Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.23 Dokter Arya


__ADS_3

Hari terus berganti Rina menjalani kehidupannya dengan sebaik mungkin, berusaha menerima nasib sebagai istri yang tidak pernah dianggap oleh suaminya.


Seperti sebelumnya, Anjas hanya akan datang dan pergi sesuka hatinya, dia akan menemui Rina disaat Tari sedang bertugas, dan kembali menghilang tanpa kabar jika Tari ada di rumah.


Rumahtangga mereka tak ubahnya seperti dua orang yang sedang melakukan perselingkuhan di belakang istri sah.


Seperti saat ini, Anjas yang sedang menemani Rina berbelanja bulanan di salah satu pusat perbelanjaan, tiba-tiba dikejutkan oleh telepon dari Hilman yang mengabari kalau Tari sudah ada di kantor dan sedang mencarinya.


Laki-laki itu panik, Anjas langsung bergegas pergi dan meninggalkan Rina di sana, dengan setumpuk belanjaan di troli.


Rina hanya menghembuskan napas kasar, melihat suaminya berlalu, meninggalkannya di antrian kasir.


Bukan cuman sekali ini terjadi, tiba-tiba Tari pulang tanpa kabar dan membuat Anjas meninggalkannya di situasi yang cukup sulit.


Jika beberapa waktu lalu Rina akan sedih dan meratap jika melihat Anjas pergi meninggalkannya, kini Rina sudah cukup tegar untuk tidak menampakkan kesedihan di wajahnya, walau hatinya tetap saja terasa sakit.


Setelah membayar, Rina berjalan ke luar dengan mendorong troli berisi semua barang belanjaannya, sambil sibuk untuk memesan taksi online agar dia tidak terlalu lama menunggu di lobi.


Hingga tiba-tiba troli yang dirinya dorong menabrak seseorang, karena Rina yang tidak fokus.


"Ahk, maaf - Maaf, aku tidak sengaja," ujar Rina sambil menghampiri seseorang yang dirinya tabrak.


"Maaf, Tuan, apa ada yang terluka?" tanya Rina dengan raut wajah khawatir.


Laki-laki yang sedang menunduk itu mengalihkan pandangannya pada Rina, dia tampak memperhatikan Rina untuk sesaat sebelum akhirnya menggelengkan kepala samar.


"Aku tidak apa-apa, lain kali perhatikan jalan, berbahaya jika sampai kamu yang terluka," jawab laki-laki itu yang mungkin menyadari kalau Rina tengah mengandung.


"Iya, tadi saya lengah. Sekali lagi maafkan saya," ujar Rina yang langsung diangguki oleh laki-laki tersebut.


Setelah itu, Rina langsung pamit pergi karena taksi online yang dia pesan sudah menunggu di lobi. Pertemuan itu pun berlalu begitu saja, tanpa ada sisa kenangan di dalamnya.


Hingga, beberapa hari kemudian Rina harus memeriksakan diri ke rumah sakit untuk melengkapi pemeriksaan kehamilannya.


Tanpa sengaja Rina kembali bertemu dengan laki-laki itu, yang ternyata salah satu dokter yang bekerja di sana. Pertemuan kedua ini cukup membuat Rina nyaman, dengan sikap ramah laki-laki itu.

__ADS_1


Arya, itulah namanya, salah satu dokter spesialis anak yang ada di rumah sakit itu, sikapnya yang ramah dan murah senyum membuat Rina senang berbicara dengannya, ditambah kesukaan mereka yang sama terhadap anak-anak, seolah tidak pernah membuat keduanya kehabisan kata untuk berbincang.


"Sepertinya aku harus pulang sekarang, terima kasih sudah mau menemani aku ngobrol," ujar Rina setelah hari beranjak sore.


Ini adalah pertemuan yang ke tiga kalinya semenjak di pusat perbelanjaan. Kini secara kebetulan mereka berada di kafe yang sama.


"Biar aku antar, sepertinya sebentar lagi hujan," ujar Arya, melihat ke langit yang sudah diliputi awan kelabu.


"Tidak usah, aku akan pesan taksi online saja," tolak Rina sambil mengambil ponselnya di dalam tas.


"Jangan menolak, sebagai dokter aku hanya sedang menjalankan tugas untuk menjaga salah satu pasien di rumah sakit kami," ujar Arya dengan senyum manisnya.


Rina tertawa, dia jelas tahu kalau dirinya bukanlah pasien Arya dan buka tugas laki-laki itu juga untuk menjaganya.


"Heem, baiklah, jika tidak merepotkan Anda, Tuan Dokter," balas Rina dengan sisa kekehan mengiringinya.


