Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.42 Menerima


__ADS_3

"Itu baru jagoannya, Papa!" seru Arya kemudian mencium kening Bintang degan penuh kasih sayang, hingga membuat Bintang terkekeh ringan.


Pemandangan itu tentu saja cukup menarik perhatian para pengunjung lain yang berada di sekitar mereka. Posisi Rina yang berada di pelukan Arya dan Bintang di gendongannya, membuat mereka bagaikan sebuah keluarga utuh yang begitu bahagia.


"Aku mau main lagi!" seru Bintang, sambil melepaskan tangan Arya, kemudian berlari menjauh meninggalkan Rina dan Arya.


Rina tampak tersenyum sambil menatap kesenangan wajah sang anak. Namun, begitu Bintang menjauh, Rina baru tersadar dengan posisinya sekarang.


Hingga dengan cepat Rina langsung melepaskan tangannya dari tubuh Arya dan menjauhkan tubuhnya dengan suasana yang berubah caggung. Arya perlahan membawa kakinya satu langkah ke belakang, demi memberi ruang pada Rina.


"Ekhm!" Arya berdehem pelan sambil mengedarkan pandangannya, menyembunyikan rasa kecewa yang tiba-tiba menyergap ke dalam hatnya.


Ada sesuatu yang terasa kosong, ketika Rina tiba-tiba melepaskan pelukannya.


"Maaf," ujar Rina pelan, yang langsung mengalihkan perhatian Arya.


Anjas menoleh sambil mengerutkan keningnya. "Maaf? Untuk apa?" tanyanya.


Rina melirik sinis sambil mengerucutkan bibirnya, Arya memang paling bisa membuatnya salah tingkah seperti ini.


"Eum, untuk yang tadi," jawabnya sambil menundukkan kepala, menyembunyikan semburat merah di pipinya.


"Aku suka. Untuk apa kamu meminta maaf padaku?" ujarnya sambil terkekeh pelan.


"Dasar, dokter cabul!" Rina memukul pelan lengan bagian atas Arya sambil terkekeh ringan, yang disambut dengan tawa Arya.


Ara hanya tertawa saat Rina terus memukul lengannya, kemudian tumbuhnya berbalik dan berdiri berhadapan dengan Rina hingga tangan wanita itu kini beralih memukul dada Arya.


Beberapa waktu berlalu, keduanya tertawa bersama hingga akhirnya Arya menangkap tangan Rina hingga wanita itu tersadar akan posisi mereka yang saling berdekatan kembali.


Mata keduanya sempat terpaut cukup lama, terhanyut akan perasaan yang tersimpan di dalam dada.


Benar kata orang, jika persahabatan antara wanita dan pria itu tidak akan pernah ada yang sempurna, karena pasti salah satunya memiliki perasaan yang berbeda.


Itu juga yang dirasakan oleh Rina dan Arya. Nyatanya, mereka memang sama-sama memedam rasa, walau trauma menghalangi hubungan keduanya.


Perlahan Arya mengambil tangan Rina dan menggenggamnya lembut. Keduanya berdiri berhadapan dengan suasana yang kembali berbeda.


"Rina," panggil Arya dengan suara lembut dan terdengar berat.

__ADS_1


Rina hanya mengalihkan pandangannya, menatap wajah laki-laki yang kini tengah memandangnya penuh dengan sorot mata kelembutan.


"Aku tidak akan pernah bosan untuk menyatakan perasaanku padamu. Dari dulu sampai sekarang, perasaanku padamu masih sama, aku masih menunggu jawaban kamu, atau pertanyaanku yang terus berulang hanya padamu," ujar Arya yang kini berubah serius.


"Kini aku kembali ingin menanyakan hal yang sama. Tapi, seperti biasanya, jangan menganggap ini adalah sebuah paksaan, karena aku hanya membutuhkan sebuah ungkapan, agar hatiku merasa tenang," sambung Arya lagi.


"Aku mencintaimu, Erina Dewilas. Maukah kamu membalas rasa suci ini dan menyatukan hubungan kita menjadi sebuah keluarga, bersama dengan Bintang di tengahnya?" tanya Arya kemudian.


Rina mematung, jantungnya berdebar begitu cepat dengan tangan yang mulai mengeluarkan hawa dingin di ujung jarinya. Kepalanya sedikit menunduk, menyembunyikan rasa gugup karena perasaan yang baru saja diungkapkan oleh Arya.


Cukup lama wanita itu terdiam, dengan segala perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Hingga akhirnya wanita itu membalas kembali tatapan Arya, kemudian menatap pada Bintang yang tengah bermain air dengan suka cita.


"Jika kamu memang ingin hubungan kita berjalan, maka tanyakan kesediaan Bintang dalam ikatan ini. Jawabanku, sama seperti jawaban Bintang," ujarnya, hingga membuat senyum Arya mengembang.


