Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.52 Cemburu


__ADS_3

Anjas berjalan masuk ke rumah dengan langkah lemasnya, sudah dua hari ini dia tidak pulang, karena lembur di kantor. Kini dia hanya ingin beristirahat karena tubuhnya sudah sangat lelah.


Pekerjaan sedang sangat menumpuk, sedangkan Hilman sedang pergi ke luar kota untuk menemui salah satu klien, sekaligus menghadiri acara reuni kampus mereka.


Namun, suara tangis Syafira kini mengalihkan perhatiannya, dengan kening mengernyit dalam, Anjas membelokan langkahnya menuju kamar Syafira.


"Ada apa, Siti? Kenapa Syafira menangis?" tanya Anjas begitu dia membuka pintu, dia melihat Siti ‐- pengasuh Syafira-- sedang mencoba menenangkan anak itu.


"Ini, Pak -- badan Non Syafira panas sejak tadi malam," jawab Siti sambil menggendong anak yang baru genap berusia lima tahun itu.


"Ke mana Tari?" tanya Anjas saat melihat Tari tidak ada di sana.


"Eum, itu, Pak--" Siti tampak enggan untuk berbicara.


"Ada apa, Siti?!" Anjas berbicara penuh penekanan. Dirinya sedang sangat lelah sekarang, sampai tidak bisa untuk bersabar.


"Ibu Tari belum pulang, Pak," lirih Siti dengan kepala yang menunduk, seolah dia yang sedang berbuat salah.


"Sejak kapan?" tanya Anjas masih dengan nada suara malas.


"Eum, se--sejak kemarin, Pak." Sinti menjawab sambil menundukkan kepala dalam, takut akan kemarahan sang majikan.


"Apa?! Ke mana saja dia, sampai tidak pulang sjak kemarin, apa dia sudah lupa kalau sudah mempunyai suami dan anak yang harus diurus?!" Tanpa sadar Anjas meninggikan suaranya, hingga Syafira yang sedang menutup mata langsung terbangun dan menangis semakin kencang.


"S--saya tidak tau, Pak," geleng Siti.


Melihat tangis Syafira yang semakin kencang sambil memanggilnya, Anjas mulai mengatur napas, dia hampiri anak perempuan yang tengah sakit itu, walau tubuhnya sangat lelah. Anjas kemudian menempelkan punggung tangannya di kening Syafira.


"Panas sekali," gumamnya, sambil melebarkan mata, kemudian melirik pada pengasuh Syafira yang masih berumur sangat muda.


Syafira menatap sayu wajah Anjas, dengan tangan yang menjulur meminta digendong. Anak itu rindu kasih sayang orang tuanya.


"Sini, sayang," ujar Anjas sambil menggendong Syafira, di mencoba untuk meredam amarahnya pada Tari di depan Syafira.


"Kamu sudah mengubungi Tari?" tanya Anjas sambil mulai menimang sang anak.


"Sudah, Pak. Tapi tidak ada jawaban." Siti menunduk takut.


Anjas kembali menghembuskan napas kasar, begitu mendengar jawaban dari pengasuh anaknya itu.


"Siapkan perlengkapan Fira, kita ke rumah sakit sekarang," titah Anjas, kemudian berlalu ke luar dari kamar itu.


"Baik, Pak."


Beberapa saat kemudian Anjas sudah sampai di rumah sakit yang dia tuju, tempat biasa Tari memeriksakan diri. Selama ini dia belum pernah mengurus masalah Syafira, dan itu menyulitkannya sekarang.

__ADS_1


"Saya akan mendaftar dulu, Pak," izin Siti saat melihat Anjas kebingungan.


"Heem, baiklah." Anjas mengangguk masih sambil menggendong Syafira. Anak itu sejak tadi tidak mau lepas dari gendongan sang ayah, katanya takut ditinggal lagi.


