Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.85 Anggapan yang salah


__ADS_3

Begitu urusan mendesak di kantor sudah selesai, Anjas langsung ke luar dari ruangannya dengan langkah lebar, wajahnya yang tampak masih kacau membuat para karyawan yang melihatnya tidak berani untuk menegur.


"Jas, aku ma--" Hilman yang baru ke luar dari ruangannya mencoba menghentikan langkah Anjas walau laki-laki itu tampaknya tak menghiraukannya.


"Nanti saja, aku lagi buru-buru," tukas Anjas langsung sambil melanjutkan langkahnya. Laki-laki itu hanya melirik Hilman sekilas kemudian berjalan cepat menuju ke luar.


Hilman tanpa menatap punggung Anjas yang tampak semakin berjarak dengannya, kemudian dia sedikit menundukkan kepalanya melihat amplop putih di tangannya yang sudah dia siapkan dari beberapa hari yang lalu.


Hembusan napas berat terdengar mengiringi pundaknya yang tampak jatuh tak bersemangat.


"Pak Anjas sepertinya sedang ada masalah keluarga ya, Pak? Tadi siang ayahnya datang ke sini dan mereka tampak bertengkar cukup hebat." Suara dari salah satu karyawan yang memiliki meja kerja tidak jauh dari ruangan Anjas mengalihkan perhatian Hilman.


"Ayahnya Pak Anjas datang ke sini?" tanyanya memastikan, kerutan di keningnya pun tampak terlihat jelas.


"Iya, Pak, kata ofice boy yang masuk ke ruangan Pak Anjas setelah kepergian ayahnya, ruangan Pak Anjas bahkan sampe berantakan," jawab karyawan yang tampak sedikit kemayu itu. Dia memang terkenal dengan biang gosip di kantor karena dia hampir mengetahui semua masalah di kantor itu.


Kerutan di kening Hilman pun semakin dalam saat mendengar jawaban dari karyawan itu. Dia merasa ada yang salah dengan semua itu, karena tidak biasa ayah Anjas datang ke kantor mereka, apa lagi hanya untuk bertengkar dengan Anjas.


Biasanya ayahnya Anjas akan sangat menjaga nama baiknya, mengingat dia adalah salah satu pegawai pemerintahan yang terpandang di kota itu. Di kalangan orang biasa, keluarga Anjas bahkan terkenal karena kebaikan hati dan juga dermawan.


Namun, itu sangat berbeda dengan orang-orang yang berada dekat dengan keluarga itu, termasuk Hilman. Dia tahu pasti bagaimana sifat asli kedua orang tua Anjas dan keluarga besarnya.


Mereka adalah orang yang mampu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tidak jarang mereka menggunakan cara curang untuk mendapatkan jabatan.


"Baiklah, terima kasih infonya. Sekarang lebih baik kamu kembali bekerja," ujar Hilman, dia pun kembali masuk ke dalam ruangannya.


Apa yang terjadi sebenarnya? batin Himan sambil mendaratkan bokongnya di atas kursi kerjanya.


Hilman kembali terdiam sambil menatap amplop di tangannya, dia menjadi ragu untuk meninggalkan sahabatnya itu di saat seperti ini. Dia takut jika saat ini Anjas sedang menghadapi masalah yang cukup besar dengan kedua orang tuanya.


Namun, di saat ingatan tentang Tari kembali melintas, Hilman langsung menegakkan tubuhnya dengan tekad yang kuat. Dia tidak ingin lagi memendam perasaan pada Tari yang akan membuat persahabatan mereka semakin merenggang.


Hilman sudah lelah terus berada dalam situasi yang sama selama beberapa tahun ini. Jika saja hubungan Anjas dan Arya baik-baik saja, mungkin dirinya sudah memutuskan untuk pergi sejak lama.


Lama terdiam Hilman akhirnya beranjak berdiri dengan amplop di tangan, dia berjalan ke luar dari kantornya dengan helaan napas lega, laki-laki itu seolah sudah memiliki keputusan yang menurutnya tepat dan baik untuk dirinya, Anjas, dan Tari.