Arya langsung mengalihkan perhatiannya pada Bintang, kemudian kembali melihat Rina, laki-laki itu seakan tidak percaya dengan jawaban Rina yang berbeda dari biasanya.


"Benarkah? Kamu serius?" tanyanya memastikan.


Rina mengangguk membenarkan, hingga membuat Arya tertawa sumringah kemudian mencium punggung tangan Rina kilas.


"Hei, Jagoan!" Arya langsung memanggil Bintang.


"Ya, Pah," jawabnya setelah sampai di depan Rina dan Arya.


Arya langsung berlutut di depan Bintang kemudian memegang kedua lengan bagian atas bocah kecil itu.


"Jagoan, mau gak kalau Papah, sama Mama benar-benar tinggal satu rumah?" tanya Arya, dengan kata yang mudah dimengerti oleh anak kecil.


"Mau!" jawab Bintang langsung, sambil berseru penuh semangat.


"Kamu dengar kan, Rin? Bintang menyetujuinya," ujar Arya sumringah, sambil mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Rina.


Rina ikut berlutut di samping Arya, dia kemudian menatap wajah sang anak dengan raut seriusnya.


"Bintang beneran mau menerima Om Arya jadi Papah Bintang?" tanya Rina.


"Papah Arya memang Papahnya Bintang, Mah," jawab bocah kecil itu dengan wajah polosnya.


Rina dan Arya tersenyum mendengar jawaban Bintang yang menurut mereka lucu.

__ADS_1


"Bintang sudah menyetujuinya, sekarang giliran kamu, Rin," ujar Arya mengambil alih, dia menatap Rina dengan penuh harap.


Rina tersenyum kemudian mengangguk samar. "Seperti yang tadi aku katakan, jawabanku sama dengan jawaban Bintang."


Arya tersenyum senang sambil melihat wajah Rina, tangannya terasa gatal ingin memeluk tubuh wanita di depannya, walau akhirnya dia memilih untuk tidak melakukannya karena menghormati Rina.


Arya melampiaskan kebahagiaannya pada Bintang, dia langsung memeluk Jagoan kecilnya sambil tertawa bahagia.


"Terima kasih, Jagoan. Papah, sangat menyayangi kalian," seru Arya sambil memeluk erat tubuh Bintang.


Setelah merasa cukup bermain, Rina mengajak Arya dan Bintang untuk mandi dan berganti pakaian. Kedua laki-laki berbeda usia itu tidak menolak, mereka langsung menurut begitu diajak menepi ke pantai.


Beberapa saat kemudian Arya, Rina, dan Bintang tampak sudah ke luar dari salah satu pemandian yang ada di sana, dengan pakaian rapih kembali.


"Kita mau makan di mana nih?" tanya Arya saat mereka sedang berjalan menuju mobil, untuk menaruh pakaian kotor.


Suasana hatinya saat ini sedang sangat bahagia, karena jawaban dari Rina yang sama sekali tidak pernah dia sangat sebelumnya.


"Kita makan seafood, Pah!" jawab Bintang langsung.


Arya terkekeh mendengar jawaban dari Bintang yang sudah bisa dia tebak sebelumnya.


"Baiklah, kita makan seafood sepuasnya sekarang!" ujar Arya, yang membuat wajah Bintang begitu berbinar.


Rina yang berjalan mengiringi kedua laki-laki itu hanya bisa menggeleng kepala, melihat kekompakan mereka berdua.


Namun, begitu mereka sampai di resto yang dituju, kebahagiaan Rina dan Bintang langsung redup seketika, saat mereka melihat seorang wanita paruh baya yang kini berada di depan mereka.


Pakaian muslim dengan hijap menutup dada, membuat wanita itu terlihat anggun, walau sorot matanya terlihat tidak suka saat melihat Rina dan Bintang.


"Sedang apa kamu di sini? Pantas saja akhir-akhir ini kamu sulit sekali disuruh pulang ke rumah, ternyata kamu sedang asik sendiri di sini!" ujar wanita paruh baya itu, dengan raut wajah dan nada bicara judes.


Bintang bahkan sampai memegang erat tangan Rina, seolah sedang takut pada sorot mata tidak suka dari wanita paruh baya itu.


"Umi, kita bicara di sana saja, ya, nanti aku jelaskan." Arya memegang tangan wanita paruh baya itu kemudian mengajaknya untuk pergi menjauh dari Rina dan Bintang.


"Tidak usah, nanti sore Umi tunggu kamu di rumah, awas kalau kamu tidak datang lagi!" kesalnya kemudian melirik Rina dan Bintang sekali lagi, sebelum berlalu menuju suaminya yang masih terlihat duduk tenang di mejanya, walah tatapannya pada Rina dan Bintang terlihat begitu misterius.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2