Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.17 Pagi penuh cinta.


__ADS_3

Anjas terdiam mendengar rentetan kata yang ke luar dari mulut Rina. Anjas tidak pernah menyangka jika Rina bisa mengeluarkan kata seperti itu di depannya.


Ada rasa aneh di dalam hatinya saat melihat air mata yang berlinang di pipi Rina.


Apakah aku terlalu kejam padanya? batin Anjas, matanya menatap tajam wanita yang kini menangis sesegukan di depannya.


Perlahan dia beranjak dari duduknya dan menghampiri Rina di kursi sebelah. Anjas berlutut di depannya.


"Maafkan aku," lirih Anjas kemudian memeluk tubuh bergetar Rina.


Rina terdiam dia menikmati kehangatan yang sangat jarang dia dapatkan. Hatinya memang sakit dan telah hancur berkali-kali.


Namun, ketika dirinya kembali mendapatkan kelembutan dan kehangatan dari Anjas, hatinya kembali luluh dengan rasa cinta dan harapan yang kembali tumbuh.


"Kamu jahat, Mas," lirih Rina di tengah tangisnya, tangannya pun memukul lembut tubuh Anjas.


Sedangkan Anjas hanya terus meminta maaf sambil memeluk Rina, dia tidak tahu kalau selama ini Rina hanya sedang melampiaskan rasa sakitnya.


Rasa bersalah kini menyeruak ke dalam hatinya, Anjas membiarkan Rina melampiaskan rasa kecewanya.


Walaupun dia bukanlah laki-laki yang baik, setidaknya Anjas bukanlah laki-laki brengsek yang akan bahagia saat melihat perempuan di sampingnya menderita.


Ajas hanya belum yakin akan ketulusan cinta yang dimiliki Rina untukya. Pertemuan mereka yang mendadak dan jarangnya komunikasi, membuat semuanya masih terasa samar dan tidak jelas di mata Anjas, hingga banyak prasangka yang berkembang begitu saja di dalam pikiran Anjas. Anjas juga masih bingung dengan perasaannya sendiri pada Rina.


Untuk beberapa saat keduanya tampak nyaman dengan posisinya, hingga perlahan tangis Rina pun mulai mereda, kini hanya tinggal isakan lirih yang terdengar, di tengah sepinya suasana malam menjelang pagi itu.


"Minum dulu," ujar Anjas sambil menyodorkan air putih di gelas pada Rina yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.


"Terima kasih, Mas." Rina menerimanya kemudian meminumnya hingga hampir setengahnya.


Tenggorokan Rina terasa kering akibat terlalu banyak menangis. Sungguh, untuk dirinya mengeluarkan semua kata itu ternyata begitu sulit, karena tangis selalu mendahuluinya.


"Lebih baik kamu istirahat, ayo aku antar ke kamar," ujar Anjas sambil mengulurkan tangannya.


Rina menatap wajah Anjas, dia kemudian membalas uluran tangan suaminya, hingga akhirnya mereka berjalan ke kamar bersama.


Rina duduk bersadar di kepala ranjang diikuti Anjas di sampingnya yang kemudian menarik selimut untuk mereka.


"Mas, kenapa datang malam-malam begini?" tanya Rina menatap Anjas yang kini berada di sampingnya.


"Aku baru pulang dari luar kota dan langsung ke mari," jawab Anjas kemudian merangkul tubuh lemah istrinya.


"Benarkah? Sejak kapan, Mas, pergi ke luar kota?" Rina sedikit menjauhkan wajahnya demi melihat suaminya.


"Sejak tiga hari yang lalu, aku ada pekerjaan di sana," ujar Anjas sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Anjas juga tidak mengerti, mengapa dirinya malah mengarahkan mobilnya untuk datang ke rumah Rina, bukan langsung pulang ke rumahnya dan Tari.


Namun, satu yang membuat emosinya terpancing sejak beberapa hari lalu hingga akhirnya membuat pikirannya tidak bisa jauh dari Rina, dan mungkin mengarahkannya ke rumah Rina.


Ya, notifikasi dari kartu yang diberikannya untuk Rina, hingga menghabiskan puluhan juta hanya untuk satu bulan ini, membuat kepalanya pusing di tengah pekerjaannya yang sedang sangat sibuk.


Padahal Tari bahkan bisa menghabiskan puluhan juta hanya dalam waktu satu minggu. Namun, entah mengapa dia membiarkannya begitu saja, berbeda dengan reaksinya pada Rina.


Anggapan bahwa Rina hanya orang kampung yang bergaya sederhana dan tidak membutuhkan banyak uang, membuatnya cukup terkejut saat mendapati wanita itu banyak menghabiskan uang miliknya.


Rina tersenyum, dia kemudian menyandarkan tubuhnya pada suaminya, mendengar jawaban Anjas, membuatnya merasa tersanjung dan disayangi.


Semua rasa sakit yang selama ini terus menyiksa hatinya seolah terlupakan dalam sekejap mata, hanya dengan perlakuan manis dan lembut yang Anjas berikan padanya beberapa saat.