.

__ADS_1


Sementara itu Anjas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, matanya menatap tajam dengan tangan yang mengepal erat, pikirannya pun tidak lepas dari masalah yang kini sedang dia hadapi. Kedua orang tuanya, Bintang, dan juga Rina.


Beberapa saat kemudian, Anjas tampak menghentikan mobilnya di halaman rumah kedua orang tuanya, para pekerja pun menyambut kedatangannya dengan begitu ramah.


"Di mana Ayah?" tanya Anjas langsung.


"Tuan besar ada di ruang baca," jawab salah satu pekerja di rumah orang tuanya.


Anjas mengangguk sebagai tanda kalau dirinya mendengar apa yang dikatakan oleh pekerja itu. Dia melanjutkan langkahnya masuk ke rumah orang tuanya.


"Anjas, kamu datang, Nak?" Ibu Anjas yang melihat kedatangan anaknya pun tampak tersenyum senang sambil menghampiri Anjas.


"Iya, Bu," angguk Anjas kemudian memeluk kilas wanita yang telah melahirkannya itu, Anjas memaksakan senyumnya pada sang ibu, kemudian kembali berbalik untuk menemui ayahnya.


"Mau ke mana, Nak?" tanya Ibu dengan senyum yang masih bertahan di wajahnya.


"Aku mau bertemu dengan Ayah, Bu," jawab Anjas tanpa menghentikan langkahnya.


Wanita paruh baya yang melihat raut wajah berbeda anaknya pun memilih untuk mengikuti. Perasaannya tiba-tiba tidak enak, takut jika nanti Anjas dan suaminya bertengkar lagi.


Sudah hal yang biasa memang melihat pertengkaran antara anak dan ayah itu, tetapi sebagai seorang istri dan ibu, dia tentu akan sangat merasa sedih jika semua itu sampai terjadi.


Ah, ayah dan anak memang sama saja, sifatnya keras dan memiliki ego setinggi gunung. Anjas juga termasuk orang yang penuh ambisi, itu juga yang membuatnya bisa memajukan perusahannya sampai sebesar sekarang ini.


"Ayah, aku mohon jangan lakukan apa pun pada Bintang dan Rina, mereka sudah cukup menderita karena aku!" Anjas berdiri di depan ayahnya yang tengah duduk dengan buku di pangkuan.


Dengan tenang Ayah melepaskan kacamata yang bacanya kemudian menaruhnya bersama buku di atas meja, senyum tipis yang terlihat begitu menyeramkan tampak jelas dimata Anjas.


Laki-laki dengan tubuh yang masih tampak gagah itu berdiri perlahan, menyamakan tinggi sang anak. Sementara itu, Ibu terlihat terdiam mematung di depan pintu melihat suami dan anaknya yang sedang beradu tatap dengan sorot mata sama-sama tajam.


Tadi, saat dia sedang bekerja, Anjas tiba-tiba mendapatkan pesan dari ayahnya yang memperlihatkan beberapa foto Rina dan Bintang yang diambil secara diam-diam, Anjas pun bisa menebak jika saat ini ayahnya sudah mulai beraksi dan membuntuti keseharian Bintang dan Rina. Itulah yang sekarang membawa Anjas menemui sang ayah, dia khawatir jika ancaman dari ayahnya itu tidak main-main.


"Aku hanya sedang memperjuangkan hak kamu sebagai seorang ayah, Anjas," ujar ayah Anjas santai.


"Aku tidak membutuhkan itu, Ayah! Melihat mereka bahagia saja sudah cukup untukku!" sentak Anjas, dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Suangguh, sekarang dia sangat malu pada Rina, walau nyatanya wanita itu tidak tahu apa-apa.


Ayah Anjas tampak tertawa sumbang, dia menatap remeh sang anak.

