Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.73 Kejadian sesungguhnya


__ADS_3

"Apa yang mau kamu bicarakan lagi dengaku?" Anjas menatap Arya dengan wajah sinis, dia bersidekap dada sambil menyandarkan punggungnya dengan tubuh tegak.


Untuk beberapa saat, Arya hanya terdiam sambil menatap wajah angkuh Anjas di depannya. Kedua tangannya terlihat berada di atas meja dengan bertumpu pada siku, dia sulam semua jarinya hingga kedua telapak tangannya menyatu.


"Aku mau meluruskan semua tuduhan kamu kepadaku," ujar Arya yang langsung membuat wajah Anjas semakin marah.


"Tuduhan? Berani sekali kami mengatakan kata itu!" sinis Anjas.


Arya tidak menjawab, laki-laki itu masih tampak tenang, menghadapi Anjas yang sudah emosi sejak awal. Dia hanya tersenyum tipis, dengan mata yang menatap tenang Anjas.


"Kamu mau menjelaskan apa lagi, heh?" tanya Anjas dengan sedikit mencondongkan tubuhnya, matanya menyorot tajam wajah Arya, kilatan amarah pun terlihat jelas di sana.


"Aku minta maaf atas kejadian itu, aku tau aku salah karena terlambat menjemput Sisi." Arya berkata lirih sambil menundukkan kepala, rasa bersalah selalu mengiringi nama gadis yang merupakan mendiang adik dari Anjas itu.


"Baguslah kalau kamu sadar!" Anjas tampak mengalihkan pandangannya, menatap wajah Arya yang sedang terpuruk membuat hatinya sedikit melemah.


Mengingat kejadian itu membuat Anjas harus menahan kemarahan yang amat sangat besar, dia bukan hanya kecewa pada Arya, tetapi dia juga kecewa pada dirinya sendiri. Ya, Anjas menyalahkan dirinya sendiri.


"Kamu tau, jika saja saat itu kamu datang tepat waktu, Sisi pasti bisa diselamatkan dari pada bedebah menjijikan itu, dia pasti tidak akan pernah merasakan penderitaan yang begitu besar sampai akhirnya merenggut nyawanya!" Anjas tampak masih saja menyalahkan Arya.


Arya menundukkan kepalanya dalam, jika saja waktu itu ban motornya tidak kempes di tengah jalan dirinya mungkin bisa menyelamatkan Sisi, dari situasi menyakitkan.


"Sebenarnya Sisi menyembunyikan sesuatu dari kita, Jas, dia tidaklah seperti yang kita tahu selama ini," ujar Arya yang membuat Anjas tersenyum sinis, tidak percaya pada perkataan Arya.


"Sisi adikku, aku lebih tau dia dibandingkan kamu, Arya!" sentak Anjas.


Arya menggeleng, ingatannya kembali pada malam kejadian, di mana semuanya berawal dan berakhir dalam sekejap.


Malam itu, Arya yang harus menjemput Sisi di salah satu restoran setelah menghadiri pesta ulang tahun teman sekolahnya tiba-tiba mengalami kendala di tengah jalan, ban motornya kempes hingga harus memaksanya untuk mencari bengkel lebih dulu.


Sisi, ban motor kakak kempes, Sisi tunggu kakak sebentar ya.


Itulah pesan yang Arya kirimkan setelah beberapa kali dia mencoba menghubungi Sisi, tetapi selalu tidak tersambung. Saat itu Arya mengira jika Sisi sengaja mematikan ponselnya karena masih menikmati pesta.


Gerimis mulai turun dan terus bertambah lebat di saat Arya sedang mencari bengkel, dia memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu. Namun, setelah menunggu hampir satu jam hujan tak juga reda, hingga akhirnya Arya memutuskan meninggalkan motornya dan menaiki taksi untuk menjemput Sisi, walau itu pun begitu sulit karena taksi yang melintas selalu sudah berpenumpang.


Setelah hampir lima belas menit berusaha, akhirnya Arya berhasil mendapatkan taksi dan melanjutkan perjalanannya menuju tempat acara.

