Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.44 Keluarga Arya


__ADS_3

"Jadi, Anda, mengakuinya karena selembar kertas itu? Heh, sungguh tidak punya hati!" hardik Rina, sambil membuang muka.


Entah kemana hilangnya sisa rasa yang ada di dalam hati Anjas, bahkan untuk anak kandungnya sendiri. Ternyata selama ini laki-laki itu bahkan belum menyadari kalau Bintang adalah anaknya.


Anjas terdiam, dia memang mengakui semua itu, dirinya terus mengacuhkan perasaannya yang berbeda pada saat melihat Bintang. Nyatanya ego telah merenggut nurani dan ikatan batin alami yang tercipta diantara dirinya dan Bintang.


"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Rina dengan nada sinis.


Anjas menoleh, tujuannya tetap tidak akan berubah walau ucapan Rina sudah memukul telak ke dalam hatinya, sebagai seorang ayah.


"Tidak banyak. Aku hanya ingin dia tau kalau aku adalah ayah kandungnya, dan kita akan berbagi hak asuh Bintang bersama-sama," ujar Anjas langsung.


Rina langsung menoleh dengan nada tatapan tajamnya, kemudian mengalihkan pandangannya lurus ke depan.


Sepertinya rasa malu Anjas sudah habis tidak bersisa, hingga dia tiba-tiba datang dan tanpa ragu memintanya untuk berbagi hak asuh Bintang.


"Cih, tidak tau malu! Seharusnya sebelum, Anda, datang dan meminta itu dariku, berkacalah dulu ... atas dasar apa kamu mengakui Bintang sebagai anak Anda, dan meminta hak asuhnya?" geram Rina.


"Karna ada saya sekarang Bintang ada di dunia ini, Rina. Kamu tidak bisa menyangkal kalau darahku ada di dalam tubuhnya!" debat Anjas.


"Kalau hanya bermodalkan air mani yang Anda punya, bahkan binatang pun bisa melakukannya, Tuan! Bintang ada di dunia sekarang, bukan hanya karena Anda berhasil menanamkan benih di dalam rahimku, tapi dia ada karena aku yang mengandung, melahirkan dan menyayanginya!" Rina terus mendebat ucapan Anjas dengan perkataan yang lebih tajam.


"Tapi, selama ini aku masih terus mengirimkan uang kepadamu, Rina!" Anjas masih tidak terima, seperti biasa di mana mereka bertemu dan berkomunikasi hanya akan berakhir dengan perdebatan.


"Aku tidak pernah menggunakan uang yang Anda berikan! Bukankah dulu sudah aku ingin kembalikan pada Anda?!"


Ya, semenjak perceraian itu, Rina memutuskan untuk tidak lagi menggunakan uang dari kartu milik Anjas, dan mengandalkan dirinya sendiri untuk membiayai kehidupannya dan Bintang.


Anjas terdiam, selama ini dia memang tidak pernah lagi menerima laporan penggunaan uang dari kartu yang dia berikan untuk Rina.


"Sudahlah, lebih baik Anda segera pergi dari rumah ini, sebelum saya panggilkan satpam!" ujarnya, kemudian kembali beranjak dari duduknya. Dia berjalan beberapa langkah sebelum kemudian berbalik menatap Anjas.


"Bintang adalah anakku, dan selamanya akan tetap menjadi anakku! Anda, sama sekali tidak berhak untuk berbicara seperti itu!" ujar Rina langsung, kemudian berlalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kencang, hingga terdengar suara menggema yang cukup mengejutkan.


Anjas melebarkan matanya, melihat sifat Rina yang sudah sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertamu. Wanita itu terlihat lebih tangguh dan tidak gampang ditekan, seperti dulu lagi.


"Jika kamu tidak bisa bebicara secara baik-baik denganku, maka aku akan menempuh jalur hukum, untuk mendapatkan hak asuh Bintang. Aku beri waktu kamu seminggu untuk memikirkannya, Rina," ujar Anjas dengan suara yang cukup lantang, kemudian memilih pergi meninggalkan rumah mantan istrinya itu, dengan hati yang masih terasa panas.


