Istri Selingan

Istri Selingan
Bab.87 Hampir saja


__ADS_3

Sementara itu, Ibu Anjas yang sempat melihat Bintang berjalan menuruni anak tangga bersama karyawan restoran pun menghentikan aktivitas makannya. Wanita paruh baya itu beralih memperhatikan Bintang yang tampak berjalan riang menuju ke arah tempat karyawan lainnya berada.


"Apa itu anak kandung Anjas? Wajahnya mirip seperti Anjas," gumam wanita paruh baya itu seraya memicingkan matanya agar bisa lebih jelas melihat Bintang.


Perlahan dia beranjak dari kursi kemudian mulai melangkahkan kakinya hendak menghampiri Bintang yang kini memilih untuk duduk sebentar bersama dengan kasir.


Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat seorang lelaki yang dia kenal tampak menghampiri Bintang.


"Arya? Apa dia mengenal wanita itu dan anaknya?" gumamnya sambil mengernyit bingung.


"Papa!" Bintang tampak berseru sambil merentangkan tangannya meminta digendong oleh Arya.


"Papa? Apa sekarang Arya sudah menikah?" Ibu Anjas kembali bergumam bingung.


"Hai, jagoan Papa. Kenapa kamu ada di sini, hem? Mama mana?" tanya Arya sambil mengambil Bintang ke dalam gendongannya.


"Mama lagi ada tamu, jadi Bintang disuruh tunggu di toko," jawab Bintang dengan wajah polosnya.


"Begitu?" tanya Arya yang langsung diangguki oleh Bintang.


"Ya sudah, gimana kalau kita main di atas saja, sambil nunggu Mama selesai?" tanya Arya memberi saran pada Bintang.


"Ayo," jawab Bintang dengan wajah gembira.


"Oke, kita jalan ke atas!" seru Arya sambil berjalan dengan Bintang masih di dalam gendongannya. Mereka akan bermain di ruangan tempat biasanya orang mengadakan acara.


"Ayo!" Bintang berteriak kegirangan sambil mengacungkan salah satu tanganya ke atas.


Namun langkah Arya sedikit terhenti saat melihat ibu Anjas yang berdiri mematung tidak jauh dari tangga. Dia menatap wanita itu sekilas kemudian menganggukkan kepala samar saat mata keduanya bertemu. Arya memilih acuh dan melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, tanpa menyapa lebih dulu.


.


"Heh! Cucu?" Rina menatap sinis wajah laki-laki paruh baya di depannya, dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Kata siapa kalau Bintang itu cucu Anda, Pak? Bintang hanya anakku, dan selamanya akan seperti itu!" ujar Rina tajam. Dia tidak akan pernah rela jika Bintang harus jatuh kepada orang seperti ayah Anjas.


"Sudahlah, tidak usah mengelak lagi. Aku mempunyai bukti jika Bintang memang cucu kandungku," balas ayah Anjas dengan raut wajah yang kini tampak berbeda, dia memperlihatkan foto tes DNA Bintang dan Anjas yang dia miliki.

__ADS_1


Rina semakin geram, dia yakin jika itu bukti yang dulu pernah dibawa Anjas padanya. Itu sudah dapat meyakinkan dirinya kalau memang Anjas yang sudah memberitahu orang tuanya tentang Bintang.


Anjas! Apa lagi maumu sekarang? geram Rina mengepalkan tangannya.


"Bukti?" Rina tertawa sumbang. "Anda pikir dengan bukti ini, Anda berhak untuk menemui anak saya dan membawanya dari saya? Heh!"


Rina tampak membuang muka dengan hembusan napas kasar di belakang kalimatnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki di depannya itu, mengapa bisa orang yang jauh lebih tua darinya, malah langsung berkata seperti itu padanya, apa lagi dia bukanlah orang biasa.


Wajah laki-laki yang mungkin beberapa tahun lagi harus pensiun itu langsung berubah kelam, dia tidak suka menerima penolakan, apa lagi itu dilakukan oleh seorang wanita yang lebih muda darinya dan dari kalangan biasa saja seperti Rina. Ayah Anjas merasa terhina saat ini.


"Apa kamu bilang? Dasar wanita tidak tahu diri! Aku sudah baik mau menemui kamu dan meminta kamu untuk menyerahkan Bintang dengan baik. Tapi, kamu malah menghinaku seperti ini?!" sentak ayah Anjas


Rina tersenyum sarkas, dia tidak mungkin percaya kalau ayah Anjas bisa berkata seperti ini, jika dirinya tidak melihatnya sendiri seperti ini.


"Menghina? Siapa yang telah menghina Anda? Saya hanya berbicara kenyataan, Pak." Rina berujar lirih, tetapi masih bisa didengar jelas oleh ayahnya Anjas.


"Sepertinya setelah bertemu dengan Anda secara langsung, saya benar-benar yakin kalau saya tidak salah dengan keputusan saya sebelumnya. Dan, saya juga semakin yakin tidak akan mengizinkan Bintang untuk bertemu dengan Anda!" balas Rina tak kalah tajam.


