
"Jangan berbohong kamu, Rin!" Anjas meninggikan suaranya, dia pun menoleh menatap Rina dengan sorot wajah penuh amarah.
Rina balas menatap Anjas, dia berusaha memberanikan diri untuk membalas tatapan tajam suaminya.
"Siapa yang berbohong, Mas? Aku memang sendiri," bantah Rina.
"Halah, dasar wanita murahan! Kamu masih merasa gak cukup dengan semua uang yang aku berikan, sampai harus menjual harga diri kamu sendiri, hah?!" tanya Anjas, dengan nada meremehkan dan tatapan hina.
Rina menggeleng pelan, dia tidak pernah menyangka kalau Anjas akan bisa mengeluarkan kata yang begitu menyakitinya seperti ini.
Mata Rina tampak memerah dengan air yang sudah hampir tumpah, walau sekuat tenaga Rina menahannya.
"Tega sekali kamu, Mas, ngomong kayak gitu sama aku," ujar Rina masih mencoba bertahan beradu tatap dengan suaminya.
"Memang kamu seperti itu, Kan? Tidak ada suami di rumah, asik ke luar untuk bertemu dengan laki-laki lain. Apa bedanya kamu sama wanita murahan?"
Rina langsung berdiri di hadapan Anjas, kemudian melayangkan satu tangannya hingga akhirnya mendarat tepat di pipi suaminya.
"Jaga mulut kamu, Mas! Walaupun aku hanyalah seorang perempuan kampung, tapi aku masih punya harga diri, Mas, aku tau caranya bersikap!" sentak Rina dengan napas yang memburu, hingga dadanya naik turun.
Anjas semakin terbakar amarah, dia memegang pipinya yang terasa panas, akibat tamparan dari tangan Rina. Anjas pun ikut berdiri tepat di depan Rina.
"Mana buktinya kalau aku seperti yang kamu bilang, Mas? Jangan sembarangan bicara sebelum kamu mempunyai buktinya!" ujar Rina, dia sedikit mendongak karena Anjas lebih tinggi darinya.
"Aku tidak perlu bukti karena aku melihatnya sendiri, Rina! Jadi sebaiknya kamu jangan mengelak lagi!" Anjas tidak mau kalah.
"Sebenarnya anak siapa yang sedang kamu kandung ini, hah?!" sambungnya lagi menunjuk perut Rina yang sudah terlihat membuncit.
"Apa kamu merasa tidak pernah menyentuhku, itu sebabnya kamu terus meragukan anak ini, Mas? Bukankah kamu sendiri yang mengambil keperawanan aku?" debat Rina dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipi.
"Sekarang apa mau kamu untuk membuktikan anak ini? Apa kita harus melakukan tes DNA? Aku siap jika kamu memaksa! Tapi, jika sampai anak ini terbukti adalah anak kamu, Mas ... aku ingin kamu menceraikan Tari!" ujar Rina, sesekali dia mengetuk dada Anjas, melupakan segala rasa sakit di dalam dada.
__ADS_1
Kini air mata pun semakin deras mengalir, seiring dengan keberanian yang entah mengapa terasa ada di puncaknya, hingga yang biasanya dirinya tidak bisa membantah, kini semuanya terasa ringan untuk dikatakan.
"Gila kamu, Rina! Kamu pikir, setelah kamu memiliki ragaku, kamu bisa memiliki hatiku, hah?! Tidak bisa, Rina ... hatiku sudah terlanjur aku berikan pada Tari!" Anjas langsung membantah persyaratan Rina.
"Aku hanya mengajukan syarat, Mas. Jika memang tidak mau, ya sudah! Aku juga tidak pernah memaksa," Rina mengalihkan pandangannya, dia sudah terlalu lelah untuk melakukan segala perdebatan tidak masuk akal itu.
"Sudahlah, Mas, kalau kamu datang ke sini hanya untuk menghinaku, lebih baik kamu kembali pada istri tercintamu itu. Setidaknya aku bisa tidur dengan tenang, jika kamu tidak ada di sini, Mas," sambung Rina lagi, kemudian berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar.
Rina menutup pintu dan menguncinya, sebagai tanda kalau dirinya tidak lagi mau diganggu oleh Anjas.
"Rina, lancang kamu meninggalkan suami yang belum selesai berbicara!" terdengar teriakan Anjas dari luar kamar.
Anjas melihat punggung Rina yang semakin menjauh, dia mengepalkan tangannya begitu erat hingga terlihat memutih di beberapa bagian. Rasanya terasa sesak saat ucapannya tidak lagi dianggap.