"Sekarang lebih baik kita tidur, aku juga sangat lelah," ajak Anjas yang langsung diangguki oleh Rina.


Keduanya kini tidur dengan hati Rina yang berbunga. Kedatangan Anjas menjadi kejutan yang sangat membekas untuk dirinya walau sempat ada pertengkaran kecil diantara mereka.


.


Pagi datang dengan sinar matahari yang tampak malu-malu untuk ke luar, awan kelabu menggelayut di langit bersiap untuk menumpahkan air menyirami bumi.


Rina berjalan ke kamar setelah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang suami.


"Mas, bangun dulu, ini sudah pagi," ujar Rina yang tampak duduk di sisi ranjang sambil mengusap rambut sang suami.


"Jam berapa ini, Rin?" tanya Anjas.


"Jam tujuh, Mas," jawab Rina.


Anjas tampak menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, dia berangsur duduk bersandar di dipan, lalu menatap Rina yang kini tengah tersenyum kepadanya.


Ada yang tampak berbeda dari istrinya itu, Rina tampak lebih terawat dengan kulit yang terlihat lebih putih bersih dibandingkan dengan sebelumya, walau sepertinya dia juga lebih kurus.


"Kamu terlihat lebih cantik sekarang, Rin," ujar Anjas tersenyum lembut pada istrinya.


"Ke mari, duduk di sini." Anjas kemudian bergeser dan menepuk tempat di sisinya.


"Mungkin karena sekarang aku lebih fokus mengurus diri, Mas," jawab Rina tersenyum malu.


Sepanjang pernikahannya, baru kali ini Anjas memujinya cantik.


"Aku merindukanmu," bisik Anjas, sambil merangkul tubuh istrinya hingga Rina semakin merapat.


"I--ini sudah pagi, Mas." Rina sedikit menghindar walau senyum terlihat mengembang di bibirnya.

__ADS_1


"Gak apa, aku gak kantor hari ini," jawab Anjas dia semakin mendekatkan wajah mereka hingga akhirnya bibir keduanya menyatu.


Rina tidak menolak lagi, dia menikmati pergumulan penuh cinta dan kerinduan yang sudah lama terlupakan.


Rincik gerimis di luar seolah menjadi simfoni indah yang mengiringi keindahan cinta di pagi hari.


.


Beberapa saat kemudian Rina dan Anjas sudah berada di meja makan, untuk sarapan yang tertunda.


"Mas, aku mau mengadakan acara empat bulanan di kampung. Apa bisa, Mas, datang ke sana?" tanya Rina di sela makan mereka.


Anjas menghentikan aktivitas makannya, dia menatap Rina dengan kening berkerut dalam.


"Apa kehamilan kamu sudah menginjak empat bulan?" tanya Anjas.


Rina menggeleng. "Baru dua belas minggu. Tapi, aku mau membicarakannya sekarang, mumpung, Mas, ada di sini."


"Memang kapan kamu akan mengadakan acara? Lagipula kenapa gak di sini saja sih?" tanya Anjas sambil kembali menyuapkan nasi goreng buatan Rina.


"Kalau di sini akan lebih sulit, Mas. Kamu setidaknya harus pulang ke sini selama orangtuaku ada di sini. Tapi, kalau aku mengadakan acara di kampung, Mas, hanya perlu datang beberapa hari saja," ujar Rina menjelaskan.


Anjas terdiam beberapa saat, dia sedang mencerna apa yang dikatakan oleh istrinya. Benar juga apa yang diakatakan oleh Rina, jika acara di sini, itu akan lebih menyulitkannya mencari alasan pada Tari.


"Ya sudah, kamu atur saja acara di sana, nanti kabari aku lagi kalau sudah mendapatkan hari yang cocok, agar aku bisa mengatur waktu," jawab Anjas kemudian.


"Terima kasih, Mas." Rina tersenyum senang.


Selain alasan untuk mengadakan acara empat bulan, Rina juga merasa rindu pada kedua orangtuanya. Namun, Rina takut untuk meminta izin pulang ke kampung.


Hari itu, keduanya menghabiskan waktu bersama, hingga menjelang sore hari Anjas harus pulang kembali ke rumah Tari.


"Aku akan menambah uang bulanan kamu, sekaligus untuk menyiapkan acara di kampung. Persiapkan dengan benar, jangan sampai membuatku malu," ujar Anjas saat mereka berjalan bersama menuju ke luar.


Rina mengangguk patuh. "Iya, Mas. Aku akan mengatur sebaik mungkin."


"Jaga dirimu juga," ujar Anjas lagi, setelah mereka berada di samping mobil.


Rina kembali mengangguk dengan senyum merekah.


"Aku pergi," pamit Anjas kemudian mencium kening istrinya sebagai tanda perpisahan.


Rina melihat mobil suaminya yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang dari pandangan.


Ada rasa sakit yang kembali terasa di dada, saat mengingat entah sampai kapan lagi mereka bisa bertemu.

__ADS_1


"Kamu datang dan pergi sesukamu, Mas."


...****************...


__ADS_2