
"Lalu, apa kamu mau melakukan pernikahan denganku seminggu lagi?" tanya Arya dengan tangan yang masih bertaut pada Rina.
Rina tersenyum kemudian mengangguk, dia merasa lucu dengan wajah panik dan khawatir Arya, padahal tidak ada niat sedikitpun untuk membatalkan pernikahan. Mereka sudah sama-sama dewasa, tidak pantas rasanya kalau dirinya sampai membatalkan pernikahan hanya karena masalah seperti itu, padahal Arya sudah mau menerima dan bersedia untuk berubah.
Arya tersenyum senang, matanya tampak berbinar saat melihat Rina mengangguk, menyetujui keputusannya untuk menikah seminggu dari sekarang.
"Makasih, sayang, aku bahagia banget," ujar Arya sambil mengecup punggung tangan Rina berulang.
"Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu sudah mau menerimaku dan Bintang, juga masalah yang ada di sekitarku," ujar Rina dengan wajah haru.
.
Sementara itu di tempat lain, Anjas tampak tengah berdebat dengan ayahnya karena ayahnya itu memaksa Anjas untuk menikahi Rina, agar dirinya bisa mendapatkan Bintang dan mungkin cucu kandung lain yang akan Rina lahirkan nantinya.
"Aku tidak akan pernah menikahi Rina, Ayah. Lagi pula itu tidak pernah bisa terjadi karena dia sebentar lagi akan menikah dengan Arya," ujar Anjas dengan wajah yang semakin prustasi.
Dirinya tidak pernah menyangka jika ayahnya akan memiliki rencana seperti ini hanya demi mendapatkan Bintang. Padahal jika ayahnya mendekati Rina secara baik-baik, Anjas yakin jika wanita itu akan memperkenalkan mereka, walau mungkin harus bersabar, seperti dirinya.
Namun, setelah dia berpikir dengan jernih, semua yang dilakukan oleh Rina juga demi Bintang sendiri. Untuk sekarang ini Bintang terlalu kecil jika harus mengetahui kalau ayah kandungnya meninggalkan ibunya dan menikah dengan wanita lain, bahkan di saat dirinya masih di dalam kandungan.
Anjas yang notabene seseorang yang sudah dewasa pun, tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba, ibunya mengenalkan laki-laki asing sebagai ayah kandungnya. Itu terlalu menyakitkan. Apa lagi jika itu adalah anak seusia Biantang.
Sekarang ayahnya malah menyuruhnya untuk merebut Rina kembali dari Arya, laki-laki yang selama ini mendampingi Rina di saat tersulitnya, sampai Bintang pun menganggapnya sebagai ayah.
Tidak! Anjas tidak akan mau melakukan ide gila ayahnya itu. Lagi pula,hatinya sudah milik Tari dan Syafira sekarang, untuk apa lagi dia harus menyakiti wanita lain.
"Dasar anak bodoh! Apa kamu mau wanita itu dan Arya memiliki Bintang selamanya, hah?!" sentak ayah Anjas, dengan tatapan nyalang.
"Ayah, Bintang memang anaknya Rina, lalu apa salahnya jika dia tinggal bersama mereka?" Anjas mencoba terus menahan rencana ayahnya dan merubah cara pikir sang ayah.
"Yah ... aku yakin, suatu hari nanti Rina juga akan mengenalkan kita sebagai keluarganya Bintang, jika kita mau bersabar dan bersikap baik," sambung Anjas lagi dengan suara yang lebih rendah.
"Halah! Pokoknya kamu tidak bisa membantah, pokoknya pada saatnya nanti, aku mau kamu menikah dengan Rina!" tekan ayah Anjas, keras kepala.
"Tapi, Ayah--" ucapan Anjas terhenti karena ayahnya yang menyela.
"Sudahlah aku lelah berdebat terus, pokoknya aku akan membuat pernikahan mereka batal, agar kamu bisa menikahi wanita itu lagi!" putus ayah Anjas tidak bisa diajak bernegosiasi.
"Awas saja kalau kamu berani menentangku, aku akan buat kamu menyesalinya seumur hidup!" ujarnya lagi, mengancam anaknya sendiri.
__ADS_1
Anjas mengepalkan kedua tangannya, dia sudah lelah menjadi alat ambisi sang ayah. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu menahan amarah yang hampir saja meluap, tatapan tajam pun terlihat menusuk laki-laki paruh baya yang ada di depannya itu.
"Ayah tidak bisa melakukan itu padaku! Aku anakmu ... bukan robot yang bisa kamu atur semaumu!" sentak Anjas tepat di depan wajah ayahnya.
Setelah itu dia kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan sang ayah yang menatapnya geram.
.
Hari pernikahan pun semakin dekat, baik Rina dan Arya sama-sama disibukkan dengan persiapan acara dadakan itu. Abi dan ummi pun sudah datang untuk membantu mengatur acara sederhana itu.
Begitu juga dengan keluarga Heni yang sudah datang bersama dengan salah satu paman Rina dari Bapak, yang dengan terpaksa mau untuk menjadi wali nikah Rina.
Walaupun, sebelumnya Rina harus memberikan sejumlah uang, bahkan Arya pun turun tangan untuk membujuk pamannya itu. Hingga akhirnya mereka terpaksa luluh karena Arya sedikit mengancam mau melaporkan kejahatan mereka selama ini kepada Rina.
Ya, sebenarnya selama ini mereka masih belum menyerah untuk mengambil harta warisan milik Rina, bahkan sering sekali mereka mencoba untuk membuat Rina gagal panen.
Itu semua dimanfatkan oleh Arya untuk mengancam mereka, jika sampai tidak mau menjadi wali Rina di hari pernikahan keduanya.
