
"Dan, anak yang bersamanya itu ... apa kamu tidak merasa kalau dia itu mirip denganmu? Apa jangan-jangan anak itu adalah anak kamu yang dulu ada di dalam kandungan Rina?"
Hilman mengingat wajah anak laki-laki yang terus bersama dengan Rina. Keseluruhan wajah Bintang memang lebih mirip dengan Rina. Namun, jika dilihat lebih dekat lagi, mata dan bibir Bintang lebih mirip dengan Anjas.
Mendengar itu, Anjas yang tadinya bersikap acuh langsung menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan perhatiannya pada Hilman. Keningnya tampak berkerut dalam dengan wajah terlihat sedikit bingung.
"Apa maksudmu, Man?" tanya Anjas, seolah dia belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Apa kamu tidak melihat kalau anak itu mirip denganmu?" tanya Hilman, sambil menggeleng kepala samar.
Anjas terdiam, sepertinya laki-laki itu kini mulai mengingat wajah Bintang yang baru saja bertemu dua kali dengannya, selama ini dia tidak terlalu memperhatikan anak itu, walau selalu ada yang berbeda di dalam hatinya saat dia melihatnya.
"Aku tidak yakin," gumam Anjas lirih, walau nyatanya pikiran laki-laki itu masih tetap mengarah pada Rina dan Bintang.
Hilman tampak menatap wajah Anjas dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan, hingga akhirnya dia berdecak kesal pada sahabatnya itu dan pergi ke luar begitu saja dari ruangan Anjas.
Setelah pintu tertutup, Anjas tampak menghembuskan napas kasar, pikirannya kembali pada saat seminggu lalu dirinya, Tari, dan Safira, datang ke rumah orang tuanya untuk menghadiri ulang tahun pernikahan yang ke empat puluh tahun.
Mereka selalu menuntut seorang cucu laki-laki darinya, mengingat dia adalah anak satu-satunya mereka. Nyatanya, kehadiran Safira di tengah-tengah keluarganya tidak dapat memusakan keinginan kedua orang tuanya itu.
"Dia itu bukan darah daging kamu, Jas. Lagipula dia adalah perempuan, mana bisa dia mewarisi perusahaan kamu nanti."
Itulah perkataan yang terucap dari mulut sang ayah saat mereka berbicara berdua di dalam ruang kerja sang ayah. Walau Tari adalah menantu kesayangan dari kedua orang tuanya, akan tetapi, kekurangan Tari yang belum juga dapat memberikan keturunan untuk Anjas, nyatanya membuat mereka terus menekan Anjas.
Ya, Safira adalah bayi yang Tari adopsi, atas saran dari kedua orang tuanya, untuk memancing agar Tari bisa hamil. Namun, nyatanya setelah empat tahun lebih mereka mengadopsi Safira, Tari tidak kunjung dapat mengandung.
Berbagai pengobatan dan program hamil sudah Tari dan Anjas coba, bahkan mereka pernah pergi ke luar negeri. Namun, nyatanya semuanya tidak membuahkan hasil.
"Apa benar anak itu adalah anakku?" gumam Anjas, dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
Anjas memang sangat mencintai Tari, bahkan sampai sekarang pun dia masih mencintainya. Itu sebabnya dia selalu menolak penawaran untuk menikah lagi dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Namun, Anjas juga laki-laki biasa, yang menginginkan seorang anak dari darah dagingnya sendiri. Benar kata kedua orang tuanya, dirinya memiliki perusahaan dan itu membutuhkan seorang penerus.
.
Tidak ada yang sempurna, itulah yang mungkin terjadi di dalam kehidupan seorang Tari, wajah cantik dengan bentuk tubuh bagus, dan sifat yang mudah bergaul, hingga banyak mendapat pujian dari orang-orang, nyatanya juga memiliki kekurangan.
Keluarga bahagia yang terlihat di luar, nyatanya hanya sebuah topeng yang selalu dia pasang, untuk menutupi luka hatinya. Tari, bukan tak tahu kalau selama ini mertuanya menekan sang suami untuk menikah lagi, di juga tahu kalau pernikahannya masih dikendalikan oleh keluarga besarnya.
Ya, di belakang Tari, Anjas menerima ancaman dari kedua orang tuanya, untuk tidak meninggalkan dirinya. Jika tidak maka semua investasi di perusahaan Anjas, akan mereka tarik kembali.
Semua permasalahan ini, membuat Tari tidak tahu apakah saat ini Anjas masih mencintainya, atau hanya sekedar menjalankan rumah tangga karena tekanan kedua orang tuanya. Apa lagi semakin hari, sikap Anjas mulai terasa berbeda. Laki-laki itu, semakin dingin hingga dirinya merasa ragu.
