
Seminggu berlalu tanpa Rina sadari, setelah pertengkarannya dengan Anjas malam itu. Sampai saat ini Anjas belum menghubunginya sama sekali, suaminya itu telah menghilang bak ditelan bumi.
Ah, bukannya itu sudah biasa? Sepertinya menghilang itu memang kebiasaan Anjas sejak menikah dengan Rina.
Selama seminggu ini pula, Rina sibuk untuk menyiapkan kepergiannya, terutama menyiapkan mental untuk memberitahu kedua orangtuanya tentang hubungan dirinya dan Anjas selama ini.
Dari semua persiapan yang dia lakukan, itulah yang membuatnya terus mengulur waktu. Berkata jujur pada Bapak dan Ibu adalah suatu hal yang begitu berat untuknya.
Rina merasa tidak akan pernah sanggup melihat kekecewaan dari raut wajah kedua paruh baya yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Senja yang terlihat sangat indah dengan warna merah keemasan, memberi hangat seolah sebuah pelukan, Rina terdiam di salah satu sudut kafe yang berada di ketinggian lantai lima gedung.
Semenjak dia memutuskan untuk membebaskan diri dari rasa kecewa, ini telah menjadi tempat favoritnya saat menikmati kopi dengan camilan manis sebagai pelengkapnya.
Pemandangan yang indah saat dia melihat di siang ataupun malam hari, membuatnya tidak pernah bosan berada di tempat itu.
"Sendirian aja, suamimu ke mana? Pergi lagi?"
Suara dari seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk di depan Rina kini mengalihkan perhatian wanita hamil itu dari indahnya senja.
Dia kemudian tersenyum tipis sambil kembali meminum es kopi yang menjadi menu pilihannya kali ini.
"Heem, biasa LDR lagi," jawab Rina mengagguk.
Ya, hanya itu yang bisa Rina katakan sebagai alasan pada Arya selama ini, karena dirinya tidak pernah ditemani suami saat memeriksakan kandungannya.
LDR, atau hubungan jarak jauh, nama itu memang pantas di sematkan untuk rumahtangganya dan Anjas, bukan? walau kenyataannya, mereka tinggal di satu kota. Akan tetapi, hati mereka seolah terhalang lautan samudra. Sangat jauh, hingga sulit untuk bertemu.
"Ck, kasihan sekali ibu hamil kita satu ini," gurau Arya sambil menggeleng miris.
Rina memicingkan matanya, sambil berdecak pelan. Ini pertemuan mereka yang kebetulan kembali, setelah satu minggu lalu.
"Ck! Setidaknya aku sudah punya suami, tidak seperti laki-laki di depannku yang masih mengharapkan gadis impiannya." balas Rina sambil terkekeh pelan.
"Ish, aku ini laki-laki setia, makanya aku belum bisa move on dari bidadari cantiku," jawab Arya tidak mau kalah.
Arya bercerita kalau dirinya belum bisa melupakan cinta masa lalunya yang belum sempat terucap karena suatu alasan. Namun, rasa itu harus kandas karena wanita yang dia cintai ternyata sudah menikah, saat dia kembali.
__ADS_1
"Hem, iya deh yang paling setia se jagat raya." Rina tertawa saat melihat wajah Arya yang tampak menatapnya dengan malas.
"Kamu gak ada praktek?" tanya Rina.
"Ada, sejam lagi. Jadi aku memilih untuk menemani ibu hamil yang sedang kesepian ini lebih dulu," jawab Arya dengan sedikit godaan dalam perkataannya.
"Ish, siapa bilang aku kesepian?" Rina tidak terima, dia mengerucutkan bibirnya, seiring dengan kekehan kecil dari Arya.
"Hanya ada dua jenis orang yang duduk sendiri di dalam kafe. Pertama, dia adalah seorang introvert yang anti sosial. Dan, ke dua adalah orang kesepian," ujar Arya, masih senang menggoda Rina.
"Cih, gak ada ya. Aku hanya sedang mau sendiri, tapi bukan berarti aku kesepian atau orang introvert."
Rina mengalihkan pandangannya mengedar melihat seisi kafe yang memang selalu tampak ramai itu, hampir semua meja di sana memang terisi lebih dari satu orang. Tampaknya dia memang satu-satunya yang duduk sendiri sebelum kedatangan Arya.
Pandangannya tiba-tiba bertabrakan dengan mata tajam seseorang yang kini sedang duduk dengan beberapa orang lainnya tidak jauh dari tempatnya. Entah kapan mereka datang, bahkan dirinya saja tidak pernah tahu.
Ya, itu adalah Anjas dengan wanita di sampingnya yang dia tahu adalah Tari, kemudian Hilman dan satu orang wanita lagi yang dia tidak tahu siapa itu.
Rina mengernyitkan keningnya seolah sedang memperjelas pandangannya, dia tidak mau salah mengenali orang. Sedangkan Anjas telah menyorot Rina dengan tatapan tajamnya.