Kini mata kedua orang itu tampak saling bertemu dengan sorot mata yang sama-sama tajam. Ayah Anjas dengan arogansinya dan Rina dengan kekuatan seorang ibu yang ingin mempertahankan anaknya. Hingga, akhirnya ayah Anjas memutuskan tautan mata diantara mereka sambil mendengkus kesal.


"Silahkan saja, Anda pikir saya takut? Tidak sama sekali!" tantang Rina.


Ayah Anjas tersenyum miring, sepertinya dia senang mendapatkan lawan yang cukup berani seperti Rina.


"Baiklah, kita lihat saja nanti, siapa yang akan mendapatkan hak asuh Bintang di pengadilan?!" ujar ayah Anjas dengan wajah yang sudah terlihat kelam.


"Yakin sekali, Anda .... Sayang sekali itu hanya sebuah mimpi," ujar Rina dengan senyum sinisnya.


"Kamu!" Ayah Anjas mengangkat tangan kanan dengan wajah hendak menampar Rina, karena sudah tidak bisa lagi menahan amarah. Namun, teriakan dari arah pintu membuat tangan itu hanya berhenti di udara.


"Mama!" Bintang yang baru saja turun dari gendongan Anjas tampak berlari dengan wajah cemas pada Rina, dia langsung memeluk tubuh sang ibu dengan erat.


"Mama enggak apa-apa, kan? Maaf, Bintang enggak tau kalau ada orang yang mau jahatin Mama di sini," ujar anak itu seolah dia bisa melindungi Rina.


Rina tersenyum dia mengusap punggung anaknya pelan, matanya melirik wajah ayah Anjas yang tampak salah tingkah, kemudian menurunkan tangannya dengan kasar. Mungkin dia kesal karena telah dikira orang jahat oleh Bintang.


"Mama enggak apa-apa, sayang. Kamu kok ke sini, ada apa, hem?" tanya Rina lembut, nada suaranya jauh berbeda sari sebelumnya ketika sedang berdebat dengan ayah Anjas, membuat laki-laki paruh baya itu berdecak pelan sambil mencibir.

__ADS_1


"Aku ke sini sama Papah," jawab Bintang sambil melihat ke arah pintu masuk, di mana Arya tampak berdiri.


Ayah Anjas pun melihat Arya yang tampak sedang berjalan masuk, wajahnya kini mulai kembali merah padam dengan tangan yang mengepal kuat.


"Ada apa ini, sayang?" tanya Arya sambil merangkul pinggang Rina, dia tampak santai seolah tidak tahu apa-apa tentang masalah ayah Anjas dan Rina.


Arya tahu jika Rina tidak akan suka kalau dia membuat keributan di depan Bintang. Maka dari itu dia memilih untuk menahan emosinya walau dadanya terasa terbakar saat mendengar Rina di bentak bahkan akan ditampar oleh ayah Anjas.


Jika saja dia terlambat sedikit, Arya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Rina. Untung saja tadi dia tiba-tiba ingin mengajak Bintang untuk bermain di ruang acara, hingga akhirnya mereka mendengar suara seseorang yang membentak dan membuatnya jadi curiga lalu memilih menemui Rina dahulu.


"Gak apa-apa, ini hanya masalah kecil saja," jawab Rina sambil melirik ayah Anjas yang tampak kembali menahan emosi.


"Maaf, Pak. Jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan sebaiknya Bapak kembali ke bawah. Kasihan, istri Bapak pasti sudah lama menunggu," ujar Rina kini beralih pada ayah Anjas, dia berharap laki-laki paruh baya itu bisa mengerti kalau mereka tidak mungkin melanjutkan perdebatan di depan Bintang.


Ayah Anjas tampak menatap tajam Rina dan Arya bergantian, dia kemudian berdecak pelan sebelum melangkahkan kaki dan pergi begitu saja dari ruangan Rina, tanpa ada kata berpamitan lebih dulu.


"Sopan sekali, dia," ujar Arya menyindir dengan kata sarkas, dia hendak menyusul ayah Anjas untuk meminta perhitungan, tetapi Rina langsung menahannya.


"Sudahlah biarkan saja, yang penting sekarang dia sudah pergi." Rina melepaskan tangan Arya dari pinggangnya kemudian membawa kakinya melangkah menjauh dari Arya.


Arya yang merasakan itu tampak mengernyit, seolah tidak rela lepas dari Rina, yang ditanggapi oleh kekehan ringan wanita itu.


"Belum mahrom, Papah," jawab Rina menggoda Arya.


Arya tersenyum, mendengar Rina memanggilnya dengan kata yang berbeda.


"Apa? Tadi kamu panggil aku apa? Coba ulang sekali lagi, aku gak kedengeran," ujar Arya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat pada Rina, hingga membuat wanita itu kembali mundur selangkah.


"Enggak ada pengulangan." Rina memilih untuk duduk bersama dengan Bintang di sampingnya.


"Ish, kalau gini jadi gak sabar ngajak kamu ke KUA, deh," gemas Arya diiringi dengan kekehan ringan di akhir kalimatnya, dia senang melihat pipi Rina yang bersemu.


Setidaknya dia bisa sedikit menghibur kekasihnya itu, setelah pertemuannya dengan ayah Anjas yang pasti sangat menegangkan. Dia tahu sikap ayah Anjas, makanya dia bisa menebak suasana hati Rina saat ini.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2