Seperti sekarang ini, Tari yang baru saja sampai di kantor Anjas, lagi-lagi mendengar percakapan dari suami dan sahabatnya tentang perempuan lain. Kejadian yang telah lama berlalu, sejak beberapa tahun lalu terulang kembali, takut akan ketahuan kembali, kini Tari memilih ke luar dari kantor dan duduk di dalam mobil untuk menenangkan hatinya.
"Apakah Rina adalah wanita yang dulu pernah menjalin hubungan dengan Mas Anjas?" gumam Tari, sambil mencoba menahan sakit di dalam hatinya.
"Sebenarnya sejauh mana mereka berhubungan? Kenapa Hilman bisa mencurigai kalau anak itu adalah anak Mas Anjas?" sambungnya lagi.
Hatinya masih saja terasa panas dan begitu sakit, mendengar ada wanita lain yang disebut oleh suaminya. Apa lagi, kini dirinya bukanlah wanita yang sempurna. Tari sadar, jika di dalam sebuah rumah tangga, anak adalah bagian penting yang harus ada.
"Bagaimana jika memang benar kalau anak itu adalah anak dari Mas Anjas? Dan, ternyata Rina masih mencintai Mas Anjas? Bukannya sampai sekarang dia belum menikah?" gumam Tari dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
Rasa gelisah yang muncul karena takut kehilangan, membuat pikirannya tidak tenang. Bayangan wajah Rina yang tampak tidak asing pun kini menjadi perhatian, hingga kilas balik ingatannya pada beberapa moment di masa lalu pun akhirnya berputar bak film.
Tari mengingat, jika disaat awal pernikahannya dengan Anjas, dia sempat beberapa kali melihat Rina di sana, bahkan terakhir kali, dia melihat jelas Anjas berbicara dengan Rina di saat wanita itu tengah hamil.
"Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku bisa tidak tahu kalau ternyata mereka memiliki hubungan di belakangku?!" Tari memukul stir mobilnya dengan air mata berurai, rasa kecewa pada suami dan sahabatnya kini mulai membuatnya terpuruk.
Untuk beberapa saat Tari tetap diam di dalam mobil, hingga setelah dia merasa lebih tenang, Tari mencoba menghubungi Anjas melalui ponsel.
"Mas, ada berkas yang tertinggal di rumah, aku menyuruh sopir untuk mengantarkannya ke kantor, dan sekarang sudah sampai," ujarnya, mencari alibi, sambil memberikan berkas itu pada salah satu satpam di sana.
__ADS_1
Tari memang berniat untuk memberikan berkas yang tertinggal. Namun, ternyata dirinya malah mendapatkan suatu kejutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Heem, katanya sudah dia titipan di satpam depan," ujarnya lagi, kemudian tak lama langsung menutup sambungan telepon keduanya.
.
Sementara itu di tempat lain, Rina yang baru saja ke luar dari kamar sang anak setelah menemani Bintang tidur, tampak menghampiri Heni di ruang tengah.
"Belum tidur, Hen?" tanyanya, sambil duduk di samping sahabatnya itu.
Heni yang masih asik menonton televisi, menoleh sambil tersenyum.
"Belum ngantuk, Rin. Kamu sendiri belum tidur?" ujarnya sambil kembali mengalihkan pandangan pada televisi pintar di depannya.
"Belum," jawab Rina singkat, sambil mengambil air minum milik Heni lalu menenggaknya.
Ingat dengan sesuatu yang ingin dia bicarakan pada Rina, tiba-tiba Heni mengubah posisi duduknya hingga menghadap wanita satu anak itu.
"Apa?" tanya Rina, seakan tahu kalau Heni akan bertanya sesuatu, hingga membuat wanita itu terkekeh.
"Kamu tampak gelisah setelah kemarin bertemu dengan Anjas. Ada apa, Rin?" tanya Heni, dia sengaja tidak langsung bertanya, karena takut sahabatnya itu merasa tidak nyaman. Namun, melihat Rina yang tampak gelisah, membuatnya tidak tahan juga.
Dia memang sempat melihat pertemuan singkat antara Anjas dan Rina, dirinya sendiri tidak tahu kalau ternyata Tari dan Hilman adalah istri dan sahabat dari mantan suami Rina. Semua itu tentu membuatnya merasa bersalah, karena secara tidak langsung Rina bertemu dengan Anjas kembali karena dirinya. Padahal dia sendiri tahu kalau selama ini Rina begitu menghindari mantan suaminya itu.
Rina menatap wajah Heni dengan kening berkerut cukup lama, walau bibirnya belum mengatakan apa pun. Kemudian Rina memilih mengalihkan pandangannya ke depan, di mana sebuah drama korea sedang berjalan.
"Aku tidak apa-apa, Hen," jawabnya setelah menghembuskan napas pelan.
"Benarkah?"
...****************...
__ADS_1