"Hei, Rina." Arya yang melihat Rina kembali terdiam, melambaikan tangannya di depan wajah wanita hamil itu.
"Kenapa? Kamu lagi liatin apa?" tanya Arya sambil mengikuti arah Rina melihat sejak tadi.
Laki-laki itu terlihat terkejut saat melihat keberadaan Anjas dan Hilman di tempat yang sama. Tatapan keduanya bahkan sempat bertabrakan walau Arya langsung mengalihkan pandangannya.
"Eh, udah mau magrib nih, aku antar kamu pulang, ya," ujar Arya tiba-tiba sambil melihat jam yang melingkar di tangannya, padahal kopinya pun masih tinggal setengah.
"Tapi, kopi kamu masih banyak." Rina melihat kopi di cangkir milik Arya.
"Gak apa, aku sudah tidak selera," ujar Arya sambil beranjak berdiri.
Rina yang juga merasa tidak nyaman akhirnya menyetujui keinginan Arya, dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Anjas yang seolah sedang mengawasinya sejak tadi.
Sedangkan Anjas yang tengah duduk bersama dengan Tari, Hilman, dan Dini–adik Tari yang sudah lama menyukai Hilman. Tampak tidak fokus pada obrolan mereka hingga membuat Tari mengalihkan perhatiannya pada suaminya itu.
"Kamu lagi liatin apa sih, Mas?" tanya Tari, dia melihat Arya dan Rina yang baru saja berdiri kemudian berjalan beriringan.
__ADS_1
"Eh, itu kan pasangan yang pernah kita lihat di kafe, seminggu lalu," ujar Tari yang membuat Hilman dan Dini ikut menolehkan kepalanya.
Hilman melebarkan matanya saat melihat Rina berjalan bersama dengan Arya, ditambah mereka juga terlihat sangat akrab. Dia kemudian melirik pada Anjas yang terlihat sedang menahan amarahnya sekuat tenaga karena keberadaan Tari di sana.
Ya Ampun, apa lagi ini? Kenapa mereka bisa akrab seperti itu? batin Hilman menatap waspada pada Anjas dan Rina bergantian.
"Eum, sayang, aku ke toilet dulu ya," ujar Anjas tiba-tiba saat melihat Rina dan Arya sudah ke luar dari area kafe.
"Heuh?" Tari yang bahkan belum sempat menjawab pertanyaan Anjas dibuat terkejut oleh sikap Anjas yang tiba-tiba pergi begitu saja.
Anjas berjalan cepat untuk menyusul Rina, dia kemudian menarik kasar tangan wanita yang tengah berjalan santai dengan Arya itu, tanpa menyadari keberadaannya. Rina hampir saja jatuh, jika tangan Arya tidak menahan tubuhnya.
"Apa-apaan ini?" tanya Arya dengan tatapan tajam pada Anjas.
"Aku gak ada urusan dengan kamu, jangan ikut campur dengan usrusanku!" peringat Anjas dengan tangan yang masih setia menarik tangan Rina, hingga wanita itu berdesis menahan rasa sakit.
"Lepaskan dia, jangan semena-mena terhadap perempuan, saya bisa melaporkan kamu sebagai tidak penyerangan di tempat umum kalau seperti ini,?" Arya hendak menarik kembali Rina dari Anjas.
Namun, Anjas lebih dulu menahan Rina agar tetap berada di sisinya. Arya hendak kembali mendebat Anjas saat tiba-tiba Rina menghentikannya.
"Udah gak apa-apa, dia suami aku," ujar Rina melerai keduanya.
Arya langsung melebarkan matanya, dia tahu kalau Anjas sudah menikah, akan tetapi, itu bukan Rina. Dia mengetahui itu karena kedua orangtuanya juga diundang di dalam acara itu.
"Dia suami kamu, Rin?" tanya Arya tidak percaya.
Rina mengangguk sebagai jawaban. Anjas tampak tersenyum miring saat melihat pengakuan Rina pada Arya, dia merasa menang sekarang.
"Ayo, ikut aku!" ujar Anjas yang langsung menyeret Rina untuk berjalan menjauh dari Arya.
Arya menatap curiga pada Anjas, dia tampak tidak rela membiarkan Rina pergi bersama dengan Anjas, walau Rina terus meyakinkannya kalau dirinya baik-baik saja dengan sorot matanya.
Anjas berjalan menjauh dari sana, hingga sampai di tempat yang terlihat sepi, sedangkan Arya hanya bisa menghembuskan napas kasar dan pergi dari gedung itu, karena sebentar lagi waktu magrib sudah tiba.
"Ternyata kamu masih bertemu dengan laki-laki brengsek itu, heh?!" Anjas menghempaskan tangan Rina hingga wanita itu terhuyung dan hampir saja menabrak dinding di depannya.
Rina menoleh, dia menatap wajah Anjas dengan mata memerah. Setelah beberapa hari ini menghilang, kini suaminya itu kembali mendatanginya dengan amarah yang tinggi.
__ADS_1
...****************...