Tatapan tajam mata yang memendam sejuta amarah itu terlihat terus menyorot tubuh kurus istrinya yang berjalan menjauh hingga akhirnya menghilang seiring pintu tertutup.
"Hah, dasar brengsek!" umpat Anjas dengan suara yang keras, hingga sampai terdengar ke kamar.
Ya, Anjas, Hilman, dan Arya dulunya adalah sahabat dekat, mereka adalah tiga sekawan yang terkenal begitu setia di sekolah. Hingga sesuatu berhasil memecah persahabatan mereka dan akhirnya Anjas memusuhi Arya, sedangkan Arya memilih menghilang tanpa pernah bertemu lagi dengan kedua mantan sahabatnya itu.
Kini tanpa sengaja mereka bertemu dengan perantara Rina, walau sampai sekarang Arya dan Rina sama sekali belum tau tentang hubungan yang menyatukan mereka.
"Aah! Kenapa harus dengan dia?! Brengsek!" Anjas berteriak sambil menghancurkan barang-barang yang ada di sana.
Anjas butuh pelampiasan untuk mengeluarkan dan menyalurkan emosi yang sudah terlanjur sampai di ubun-ubun.
Dalam kamar Rina menutup telinganya dari semua suara gaduh di luar sana, dia meringkuk di balik pintu dengan air mata terus berderai.
Kegaduhan itu baru berhenti setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, dilanjutkan dengan suara mobil yang ke luar dari depan rumahnya.
Rina membuka matanya setelah tahu kalau Anjas telah pergi dari rumahnya, perlahan dia bangkit dan berdiri di balik pintu, dengan kaki yang terasa lemas dia memaksakan diri untuk melangkah ke luar, melihat apa saja yang telah dihancurkan oleh suaminya.
__ADS_1
Matanya melebar begitu melihat kondisi ruang tengah rumahnya yang sudah hancur sepenuhnya, meja kaca sudah hancur dengan berbagai hiasan lainnya yang berserakan di lantai.
"Akh!" Rina berteriak saat merasakan sesuatu melukai kakinya yang berjalan tanpa memakai alas.
Dengan langkah terlatih dia berjalan menuju ke dapur dan duduk di meja makan, Rina bisa melihat di setiap jejak langkah kakinya, terlihat tetesan darah di sana.
Rina mengangkat kakinya dengan susah payah, akibat terhalang perutnya yang membesar, dia bisa melihat ada pecahan kaca yang terlihat menancap di kakinya.
"Astagfirullah," gumamnya sambil meringis menahan sakit.
Apa jika aku tidak masuk ke kamar, maka kamu juga akan melampiaskan kemarahanmu padaku, Mas?
Rina meratap di dalam hati, sambil melihat pemandangan mengerikan tidak jauh dari tempatnya duduk.
Sekarang rasanya dia bersyukur karena telah meninggalkan Anjas ke kamar di tengah perdebatan, setidaknya dia tidak melihat semua kemarahan suaminya yang ternyata sangat mengerikan.
Rina mengambil kotak obat kemudian membawanya ke kamar, dia memilih untuk mengobati lukanya dan akan membereskan semua kekacauan itu besok pagi.
Rina lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, setelah semua perdebatan tiba-tiba itu. Hatinya masih begitu sesak saat ingatan tentang penghinaan yang diucapkan oleh Anjas berputar bagaikan sebuah film layar lebar.
Tidak pernah terbersit sedikitpun di dalam hatinya untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lain di belakang Anjas, rasa cintanya pada Anjas bahkan masih bertahan sampai sekarang.
Namun, sepertinya kejadian ini seolah telah membuat Rina berada di titik lelah, dia masih bisa bertahan jika Anjas hanya mengacuhkannya, dia juga akan bertahan jika Anjas tidak lagi menganggapnya.
Akan tetapi, disaat penghinaan dan kekerasan sudah mulai berbicara. Apakah itu masih patut untuk dipertahankan? Walau terkadang rasa ragu menyelimuti, ketika dia mengingat lagi anak yang ada di kandungannya.
"Mama bisa bertahan tanpa ayahmu, Nak, Mama janji akan baik-baik saja. Tapi, apakah kamu akan bertahan jika lahir tanpa Ayah? Hidup ini keras dan Mama tidak mau kamu menghadapi itu, Nak. Itu sebabnya Mama terus bertahan dalam keadaan ini."
Rina mengusap perut yang kini telah terlihat semakin besar, gerakan halus seolah membalas dari dalam sana, membuat Rina tersenyum tipis, walau akhirnya terlihat miris.
"Apakah boleh sekarang Mama menyerah, Nak? Mama lelah," sambung Rina lagi.
__ADS_1
...****************...