Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.68 Adik kesayangan


__ADS_3

Rina melebarkan matanya saat Arya menghentikan mobilnya di sebuah area parkir pemakaman umum. Kerutan halus tampak terlihat jelas di kening wanita itu.


"Kita mau ngapain di sini?" tanya Rina dengan wajah bingungnya. Dia mengedarkan pandangannya, melihat ke sekitar yang tampak tidak begitu ramai.


"Kamu mau aku jujur tentang masalahku dan Anjas, kan? Kita mulai dari sini," ujar Arya sambil menggenggam tangan Rina, seolah dia sedang meminta kekutan dari kekasihnya itu. Matanya terlihat bergerak gelisah, seolah berat untuk melakukan semua ini.


Rina semakin bingung, dia masih mencoba berfikir positif hingga perkataan Anjas yang pernah menuduh Arya sebagai pembunuh pun terlintas di kepala.


Apa Arya mau menjelaskan tentang tuduhan itu? Tapi kenapa harus langsung ke sini sih? Rina bertanya di dalam hati.


"Ayo, aku jelaskan perlahan makam sekaligus mengunjungi seseorang," ajak Arya sambil melepaskan genggaman tangan Rina dan ke luar dari mobilnya.


Rina mengikuti Arya untuk ke luar dari mobil, dia berdiri sejenak di samping pintu melihat para penjual bunga yang tampak sedang menjajakan dagangannya di dekat pintu masuk makam. Langit sore yang terlihat berselimut awan kelabu pun menambah sendu suasana pemakaman saat itu.


Ah, melihatnya Rina jadi teringat akan almarhum ibu dan bapak. Sudah lama Rina tidak berkunjung ke kampung, karena di sini begitu banyak pekerjaan. Dia merindukan mereka.


Arya lebih dulu mengajaknya membeli bunga tabur dan air mawar dari pedagang di sana.


"Wah, sekarang ke sininya berdua, Mas? Biasanya cuman sendiri," ujar ibu-ibu penjual bunga itu. Sepertinya dia memang sudah sering melihat Arya datang ke pemakaman ini.


Rina tampak menatap Arya penuh tanya, entah makam siapa yang selama ini rutin dikunjungi oleh Arya, hingga penjual bunga saja bisa mengenalnya.


"Iya, Bu. Iniada sedikit rejeki untuk Bapak dan Ibu. Sampaikan terima kasih saya pada Bapak, karena sudah menjaga kebersihan makam itu," ujar Arya sambil memberikan selembar amplop yang entah apa isinya.


Setelah itu Arya mengajak Rina untuk mulai berjalan memasuki komplek angin yang bertiup pelan trasa dingin langsung menyapa keduanya begitu kakinya menginjak pemakaman umum yang cukup besar itu.


"Kok kayaknya kamu sering ke sini ya?" Rina yang tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak juga, hanya jika sedang ada waktu luang saja," jawab Arya sambil tersenyum, keduanya berjalan beriringan dengan Arya menenteng pelastik berisi bunga tabur dan air mawar di dalamnya.


"Terus apa hubungannya makam ini dan masalah kamu dengan Anjas?" Rina kembali bertanya. Kini Arya membawanya berbelok menuju ke sebuah gang yang lebih kecil.


"Ada, karena sebenarnya semua berawal dari kecelakaan yang menimpanya, hingga mengakibatkan hubungan kami renggang," jawab Arya masih terlihat tenang. Matanya tampak menerawang, mengingat masa yang sudah terlewat beberapa tahun lalu.


Rina menatap wajah Arya dia kemudian menghembuskan napas pelan, dan kembali fokus pada langkahnya, karena kini keduanya sudah mulai berjalan di antara batu nisan.


"Jadi karena seseorang yang dimakamkan di sini hubungan kalian renggang?" Rina bertanya agar lebih jelas.


Anjas mengangguk, kemudian menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Kita sudah sampai," ujarnya sambil membawa Rina untuk berdiri di sampingnya.


Arya kemudian berjongkok di makam yang terlihat rapih itu.


"Assalamulaikum, Sisi," sambungnya lagi sambil mengusap batu nisa di depannya.


Rina terdiam, dia memperhatikan tulisan di batu nisan yang kini tampak sedang dibersihkan dari debu oleh Arya. Tertulis nama Syena Gunawan di sana, hingga membuat Rina kembali berfikir keras.


"Nama belakangnya sama dengan nama Anjas? Apa dia--" Perkataan lirih Rina berhenti saat Arya tiba-tiba berbicara.


"Kemari, sayang," panggil Arya mengajak Rina untuk ikut berjongkok.


Rina mengikuti dia kemudian berjongkok di samping Arya.


"Ini adalah makam Syena, kami biasa memanggilnya Sisi. Dia adalah gadis periang dan sangat lucu, umurnya hanya berbeda dua tahun dari kami," jelas Arya, dia menggunakan kata kami untuk menggambarkan dirinya dan Anjas.


"Dia adalah adiknya Anjas," sambungnya lagi dengan suara yang berubah parau.


Rina juga bisa melihat bagaimana perubahan yang terlihat jelas di wajah kekasihnya itu.


"Adik?" tanya Rina bingung, walau kemudian dia bersikap biasa lagi karena dirinya memang tidka tahu apa pun tentang laki-laki itu. Jangankan adik, orang taunya pun dia tidak pernah mengenalnya.


