
Anjas duduk terdiam di atas kursi tunggu rumah sakit dengan Syafira yang masih berada di dalam pangkuannya, pikirannya berkecamuk dengan berbagai prasangka yang berputar di dalam kepala.
Syafira sudah berhenti menangis, kini anak itu hanya duduk diam sambil menyandarkan kepalanya di dada sang ayah, mata keduanya terpaku menatap pintu ruang instalasi gawat darurat yang belum juga terbuka, setelah brankar yang membawa Tari masuk ke dalam.
"Anjas, sedang apa kamu di sini bersama Syafira?" Anjas dan Syafira langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar nama mereka dipanggil.
"Rina?" lirih Anjas dengan tatapan nanar pada wanita yang kini terlihat berdiri di depannya.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Rina yang masih melihat bingung laki-laki di depannya itu, wajahnya tampak khawatir saat melihat ada bercak darah di baju Anjas.
"Tari kecelakaan, Rin, dia sedang diperiksa di dalam," jawab Anjas lirih, sambil mengalihkan pandangannya kembali pada pintu yang masih tertutup di depannya.
"Astagfirullahaladzim," ujar Rina yang terkejut mendengar jawaban dari Anjas, dia mengikuti arah pandangan Anjas dan menerka jika Tari sedang berada di dalam sekarang.
"Kamu sudah memberitahu keluargamu?" tanya Rina perlahan, dia melihat penuh prihatin pada Anjas yang begitu begitu terpuruk juga wajah lelah Syafira.
"Belum." Anjas menggeleng lemah, dia lupa akan hal itu, sejak tadi pikirannya hanya tentang kondisi Tari.
Rina terdiam sebentar, dia kemudian menoleh pada Bintang yang sedang berdiri di sampingnya, dengan sorot mata Rina seolah sedang meminta izin untuk mengajak Syafira bersama mereka agar anak perempuan itu bisa sedikit terhibur.
"Syafira, mau ikut sama tante dan Bintang, kita beli es krim," bujuk Rina sambil berjongkok di hadapan Anjas dan Syafira.
"Tapi, aku mau lihat Mama," jawab Syafira lirih, anak perempuan itu tampak menundukkan kepala dengan hidung yang mulai berubah merah, bersiap untuk menangis kembali.
"Mama sedang di periksa dokter dulu biar sembuh, sekarang Syafira sama tante dulu biar Papa bisa menghubungi kakek dan nenek Syafira ya," ujar Rina lagi, berusaha merayu anak dari mantan suaminya itu.
"Iya kan, Bintang?" Rina menoleh pada Bintang yang sejak tadi hanya berdiri di sampingnya tanpa berbicara apa pun.
"Iya, Mah," angguk Bintang dengan suara yang canggung, anak laki-laki itu tidak terbiasa bermain dengan anak perempuan.
Mendengar nama Bintang Anjas yang sejak tadi seolah tidak menyadari keberadaan anak itu pun akhirnya melihatnya, dia tersenyum samar pada anak yang telah lama dia lupakan itu.
"Kamu juga ada di sini, Bintang?" tanyanya dengan bibir bergetar, ada rasa bersalah di dalam hatinya karena dulu dia meninggalkan Rina dan Bintang.
Namun, sepertinya Bintang tidak tertarik pada Anjas, dia hanya mengangguk sambil melihat sekilas pada Anjas kemudian beralih menatap Syafira.
"Ayo kita main ... di rumah sakit ini ada tempat bermain anak-anaknya lho. Aku yakin Mama kamu pasti sembuh, Papa aku juga seorang dokter, dia sering mengobati orang sampai sembuh," ujar Bintang dengan wajah ceria dan sorot mata bangga saat menceritakan Arya pada Syafira.
__ADS_1
Sakit terasa hati Anjas ketika mendengar ucapan Bintang tentang sosok ayah yang dia tahu itu pasti adalah Arya. Bintang terlihat begitu membanggakan Arya sebagai ayahnya. Sedangkan dirinya yang merupakan ayah kandungnya, malah tidak pernah mengenal anaknya sendiri, hingga kini Bintang tidak tahu jika ada hubungan darah di antara mereka.
Aku ayah kandungmu, Bintang. Ingin rasanya dia berkata begitu, tetapi dia sadar diri, jika dirinya memang tidak pernah ada bagi anak laki-lakinya itu.
"Kalau begitu Papa kamu bisa sembuhin Mama aku?" tanya Syafira polos mata bulat nan bening itu terlihat bersedia cepat.
Rina tersenyum, Bintang sepertinya mau bekerja sama dengannya agar Syafira bisa ikut dengan mereka terlebih dahulu.
"Jadi, Syafira mau ikut sama tante dan Bintang?" Rina tidak menjawab pertanyaan Syafira, dia juga menyela perkataan Bintang, karena Arya adalah dokter anak.
"Nanti Papa kabarin tante kalau Mama sudah ke luar, jadi kita bisa langsung kembali," sambung Rina lagi.
Setelah beberapa saat terdiam Syafira akhirnya mau ikut bersama dengan Rina dan Bintang.
"Kabari dulu keluargamu dan ganti baju, ada bercak darah dibajumu," pesan Rina sebelum meninggalkan Anjas.
Laki-laki itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Matanya menatap nanar kepergian Rina dan kedua anaknya yang perlahan menjauh dari pandangan.
Beberapa saat kemudian Rina pun sampai di resto yang berada di depan rumah sakit, dia baru tahu jika Syafira bahkan belum makan siang, sedangkan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.
