
"Anisa itu sedang dekat dengan Ray?" tanya Rina saat mereka dalam perjalanan menuju ke rumah kedua orang tua Arya, sedangkan Bintang yang sudah lelah bermain tampak tertidur di bangku belakang.
"Enggak. Keluarga aku dan keluarganya memang dekat, rumahnya juga tidak jauh dari rumah abi, jadi sejak kecil dia sering main ke rumah," jawab Arya sambil terus fokus pada jalanan di depannya yang sedikit macet, mengingat para pekerja sudah mulai pulang.
"Oh, jadi memang benar kalau kalian adalah teman kecil?" Rina tampak mengangguk anggukkan kepalanya sambil mengalihkan pandangannya pada jalanan di depan.
Arya yang melihat perubahan reaksi Rina langsung menoleh pada sang kekasih, dia ambil tangan Rina yang berada di pangkuan sambil tersenyum tulus.
Rina yang terkejut akan sikap Arya tampak melirik sekilas laki-laki di sampingnya dengan wajah yang masih malas.
"Kenapa, hem? Kamu cemburu?" tanya Anjas sambil menaik turunkan alisanya. Menggoda sang kekasih.
"Ck, apa sih. Enggak lah, buat apa aku cemburu, bukannya sekarang kamu sukanya sama aku?" Rina tampak mengalihkan kembali pandangannya hingga membuat Arya terkekeh ringan.
"Fokus ke jalanan ih, ngapain liatin aku terus?" ujar Rina lagi saat melihat Arya malah terus memperhatikannya dengan senyum yang tidak pernah luntur, padahal jalanan sedang padat dan sedikit tersendat.
"Yah, gimana dong, aku gak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita cantik di sampingku," keluh Arya, sedikit memberi godaan bagi Rina. Laki-laki itu benar-benar memanfaatkan keadaan yang sedang macet.
"Gak usah gombal ih, kamu itu lagi nyetir!" Rina memegang pipi Arya kemudian membawanya untuk melihat lurus ke depan.
"Ah, mataku gak bisa fokus, gimana dong?" desah Arya lagi sambil kembali melirik Rina dengan kekehan kecil mengiringi perkataannya.
"Dokter Arya!" geram Rina walau sebenarnya dia juga merasa senang dengan sikap Arya padanya.
Namun, tidak untuk sekarang, karena status mereka yang sebenarnya belum ada kejelasan sama sekali, selain hanya ucapan. Rina harus memberi jarak pada Arya, sebelum ada akad nikah yang sah secara agama dan hukum. Wanita itu tidak mau kembali terjebak dalam masalah yang sama seperti sebelumnya.
Tawa Arya meledak saat mendengar suara dingin sang kekasih.
"Iya iya, ini aku fokus pada jalan, sayang," ujar Arya sambil kembali mengalihkan perhatiannya pada jalanan di depannya.
Hingga beberapa saat kemudian mobil Arya mulai memasuki pekarangan sebuah rumah bertingkat dua yang cukup besar.
"Ini rumah abi dan ummi?" tanya Rina sambil mengedarkan pandangannya, memperhatikan sekitar rumah yang tampak ditata dengan rapih, hingga terlihat begitu indah.
__ADS_1
"Iya, ummi menyukai bunga, jadi gak heran kalau pekarangan rumah habis ditanami bunga sama ummi," jawab Arya sambil fokus memarkirkan mobil di samping mobil milik Ray.
Rina hanya mengaangguk anggukkan kepala pelan sambil terus memerhatikan sekitar, dia cukup tertarik dengan tanaman bunga di sana yang terlihat begitu rerawat.
Rina dan Arya berjalan bersama menuju rumah, dengan Arya yang menggendong Bintang bagaikan anak koala. Anak itu tampaknya memang sangat kelelahan hingga tertidur begitu pulas.
"Duduklah, aku antar Bingang ke kamar dulu," ujar Arya begitu mereka masuk ke rumah dan membiarkan Rina duduk di bangku ruang keluarga dengan yang lainnya.
Rina mengangguk kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di sana bersama dengan abi, ummi, Ray dan Anisa, walau hatinya merasa berat untuk ditinggalkan oleh Arya.
"Abi, Ummi, Arya antar Bintang ke kamar dulu," pamit Arya pada kedua orang tuanya yang langsung diangguki oleh mereka.
Benar memang kata Heni, Bintang mudah diterima oleh keluarga Arya. Anak itu bahkan kini sudah sangat dekat dengan Ray dan juga ummi yang sebenarnya belum memberi restu pada hubungan Arya dan Rina.
Rina tampak duduk canggung, dia hanya memperhatikan obrolan seluruh keluarga Arya dan Anisa, tanpa ada celah untuk ikut berbicara. Hingga ummi tampak membuka suara lebih dulu untuk bertanya padanya.