"Tentu tidak, Nyonya, justru saya sangat senang bisa mengantar Anda," ujar Arya sambil memomosikan dirinya seperti seorang raja di negri dongeng yang tengah mempersilahkan ratunya..


Rina kembali tertawa, entah kenapa dalam waktu singkat dirinya begitu akrab dengan laki-laki yang katanya pernah melakukan magang di puskesmas kampungnya itu.


Keduanya pun tertawa sambil berjalan menuju mobil milik Arya, laki-laki itu membuka pintu untuk Rina yang disambut baik oleh wanita yang tengah mengandung itu.


Ya, siapa lagi kalau bukan Anjas, dia yang baru saja datang bersama dengan Tari, merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat Rina tertawa bersama laki-laki lain dan sayangnya, laki-laki itu adalah seseorang yang sangat dia kenal beberapa tahun lalu.


"Mereka sepertinya pasangan yang sangat bahagia ya, Mas," ujar Tari yang juga memperhatikan Rina dan Arya.


Anjas tidak menjawab, dia hanya terus melihat penuh amarah pada Rina dan Arya, hingga akhirnya mobil mereka melaju dan melewati mereka begitu saja. Tampak sekali di dalam sana Rina masih saja tertawa bersama dengan Arya.


Dasar wanita murahan! Ternyata begini kelakuan kamu dibelakangku, hah? Awas saja nanti kamu ya, Rin.


Anjas mengumpat Rina di dalam hati. Entah mengapa ada yang terasa panas, seperti sedang terbakar di dalam dada, melihat pemandangan yang seharusnya membuat dirinya senang itu.


Ya, seharusnya dia senang karena sudah melihat perilaku Rina yang bisa menjadi alasan untuknya mengucap kata talak, dan semakin meyakinkan hatinya jika anak yang dikandung Rina bisa jadi bukanlah anaknya.


Namun, nyatanya itu semua berbeda, kini Anjas malah merasa marah, dia tidak terima Rina dekat dengan laki-laki lain, selain dirinya dan Hilman, yang notabene adalah sahabat kepercayaannya.

__ADS_1


.


Rina baru saja bersiap tidur, saat tiba-tiba bel pintunya terdengar berbunyi, Rina terbangun dengan decakkan lirih di bibirnya, dia seolah sudah tahu siapa yang sering datang di tengah malam begini.


Berjalan menuju ke pintu depan sambil menyalakan lampu, kemudian membuka pintu. Benar saja, di sana sudah terlihat Anjas berdiri dengan tatapan tajam yang langsung menyorot dirinya.


Rina mengerutkan kening, melihat sikap Anjas yang berbeda, setelah dua minggu ini laki-laki itu kembali menghilang, katanya karena sedang menjalani program kehamilan bersama dengan Tari, setelah mendapatkan izin dari maskapai tempatnya bekerja.


"Mas," sapa Rina kemudian. Mencium punggung tangan Anjas.


Anjas tidak menjawab, dia hanya berjalan masuk ke dalam tanpa berbicara apa pun pada Rina, kemudian duduk di ruang tengah.


Rina seperti kembali ke saat Anjas datang tengah malam karena dirinya yang menghabiskan uang di kartu yang diberikan Anjas padanya, beberapa waktu lalu.


Ada apa lagi sekarang? batin Rina menghembuskan napasnaya pelan, bersiap menerima kemarahan Anjas.


"Duduk!"


Ah, lagi-lagi kejadiannya sama seperti sebelumnya, bahkan nada suara rendah yang diselimuti hawa dingin pun masih terasa sama.


Rina duduk di samping Anjas, dia memosisikan dirinya sama seperti dulu. Diam, hanya itu yang sekarang Rina lakukan. Menunggu masalah apa yang sekarang dibawa oleh suaminya.


"Ke mana saja kamu tadi siang?" desis Anjas, dengan tatapan tajam yang terasa begitu menyeramkan bagi Rina.


"Aku hanya pergi ke kafe setelah selesai kursus memasak," jawab Rina sejujurnya.


Sejak sebulan lalu, Rina aktif dalam kursus memasak dan kursus keahlian di dapur lainnya, seperti seni mengukir buah dan sayur, sebagai pelengkapnya.


Anjas pun mengetahui semua kegiatannya, karena sebelum memutuskan untuk menjalani kegiatan itu Rina memang meminta izin dulu pada suaminya.


"Dengan siapa?" tanya Anjas lagi.


"Sendiri," jawab Rina, tidak berbohong.


Rina memang pergi sendiri, dan bertemu dengan Arya di kafe setelah dia pun lama berada di sana.

__ADS_1


"Jangan berbohong kamu, Rin!" Anjas meninggikan suaranya, dia pun menoleh menatap Rina dengan sorot wajah penuh amarah.


...****************...


__ADS_2