Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.34 Berbanding terbalik


__ADS_3

Arya masuk ke dalam ruang bersalin, ternyata di sana suasana memang sangat tegang, bidan tampak sedang mencoba menghentikan pendarahan dengan alat seadanya, sedangkan asisten bidan dan perawat sedang mencoba menolong bayi.


Arya sempat melirik kondisi Rina yang sudah tidak sadarkan diri, lalu dengan langkah lebarnya dia menghampiri bayi laki-laki yang tampak sedang berjuang untuk hidup.


Sementara itu, di luar ruang bersalin, Heni dan kedua orang tuanya tampak ikut panik saat melihat seorang laki-laki masuk ke dalam ruang bersalin Rina bersama perawat, apa lagi ketika melihat langkah mereka yang terburu-buru dan wajah paniknya.


Pikiran Heni dan kedua orang tuanya kini sudah berkecamuk, rasa khawatir pun menjalar membuat ketiganya ikut merasa panik.


"Ada apa ini, Hen? Kenapa mereka semua sepertinya sibuk sekali?" tanya Ibu dengan tatapan tidak pernah lepas dari pintu masuk ruang bersalin.


"Gak ada apa-apa, Bu. Rina pasti baik-baik aja di dalam, dia kan wanita yang kuat," jawab Heni, mencoba menenangkan kedua orang tuanya, walau sebenarnya hatinya juga sangat mengkhawatirkan kondisi sahabatnya.


Selama ini, mungkin kondisi Rina terlihat baik-baik saja secara fisik, dia bekerja memajukan usaha yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dengan sangat giat, hingga sampai di titik sekarang ini.


Walau berulang kali keluarga dari pihak Bapak dan Ibu Rina selalu berusaha untuk mengganggu ladang milik Rina. Namun, dengan kerja keras wanita yang sedang hamil itu, akhirnya semua masalah teratasi dengan baik.


Namun dibalik itu, Heni tahu kalau hampir setiap malam Rina selalu menangis, bahkan ada beberapa waktu Heni memergoki Rina yang tengah melamun, kemudian menangis seorang diri.


Entah apa yang selalu dipikirkan oleh wanita itu, Heni pun tidak pernah tahu, karena Rina selalu memilih untuk menyimpan kesedihannya sendiri.


Ya Allah, lancarkan proses melahirkan sahabatku, Rina. Selamatkan dia dan anak yang dilahirkannya. Kembalikanlah dia kepada kami dalam keadaan sehat wal afiat seperti sedia kala, biarkan dia bahagia dengan anak yang selalu dia perjuangkan.


Heni berdoa dengan tulus, dia adalah saksi hidup bagaimana Rina yang dulu adalah sosok manja dan ceria, kini berubah menjadi sosok pemimpin yang begitu baik dan dewasa demi meneruskan usaha kedua orang tuanya dan mempertahankan anak yang saat ini berusaha dia lahirkan.


"Aku tidak mau kalau suatu hari nanti, Mas Anjas berkesempatan untuk mengambil anakku, Han. Makanya aku harus menjadi orang sukses agar aku bisa menjamin kehidupan anakku!"


Itulah perkataan Rina, saat dirinya menegur wanita itu karena terus bekerja tanpa mementingkan kesehatannya.


.


Beberapa waktu kemudian Rina dan anaknya sudah bisa terselamatkan, walau sampai saat ini Rina masih belum sadarkan diri. Keduanya kini dipindahkan ke rumah sakit terdekat, untuk mendapatkan fasilitas yang memadai, apa lagi bayi Rina harus berada di ruang NICU akibat gangguan pernapasan yang sempat dialaminya.

__ADS_1


Arya dan bidan desa nekat membawa Rina dan bayinya menggunakan ambulan desa, saat kondisi mereka sudah lumayan stabil malam tadi, karena resiko yang masih bisa saja terjadi jika terus berada di puskesmas desa yang sangat kurang dalam alat dan tenaga medis.


Matahari sudah berada cukup tinggi saat Rina mulai mengerjapkan matanya. Heni, Arya, dan kedua orang tua Heni, yang tampak setia menunggu Rina di dalam ruangan, terlihat begitu antusias, ketiganya pun berdiri mengelilingi brankar Rina.


"Rin, kamu sudah sadar?" tanya Heni sambil memegang tangan lemah sahabatnya itu.


Air mata tampak mengalir begitu saja sebagai tanda rasa bahagia dan syukur karena Rina telah membuka mata. Begitu juga dengan Ibu yang berada di samping Heni.


Sedangkan Bapak dan Arya tampak tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, melihat Rina yang bisa membuka mata, setelah perjuangan panjang yang terjadi semalam tadi.