Anjas kemudian memilih duduk di kursi tunggu, sambil menunggu Siti selesai mendaftar, hingga beberapa saat kemudian, wanita muda yang katanya seorang janda itu kembali dengan wajah yang tersenyum lega.


"Untung saja dokternya masih ada jadwal praktek," ujarnya begitu sampai di depan Anjas. Setelah itu, keduanya kini berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju ruang pemeriksaan anak. Mereka bahkan harus menaiki lift, karena ruangannya berada di lantai tiga rumah sakit.


Begitu sampai di sana, ternyata pasien yang menunggu masih cukup banyak, hingga Anjas harus menunggu giliran. Tubuh yang lelah, kini bertambah semakin tidak karuan rasanya, ketika membayangkan lamanya antrian.


.


Sementara itu, di salah satu hotel mewah yang berada di pusat ibu kota, sorot cahaya matahari, mengganggu tidur seseorang di sana. Wanita itu mulai mengerjapkan matanya dengan kepala yang terasa sangat berat.


Perlahan dia mulai bangkit kemudian menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil mulai mengumpulkan kesadaran.


Seiring kesadarannya yang mulai pulih, kilasan kejadian tadi malam pun mulai kembali pada ingatannya.


Ya, sejak kemarin dia ikut ke luar kota bersama dengan Hilman yang ingin menghadiri reuni kampus mereka. Wanita itu membutuhkan hiburan dari rasa sakit hati yang kini selalu menyiksanya.


Semalam Tari begitu menikmati pesta yang bertempat di salah satu bar di ibu kota dengan cara minum-minum.


Tari mengernyitkan keningnya, saat ingatannya terhenti ketika dia sudah menghabiskan hampir dua botol minuman seorang diri. Hilman yang berada di sana bersamanya kemudian membawanya paksa dari pesta dengan cara menggendongnya.


Tunggu!


Itu bukan barang sembarangan. Itu adalah, pakaian yang dia kenakan tadi malam, lengkap dengan pakaian bagian dalamnya.


"Astaga!" Tari hampir saja memeikik karena terkejut, dia kemudian mengalihkan pandangannya pada tubuhnya sendiri, yang ternyata sudah tanpa busana.


Matanya kini beralih ke sampingnya. Dia semakin terkejut saat melihat Hilman yang tampak tertidur pulas di sana. Satu lagi yang membuatnya bahkan sampai membuka mulutnya adalah; keadaan Hilman tidak jauh berbeda darinya.


Tari, memegang kepalanya, memaksa ingatannya untuk kembali. Dia membutuhkan ingatannya semalam, untuk memperjelas situasi saat ini.


Namun, setelah sekian lama dia berusaha mengingatnya, tidak ada sama sekali kilasan bayangan yang hadir saat dia sudah meninggalkan area pesta bersama dengan Hilman.


"Sial!" decaknya kesal.


"Heuk!" Lama berpikir ternyata hanya membuat kepalanya semakin pening, hingga rasanya mual mulai menyerangnya.


Tari menutup mulutnya, dia beranjak dari tempat tidur dengan cara menarik paksa selimut yang menutupi tubuhya dan Hilman. Wanita itu kemudian berlari menuju toilet, hingga membuat Hilman terpaksa harus membuka mata, karena gerakan yang dibuat oleh Tari.


Laki-laki itu hanya terlihat menyeringai saat melihat pintu kamar mandi tertutup, kemudian mulai bangkit dan memungut pakaiannya kembali yang berserakan di lantai.


.

__ADS_1


Anjas beranjak dari kursi tunggu, ketika nama sang anak dipanggil untuk diperiksa. Dia membawa langkah lebarnya menuju ke ruang dokter, dengan Syafira berada di gendongannya.


Namun dia kemudian menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, saat melihat seseorang yang kini tengah duduk di kursi dokter sambil melihat riwayat kesehatan anaknya.


