Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.36 Ego dan kenyataan


__ADS_3

"Katanya setengah jam lagi, kok sekarang udah bisa ke luar?" tanya Rina begitu dia sampai di depan Anjas.


"Heem, ternyata bisa selesai lebih cepat, jadi aku berinisiatif untuk menjemput kalian," jawab Arya sambil mengalihkan pandangannya pada Rina.


"Yee, berarti sekarang kita bisa jalan-jalan bertiga dong, Pah? Aku mau makan es krim!" seru Bintang dengan wajah cerianya.


"Bisa dong. Tapi, Papa ganti baju dulu ya," ujar Arya yang memang masih menggunakan jubah dokternya.


"Eum," angguk Bintang penuh semangat.


"Ayo, antar Papa ke ruangan," sambung Arya lagi sambil menurunkan Bintang kemudian menggandeng tangannya untuk berjalan bersama.


Bintang tampak berjalan dengan riang di antara Rina dan Arya. Ketiganya terus berjalan dengan keceriaan Bintang sebagai pelengkapnya.


Arya yang sempat melihat Anjas tampak memperhatikan wajah Rina, dia tahu kalau kejadian ini lambat laun bisa terjadi. Walau Rina terus menghindar dari Anjas, nyatanya hubungan darah antara Bintang dan Anjas tidak bisa mereka lupakan begitu saja.


Arya memang menyukai Rina, dia bahkan menyukainya sejak masa koas dulu. Seorang gadis periang dan rajin yang sering Arya lihat sedang membantu pekerjaan kedua orang tuanya di ladang, tanpa sadar telah merebut perhatiannya, hingga mendapatkan tempat spesial di dalam hatinya.


Namun, dia harus rela pergi tanpa mengatakan apa pun pada Rina, karena masa tugasnya sudah selesai. Kesibukan di kota membuatnya terus tertahan untuk kembali ke kampung, hingga di saat dirinya ingin kembali dan menyaskan perasaannya pada Rina, dia mendapatkan kabar kalau Rina telah menikah dengan seorang laki-laki.


Hatinya sangat sakit waktu itu, Arya merasa gagal untuk menjadikan Rina sebagai miliknya, dia sempat terpuruk karena cinta yang terlambat diungkapkan.


Hingga tiba-tiba Tuhan mempertemukannya lagi secara tiba-tiba dengan Rina, di saat dia sudah mulai melupakannya. Bahagia yang dia rasakan tentu tidak berselang lama, karena dia tahu kalau Rina ternyata telah berbadan dua.


Walau begitu, Arya telah berdamai dengan rasa cintanya, dia memilih untuk menjadi teman bagi Rina. Hingga keduanya menjadi dekat, sebelum akhirnya kembali renggang setelah Anjas mengetahui hubungan mereka.


Beberapa waktu kembali kehilangan kontak, ternyata takdir mempertemukan mereka lagi, saat Rina hendak melahirkan, dan membuat hubungan keduanya berjalan baik sampai dengan sekarang.


Mereka sampai di ruangan Arya, Rina memilih untuk menunggu di luar, sedangkan Bintang dan Arya masuk ke dalam.


.


Anak siapa itu? Apakah itu adalah anak yang dulu ada di dalam kandungan Rina? batin Anjas penuh tanya.


Anjas yang sedang memperhatikan Rina dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya, tampak dihampiri oleh seorang wanita cantik yang kemudian merangkul tangannya.

__ADS_1


"Ada apa, Mas?" tanya Tari, sambil melihat ke arah pandangan mata Anjas.


Anjas menoleh pada sang istri, dia kemudian menghela napas lelah sambil melihat wajah Tari yang ada di sampingnya.


"Gak apa-apa. Kamu sudah ke toiletnya?" tanya Anjas.


"Sudah, yuk kita pulang," ajak Tari sambil menggandeng tangan Anjas dengan manja.


Anjas mengangguk, mereka pun ke luar dari rumah sakit itu bersama-sama, dengan pikiran Anjas yang masih tertuju pada anak itu dan juga Rina.


Sikap Rina yang seolah tidak mengenalnya, ditambah dengan anak kecil yang tadi memanggil Rina dengan sebutan Mama.


Apa anak itu adalah anak yang dulu dikandung oleh Rina? Hem, sepertinya dia sekarang sudah tumbuh besar, batin Anjas terus bertanya tentang sesuatu yang sama berulang kali sambil berjalan mengiringi Tari.


Apa hubungan Rina dan Arya? Kenapa mereka masih saja bersama? Kenapa anak itu juga memanggilnya Papa? Apa mereka sudah menikah? Apa anak itu memang Anak Arya, dan mereka berdua dulu ingin menjebakku?


Berbagai pertanyaan kini terus berputar di dalam kepala Anjas, pertemuan yang terjadi secara tiba-tiba itu, tidak bisa mengabaikannya sedikit pun.


Masa lalu yang sudah susah payah dia lupakan, kini mulai datang lagi, membuatnya kembali larut dalam lembah kenangan yang sudah terjadi beetahun-tahun lamanya.


