
"Kenapa kamu mau pernikahannya dilakukan lebih awal, Arya?" tanya Abi, saat Arya meminta izin atas rencananya untuk menikahi Rina terlebih dahulu sebelum Ranti melahirkan.
"Astagfirullah, Arya! Jangan bilang kalau--" Ummi tampak tidak bisa melanjutkan perkataannya, dia menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan. Matanya pun tampak melebar sempurna, menatap Arya dengan dugaan di dalam pikirannya.
"Enggak, Ummi. Arya belum pernah menyentuh Rina. Kami berdua tau batasan yang tidak bisa kami lewati," jawab Arya sambil mendesah berat. Dia langsung memutuskan pikiran sang ibu yang sudah pasti sudah melebar ke mana-mana.
"Alhamdulillah!" Abi dan ummi berkata serempak, sambil menghembuskan napas lega.
Arya menatap kedua orang tuanya bergantian dengan kerutan samar di keningnya. Dia tidak menyangka kalau abi juga berpikiran sama seperti ummi.
"Abi?" Arya bertanya heran. Bila itu ummi, Arya tidak akan heran karena ummi memang seperti itu. Namun abi ... orang yang selalu terlihat tenang, ternyata jua berpikir kalau Rina hamil duluan? Sungguh mengejutkan.
"Kamu dan Rina sudah sama-sama dewasa, wajar kalau abi merasa khawatir dengan hubungan kalian, bukan?" ujar Abi sambil mengusap tengkuknya canggung. Dia merasa malu karenanya sempat berpasangan buruk pada anaknya.
"Ish, kalian ini," desah Arya. Namun beberapa saat kemudian dia tersenyum saat bisa mendapatkan celah untuk memberi alasan pada abi dan ummi.
"Benar kata Abi, aku kan sudah dewasa dan sangat cukup untuk menikah, jadi dari pada kami tidak tahan lalu melakukan dosa, bukannya lebih baik aku dan Rina menikah dulu? Masalah resepsi, baru kita lakukan setelah Ranti melahirkan," ujar Arya dengan lugas dan yakin.
Ummi dan abi tampak saling melirik, sepertinya mereka masih bingung dengan keputusan yang diambil oleh Arya. Hingga membuat Arya tampak terdiam cukup lama dengan jantung bertalu cepat, menunggu keputusan yang akan diberikan kedua orang tuanya.
.
Sementara itu di tempat lain, ayah Anjas tampak menerima seorang tamu di kantornya. Laki-laki dengan kepala botak itu tampak duduk di depan ayah Anjas sambil membaca berkas yang telah disiapkan oleh ayah Anjas.
Seorang pengacara yang cukup handal di kota itu, dia juga salah satu teman baik ayah Anjas.
"Bagaimana? Apa itu cukup untuk menuntut hak asuh cucu kandungku?" tanya ayah Anjas, begitu laki-laki di depannya menutup berkas sambil menyandarkan punggungnya.
"Sepertinya ini sulit, karena Anjas dan Rina tidak menikah secara hukum. Itu membuat Bintang pun tidak sah menjadi anak Ajas secara hukum. Dengan begini, akan sangat sulit untuk menang di pengadilan, karena hak asuh akan mutlak ada di tangan Rina, mengingat anak itu juga masih dibawah umur." Laki-laki itu tampak menggeleng lemah merasa tidak sanggup untuk menerima kasus ini.
"Semua bukti ini jelas malah menguntungkan lawan, Pak. Maaf," ujar laki-laki itu pada ayah Arya, sambil kembali menaruh berkas di tangannya ke atas meja.
"Jadi kita tidak bisa melalui jalur hukum?" tanya ayah Anjas menatap laki-laki di depannya penuh kecewa.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Kasus ini sangat tidak menguntungkan untuk, Bapak. Saya pikir, bahkan akan berpengaruh buruk bagi reputasi Bapak, jika semua ini sampai diproses di pengadilan." Kini laki-laki itu terdengar memberi saran pada temannya itu.
Ayah Anjas tampak terdiam, untuk beberapa saat mereka seolah tenggelam dalam suasana sunyi di ruangan itu, hingga akhirnya ayah Anjas kembali menatap wajah pengacaranya itu.
"Baiklah kalau begitu ... terima kasih atas saran dan masukannya. Sekarang kamu sudah boleh pergi," ujar Ayah Anjas pelan. Wajah laki-laki itu kini terlihat kacau dari sebelumnya.
"Saya permisi, Pak," ujar pengacara itu kemudian beranjak dari tempat duduknya. Bersalaman sebentar sebagai tanda perpisahan, lalu segera melangkahkan kaki ke luar dari ruangan itu.
Begitu pintu tertutup rapat, ayah Anjas langsung berdiri sambil berkecak pinggang. Hingga ....
Brak!
"Akh, sialan! Dasar anak bodoh! Tidak berguna!" Ayah Anjas tampak berteriak sambil menyingkirkan semua barang yang ada di meja, meluapkan amarah yang sejak tadi dia tahan di dalam dada.
Kaki laki-laki paruh baya itu tampak berjalan gelisah di tengah kekacauan, dia terus berjalan bolak-balik dengan wajah yang sangat prustasi.
