
"Kamu tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa izin dariku!" tegas Anjas dengan tatapan tajamnya.
Rina menatap Anjas dengan wajah terkejutnya, keningnya pun tampak berkerut dalam, belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh suaminya.
"Orang tuaku kecelakaan, Mas! Aku harus segera pulang sekarang," ujar Rina dengan air mata kembali berderai.
Hatinya tidak tenang sejak tadi, rasa khawatir akan keadaan kedua orang tuanya yang entah seperti apa sekarang, membuat Rina tidak bisa mengendalikan emosinya. Dirinya sampai lupa menanyakan kondisi orangtuanya pada Heni, saat menelepon tadi karena terlalu panik.
"Gak usah bohong kamu, Rin! Kamu sengaja buat alasan seperti itu untuk bisa lepas dan lari dariku, kan?" Anjas langsung menuduh Rina.
Sepanjang malam sejak pertemuannya dengan Rina kemarin sore, Anjas terus terngiang niat Rina yang ingin menyerah dengan rumah tangga mereka.
Rasa gelisah dan tidak tenang membuat Anjas bahkan tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Entah ada apa dengan hatinya saat ini, Anjas pun tidak bisa mengerti.
Untuk menghilangkan rasa tidak tenang itu, Anjas bahkan rela datang ke sini, sebelum berangkat ke kantor, hanya demi memastikan keadaan Rina.
Anjas begitu terkejut saat melihat Rina sudah bersiap pergi dengan koper di tangannya. Anjas yang sudah takut akan ditinggalkan oleh Rina semakin merasa waspada pada istrinya itu.
Rina menatap Anjas dengan mata melebar, terkejut dengan reaksi Anjas padanya. Padahal saat ini dia sedang terburu-buru.
"Masuk sekarang!" ujar Anjas lagi sambil menarik tangan Rina kembali ke dalam rumah, Anjas menutup pintu dengan suara yang cukup mengejutkan.
"Mas aku gak bohong, Bapak dan Ibu beneran kecelakaan!" Rina mencoba meyakinkan Anjas.
"Aku ga percaya sama kamu, Rin. Pokoknya kamu gak boleh pergi ke mana-mana, sekarang lebih baik kamu masuk ke kamar!" sentak Anjas dengan tatapan tajamnya.
"Mas, aku mohon biarkan aku pulang ke kampung, aku harus tau kabar Bapak dan Ibu!" Rina menangkupkan kedua tangannya, di depan dada. Memohon dengan segenap hatinya agar Anjas mau mengizinkannya kembali ke kampung.
Namun, sepertinya Anjas tidak luluh sedikit pun dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipi Rina. Laki-laki itu tetap diam dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Ajas malah melepaskan jas yang dia pakai kemudian melemparnya ke sembarang arah, lalu duduk santai di sofa ruang tengah, seolah memberi pernyataan kalau sehari ini dia akan tetap berada di rumah demi mengawasi Rina.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? Kenapa jasnya dilepas? Bukannya kamu harus berangkat ke kantor?" Rina bertanya dengan raut wajah panik.
Bagaimana dia bisa pergi ke kampung sekarang, ketika suaminya tidak percaya akan perkataannya dan malah memutuskan untuk tinggal, demi mengawasinya.
Rina terdiam dengan jari yang terus bergerak gelisah, memilin ujung baju yang dia pakai. Wanita hamil itu sedang berfikir keras untuk meyakinkan suaminya.
"Aku akan telepon Heni agar kamu bisa percaya sama aku, Mas!" ujarnya sambil mengambil ponsel di dalam tas.
Anjas tetap diam, dia membiarkan istrinya berbuat sesuka hati, asal tidak ke luar dari rumah. Lagi pula di dalam hatinya yang terdalam, ada rasa khawatir jika saja Rina tidak berbohong dan kedua mertuanya itu benar-benar mengalami kecelakaan.
Rina mendesah berat saat teleponnya tidak diangkat oleh Heni untuk yang kesekian kalinya. Entah ke mana wanita itu sekarang, hingga sulit sekali untuk dihubungi.
Anjas tersenyum miring, sambil mengalihkan pandangannya, dia semakin yakin kalau Rina berbohong padanya agar bisa pulang dan lari darinya.
