arya.


"Ti--" ucapan Arya terhenti saat sebuah mobil tiba-tiba datang dari arah samping, kemudian menabrak mobil Arya hingga kembali kehilangan arah dan terbalik hingga beberapa kali di turunan yang cukup curam itu.


Mobil Arya baru berhenti saat mobil itu menabrak pembatas jalan dengan keadaan semua rodanya berada di atas.


"S--sayang." Rina mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat saat mendengar suara lirih sang suami.


Dengan darah yang bercucuran dan tubuh terasa remuk, Rina bisa melihat samar Arya yang berada di sampingnya. Keadaan Arya tidak jauh berbeda dengannya, walau laki-laki itu tampak masih bisa tersenyum padanya.


Namun, darah tampak terlihat menetes dari kepala laki-laki itu dan bagian tubuh lain yang terkena pecahan kaca mobil.


Perlahan Arya mengulurkan tangannya pada Rina, yang langsung disambut oleh Rina.


"Kamu harus kuat ya, sayang. Kamu harus tetap hidup," ujar Arya sambil menggenggam tangan Rina dengan begitu erat, sebelum kemudian menutup mata.


"Arya?" Rina terkejut saat melihat Arya tidak sadarkan diri dengan genggaman tangan semakin melemah, dia mencoba menggoyangkan tangan Arya dan membangunkannya.


"Arya, bangun, aku mohon." Tetes air mata kini sudah tak terbendung lagi, rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa tertutup oleh khawatir akan keadaan Arya.


"T--tolong!" Rina mencoba berteriak, walau ternyata suara yang hanya bisa dia keluarkan tidaklah terlalu kencang.


"T--tolong kami!" Sekuat tenaga Rina mencoba berteriak, walau tubuhnya pun terasa semakin melemah.


.


"Arya!" Rina membuka matanya, saat mimpi yang begitu mengerikan baru saja dia alami.


Dadanya naik turun dengan napas yang memburu, sejanak pandangannya mengedar melihat situasi yang ada di sekitarnya.


Suasana lampu temaram dengan suara monitor perekam jantung terdengar, membuat Rina menyadari kalau dirinya tidak sedang berada di rumah saat ini.


Dengan kepala yang masih terasa sakit, Rina mencoba untuk bangun. Dia menatap jarum infus yang menusuk punggung lengan bagian kirinya.


"Di mana aku? Bukankah itu hanya sebuah mimpi?" Rina berkata dengan air mata yang sudah kembali menggenang di pelupuk, bersiap untuk terjatuh.


"Bintang? Arya?" Rina melebarkan matanya saat mengingat dua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya.


Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Rina membuka jarum infus di tangannya, kemudian alat deteksi jantung yang terpasang di dada. Perlahan Rina turun dari brankar rawat itu inap itu dan berjalan terseok-seok ke luar ruangan.


Tanpa alas kaki, Rina mencoba bertahan dengan bantuan berpegangan pada dinding. Rina membuka pintu ruangan rawatnya kemudian ke luar. Wajah bingung itu mencoba mencari keberadaan seseorang yang dirinya kenal.

__ADS_1


Arya dan Bintang menjadi tujuan utamanya saat ini. Namun, setelah cukup jauh berjalan dari ruangannya, Rina tidak juga bertemu dengan Bintang dan Arya, hingga sebuah suara yang begitu dia kenal terdengar memangil dari arah belakang.


"Rina!"


__ADS_2