"Dia bahkan tidak bisa mengurus sesuatu dengan benar, bahkan tentang anak sekali pun," geram ayah Anjas yang terus saja mengumpat.
.
Rina tampak terdiam dengan tubuh yang terasa gemetar saat Arya datang dengan membawa kabar dari kedua orang tuanya. Laki-laki itu bahkan langsung menemui kekasihnya setelah dia sampai dari rumah kedua orang tuanya.
"Jadi mereka setuju?" tanya Rina dengan mulut bergetar dan mata berkaca-kaca.
"Iya, sayang. Kita akan menikah seminggu lagi, aku akan segera mengurus semua syarat untuk pernikahan kita sedangkan ummi akan mengurus dekorasi dan kamu terpaksa harus bertanggungjawab untuk makanan. Kita adakan acara syukuran kecil-kecilan saja di rumah," ujar Arya dengan penuh semangat dia menjelaskan rencana yang sudah dia rancang bersama dengan abi dan ummi.
"Ini kartu untuk kebutuhan makanan dan yang lainnya yang dibutuhkan untuk pernikahan kita," sambung Arya lagi sambil menaruh kartu berwarna hitam di atas meja.
"Tapi--" Rina tampak enggan mengambil kartu yang ada di atas meja, dia hanya melihatnya dengan kening yang berkerut.
"Kenapa, sayang? Apa kamu tidak setuju dengan pernikahan kita? Atau kamu merasa keberatan dengan sesuatu?" tanya Arya bingung. Ada rasa khawatir yang mulai mencuat membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Rina terdiam, dia melihat Arya lekat. Hingga akhirnya menghembuskan napas pelan sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya.
__ADS_1
"Kenapa enggak bilang dulu sama aku?" Bukannya menjawab, Rina malah bertanya.
Arya tampak terkejut dengan pertanyaan Rina. Dia memang tidak berpikir untuk menanyakan semua itu pada Rina sebelum mengambil keputusan, mengingat waktu Rina selalu luang dan dia juga mengira kalau waktu seminggu sudah cukup untuk bersiap-siap.
Arya lupa jika di dalam sebuah keputusan harus ada persetujuan dari kedua belah pihak lebih dulu, apa lagi ini masalah sebuah pernikahan. Sesuatu yang sangat penting di dalam setiap kehidupan manusia.
"Aku pikir kamu akan setuju, sayang," jawab Arya jujur.
"Awalnya kamu tidak memberitahuku tentang rencana kamu untuk memajukan pernikahan kita dan langsung pergi bertanya pada abi dan ummi. Aku bisa mengerti karena alasan kamu adalah untuk melindungi aku dan Bintang." Rina tampak menghentikan perkataannya sebentar, jujur saja dia merasa kecewa karena Arya tidak melibatkannya dalam rencana pernikahan mereka berdua.
"Tapi, apa kamu tidak bisa bertanya dulu padaku sebelum mengambil keputusan? Ini kan bukan hanya penikahan kamu ... ini pernikahan kita berdua lho." Rina berucap dengan nada yang masih terdengar biasa saja, bahkan sebisa mungkin Rina tidak menunjukkan raut wajah kecewanya pada Arya.
Rina tahu niat Arya baik, laki-laki itu hanya ingin melindunginya dan Bintang dari ayah Anjas. Namun, Rina tidak suka dengan cara Arya mengambil keputusan sendiri, apa lagi ini tentang mereka berdua. Lagi pula dia juga tidak akan menghalangi apa yang Arya lakukan, hanya saja sekedar bertanya dan memberitahunya lebih dulu mungkin akan lebih baik untuk mereka berdua kedepannya.
Arya tampak terdiam, laki-laki itu menegakkan tubuhnya. Awalnya dia mengira semua itu tidak akan menjadi masalah untuk Rina, tetapi sepertinya dia keliru.
"Maafkan aku, sayang, aku mengira kamu akan menerima apa pun keputusan kami," ujar Arya tampak merasa bersalah.
"Aku akan lebih merasa senang dan dihargai jika kamu mau melibatkan aku." Rina berkata lirih.
Arya menggenggam tangan Rina sambil mengelusnya dengan gelisah, dia takut jika Rina akan menolak keputusannya.
"Iya, sayang, aku mengaku salah. Maafkan aku," ujar Arya serius, kemudian menatap Rina memelas. "Jangan marah lagi, ya."
"Aku tidak marah, Arya. Aku hanya tidak suka kalau kamu mengambil keputusan sendiri seperti ini," jawab Rina pelan.
Arya tersenyum mendengar jawaban Rina. "Iya, mulai sekarang aku akan mencoba mengatakan semuanya padamu sebelum mengambil keputusan, hem."
Rina membalas senyum Arya, senang rasanya bisa mendapatkan laki-laki seperti Arya yang akan menjadi suaminya kelak. Tanpa tahu, jika sebenarnya masih ada rintangan besar yang harus mereka lalui untuk mencapai semua itu.
"Lalu, apa kamu mau melakukan pernikahan denganku seminggu lagi?" tanya Arya dengan tangan yang masih bertaut dengan Rina.
...****************...
__ADS_1