__ADS_1


Namun, Arya dibuat terkejut saat sampai di restoran, ternyata di sana tidak pernah ada acara pesta ulang tahun dan Sisi juga tidak pernah datang ke tempat itu.


"Tidak ada acara pesta di sini, dan kami juga tidak pernah melihat gadis ini datang," ujar salah satu pelayan resto yang dia temui saat itu. Arya bahkan masih mengingat semua perkataannya.


Dengan wajah panik, Arya terus mencoba menghubungi Sisi sambil terus menerka sekiranya ke mana Sisi bisa pergi tanpa memberitahu dirinya, bahkan sampai berbohong.


Beberapa saat berpikir, Arya ingat satu tempat yang mungkin Sisi datangi, dengan langkah lebarnya dia berlari menerjang hujan yang masih turun begitu deras menuju sekolah Sisi yang hanya berjarak beberapa menit saja dari restoran itu. Tangannya mencoba menghubungi Anjas dan Hilman yang entah kenapa malam itu juga begitu sulit untuk terhubung, hingga akhirnya ponselnya mati karena terlalu banyak kemasuan air hujan.


"Akh, sial! Kenapa kalian susah sekali dihubungi!" teriak Arya sambil membanting ponselnya yang sudah tidak berguna lagi.


Sampai di sana, Arya melihat sekolah sudah gelap dengan pintu gerbang terkunci rapat. Arya berlari memutar padar hingga sampai di belakang sekolah, di mana anak laki-laki sering melompat pagar untuk bolos sekolah, dia pun dengan mudah melompat dan masuk ke dalam lingkungan sekolah.


"Sisi! Sisi!" Arya terus berteriak mencari keberadaan gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.


Arya terus mencari di sekeliling sekolah, sambil mencoba mengingat apa yang dikatakan oleh Sisi sebelumnya, jika saja dia melewatkan satu petunjuk yang diberikan oleh gadis itu. Sungguh saat ini Arya sama sekali tidak bisa merasakan lelah yang yang sudah mendekara.


Satu per satu kelas dan ruangan dia periksa berharap ada Sisi di sana. Namun, ternyata Arya tidak mendapati Sisi di mana pun, hingga satu kalimat yang diucapkan oleh Sisi siang tadi terlintas di kepalanya.


"Lahan kosong di samping sekolah kita sekarang sedang dibangun ya Kak?"


Pertanyaan yang jarang sekali dibahas oleh Sisi itu tiba-tiba terlintas, membuat Arya kembali ke luar dari area sekolah kemudian berjalan menuju lahan pembangunan yang baru setengah jadi di samping sekolahnya.


Pembangunan yang baru berbentuk tembok kasar dan sekat itu memang sudah cukup tertutup, hingga orang yang berada di dalamnya bisa berbuat apa pun. Hujan yang turun deras pun menenggelamkan suara, hingga Arya tidak bisa mendengar apa pun.


"Sisi! Di mana kamu?!" teriak Arya dengan tubuh basah kuyup dan napas memburu, beberapa kali dia terpaksa harus meneguk air hujan yang melewati mulutnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Matanya terus mengedar mencari gadis di dalam gelapnya malam, ditemani suara gemuruh petir dan hujan lebat di luar sana.


Jantungnya berpacu berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya, dia tidak bisa tenang saat ini. Bayangan saat dia memergoki Sisi yang tengah menjadi bahan perundungan di sekolahnya, membuat hatinya tidak bisa tenang, pikiran buruk pun mulai membuat dirinya kacau.


Arya terus berlari dan masuk ke dalam bangunan setengah jadi itu, hingga sayup permintaan tolong terdengar di telinganya, membuatnya menghentikan langkahnya sejenak demi mencari arah suara itu.


"Sisi!" gumamanya denagn bibir yang sudah mulai membiru dan bergetar menahan dingin.


Benar saja suara itu terdengar semakin jelas hingga dia melihat salah satu ruangan yang tampak gelap, tanpa pikir panjang Arya berlari menerobosnya, hingga akhirnya dia terkejut dengan apa yang sedang terjadi di sana.