Rina yang masih menyandarkan tubuhnya di balik pintu, mendengar samua ancaman dari Anjas. Kakinya terasa lemas dan bergetar, hingga membuat tubuhnya merosot ke bawah, dan duduk bersimpuh di balik pintu. Bukan hal mudah untuk berdebat dengan seseorang, karena Rina memang sosok orang yang tidak suka akan perdebatan.


Namun, sikap Anjas selalu membuatnya harus ke luar dari zona nyamannya dan memaksa diri untuk kuat beradu argumen dengan laki-laki itu.

__ADS_1


Rasa takut akan kehilangan sang anak yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya, kini kembali membebani hati dan pikirannya, dia kemudian berdiri dengan susah payah lalu berlari menaiki tangga, menuju kamar Bintang.


Rina berbaring di samping purta kesayangannya itu, kemudian memeluknya sambil meciumi kepala Bintang, dengan hati yang resah, dan napas terengah.


"Bintang anak Mama ... Bintang anak Mama, dan akan tetap menjadi anak Mama sampai kapan pun," gumam Rina dengan air mata yang menetes, dia berusaha menguatkan hatinya sendiri saat ini.


Inilah yang selama ini menjadi ketakutan di hatinya. Kedatangan Anjas yang hanya untuk mengambil Bintang darinya. Dia tidak mau kalau sampai itu terjadi, baginya Bintang adalah segalanya, dan tidak bisa dibagi walau itu dengan Anjas sebagai ayah biologisnya.


.


Sementara itu Arya sampai di rumahnya, dia bisa melihat kalau mobil kedua orang tuanya sudah berada di sana. Laki-laki itu menghembuskan napasnya sebelum masuk ke rumah, bersiap untuk menghadapi kedua paruh baya yang telah membesarkannya itu.


Benar saja, begitu dia masuk ke rumah, dirinya langsung disambut oleh tatapan tajam wanita paruh baya yang sedang berdiri di depannya.


"Assalamualaikum, Umi," ujar Arya sambil tersenyum lebar, dia kemudian mengampirinya dan mencium punggung tangan ibunya.


"Jadi, kami harus datang ke sini dulu, baru bisa bertemu dengan kamu, hem?" tanya wanita paruh baya itu, sambil mengusap lembut rambut Arya.


"Bukan begitu, Umi, akhir-akhir ini aku memang sedang sibuk di rumah sakit," jawab Arya sambi tersenyum, nada suaranya begitu lembut dan sedikit manja.


"Sibuk di rumah sakit, atau sibuk dengan wanita yang tadi, hem?" tanya Umi sedikit menggoda anak laki-lakinya itu.


"Dasar anak nakal!" ujar Umi sambil memukul pelan perut Arya, walau kekehan kecil mengiringi perkataannya.


"Akhirnya Abangku pulang juga, mana perempuan yang tadi, gak sekalian dibawa ke sini, biar kenalan sama kita?" seorang laki-laki muda yang baru saja ke luar dari dapur tampak menghampiri Arya sambil mengunyah keripik kentang.


"Eeh, anak ini ikut juga," ujar Arya, sambil menunjuk pada laki-laki yang mungkin baru berusia dua puluh empat tahunan itu.


"Ikut lah, aku kan juga kangen sama Abangku yang super sibuk ini," jawab laki-laki itu, yang sepertinya adalah adik Arya.


"Kapan kamu pulang, Rei?" tanya Arya sambil melepas pelukannya pada Umi, kemudian beralih memeluk adiknya.


"Baru dua hari, Bang. Eh, ternyata ada yang lebih dikangenin sama mereka dibandingkan aku," sungutnya sambil melepaskan pelukan keduanya.


"Apalagi Umi, dia malah ngajak aku ke sini," sambungnya lagi sambil melirik Umi dengan wajah malas.


"Kasihan deh, aku kan anak kesayangannya Umi," ledak Arya pada Ray, sambil tertawa puas, sambil melihat Umi yang hanya menanggapi dengan senyuman, kemudian berjalan meninggalkan mereka.