"Sudah lama kenal dengan Arya?" tanya ummi, yang membuat Rina cukup terkejut.
"Sudah, Tante," angguk Rina.
"Jangan panggil Tante, panggil ummi saja, sama dengan yang lainnya," ujar ummi, yang membuat Rina menatap wajah ummi, walau itu hanya berlangsung beberapa detik saja.
"Iya, Ummi," angguk Rina setelahnya.
Ummi tersenyum melihat Rina yang tampak gugup. Karena sejak tadi mereka sibuk berpindah pindah panti, Rina memang belum sempat mengobrol dengan ummi maupun abi.
"Kalau ummi boleh tau, kenapa bisa cerai dari suami kamu?" tanya ummi langsung. Walau suara ummi masih terdengar lembut, tetapi pertanyaan itu membuat Rina terkejut hingga dia tampak pucat dan gugup.
"Ummi--" Abi tampak memberi peringatan pada istrinya itu.
"Ummi kan cuma mau tau, Abi," jawab ummi sedikit keberatan dengan peringatan dari suaminya.
Rina sempat mengalihkan pandangannya pada abi, saat laki-laki berusia enam puluh lima tahun itu memberi peringatan pada ummi.
__ADS_1
"Kami bercerai karena --" Rina menghembuskan napas pelan saat dia melihat Arya datang, sehingga mengalihkan perhatian ornag yang ada di sana.
"Sedang ngobrol apa nih, kok kayaknya serius banget?" tanya Arya sambil duduk di samping Rina, hingga membuat perasaan Rina lebih tenang.
Setelah kedatangan Arya, ummi seolah enggan untuk membahas masa lalunya lagi. Mereka hanya berbincang hal ringan sambil menikmati teh dan kopi. Hingga akhirnya mereka berjalan menuju kamar masing-masing, untuk beristirahat di sana, sebelum nanti kembali bertemu di waktu shalat magrib.
.
Sementara itu di tempat lain, Anjas mulai mengurai pelukannya pada Tari ketika merasa istrinya sudah lebih tenang, dia tangkup pipi sang istri mengarahkan agar Tari menatap matanya.
"Jika aku jujur dan menceritakan semua kisah di balik hubungan aku dan Rina, apa kami bisa mempercayainya?" tanya Anjas dengan suara lirih.
Awalnya dia enggan untuk menceritakan kisahnya dengan Rina pada Tari, mengingat itu akan membuat hati Tari terluka berkali-kali lipat dari sekarang.
Namun, melihat situasi yang semakin rumit dengan sikap Tari yang terlalu berlaga tangguh di depan Rina juga keras kepala, membuatnya tidak memiliki cara lain untuk meredam kebencian Tari pada Rina, selain menceritakan kisah mereka berdua.
Kerutan halus terlihat menghiasi kening Tari, wanita yang baru saja meredam tangisnya kini menatap sang suami dengan sorot mata bingung.
"Apa maksud kamu, Mas? Kamu ingin membela wanita murahan itu?!" tanya Tari, masih percaya dengan keyakinannya selama ini, bahwa Rina yang telah menggoda Anjas dan merebut Anjas darinya.
"Aku tidak akan membelanya, semua keputusan dan penilaian akan aku serahkan padamu, setelah kamu mendengar dan memikirkan baik-baik ceritaku dan Rina yang tidak banyak orang tau," jawab Anjas masih dengan suara yang lembut. Laki-laki itu sedang mencoba untuk tidak terpancing emosi oleh kecurigaan istrinya.
Tari tampak terdiam, dia mencoba mencari celah dan jawaban untuk begitu banyak pertanyaan yang kini memang berkumpul di dalam hatinya dari sorot mata sang suami. Pertanyaan yang sampai saat ini dia takut untuk ungkapkan karena tidak sanggup jika sampai jawabannya akan kembali melukai hati juga harga dirinya.
"Aku akan menceritakannya, jika kamu berjanji tidak akan menyela. Apa pun yang akan kamu dengar nantinya adalah sebuah kenyataan, tanpa ada maksud untuk membela salah satu di antara kamu atau Rina," sambung Anjas lagi.
"Semua keputusan ada padamu sekarang. Mau mendengar dan mempercayai apa yang aku katakan nanti, atau tetap dalam situasi seperti ini dan mempermalukan diri sendiri."
Anjas melepas tangannya dari wajah sang istri, dia mengusap pelan rambut di puncak kepala Tari dengan senyum tipis yang kini terasa tulus untuk Tari, kemudian kembali menegakkan tubuhnya sambil menunggu jawaban dari Tari.
...****************...
Yuk mampir di karya temen aku, ceritanya menarik loh🥰
__ADS_1