Matanya sempat terpaku pada kondisi Sisi yang tengah terbaring lemas di sudut ruangan dengan tubuh dipenuhi luka, dan ....


Tanpa busana.

__ADS_1


Dengan cepat Arya membuka jaket yang basah untuk menutupi tubuh polos Sisi, dia mengusap wajah lemah dan tak berdaya gadis itu dengan air mata yang lolos begitu saja, rasa bersalah di dalam hatinya pun kini bertambah besar.


"Maafkan kakak, Sisi," lirih Arya dengan air mata berlinang. Kepalanya menundukkan dalam dengan bahu yang bergetar, menahan segala rasa yang bergejolak di dalam dada.


"Brengsek kalian!" teriak Arya pada beberapa orang laki-laki yang sepertinya sedang mabuk, mereka tampak mengelilingi Arya dan Sisi.


"Dasar bajingan!" Sentak Arya lagi hendak memulai pertarungan dengan tiga orang laki-laki di sana. Namun Sisi menghentikannya, dengan kesadaran yang mulai melemah gadis itu menggenggam tangan Arya begitu erat.


"Heh, anak ingusan! Kamu gak usah ikut campur dengan urusan kami, atau kami juga akan menghabisimu sama seperti dia!" ujar santai salah satu laki-laki yang hanya menggunakan celana saja, senyum mengejek pun tidak lupa dia berikan pada Arya untuk memancing emosinya.


"Sisi, kakak harus memberi mereka pelajaran," ujar Arya dengan tatapan memohon pada Sisi.


Sisi menggeleng, air tampak menetes di sudut matanya walau bibirnya yang terlihat berdarah dan bergetar itu berusaha untuk tersenyum.


"Sisi enggak mau Kakak terluka," ujarnya dengan hanya gerakan bibir, karena suaranya sudah habis.


"Mereka brengsek, Si! Mereka harus diberi pelajaran!" Emosi Arya masih membumbung tinggi, dia tidak rela Sisi diperlakukan seperti ini.


Nekat, Arya melawan ketiga orang yang sedang mabuk itu, setidaknya dia memiliki modal dengan sabuk hitam dalam karate, hingga membuatnya percaya diri untuk menang.


Benar saja, beberapa waktu kemudian Arya bisa mengalahkan ketiga orang itu, walau tubuhnya pun tidak dikatakan dalam keadaan baik-baik saja. Tangan dan tulang rusuknya retak akibat perkelahian itu.


Setelah pertarungan itu, Arya membawa Sisi ke klinik terdekat untuk mendapatkan penanganan. Dokter yang mengetahui jika Sisi adalah korban kejahatan pun akhirnya menelepon polisi, saat itu juga Arya langsung diamankan sebagai saksi.


Dua hari setelah kejadian itu Arya mendapatkan kabar, jika ternyata Sisi meninggal. Arya pun tiba-tiba beralih status dari saksi menjadi tersangka, dia dituduh menjadi tersangka pemerko--saan dan penganiayaan terhadap Sisi.


Bukan hal yang mudah untuk Arya menjalani hari-harinya di jeruji besi, dia yang masuk sebagai tersangka pelecehan membuatnya menjadi bahan perundungan, hinaan, pukulan dan berbagai kekerasan di penjara.


Hingga tiba-tiba setelah satu minggu dia merasakan dingin dan tersiksanya berada di jeruji besi, tiba-tiba dia bisa keluar begitu saja karena pelaku sebenarnya sudah tertangkap.


Ternyata kejadian itu bukanlah sekedar kasus perundungan antar siswa saja, ada campur tangan orang tua di dalamnya, hingga membuat kasusnya bertambah besar.


Ya, pelaku itu mengaku disuruh oleh seseorang yang ternyata adalah rival dari orang tua Anjas dan Sisi, mereka ingin menjadikan Sisi sebagai ancaman agar ayah Anjas mau mengundurkan diri dari jabatannya saat itu.


Namun, karena orang suruhah itu dalam keadaan mabuk mereka pun melakukan pelecehan dan kekerasan sek-sual pada Sisi tanpa direncanakan sebelumnya.


...****************

__ADS_1



...


__ADS_2