Ketiganya tampak duduk bersama, Bintang yang merasa kasihan pada Syafira pun terus berbicara dan berusaha menghibur anak perempuan yang lebih kecil satu tahun darinya.
Ya, tadi setelah mereka makan siang, Arya harus mampir ke rumah sakit itu untuk menemui rekan dokternya. Rina yang awalanya hanya ingin menunggu di mobil, akhirnya ke luar saat Bintang merengek ingin ke luar dan mencari tempat bermain.
Tidak disangka mereka malah bertemu dengan Ajas dan Syafira, yang membuat ibu dan anak itu kini tengah berusaha menghibur anak kecil yang tampak mengalami sedikit goncangan akibat kecelakaan yang menimpa ibunya.
"Aku lihat Mama berdarah," ujar Syafira tiba-tiba, hingga membuat Rina menolehkan pandangannya pada anak perempuan itu.
Rina tersenyum lembut sambil mengusap pelan puncak kepala Syafira.
"Mama adalah wanita yang kuat, tante yakin Mama akan baik-baik saja dan bisa bermain lagi sama Syafira," ujar Rina berusaha menenangkan anak perempuan itu.
Setelah menyuapi Syafira makan dan bermain sebentar Rina akhirnya kembali ke rumah sakit setelah mendengar jika Tari sudah dipindahkan ke ruang rawat.
Dia menggenggan tangan Syafira dan Bintang di kedua tangannya, mereka berjalan bersamaan dengan posisi Rina berada di tengah. Sikap Rina yang lembut dan Bintang ramah membuat Syafira mudah merasa nyaman dengan kedua orang itu.
Rina tersenyum, melihat Syafira yang kembali lagi ceria kini mereka bahkan tampak berjalan di koridor rumah sakit dengan kedua anak itu yang berjalan bersama sambil diselingi canda tawa khas anak kecil di depan Rina.
__ADS_1
"Oma, Opa!" Syafira tampak berteriak saat melihat sudah ada kakek dan neneknya yang tampak berdiri di depan ruangan. Anak perempuan itu pun berlari menghampiri kedua orang tua Tari.
Namun, keceriaan Syafira ternyata tidak menular pada ayahnya Tari, dia tampak berjalan cepat menghampiri Rina dengan wajah yang terlihat memerah.
Rina menghentikan langkahnya dengan raut wajah bingung, Bintang yang tadinya berjalan bersama dengan Syafira pun berbalik kemudian menggenggam tangan Rina.
Plak!
Suara nyaring itu terdengar hingga membuat Bintang dan syafira menutup matanya dengan begitu erat.
"Mama!" Bintang melihat panik dan khawatir wajah Rina yang sampai menoleh ke samping dan berubah warna menjadi kemerahan.
"Jadi ini wanita penggoda yang mau menghancurkan rumah tangga anakku? Mau apa kamu ke sini, hah? Apa kami mau menertawakan anakku karena sekarang dia tidak berdaya?!" sentak laki-laki berusia sekitar enam puluh tahunan itu.
Rina terdiam dia masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi pada dirinya, rasa panas bercampur perih pun menjalar di pipi bagian kirinya.
"Jangan sentuh Mama aku, dasar kakek tua jahat!" Bintang yang tidak suka melihat ibunya di pukul oleh orang tidak dikenal kini terlihat memukul kaki ayah Tari dan berusaha menyingkirkannya dari hadapan mereka.
Ayahnya Tari tampak menundukkan pandangannya melihat Bintang dengan wajah kesal bercampur marah.
Rina yang merasa takut, langsung memeluk Bintang dan menghentikan aksi sang anak.
"Dasar wanita murahan! Aku dengar kamu sampai memiliki anak dari menantuku, hah? Apa ini anaknya? Dia adalah anak haram kalian, makanya kelakuannya pun tidak sopan seperti ini?" tanya ayah Tari dengan tatapan remeh pada Rina dan Bintang.
"Jaga ucapanmu, Pak!" Rina yang tidak terima anaknya dihina terlihat melawan, dia menatap tajam laki-laki yang jauh lebih tua darinya, di saat seperti ini sopan santun sudah tidak diperlukan lagi.
"Dia bukan anak haram, dia adalah anakku!" sambung Rina lagi sambil memeluk Bintang yang tampak ketakutan.
"Sebaiknya Anda jaga baik-baik ucapan Anda, apa lagi di depan anak-anak seperti mereka, jangan malah mengumbar emosi dan menuduh tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya!"
"Sebaiknya tanyakan dulu pada anak dan menantu Anda, sebelum menuduh saya agar Anda tidak mempermalukan diri Anda sendiri." Rina berbicara tegas tanpa rasa takut juga dengan tatapan tajamnya.
"Saya sudah mengantarkan cucu Anda dengan selamat. Permisi!" sambung Rina lagi, kemudian menggenggam tangan Bintang lalu berbalik dan berjalan pergi dari tempat itu.
Langkah Rina sempat terhenti beberapa detik saat melihat ternyata ada kedua orang tua Anjas yang ikut menyaksikan perdebatannya dengan laki-laki tua itu, sepertinya mereka baru saja datang dan tanpa sengaja menyaksikan adegan itu.
Rina sempat melirik mereka berdua sekilas sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Bintang, tanpa menyapa dia melangkah begitu saja melewati kedua mantan mertua yang bahkan tidak sempat dirinya kenal.
__ADS_1
...****************...