"Iya, Sisi adalah adik Anjas yang sangat dekat dengan kami, Anjas begitu posesif padanya karena Sisi adalah adik satu-satunya yang Anjas miliki, dan karena itu juga aku dan Hilman sebagai sahabat Anjas pun sering menggantikannya untuk menjaga Sisi." Arya tampak tersenyum, sepertinya itu adalah kenangan baik yang dia ingat dari hubungan mereka.


Arya mengangguk.


"Iya, dulu kami dijuluki tiga sahabat sejati, karena kedekatan kami yang sudah bagaikan saudara."


Rina tampak mengangguk anggukkan kepala, tanda mengerti.


"Kalau begitu, kenapa sekarang kalian bisa renggang?" tanya Rina lagi.


"Nanti aku ceritakan setelah ini. Sekarang kita berdoa dulu untuk Sisi ya, Rin," jawab Arya saat melihat awan kelabu semakin tebal menutup langit.


"Heem, baiklah," jawab Rina, dia kembali harus menahan rasa penasarannya, karena situasi yang tidak memungkinkan, apa lagi saat ini hari pun semakin sore.


Keduanya tampak berdoa dengan khusyu, sampai akhirnya kata amin mengakhiri doa mereka.


"Sisi, maaf ya, Kak Arya membawa wanita lain untuk berkunjung ke sini. Kak Arya kenalkan dulu ... ini adalah Rina, dia kekasih kakak. Gimana cantik, kan?" ujar Arya, sambil menggenggam tangan Rina yang masih berjongkok di sampingnya.

__ADS_1


"Jangan cemburu ya," lanjutnya sambil terkekeh kecil, walau matanya terlihat memerah.


Rina bisa melihat bagaimana kesedihan yang kini tengah dipendam oleh Arya, saat dia berusaha berbicara pada batu nisan di depannya.


"Sisi akan tetap menjadi adik kesayangan Kak Arya, Kakak janji. Tenang di sana ya, Si ... Kakak di sini juga akan selalu mendoakan Sisi," ujar Arya lagi dengan satu tetes air mata yang jatuh begitu saja.


Rina mengusap punggung Arya, mencoba memberi kekutan dan ketenangan bagi laki-laki yang kini terlihat sangat rapuh itu.


Namun, ternyata suasana haru itu harus terhenti begitu saja saat tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seseorang tidak jauh dari tempat mereka berdua.


Arya dan Rina pun berdiri bersamaan kemudian hendak menoleh untuk melihat ke arah suara, memastikan sebuah nama yang sudah ada di dalam pikiran keduanya.


Namun, belum sempat mereka melihat, sebuah pukulan tiba-tiba sudah mendarat di pipi Arya, hingga laki-laki itu terhuyung.


Rina membantu menahan tubuh Arya, sambil menataonya khawatir. Dia bisa melihat dengan jelas jika ada noda merah di ujung bibir Arya, dan bisa dipastikan kalau itu adalah darah.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Arya malah khawatir pada Rina, yang hanya dijawab oleh gelengan kepala.


"Brengsek! Ngapain kamu datang ke sini, hah?! Kamu mau buat adikku semakin tersiksa karena melihat orang yang membuatnya mati!" teriak Anjas sambil kembali menarik kerah baju Arya hingga laki-laki itu terbawa ke depan.


"Arya!" Rina memkik saat satu pukulan kembali mendarat di pipi Arya.


"Anjas, berhenti! Ini di pemakaman!" Rina mencoba menyadarkan Anjas yang sepertinya sudah terlanjur kesetanan.


Arya tidak membalas, dia membiarkan Anjas memukulnya tanpa melawan sedikit pun, dia hanya tersenyum.


Hujan pun turun dengan deras, suara guruh terdengar mengiringi pertengkaran antara Arya dan Anjas sore itu. Teriakan Rina pun menghilang oleh derasnya suara hujan badai sore itu.


"Jika memang ini bisa mengurangi kemarahan kamu, silahkan kamu lakukan," gumam Arya saat Anjas kembali menarik kerah bajunya, hingga kini beberapa kancing sudah terlepas oleh cengkraman tangan Anjas.


Keduanya tampak sudah basah kuyup, dengan darah yang bercampur dengan air hujan juga tanah pemakaman. Tubuh Arya sudah sangat berantakan, bajunya kotor dan tampak terlihat bercak darah di sana.


"Jangan harap kamu mendapatkan maaf dariku, brengsek!" balas Anjas kemudian kembali memberikan pukulan di perut Arya berulang hingga laki-laki itu terduduk di tanah dengan tubuh membungkuk, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Stop!" Rina yang sudah tidak tahan lagi kini berdiri di tengah-tengah antara Anjas dan Arya, dia merentangkan tangannya memberi perlindungan untuk Arya dari kemarahan Anjas.


"Jangan ikut campur kamu, Rin. Ini urusanku dan si brengsek itu!" Anjas hendak menyingkirkan Rina.


"Sadarlah, Anjas! Ini di depan makam adikmu ... apa kamu tidak malu padanya, hah?! Dia akan bersedih jika melihat dua kakak yang sangat disayanginya bertengkar seperti ini!" teriak Rina tepat di depan wajah Anjas, hingga membuat laki-laki itu mematung.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2