Kedua laki-laki itu kemudian saling beradu tatap, ketika dokter itu mengangkat kepalanya sambil tersenyum lembut. Namun nyatanya terlihat munafik dan menyebalkan bagi Anjas.


Baik Anjas maupun Arya kini tampak saling terdiam untuk beberapa saat, hingga Arya yang lebih dulu sadar meneruskan tugasnya sebagai dokter secara profesional.


"Panas sejak kapan?" tanya Arya dengan nada suara yang berubah sedikit canggung. Sangat berbeda dari sikap Arya yang lembut serta ramah seperti biasanya saat menerima pasien, hingga perawat yang menemaninya pun mengernyitkan kening.


"Sejak semalam, Dok. Sudah saya coba kompres dan berikan obat penurun demam, tapi demamnya tidak kunjung menurun." Siti menjawab dengan lugas, tanpa tahu konflik yang terjadi antara tuannya dan dokter di depannya.


"Baiklah, mari kita periksa, putri kecil ini," ujar Arya sambil beranjak menuju brankar pemeriksaan, di tersenyum tulus pada Syafira.


Anjas berdecak lalu mengikuti Arya menuju brankar pemeriksaan. Dia tidak suka akan situasi ini, walau hatinya juga merasa penasaran, bagaimana caranya seseorang yang pernah menginap di jeruji besi, bisa menjadi seorang dokter.


Syafira sempat menangis, tidak mau melepaskan pelukan Anjas, hingga akhirnya Arya harus turun tangan merayunya, karena Anjas yang terlihat kaku.


Disebabkan kedekatan Arya dan anak-anak, dan pengalaman menghadapi berbagai macam anak di panti asuhannya dan juga para pasiennya, Arya berhasil menenangkan Syafira. Anak itu pun bersedia diperiksa oleh Arya.


Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya, Arya kini berdiri berdampingan dangan Anjas lagi, karena kejadian tidak sengaja yang kini tampak membuat keduanya saling melirik.


Ya, sebenarnya hari ini bukan jadwal Arya untuk praktek. Namun, karena salah satu dokter sedang ada halangan, jadi dirinya yang menggantikan.


Anjas merasa cukup terkesan dengan sikap Arya yang profesiaonal dan dekat dengan anak-anak, sedangkan dirinya ... jangankan untuk dekat dengan anak orang lain, dengan Syafira saja, dia sering kali mengacuhkannya.


Setelah mengatakan diagnosanya dan memberikan saran untuk menangani panas dan kerewelan Syafira, Arya pun memberikan resep untuk Anjas tebus di apotek rumah sakit.


Anjas langsung ke luar begitu pemeriksaan selesai. Namun, kini yang dia lihat di depan ruang dokter membuatnya melebarkan mata.


Di salah satu kursi tunggu yang ternyata sudah kosong karena sepertinya dirinya adalah pasien terakhir, terlihat Rina dan Bintang yang tengah duduk sambil bercengkrama.


Anjas sempat menghentikan langkahnya, untuk beberapa saat dia terpaku ketika melihat tawa ceria Rina dan Bintang di sana.


Rina yang mnoleh pun sempat beradu tatap dengan Anjas, walau dengan cepat wanita itu langsung mengalihkannya lagi. Hingga Anjas hanya bisa menahan rasa kecewanya, kemudian melanjutkan langkahnya.


"Hai, sayang, kalian sudah datang!" Arya yang baru saja ke luar dari ruangannya dan melihat Rina juga Bintang, langsung berjalan menghampiri dengan wajah yang penuh semangat.


Rina dan Bintang pun berdiri menyambut laki-laki yang begitu berarti di dalam hidup mereka. Bintang bahkan terlihat langsung memeluk Arya tanpa ragu.


Pemandangan itu terlihat jelas oleh Anjas, hingga membuat hatinya merasa panas. Entah itu untuk kebahagiaan Rina, atau untuk kedekatan Bintang dan Arya.


Yang dia tahu, saat ini dirinya sedang dilanda cemburu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2