"Ck! Dasar Abang tega!" decak Ray.


"Sudah-sudah, sini duduk dulu, Abi mau ngomong sama kamu, Arya," ujar laki-laki paruh baya yang sejak tadi hanya memperhatikan kedua anaknya bercanda.

__ADS_1


"Iya, Bi," jawab Arya dan Ray langsung kemudian duduk di depan Abi.


Umi yang tadi sempat pergi ke dapur untuk membuat teh dan mengambil kudapan pun kini sudah datang kembali, lalu duduk di samping Abi.


"Arya, coba sekarang kamu ceritakan siapa perempuan yang tadi bersama kamu, Nak?" tanya Abi dengan suara yang serius, walau masih terdengar lembut dan tenang.


Ray yang duduk di samping Arya menyikut perut Arya sambil tersenyum menggoda. Arya tampak tidak melayani candaan dari adiknya, dia membenarkan duduknya sambil menatap bergantian kedua orang tuanya.


"Wanita itu adalah teman dekat Arya, Abi, Umi. Kita sudah lama kenal dan Arya juga sudah menyukainya sejak lama," jawab Arya dengan wajah dan nada suara berubah serius.


Abi dan Umi tampak saling melempar pandangan, keduanya seperti sedang berbicara melalui pandangan mata.


"Apa jangan-jangan itu adalah Rina, perempuan yang katanya kamu sukai waktu koas di kampung, dulu?" tanya Umi yang pernah menjadi tempat curhat Arya tentang Rina.


"Apa?! Jadi Abang belum move on juga sama cinta pertamanya itu? Bukannya dulu katanya dia udah nikah sama ornag lain?!" Kini gantian Ray yang bereaksi.


Abi tampak mengerutkan keningnya sambil memperhatikan setiap reaksi dari seluruh keluarganya, termasuk Arya.


"Iya, Umi. Tapi, dia sudah bercerai sejak enam tahun yang lalu. Lagi pula suaminya memang tidak pernah mengakuinya sebagai istri," jawab Arya sekaligus mengobati rasa penasaran adiknya. Nada bicaranya terdengar berubah sinis saat menyebutkan kata suami.


"Astagfirullah, Bang, kayak gak ada perempuan lain aja! Jangan bilang kalau anak yang tadi bersama kalian juga anaknya wanita itu?" Ray tampak menghembuskan napas kesal, melihat sang kakak yang sejak dulu tidak bisa melupakan cinta pertamanya.


"Jadi dia sudah punya anak?" Abi ikut bertanya, sedangkan Umi hanya menatap Arya dengan tatapan penasaran.


"Iya, Abi. Itu anaknya Rina, tapi dia sudah seperti anakku sendiri, bahkan kami lebih dekat dibandingkan dengan ayah kandungnya sendiri," jawab Arya lagi.


Abi tampak menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, tangannya menekan pangkal hidung meredam rasa pening yang tiba-tiba saja menyergap.


"Kamu tau kenapa kami selalu menyuruhmu untuk pulang, Nak?" tanya Umi sambil mengusap tangan Abi, mencoba menenangkan suaminya itu.


Arya menggeleng sebagai jawaban.


"Karena ada teman Abi yang datang ke rumah, menawarkan perjodohan anaknya dengan kamu. Mereka bahkan sudah dua kali datang ke rumah," ujar Umi dengan suara yang terdengar berat.


Arya melebarkan matanya, selama ini dia tidak pernah diberi tahu kalau ada rencana perjodohan, lagi pula dia memang selalu menolak karena hatinya memang sudah terkunci pasa satu nama, siapa lagi kalau bukan Rina.


"Tapi, Abi belum menyetujuinya kan?" tanya Arya dengan jantung yang berdegup kencang, situasinya sudah pasti akan rumit jika kedua orang tuanya sudah mengambil keputusan lebih dulu.


Umi menghembuskan napasnya pelan sambil menatap sang anak dengan sorot mata yang tidak dapat diartikan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2