__ADS_1


"Karena inilah, aku bertindak ... Karena kamu begitu bodoh sampai bisa diperalat oleh wanita murahan seperti dia! Kamu tau kalau keluarga kita butuh keturunan? Kita butuh penerus, Anjas!" Ayah Anjas tampak ikut menaikkan nada bicaranya.


"Mana ada wanita yang tidak mau menuntut ganti rugi pada laki-laki yang sudah membuatnya menderita, Anjas! Ingat ... di duania ini tidak ada yang gratis, semua orang pasti menginginkan uang!" Dengan bangga ayah Anjas mengatakan penilaiannya pada masalah Anjas dan Rina, tanpa dia sadar jika tidak semua orang berpikir seperti dirinya.


"Tapi Rina enggak seperti itu, Yah!" bantah Anjas langsung.


"Cih!" Ayah Anjas berdecih sinis.


"Gak usah munafik kamu. Semua orang itu sama, mereka menaruh uang diatas segalanya, apa lagi bagi orang kampung seperti dia," ujarnya sinis. Tanpa sadar ayah Anjas telah memberitahukan sifatnya pada sang anak.


Anjas mengepalkan tangannya erat untuk meredam emosi yang kini bertambah besar di dalam hatinya, hingga urat di tangannya tampak menonjol. Apa hak ayahnya menilai Rina seperti itu, sedang mereka bahkan belum pernah bertemu.


Dia yang bisa merasakan semua kebaikan Rina, dia juga yang pernah hidup dengan Rina. Anjas tahu penilaiannya pada mantan istrinya itu tidak akan pernah salah. Rina adalah wanita yang baik dan tulus, dia cukup bekerja keras untuk menghasilkan uang bagi kehidupannya sendiri. Rina bukanlah wanita yang akan menjadi benalu hanya untuk selembar kertas yang banyak membuat orang gelap mata itu.


"Wanita itu licik, Anjas! Dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menuntut harta kamu melalui anak itu! Atau mungkin dia malah menunggu anak itu dewasa kemudian perlahan menggunakan anak itu untuk mengambil harta kamu!" Ayah Anjas masih tetap dengan pendiriannya. Dia bahkan mulai menuduh Rina yang tidak-tidak.


"Ayah!" Anjas sudah tidak tahu bagaimana lagi menjelaskan situasi ini pada sang ayah.


Dada Anjas naik turun dengan mata menatap tajam wajah ayahnya. Anjas kecewa dengan keputusan yang diambil oleh laki-laki yang merupakan ayah kandungnya itu.


Anjas menghembuskan napas kasar sambil menundukkan kepala, rasanya begitu sesak di dalam dada di saat dia harus berdebat dengan ayahnya sendiri di saat kini dirinya juga sudah menjadi seorang ayah. Bukan ini yang dia inginkan, sungguh. Anjas hanya ingin hidup normal seperti orang-orang lainnya, menjalani hari dengan bahagia bersama keluarga.


"Ayah ...." Anjas kembali menatap mata sang ayah dengan genangan air di pelupuk. Suaranya pun terdengar lirih dan sedikit bergetar.


"Aku mohon hentikan semua ini. Aku mohon," lirih Anjas.


Namun, ayah Anjas tidak menjawab, laki-laki paruh baya itu tampak terus menatap anaknya dengan sorot mata yang tidak bisa Anjas artikan.


"Aku bejanji, jika terjadi sesuatu pada mereka, aku pastikan aku akan membenci Ayah," ujar Anjas lagi dengan suara parau, dia kemudian berbalik dan berjalan menjauh dari sang ayah.


"Dasar anak durhaka! Berani-beraninya kamu ngomong gitu sama ayahmu, Anjas!" murka ayah Anjas pada sang anak. Namun, semua itu seolah tidak terdengar oleh Anjas, laki-laki itu terus berjalan tanpa mau menoleh kembali pada sang ayah.


"Ajas." Ibu tampak memanggilnya dengan air mata berderai.


"Maaf, Bu," ujar Anjas lirih kemudian melanjutkan langkahnya melewati wanita yang telah melahirkannya itu begitu saja.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2