Rina mengedarkan pandangannya, dia melihat satu per satu orang yang kini tengah menatapnya dengan wajah bingung. Rina mengingat kalau tadi malam dia sedang berjuang untuk melahirkan anakknya.


Namun, kenapa sekarang dia malah berada di sini? Rina melebarkan matanya dengan tangan yang meraba perutnya, sorot mata penuh tanya kini terlihat jelas begitu Rina sadar kalau perutnya telah kembali rata dan anaknya pasti sudah ke luar.


"Anakku?" Itulah kata yang terucap pertama kali dari mulut Rina, dengan satu tetes air mata menyertainya.


"Anak kamu baik-baik saja, Rin. Sekarang dia berada di ruang bayi," ujar Arya sambil tersenyum tenang.


"Terima kasih," lirihnya dengan senyum tipis di wajahnya.


Dalam keadaan setengah sadar, tadi malam Rina masih bisa mendengar sayup keributan di ruangan bersalinnya, hingga tiba-tiba salah satu orang disana menyebutkan nama Arya, walau akhirnya kegelapan merenggut semua kesadarannya.


"Aku hanya melakukan tugasku, semua ini bisa terlewati karena kalian berdua adalah ibu dan anak yang sangat kuat," jawab Arya.


Suasana haru bercampur bahagia pun kini terlihat di ruangan perawatan Rina, saat perlahan kesehatan Rina dan bayinya mulai stabil, hingga bisa berkumpul bersama.


.


Berbanding terbalik dengan kebahagiaan Rina, rumah tangga Anjas dan Tari kini sedang mendapatkan ujian dari Yang Maha Kuasa, karena sampai saat ini Tari belum juga bisa hamil.


Tari sebagai seorang istri merasa tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan yang datang dari keluarga, teman, kerabat, bahkan orang-orang di sekitarnya tentang kondisi dirinya yang tidak kunjung hamil.

__ADS_1


Seperti saat ini, Anjas yang baru saja pulang dari kantor tiba-tiba disambut dengan wajah cemberut Tari.


"Kenapa lagi kamu, sayang? Suami baru pulang, bukannya disambut dengan senyuman, ini malah cemberut begitu," ujar Anjas sambil mulai membuka kencing bajunya.


"Tadi aku ketemu sama teman arisan Mama, mereka bertanya tentang kehamilan lagi! Dasar gak punya otak!" kesal Tari melupakan kesedihannya dengan perkataan kasar.


Anjas mengernyit, dia melihat Tari yang kini tengah duduk di sisi ranjang dari pantulan cermin di depannya.


"Memang ngapain kamu ketemu sama mereka?" tanya Anjas masih dengan suara acuhnya.


"Aku main ke rumah, Mama. Tapi, ternyata ada mereka juga di sana," jawab Tari, kini wanita itu juga melihat Anjas yang sedang berdiri membelakanginya dari pantulan cermin.


"Lagi pula ngapain juga kamu datang ke rumah, Mama? Sudah tahu kalau di sana tidak pernah sepi, selalu didatangi tamu." Bukannya melerai Anjas malah menyalahkan Tari.


"Aku suntuk lah di rumah," jawab Tari dengan bibir mengerucut kesal.


Sudah satu bulan ini dia memutuskan untuk ke luar dari profesinya sebagai pramugari akibat desakan dari kedua orang tua Anjas yang ingin segera memiliki cucu.


Hingga akhirnya mereka memintanya fokus untuk menjalani program kehamilan dan ke luar dari pekerjaannya. Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Anjas, Tari pun akhirnya menuruti keinginan mertuanya, walau itu adalah sesuatu yang sangat berat baginya.


Sebenarnya sejak pemeriksaan kesehatan di awal mereka melakukan program kehamilan beberapa bulan yang lalu, Tari divonis mengidap penyakit PCOS, hingga membuatnya akan sulit untuk hamil dalam kondisi ini.


Kondisinya hanya diketahui oleh Tari dan Anjas, karena mereka memutuskan untuk menyembunyikan penyakit itu dari keluarga, demi keutuhan rumah tangga mereka berdua.


Rasa cinta dan kondisi tubuhnya juga yang membuat Tari bertahan dengan Anjas, walau dia sempat tahu kalau Anjas pernah menjalin hubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya.


"Mas, bagaimana kalau kita berobat ke luar negeri aja?" tanya Tari yang sudah sangat prustasi dengan keadaannya saat ini.


Anjas menatap Tari cukup lama dengan sorot mata tidak terbaca, dia kemudian menghembuskan napas pelan.


"Kita bicarakan nanti lagi saja," ujarnya sambil berjalan menuju ke kamar mandi dengan bertelanjang dada.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2