Namun, kebahagiaan dalam menyambut hari pernikahan yang hanya tinggal menunggu hari, harus terhenti saat tiba-tiba sebuah telpon dari nomor yang tidak dikenal mengganggu hari Rina.
"Angkat saja, Rin, siapa tau itu penting," ujar Heni yang saat itu tengah membahas pembukuan resto bersama Rina.
"Batalkan pernikahan itu, atau serahkan Bintang padaku!"
Deg!
Suara yang sudah cukup pamiliar di telinga Rina, langsung membuat tubuh wanita itu mematung, dengan jantung yang terasa berhenti berdetak untuk sesaat.
Ayah Anjas. Ya, laki-laki paruh baya itu lagi yang kembali mengganggu hari bahagianya. Rina memilih beranjak menjauh dari Heni sebelum menjawab ucapan ayah Anjas.
"Anda tidak berhak mengatur kehidupan saya!" balas Rina sambil memilih berdiri di jendela kaca lantai dua, matanya melihat hujan yang turun cukup deras di luar sana.
"Tapi Bintang adalah cucuku, aku memiliki hak untuk menjauhkannya dari orang tua seperti kalian!" ujar ayah Anjas dengan keras kepalanya.
"Orangtua seperti kami? Memang apa yang salah dari kami, heh?" tanya Rina kesal.
"Kalian itu orang tua yang hanya mementingkan keinginan sendiri! Dasar wanita murahan!" hardik ayah Anjas.
Rina tersenyum miring dengan genggaman pada ponsel yang semakin erat.
__ADS_1
"Benarkah? Bukankah Anda yang egois? Jangan pikir saya tidak tahu kalau Anda menginginkan Bintang hanya karena Tari tidak bisa melahirkan!" jawab Rina geram.
"Ka--" ucapan ayah Anjas terhenti saat Rina kembali berbicara.
"Berani sekali Anda menyebut anak saya sebagai cucu Anda. Padahal di saat dulu saya mengandungnya, kalian bahkan tidak pernah mengakuinya!" Rina mengepalkan tangan menahan emosi yang kembali terpancing oleh ucapan tidak tahu diri mantan mertuanya itu.
Laki-laki paruh baya itu terdengar terkekeh ringan, seolah tidak terintimidasi dengan kalimat yang dikatakan oleh Rina.
"Jangan terlalu banyak bicara, karena aku juga tidak akan peenah mau tau dan perduli apa yang kamu lakukan. Sekarang kamu hanya memiliki dua pilihan, anak kamu, atau pernikahan kalian?" ujar ayah Anjas lagi mengancam Rina.
Rina menutup matanya, meredam emosi yang terus meningkat seiring dengan perkataan ayah Anjas yang semakin mengintimidasinya.
"Jangan bicara sembarangan! Anda tidak bisa mengancam saya seperti itu! Sebaiknya Anda urus saja kehidupan Anda sendiri dan jangan lagi mengurus saya!" kesal Rina. Dadanya terlihat naik turun dengan napas yang memburu menahan semua perasaan marah dan kesal yang tersimpan di dalam dada.
"Lebih baik Anda berkaca dulu sebelum mengatakan kalau Bintang adalah cucu Anda! Pantaskah seorang seperti Anda yang tega berniat untuk memisahkan seorang anak dari ibunya dipanggil kakek?"
Rina berkata tajam, dia sudah sangat muak dengan segala masalah yang sedang dia hadapi. Ingatan saat dirinya datang ke rumah Anjas untuk bertanya keberadaan mantan suaminya itu pun melintas di kepala.
Saat itu, dirinya yang tengah hamil bahkan tidak pernah diterima di rumah itu, petugas keamanan yang berjaga di gerbang selalu mengusirnya dengan paksa.
Namun, sekarang mereka datang kepadanya tanpa rasa bersalah. Lalu, dengan percaya dirinya menyebut Bintang adalah cucu. Padahal sebelumnya, sekali pun mereka tidak pernah mengakui keberadaan anak itu.
Sesak terasa dadanya ketika semua kenangan perjuanganya untuk mendapatkan pengakuan dari Anjas dan keluarganya hanya terus mendapatkan penolakan, tanpa mereka mau mencari tahu kebenarannya lebih dulu.
"Beraninya kamu!" Ayah Anjas menjeda perkataannyan beberapa saat, sebekun kemudian berkata kembali.
"Kamu akan menyesal dengan apa yang sudah kamu katakan padaku!" geram ayah Anjas kemudian menutup sambungan telepon itu begitu saja.
Rina mengusap air mata yang sempat menetes di pipi, salah satu tangannya memegang erat meja yang ada di sampingnya, tubuhnya hampir saja jatuh lemas jika tidak ada tumpuan.
Rina sama sekali tidak terbiasa untuk berbicara kasar, hingga semua itu membuat kakinya seolah tidak lagi mempunyai tenanga untuk menopang tubuhnya. Semua energinya seolah tercurah habis hanya karena perdebatan beberapa saat dengan ayah Anjas.
Sekuat tenaga dia mencoba mengatur napasnya dan mengembalikan kembali kekuatan tubuh juga hatinya, dirinya tidak boleh menyerah atau tumbang hanya dengan sebuah ancaman.
Pernikahannya akan dilakukan beberapa hari lagi dan di saat itu kehidupan baru pun menantinya. Rina harus kuat setidaknya sampai dia bisa bersandar pada laki-laki yang dia pilih untuk menjadi teman hidupnya.
"Kuatkan hamba, Ya Allah," gumam Rina pelan, dengan bibir yang bergetar.
...****************...
__ADS_1