Akhirnya Rina kehabisan akal untuk menjelaskan apa yang terjadi pada orang tuanya kepada Anjas, dia hanya terus menangis dan larut dalam rasa khawatirnya pada kedua orang tuanya.
Rina langsung menghampiri Anjas dan menghidupkan pengeras suara, agar Anjas juga bisa mendengar percakapannya dengan Heni.
"Rina, kamu sudah sampai mana? Kenapa belum sampai juga?!" Pertanyaan bernada panik dari Heni langsung terdengar begitu Rina mengangkat teleponnya.
"A--aku masih di rumah, Hen--" jawab Rina ragu.
"Apa?! Kenapa kamu masih di rumah, Rin? Kami semua di sini menunggu kamu, cepat pulang, Rin, sekarang Ibu dan Bapak sudah dibawa ke rumah!" ujar Heni dengan nada yang terdengar emosi.
Rina mengerutkan keningnya, jika sudah dibawa ke rumah berarti Ibu dan Bapak tidak terluka parah. Akan tetapi, kenapa nada suara Heni malah lebih panik dibandingkan tadi pagi.
"Bapak sama Ibu sudah pulang? Kalau begitu tolong berikan ponsel kamu pada mereka, aku mau bicara," ujar Rina, setidaknya jika dia tidak diizinkan pulang oleh Anjas, dia bisa mendengar suara kedua orang tuanya dulu, agar lebih tenang.
__ADS_1
"Maaf, Rin, mereka tidak bisa lagi berbicara denganmu." Kini suara Heni terdengar melemah.
"Apa maksudanya, Hen? Kenapa mereka tidak bisa berbicara dengaku? Apa Bapak dan Ibu marah karena aku belum datang?!" Rina tampak kembali panik dengan air mata yang menganak sungai.
"Maaf, Rin, tadinya aku mau bilang ini kalau kamu sudah sampai. Tapi, keluarga ayah dan ibumu memaksa untuk melakukan pemakaman hari ini juga tanpa menunggu kamu dulu."
Deg!
Ponsel di tangan Rina hampir saja jatuh saat penjelasan dari Heni terdengar. Sebenarnya kecelakaan seperti apa yang dialami kedua orangtuanya, kenapa bisa sampai seperti ini?
"Pemakaman? Apa maksudnya, Hen? A--aku gak ngerti apa yang kamu katakan?!"
Itu adalah pertayaan bodoh yang sebenarnya sudah terjawab oleh akal sehat Rina sediri. Namun, hatinya menolak untuk percaya dan ingin medengar sesuatu yang berbeda jika dia bertanya lagi.
Anjas yang mendengar itu langsung bangun sambil menyambar kunci mobil, dia juga memgang tangan Rina dan membawanya untuk berdiri.
"Ayo, kita berangkat sekarang, aku akan mengantarmu!" ujar Anjas cepat, dia juga langsung mengambil alih ponsel milik Rina.
"Aku akan berusaha untuk datang secepatnya, tolong kamu tahan keluarga yang akan melakukan pemakaman sampai kami berdua datang! Atau aku akan menghancurkan mereka semua!" ujar Anjas yang langsung menutup teleponnya secara sepihak.
"Mas, Heni bohong kan? Bapak dan Ibu gak mungkin ninggalin aku sendiri kan, Mas?" Rina meracau, setelah keduanya kini berada di dalam mobil.
"Maaf, Rin." Hanya itu yang mampu ke luar dari mulut Anjas.
Penyesalan kini mulai merengkuh kedua orang itu, terutama Anjas. Dia mengendarai mobil dengan secepat mungkin. Untungnya kini adalah waktu lengang, hingga membuatnya bisa leluasa memacu kendaraannya.
Rina terus bergerak gelisah dengan tangis yang tidak pernah berhenti. Matanya sudah tampak memerah dan bengkak karena sehari ini Rina tidak henti menangis.
Anjas hanya bisa menatap khawatir pada kondisi Rina, tanpa bisa menenangkannya, dia sadar kalau semua ini adalah kesalahannya yang tidak percaya pada istrinya itu, hingga menahan Rina selama ini.
__ADS_1
Entah bagaimana nanti dia akan menebus semua kesalahnnya pada Rina, jika sampai Rina tidak bisa melihat kedua orang tuanya untuk yang terakhirkalinya.
...****************...