Rasa mengganjal di dalam dada, saat dirinya melihat kedekatan anak laki-laki itu dan Rina dengan Arya, membuatnya tidak bisa melupakan pertemuan dadakan mereka.


.


Kali ini Bintang ingin bermain di time zone yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, sebelum makan es krim kesukaannya. Tentu saja, semua itu langsung disetujui oleh Arya yang memang begitu memanjakannya.


Arya memang sudah menganggap Bintang sebagai anaknya sendiri, kedekatan mereka berdua bahkan kini melebihi kedekatan anak dan ayah kandungnya.


"Tadi kamu bertemu dengan Anjas?" tanya Arya, ketika mereka tengah menemani Bintang bermain.


Rina tampak melihat Arya sekilas, dia kemudian mengangguk samar sebagai jawaban.


Arya tersenyum, dia bisa melihat perubahan raut wajah Rina yang terlihat menjadi lebih murung dari biasanya.


"Bagaimana perasaan kamu?" tanya Arya dengan nada santai, walau dia tidak memungkiri, jika ada rasa takut di dalam hatinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, biasa saja," jawab Rina singkat, sambil bersidekap dada. Sepertinya Rina merasa tidak nyaman dengan pembahasan kali ini.


"Benarkah?" Arya tampak sedikit mencondongkan tubuhnya, demi melihat wajah cantik wanita di sampingnya itu.


"Heem," angguk Rina. "Memangnya kenapa, jika kita bertemu lagi? Sekarang kita sudah berjalan di jalan yang berbeda, jadi untuk apa aku meikirkannya?"


"Tapi, mata dan tubuhmu tidak terlihat begitu," ujar Arya masih mencoba membuat Rina berkata jujur tentang perasaannya.


Rina menatap wajah laki-laki yang sudah begitu banyak berjasa di dalam hidupnya, dia kemudian menghembuskan napas pelan sambil menundukkan kepala, sebelum berbicara kembali.


"Aku tidak apa-apa, sungguh. Hanya saja, aku bingung jika suatu hari nanti dia akan datang dan bertanya tentang Bintang," ujar Rina dengan suara lirih di kalimat terakhirya. Matanya tampak beralih melihat sang anak yang sedang asik bermain.


Arya pun ikut menghembuskan napas pelan, sebenarnya dia memang menantikan kejadian ini terjadi, mengingat Rina yang selama ini terus merasa tidak siap untuk menjalani hubungan baru.


Arya ingin tahu, apakah masih ada rasa cinta di dalam hati Rina untuk Anjas, hingga wanita itu tidak bisa membuka hati untuk laki-laki lain, termasuk dirinya sendiri? Atau mungkin itu hanyalah sebuah trauma atas nasib pernikahannya terdahulu?


Ya, dalam jangka waktu enam tahun ini, Arya sudah menyatakan perasaannya pada Rina berulang kali. Namun, nyatanya Rina selalu menolaknya dengan alasan belum siap.


"Masalah itu jangan terlalu dipikirkan, aku yakin Bintang adalah anak yang pintar, dia bisa memahami keadaan ini." Arya mengikuti arah pandangan Rina, pada Bintang.


Bila memang harus jujur, ada rasa tidak rela juga di dalam hati Arya, jika suatu hari nanti Bintang harus memanggil laki-laki lain Papa atau Ayah. Namun, Arya juga sadar diri, jika Bintang memang bukan anak kandungnya, dia harus bisa menekan rasa egoisnya dan bersikap dewasa, untuk masalah ini.


"Masalah Anjas ... itu sudah enam tahun berlalu, Rin. Aku yakin Anjas sudah memiliki kehidupannya sendiri, dan mungkin saja dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan Tari. Jadi jangan terlalu dipikirkan lagi, hem," sambung Arya yang mencoba menenangkan pikiran Rina.


Wanita itu tampak menatap Arya cukup lama, hingga akhirnya menghembuskan napas lelah dan mengangguk, menyetujui perkataan laki-laki di sampingnya.


Mungkin itu hanya sebuah ketakutannya saja, karena dirinya begitu menyayangi Bintang dan tidak mau kehilangannya.


Ada ego di dalam hatinya yang merasa tidak rela untuk mengenalkan Anjas sebagai ayah biologis Bintang. Mengingat selama ini Anjas tidak pernah mengakui Bintang sebagai anak kandungnya, bahkan hingga di akhir pertemuan mereka.


"Tidak akan terjadi apa-apa pada kalian, aku janji," ujar Arya sambil merangkul pundak Rina, memberikan ketenangan untuk wanita yang terlihat begitu tegar itu.


Rina tidak menolak, dia hanya mengangguk sambil kembali memerhatikan Bintang.


Ya tidak akan terjadi apa pun pada kami, Bintang adalah anakku dan akan tetap menjadi anakku. Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya, dan aku yang membesarkannya. Dia hanya ayah biologis, tidak lebih dari itu.

__ADS_1


...****************...


?


__ADS_2